THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
HUTANG TERIMA KASIH



In Joo sedang menghadapi pasien mabuk di IGD.


Kepalanya luka dan perlu di jahit karena mendapat luka menganga yang cukup besar.


Tapi pasien mabuk itu terus menolak untuk di obati karena tidak sadar akibat pengaruh alkohol.


Pasien itu selalu lari saat In Joo berusaha


menaruhnya ke ranjang pasien.


Aishhh...orang tua ini...


In Joo mencoba mendekati pria mabuk itu lagi.


Tuan,aya duduk dulu.


Kita harus menjahit lukamu.


In Joo yang memegang bahu pria itu kemudian di tepis lagi.


Aku tidak mau!!!


Aku mau minum lagi,cepat belikan aku soju lagi.


Sambil berdiri,In Joo memikirkan cara bagaimana membuat pria ini agar menurutinya.


Bagaimana aku harus menjinakkan orang ini!


Aishhh,membuatku pusing saja.


Kalau saja tidak ada orang di sini sudah kuikat saja dengan tali atau kubius total dia.


Apa istrinya tahu kelakuaannya yang mabuk mabukan ini.


Hei,tunggu...


Berbuah pemikirannya tadi,In Joo mendapat ide cemerlang untuk membuat pria mabuk itu menuruti permintaannya.


In Joo mendekat lagi pada pria itu lalu berbisik di telinganya.


Tuan,sebentar lagi istri anda akan datang.


Jika anda seperti ini,apa nanti reaksinya saat tahu anda membuat keributan di rumah sakit ini karena minum minum dengan rekan kerja anda yang wanita dan kepala anda terluka saat wanita itu mencoba menghentikan anda yang menggodanya.


Aku yakin,kepala anda bahkan bisa pecah kaerena istri anda saat tahu kebenaran itu.


Jika anda tidak mau menurutiku,aku akan langsung menelfon istri anda sekarang.


Mendengar bisikan In Joo itu membuat mata pria tadi terbelalak lebar dan langsung kembali kesadarannya.


Ia langsung membungkuk dan minta maaf.


Maaf dokter,maafkan aku.


Aku akan menurutimu,lakukanlah apa yang ingin kau lakukan.


Pria tadi langsung membaringkan diri di kasur dan tidak berbuat onar lagi.


In Joo tersenyum


Yesss,berhasil.


Sementara In Joo yang menangani pasien itu.


Ah Ra mendapat pasien wanita yang baru saja memasuki IGD.


Tapi kasusnya sungguh konyol.


Wanita itu tersedak ****** saat berhubungan badan dengan suaminya hingga kesulitan bernafas.


Sang suami panik melihat wajah istrinya yang sudah kuning pucat karena hal itu.


Benar benar memalukan.


In Joo,Ah Ra dan Ha Na akhirnya bisa istirahat saat jam makan siang setelah dari pagi bekerja pontang panting.


Mereka masing masing membawa nampan berisikan makanan dan besiap untuk makan.


Sambil menikmati makan siang itu mereka tentu tidak lupa berbagi cerita.


Ah Ra yang pertama mengeluhkan nasibnya.


Ishh,kenapa hari ini malah aku yang sial.


Pasien wanita tadi memuntahkan semua isi perutnya di hadapanku.


Hei,sayang.


Kita ini sedang makan,tolong jaga ucapanmu.


Tapi In Joo,itu tadi benar benar konyol.


Ha Na,kau sepertinya senang karena Dong Joo tidak memarahimu saat melakukan operasi bersamanya tadi ya.


Ha Na tersenyum..


Ia Ah Ra,dia juga dokter yang cekatan dan hebat.


Aku memerhatikan gerakan tangan dan cara berfikirnya sangat cepat.


Wah..wah,lihat senyum itu.


Jangan sampai kau jatuh hati pada mantan pacar kakakku itu.


Apa??


In Joo dan Ha Na masih belum mengerti maksud dari perkataan Ah Ra.


Kang Dong Joo itu adalah mantan pacarnya Ah Young,kakakku bahkan masih mengharapkannya walau pria itu sudah tidak mau dengannya lagi.


Ha Na dan In Joo bertepuk tangan.


Ah Ra,kalau Ah Young bisa menikah dengan Dong Joo maka dia akan menjadi abang iparmu.


In Joo langsung membantah.


Aku,tidak akan mau punya abang ipar seperti dia.


Tiga serangkai itu sedang bicara dan tidak lama orang yang mereka omongkan juga datang ke kantin itu.


Hei,hei..sudah diam.


Ada apa sayang?


Lihat,mantan pacar kakakmu juga makan disini.


Jangan sampai kita ketahuan mengomongkannya di belakang.


Dong Joo makan sendirian tanpa mau ada yang menemaninya di meja.


Ah Ra bicara dengan suara pelan seperti berbisik.


Hei,lihat doker sombong itu..


Ah Ra mendelik pada Dong Joo.


Dia tidak mau bergabung makan dengan yang lainnya.


Ha Na segera mencegah omongan itu lebih jauh lagi.


Sudah Ah Ra,makan saja.


Jangan bahas tentang dia lagi.


Ada apa dengan pria itu,kenapa dia makan sendirian?


Apa dia tidak kesepian?


Ha Na malah prihatin pada Dong Jo yang makan sendirian itu.


Ha Na menyelesaikan makannya dan pergi lebih dulu.


Dari jauh ia menatap Dong Joo yang sedang makan,tidak lama Dong Joo juga menatap Ha Na.


Ha Na jadi salah tingkah.


Kenapa ini,kenapa rasanya kakiku jadi kaku?


Mata Dong Joo benar benar tajam menatapku sama halnya seperti matanya saat mengoperasi pasien tadi.


Dong Joo juga aneh melihat Ha Na yang menjadi kaku di hadapannya.


Kenapa dengan dokter magang itu,jalannya seperti mayat hidup saja.


Dasar gadis aneh.


Karena fokus menatap Dong Joo,Ha Na tidak melihat ada kaki temannya yang menjulur.


Ha Na masih terpaku menatap Dong Joo yang semakin dekat dan membawa nampan di tangannya.


Dong Jo menyadari kalau Ha Na akan terjatuh jika tidak melihat kebawah karena tidak melihat kaki seseorang yang menjulur sembarangan dan tidak jauh lagi darinya.


Tapi terlambat,saat Dong Joo berdiri ingin memberi tahu..


Ha Na sudah menabrak kaki itu,nampan di tangannya sudah melayang lebih dulu di udara.


Di ikuti tubuh Ha Na yang juga mengapung di udara dan akan mendarat di lantai.


Tapi,Dong Joo dengan sigap menangkap tubuh Ha Na melakukan gerakan memutar sehingga Ha Na masuk dalam pelukannya dan selamat.


Hanya nampan Ha Na yang berserakan di lantai.


Sementara Ha Na meringkuk di pelukan Dong Joo.


Ha Na yang tadinya terpejam perlahan membuka matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas.


Ia memandang Dong Joo yang menyelamatkannya sambil memeluknya erat.


Ini bukan mimpi kan?


Tadi itu.....


Pria ini yang menolongku.


Dong Joo melepas pelukannya lalu segera berbalik dan meninggalkan tepat itu.


Ha Na masih mematung dan baru sadar belum sempat mengucapkan terima kasih.


Saat ia ingin mengucapkannya,Dong Joo sudah berjalan jauh dan meninggalkan kantin.


In Joo dan Ah Ra segera menghampiri Ha Na.


Kau tidak apa apa Ha Na??


Ha Na tidak menjawab omongan Ah Ra.


Ia masih berhutang kata terima kasih pada Dong Joo.


Dong Joo yang berjalan keluar juga merasa aneh..


Kenapa juga aku harus menolong dokter magang itu!


Harusnya aku biarkan saja dia!


Sekarang aku pasti akan menjadi bahan pembicaraan dan selalu di kaitkan dengan wanita itu.


Ini jelas akan menyusahkanku.


Dong Joo malah kesal sendiri dan menyesali perbuatannya yang menolong Ha Na tadi.