
Jae Ha dan para tentara lainnya hari ini akan mendaki gunung untuk pelatihan lanjutan kemiliteran.
Ada sekitar 80 orang tentara yang naik gunung hari ini termasuk para pelatih dan kapten tim.
Semuanya mengenakan seragam lengkap dan membawa perbekalan juga alat kemah.
Mereka mungkin akan menginap di tengah hutan.
Saat mendaki gunung yang cukup terjal itu,tidak di sangka sangka terjadi becana longsor.
Semua tentara panik.
Jae Ha yang berada di baris depan turut menjadi hantaman bencana alam yang tidak terduga itu.
Kapten tim segera menghubungi 119,rumah sakit juga badan penanggulangan bencana untuk menyelmatkan mereka dari musibah tak terduga itu.
Di UGD,kepala perawat membuat pengumuman.
"Perhatian semuanya,kepada dokter juga perawat.
Hari ini para prajurit yang dalam pelatihan milter termasuk kapten tim dan semua pasukannya yang berjumlah 80 orang terkena bencana longsor dan sedang dalam perjalanan untuk di evakuasi.
Mereka memerlukan tenaga medis bantuan karena banyaknya korban..
Adakah dari kalian yang mau jadi sukarelawan dan ikut ambulance kesana.
Ha Na dengan mata bulatnya langsung tegang.
"Oppa!!!
Ha Na teringat pada Jae Ha lalu dengan lantang menyuarakan suara agar turut menjadi sukarelawan.
"Aku!!!!
Aku akan menjadi sukarelawan!!
Begitulah jawab Ha Na tegas.
Sekarang ia sudah di dalam ambulance bersama petuga medis lainnya yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi bencana alam tersebut.
"Oppa,aku mohon bertahanlah.
Aku akan segera datang.
Jangan sampai terluka..
Oppa...
Ha Na berdoa dalam heningnya di dalam hati untuk keselamatan Jae Ha.
Setelah didekat lokasi,Ha Na dan yang lainnya harus menyisir manual dan turun dari ambulance.
Jalanan yang terjal itu tidak memungkinkan ambulnce untuk bisa naik ke atas.
Polisi juga turut membantu dan membawa anjing pelacak.
Ha Na dengan semangat menyisir Area itu.
Sekarang sudah sore menjelang petang.
Mereka semua yang ada disitu harus bergegas melakukan pecarian,karena jika petang telah tiba maka akan lebih susah menemukan para tentara yang mungkin terluka.
Ha Na hanya bermodalkan senter dan membawa kotak medis kecil yang berisi peralatan medis sederhana juga kotak P3K.
Sudah ada 40 tentara yang berhasil di evakuasi sejauh ini.
Untungnya tidak ada yang terluka parah.
Hanya saja banyak yang dehidrasi dan juga lemas karena lama mendapat pertolongan.
Namun saat Ha Na mengecek tentara yang di evakuasi itu.
Belum ada ia melihat sosok yang di carinya di tengah keramaian itu.
"Oppa..
Kau dimana??
Ha Na hampir menangis memikirkan nasib Jae Ha.
Ha Na lalu nekad masuk ke hutan itu sendirian untuk mencari Jae Ha lagi...
Saat ini,Jae Ha dalam keadaan baik baik saja.
Tapi setengah badannya malah terkena timbunan longsor juga pohon dan terseret agak jauh.
Jae Ha melihat lampu lampu sorot yang membelah langit itu.
"Ayolah,temukan aku...
ADA ORANG DI SINI!!!
TOLONG SELAMATKAN AKU!!
SELAMATKAN AKU!!!!
Jae Ha berteriak dengan keras menggunakan sisa tenaganya..
"Apa aku akan mati disini?
Aku rasa orang orang tidak perlu menguburku karena aku sudah tertimbun tanah seperti ini.
Apa aku akan mati sambil memandang langit yang indah di tengah hutan ini??
Jae Ha yang hampir putus asa,berbanding terbalik dengan Ha Na yang masih terus berjalan dan berusaha mencari keberadaannya.
Di Seoul.
Yun Hee dan Jung Hwa sedang nonton tv bersama.
"Jung Hwa,kenapa kisah cinta Ha Na sangat rumit dan berbelit?
Sebagai seorang ibu aku sangat sedih melihat kehidupan Ha Na yang terus di uji.
"Isteriku...
Kita tidak bisa menentukah hidup mana yang kita inginkan sebelum kita menjalaninya terlebih dahulu.
Tapi aku yakin,suatu saat Ha Na juga akan berbahagia seperti ini.
Hem,di momen berdua seperti ini.
Aku jadi rindu ingin mendengar suara bayi lagi di rumah yang sepi ini.
Yun Hee melihat Jung Hwa..
Ia lalu tersenyum manis pada suaminya itu...
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ha Na yang telah mendaki cukup jauh dan beberapa kali terjatuh karena jalan yang licin tetap tertatih tatih bangun dan bangkit kembali untuk mencari Jae Ha.
Jae Ha memandang langit dan menatap bintang yang paling terang.
"Aku akan menamai bintang itu Ha Na.
Bintang yang bersinar paling terang dan memberi harapan yang cerah untuk langit malam ini.
Tepat saat itu, Ha Na mengarahkan senternya pada sosok bergerak di bawah reruntuhan tanah itu.
Ha Na tepat menempatkan senter itu ke wajah Jae Ha.
Jae Ha merasa silau...
"Ada sesorang disini tolong selamatkan aku..
Jae Ha masih tidak tahu jika yang menyenterinya adalah Ha Na.
"Oppa....
"Ha Na....
Ha Na berlari lalu duduk di samping Jae Ha.
"Oppa,aku datang...
Jae Ha menatap Ha Na kagum..
"Terima kasih Ha Na,ternyata bintang di langit adalah matamu sehingga kau bisa menemukanku di sini..
"Sudah Oppa jangan melantur bicaranya,bahasamu tinggi sekali.
Yang jelas sekarang kau akan selamat..
Jae Ha tersenyum..
"Iya iya...ayo cepat keluarkan aku.
Ha Na berusaha menggali tanah yang menimpa Jae Ha, juga menyingkirkan ranting ranting pohon yang menumpuk di atasnya.
Ha Na melakukannya dengan tangan telanjang dan tangan kosong.
Ia tidak memiliki alat apapun,ia menyingkirkan ranting ranting itu juga menggali tanah dengan tangannya sendiri.
Jae Ha melihat Ha Na yang bersusah payah untuknya.
Ha Na bahkan sudah sangat kotor dan berkeringat.
Dengan susah payah,akhirnya Jae Ha terbebas dari timbunan longsor itu.
Ha Na dan Jae Ha sama sama sangat kotor karena terlumuri tanah.
"Oppa,kau baik baik saja??
Ada yang terluka??
"Ha Na,harusnya aku yang bertanya begitu.
Lihatlah penampilanmu yang acak acakan juga seluruh tubuhmu yang kotor karena menyelamatkanku ini.
Jae Ha lalu merapihkan rambut Ha Na.
Juga menyeka kotoran tanah di tangan Ha Na.
"Kenapa aku melibatkanmu dalam bahaya seperti ini.
Bisa saja ada longsor susulan...
Tanganmu yang berharga ini malah kotor..
Maafkan aku Ha Na..
Jae Ha sangat merasa bersalah melihat kondisi Ha Na yang seperti ini.
Ia terus membersihkan tangan Ha Na.
"Oppa..
Aku datang kemari karena mendengar kalau kau juga terjebak di bencana longsor ini.
Karena itu aku dengan sukarela menawarkan diriku menjadi sukarelawan.
Sekalipun aku terluka atau mempertaruhkan nyawa,aku akan tetap melakukannya.
"Ha Na...
Mata Jae Ha berkaca menatap Ha Na yang ada di hadapannya.
"Ha Na,jangan terlalu baik padaku.
Aku sudah sering kali menyakitimu.
Aku tidak tahu lagi bagaimana menebus semua kesalahanku padamu.
Jika kau tetap seperti ini,aku mungkin akan menjatuhkan diri lagi padamu...
Jangan lakukan itu Ha Na,aku mohon...
Ha Na merasa seakan hatinya tehempas mendengar perkataan itu keluar dari mulut Jae Ha.
"Oppa,kau tahu..
Aku juga sudah berusaha semampuku...
Aku juga tidak bisa mengedalikan diriku...
Ha Na lalu menangis...
Menangis sangat kuat...
Jae Ha tersenyum..
"Ha Na,jangan menangis di tengah hutan..
Di sini tidak ada ice cream untuk menenangkanmu,banyak binatang buas juga yang akan memburu kita jika kau seperti itu.
Ha Na tiba tiba berhenti menangis.
Selanjutnya....
Ha Na sudah turun gunung dengan naik di punggung Jae Ha.
Tapi,Jae Ha senang membawa beban di punggungnya itu.
Ia juga senang karena Ha Na masih memiliki rasa yang sama padanya.
"Oppa,apa kau tidak merasa berat...
"Tidak,kau sangat ringan.
Lagipula jalan sangat licin,akan berbahaya untukmu.
"Huh,gayamu seperti tentra senior saja.
Kau itu pengacara bukan tentara..
Skillmu juga masih meragukan...
"Eiy...jaga bicaramu..
Oppamu ini adalah anak pramuka dulunya..
"Kalau begitu jangan sampai tersesat ya..
Atau kita akan menjadi orang dalam pencarian.
"Iya...tenang saja...
Jae Ha dan Ha Na berhasil turun gunung dengan selamat.
Hanya saja,malah Ha Na yang kondisinya drop karena kelelahan.
Saat Jae Ha menurunkan Ha Na.
Ha Na sudah tidak sadarkan diri..
Jae Ha dengan setia menemani Ha Na didalam ambulance.
"Ha Na ya....
Jae Ha memegang tangan Ha Na dengan erat.
Di Amerika sana.
Hong Ah mendapat kabar gembira tentang tumor otaknya yang memiliki peluang besar untuk sembuh karena bantuan dokter dari Belanda.
Saat operasi nanti,kemungkinan berhasilnya akan mencapai 75%.
Hong Ah tidak sabar menunggu esok hari dan mengabarinya pada Jae Ha.
Tapi,di Korea saat ini Jae Ha sedang menemani Ha Na yang terbaring di rajang rumah sakit dengan baju pasien.
Untungnya Jae Ha sempat membersihkan diri dan memakai baju santai sekarang.
Ia dan Ha Na tidak terlihat kotor seperti beberapa jam yang lalu.
Jae Ha sedang duduk di atas ranjang Ha Na.
Ha Na duduk di ranjang itu dengan wajah pucat dan tangan yang di pasang infus.
"Lihatlah Ha Na,sekarang dokter hebat sepertimu malah menjadi pasien..
"Aku hanya kelelahan Oppa.
Aku baik baik saja..
Jae Ha membelai rambut Ha Na yang lembut dan indah itu..
"Jangan libatkan dirimu dalam bahaya lagi karena aku.
Itu sangat menyakitiku,kau tahu..
"Oppa....
"Sudah jangan membantah lagi.
Lihatlah keadaanmu sekarang karena tidak patuh.
"Iya oppa..
"Tidurlah Ha Na.
Ini sudah larut,aku juga harus kembali ke pangkalan militer.
Ha Na mengangguk...
Jae Ha menatap Ha Na sendu.
Ia lalu menyematkan sebuah kecupan di dahi Ha Na.
Ha Na terpejam...
Jae Ha melepas kecupan itu.
"Jaga dirimu baik baik...
Selamat malam...
"Iya oppa,selamat malam....
Jae Ha menyelimuti Ha Na lalu pergi dari ruangan itu.