THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
HUJAN



Sesampainya di rumah,Won Hee mengamuk sejadinya.


Ia menghancurkan semua yang ada di hadapannya.


Aaaahhhhhhh!!!


Sial..sial..sial..


Dong Joo!!!!!


Won Hee berteriak sejadinya di kamar.


Keesokan harinya.


Pacar baru Ha Na datang lagi ke rumah sakit,kali ini bukan untuk mencari Ha Na dan mengobati lukanya.


Tapi untuk menyambangi pacarnya dan membawanya makan siang.


Min Jae yang biasanya memakai baju ala gengster dan memamerkan tato di dadanya hari ini datang dengan pakaian rapi,berupa kemeja putih selengan,celana jeas dan rambut yang di tata rapi.



Visualisasi Min Jae nya ya..


Seisi rumah sakit terpesona dengan tampilannya.


Ha Na juga tersenyum melihat sosok pacar barunya itu.


Sekarang,Ha Na dan Min Jae sudah berada di dalam mobil.


Kau mau mengajakku kemana?


Hem,kau mau kemana?


Kita makan siang dulu saja..


Baiklah,boleh saja.


Min Jae sepertinya agak tegang di kencan pertamanya.


Tidak seperti kedatangannya yang penuh percaya diri tadi.


Sekarang ia malah gugup dan sering salah tingkah.


Ha Na menahan tawa karena geli melihat ketua gengster yang kejam ini malah salah tingkah.


Hei,kenapa kau tertawa?


Em,hanya lucu saja.


Apa sebelumnya kau belum pernah berkencan?


A..apa maksudmu?


Aku punya banyak mantan pacar.


Aku juga seperti yang kau tahu ketua gengster.


Dengan penjahat saja aku tidak takut atau gugup.


Kenapa juga aku gugup saat bersamamu?!!!


Aku tidak bilang kau gugup..


Satu kalimat Ha Na mematikan langkah Ji Young.


Apa sebenarnya yang mulutku ini bicarakan?


Kenapa malah nampak sekali kalau aku gugup?


Huh...memalukan..


Min Jae bahkan berkeringat di dahinya sekarang.


Melihat hal itu,Ha Na mengambil selembar tisu di tasnya dan mengelap keringat gugup Ji Young itu.


Ji Young kaget,suaranya tidak bisa keluar dan hanya mematung.


Jantungnya berdetak sangat cepat.


Aku..aku sakit sepertinya.


Kenapa seperti ini?


Rasanya kalau di hitung mantan pacarku sudah ada 100 tapi kenapa hanya dengan di seka keringat oleh Ha Na aku malah campur aduk seperti ini.


Min Jae reflek dan malah mengerem dengan mendadak.


Ada apa Min Jae?


Kenapa mengerem mendadak?


Kan berbahaya..


Min Jae lalu menatap Ha Na.


Bolehkan aku memegang tanganmu?


Kita pacaran kan sekarang?


Eh??


Ha Na menatap aneh..


Tapi tangan Min Jae tidak bisa menuggu lebih lama dan sekarang memegang tangan Ha Na.


Langsung saja..


Jatung Min Jae seperti petasan yang meletus letus dengan kuat.


Nafasnya bahkan tidak beraturan..


Ha Na malah semakin geli melihat wajah Min Jae yang tegang seperti menonton film horor itu.


Hei,kau ini kenapa sebenarnya Min Jae??


Ha Na,aku rasa perasaanku ini tidak asal asalan tapi aku benar benar jatuh cinta padamu.


Ha Na hanya bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi pada Min Jae.


Ha Na dan Min Jae lalu makan di sebuah restoran.


Min Jae sangat perhatian dan memberi Ha Na banyak daging.


Min Jae,sisakan juga dagingnya untukmu.


Tidak,aku tidak perlu makan banyak daging.


Sebenarnya aku ini sangat suka sayuran di banding daging.


Ha Na merasa aneh.


Eh,kenapa bisa begitu?


Bukankah orang orang lebih menyukai daging di banding sayuran.


Min Jae lalu menjeda sebentar dan mulai bercerita.


Begini,dulu saat aku kecil aku sudah tinggal dengan paman dan bibiku.


Orang tuaku kecelakaan saat turun gunung dan tewas.


Ha Na jadi pilu mendengar cerita Min jae.


Min Jae lanjut bercerita dan untuk pertama kalinya mau menceritakan kisah hidupnya pada seseorang.


Aku dulu hidup di desa.


Paman dan bibiku memang bersedia merawatku.


Tapi mereka tidak terlalu baik padaku.


Mereka selalu memberi daging hanya untuk putera kesayangan mereka.


Dan aku cuma di beri sayuran terus.


Karena sudah terlalu sering makan sayur saat makan daging aku malah tidak begitu suka.


Min Jae tersenyum penuh luka sambil bercerita.


Karena itu,Ha Na memberi sayurannya untuk Min Jae.


Makanlah yang banyak...


Min Jae tersenyum..


Terima kasih...


Tapi Min Jae,kenapa kau malah jadi ketua gengster?


Bukankah itu berbahaya?


Dan apa saja tugasmu?


Mau bagaimana lagi,hanya berkelahi keahlianku.


Aku tidak sekolah tinggi,tidak punya orang tua juga latar belakangku buruk.


Tempat mana yang mau menerima orang sepertiku.


Jika di tanya berbahaya atau tidak tentu saja setiap pekerjaan memiliki resiko.


Tapi pekerjaanku memang berisko besar.


Bosku memberiku tugas sebagai ketua gengster yang memberi pelajaran bagi penjudi yang berhutang atau membuat keributan di kasino.


Bosku itu yang menyelamatkanku setelah terlunta lunta di jalanan setelah aku kabur dari rumah paman dan bibiku.


Bosku mendidikku dan memeberiku tempat tinggal.


Sebagai ucapan terima kasih aku mengabdikan hudupku untuknya.


Walau orang orang menilainya sebagai pria pemilik binis kotor tapi bagiku ia adalah penyelamat hidupku.


Aku berhutang budi besar padanya.


Ha Na merasa kagum pada sosok kuat Min Jae.


Hem,sejujurnya aku tidak tahu kenapa aku menerima perasaanmu Min Jae.


Ah,masa kau tidak tahu.


Tentu saja kau tertarik karena aku tampan dan macho.


Min Jae mulai membuat lelucon dan itu membuat Ha Na benar benar tertawa lepas.


Ha Na berangsur bisa melupakan pahitnya perpisahannya dengan Dong Joo.


Tidak dengan Dong Joo yang sekarang sedang pusing bagaimana caranya agar bisa merebut surat dari pasien yang ada di tangan Won Hee.


Di sela sela kemerautan fikirannya itu,Dong Joo mendapat panggilan ke UGD.


Seorang pasien darurat datang,pasien itu di diagnosis Jantung koroner.


Dong Joo segera meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi.


Namun Dong Joo sempat menanyakan keberadaan Ha Na pada perawat.


Tapi setelah mendengar jawaban dari perawat yang di tanyainya,Dong Joo malah mendapat jawaban yang membuatnya kecewa berat.


Apa!!!


Dia di jemput oleh si ketua gengster itu dan berkencan!!!


Dong Joo benar benar kacau,namun untuk sekarang ini ia harus fokus dulu mengoperasi pasiennya.


Selesai makan siang,Ha Na dan Min Jae tidak mempuanyai tujuan.


Kita mau kemana lagi Min Jae?


Min Jae bingung..


Apa kau tidak kembali ke rumah sakit lagi?


Ha Na menggeleng.


Aku hanya menggantikan shift temanku,tapi sudah selesai.


Jadi,aku bisa meliburkan diri sekarang.


Kemana ya,aku juga bingung.


Biasanya hubunganku dengan wanita sebatas bertemu lalu berakhir di hotel.


Mendengar jawaba Min Jae membuat Ha Na mengernyitkan dahi.


Jangan macam macam,atau kau aku bedah hidup hidup ya.


Min Jae tertawa mendengar humor seram Ha Na.


Ha Na juga geli sendiri jadinya.


Tepat saat itu,Ha Na melihat orang yang bersepeda di luar.


Tercetus ide di otak Ha Na.


Hei,bagaimana kalau kau mengajariku bersepeda saja?


Dari dulu aku ingin sekali belajar bersepeda.


Apa?


Setua ini kau belum bisa bersepeda?


Ha Na mengangguk..


Bodoh sekali..


Ha Na lalu memonyongkan mulutnya mendengar kata kata Min Jae.


Iya,iya baiklah..


Ayo kita ke taman dan sewa sepeda.


Aku akan mengajarimu sampai bisa.


Ha Na tersenyum bahagia.


Benar saja adanya,Min Jae mengajari Ha Na bersepeda.


Di wajah Ha Na penuh tawa dan kebahagiaan.


Walau kadang jatuh bangun tapi Min Jae tetap sabar mengajari Ha Na.


In Joo dan Ah Ra kebetulan melintasi taman dan melihat dari dalam mobil,Ha Na dan Min Jae yang saat ini sedang tertawa tawa di taman sambil bermain sepeda..


Ah Ra,aku rasa pria itu bisa menyembuhkan hati Ha Na.


Iya In Joo itu benar


Walau sebenarnya aku kurang setuju,tapi melihat Ha Na bahagia seperti ini,aku hanya bisa mendoakan yang terbaik.


Ah Ra dan In Joo ikut tersenyum dan bahagia melihat Ha Na sekarang.


Sekarang,Min Jae sedang membonceng Ha Na dengan sepeda.


Lihat,ini mudah sekali.


Kenapa kau tidak bisa bisa?


Mudah untukmu..


Pasti kau berfikir aku bodoh lagi.


Min Jae tersenyum.


Cepat peluk aku,aku akan mengayuh dengan laju sekarang.


Ha Na segera merangkul pinggang Min Jae dan berteriak bersama seiring sepeda itu melaju.


Entah kenapa,bersama pria yang baru aku kenal ini aku sudah merasa dekat dan bisa langsung akrab.


Bersama dengannya benar benar membuatku nyaman.


Saat sedang bersepeda tiba tiba hujan turun.


Ha Na dan Min Jae lalu berteduh di bawah pohon.


Tapi mereka sudah cukup kebasahan..


Ha Na memakai baju tipis yang membuat dadanya tembus pandang.


Min Jae memerhatikan hal itu.


Secara jantan,Min Jae membuka jaketnya lalu menutupi dada Ha Na dengan pakaian yang sudah basah itu.


Ha Na kaget,Min Jae juga berusaha mengalihkan pandangannya.


Seharusnya jangan pakai baju yang tipis begitu!


Ha Na baru sadar dengan omongan Min Jae saat ia melihat bagian dadanya yang di tutupi Min Jae dengan jaketnya.


Ha Na tersenyum.


Terima kasih..


Min Jae pura pura cuek dan hanya mengangguk.


Tapi dalam hati ia bahagia karena Ha Na mengucapkan terima kasih.


Dong Joo yang emosi lalu mengajak Min Jae bertemu di sebuah restoran.


Min Jae tentu saja datang.


Hei,!!


Berani beraninya kau mendekati Ha Na!!


Kenapa tidak?


Dia sudah putus denganmu dan sekarang bahkan berkencan denganku.


Kau hanya menjadi pelampiasannya saja.


Aku yakin akan hal itu.


Tidak masalah buatku.


Asal bisa bersamanya,menjadi apapun untuknya aku rela saja.


Dong Joo semakin kesal,tapi Min Jae juga tidak mau .mengalah.


Hei,jika kau sudah punya pacar.


Urus saja pacarmu itu!


Kau sudah tidak ada hak dengan Ha Na.


Dasar ********!!


Dong Joo marah mendengar kata kata Min Jae tadi.


Ia merasa Min Jae sok tahu tanpa tahu yang sebenarnya.


Dua pria itu lalu bertading minum dan menghabiskan berbotol botol soju.


Tetap saja,Dong Joo yang kalah dan Min Jae juga yang menggendongnya ke taksi.


Setelah meletakkan Dong Joo di taksi,Min Jae yang masih sadar karena kuat minum itu lalu menelepon Ha Na tengah malam buta.


*Halo..


Ada apa bodoh?


Ini tengah malam!!


Hahahaha.


Dokter Hyun pacarku..


Aku merindukanmu*...


Mendengar omongan Min Jae membuat Ha Na tersenyum nun jauh di sana.


Dasar....


Membuatku tidak bisa tidur saja...