THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
MELUKIS



Ha Na berbagi cerita soal kasus tadi pada Jae Ha.


Karena itu Jae Ha sibuk berkirim pesan dengan Ha Na.


Jae Ha sebelumnya sedang sendiri di ruangannya dan tidak lama Hong Ah masuk.


Jae Ha bahkan tidak mengetahui kehadiran Hong Ah.


Hingga Hong Ah dan mendekat dan berdehem untuk memberi tahu kehadirannya.


"Ehemmmmm...


Jae Ha kaget..


"O...Hong Ah..


Jae Ha malah gelagapan dan setengah panik..


Jae Ha juga langsung menutup ponselnya.


Hal itu membuat Hong Ah curiga..


"Hem,ada apa ini?


Apa kau menyembunyikan sesuatu dan bermain api di belakangku??


Jae Ha mengelak dan menjawab dengan tersenyum.


"Tentu saja tidak..


Jae Ha menaruh ponselnya di atas meja..


"Awas ya Jae Ha kalau kau macam macam,kau tidak akan pernah bertemu wanita sebaik dan secantik diriku lagi..


"Tentu saja...


Hanya kau dewiku...Ji Hong Ah..


Hong Ah tersenyum..


Untung saja Hong Ah mau di rayu...


"Kau sibuk berkirim pesan dengan siapa Jae Ha?


Sepertinya sibuk sekali..


"Oh itu,dia temanku sesama pengacara.


Kami sedang mendiskusikan sebuah kasus.


"Kenapa aku malah berbohong pada Hong Ah?


Kenapa aku tidak jujur saja dan bilang kalau aku berkirim pesan dengan Ha Na.


Seseorang yang sudah aku anggap seperti adik sendiri.


Yang aku lakukan malah menutupi identitas Ha Na seolah Ha Na selingkuhanku.


Aku benar benar kacau..


Kembali ke kenyataan..


"Jae Ha,aku akan izin beberapa hari untuk pergi berlibur bersama kedua orang tuaku ke Belanda.


Jae Ha kaget.


"Kenapa mendadak Hong Ah??


"Yah,begitulah..


Ibuku kan suka tiba tiba..


Jadi apa aku boleh mendapat izin cuti??


Jae Ha tersenyum.


"Tentu saja,kau sudah bekerja keras.


Kau juga harus memanjakan dirimu.


Tapi maaf,aku tidak bisa ikut Hong Ah.


Pekerjaanku masih menumpuk.


"Iya Jae Ha aku paham.


Aku akan memberitahu orang tuaku jika tunanganku ini sangat sibuk.


Jae Ha tersenyum karena Hong Ah mau mengerti.


Jae Ha berdiri sejajar dengan Hong Ah lalu mengecup lembut bibir Hong Ah sebagai tanda perpisahan.


Jae Ha juga memeluk erat Hong Ah.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu..


Nikamati liburanmu dan cepatlah kembali ya Hong Ah.


Aku tidak bisa lama lama jauh darimu..


Hong Ah paham yang di rasakan Jae Ha.


"Iya Jae Ha aku mengerti.


Kau juga tidak boleh nakal ya selama aku pergi..


"Tentu saja.


Jawab Jae Ha dengan lembut pada Hong Ah.


Tapi,Jae Ha malah sudah terfikir untuk menghabiskan waktu dengan Ha Na.


Sore harinya setelah mengantar Hong Ah dan orang tua Hong Ah ke bandara.


Jae Ha langsung menelepon Ha Na..


Ha Na baru saja keluar dari ruang operasi usai megoperasi pasiennya.


Ponsel Ha Na tiba tiba berdering.


Ha Na melihat nama Jae Ha di layar ponsel itu dan tersenyum.


"*Halo...oppa


"Ha Na...


Kau sedang apa?


"Aku baru saja selesai mengoperasi pasien


"Hem,sepertinya kau lelah...


"Ia,aku lumayan lelah.


Ada apa oppa?


"Tidak,ini kan hari rabu.


Aku berniat memperlihatkan lukisanku padamu seperti janjiku waktu itu...


Ha Na jadi bersemangat*..


"*Benarkah,kalau begitu ayo ajak aku oppa.


"Bukankah tadi katamu kau lelah??


Ha Na menggeleng sambil berbicara dengan ponsel itu.


"Tidak oppa,aku tidak lelah.


Ayo ajak aku melihat lukisanmu...


Jae Ha tersenyum.


"Baiklah,cepat ganti bajumu karena aku sudah ada di perjalanan untuk menjemputmu.


"Iya oppa,baiklah*.


Ah Ra mencolek lengan Ha Na karena melihat sahabatnya itu tersenyum sambil menatap ponselnya.


"Sudah punya gebetan baru ya..


Ah Ra menggoda Ha Na.


"Apa maksudmu.


Aku bicara dengan pria yang sudah seperti abangku sendiri.


Ha Na mencoba menjelaskan pada Ah Ra agar tidak salah paham.


"Ah...dari kakak laki laki siapa tahu bisa menjadi pujaan hati


Goda Ah Ra lagi...


"Dia sudah punya tunangan Ah Ra..


Zonkk


Ah Ra kalah dan tidak bisa berkata apa apa lagi.


Harusnya cari yang masih single.


Ha Na hanya nyengir saja saat Ah Ra bicara begitu.


Baginya untuk jatuh cinta lagi adalah hal yang susah dan mungkin belum terfikirkan.


Ha Na masih trauma dengan trgedi pernikahan berdarahnya.


Ha Na sudah menunggu di luar dan tidak lama mobil Jae Ha datang.


Langsung saja Ha Na masuk.


"Oppa,kau tinggal sendiri atau masih bersama orang tua?


"Tentu saja sendiri Ha Na,aku kan sudah dewasa dan mapan.


Lagipula orang tuaku juga orang sibuk..


Ayahku hakim dan ibuku Jaksa..


Ha Na mengangguk.


"Orang tuaku juga orang sibuk.


Ayahku pengacara dah ibuku dokter..


"Dan kita juga anak yang sama sama sibuk seperti orang tua kita.


Canda Jae Ha.


Ha Na tersenyum..


Mobil melaju dengan cepat melintasi jalan..


"Oppa,apa tunanganmu tidak marah kau pergi denganku??


Jae Ha terkesiap.


"Tentu saja tidak,kau kan adikku.


Lagipula ia juga sedang liburan ke luar negeri dengan orang tuanya..


"Ohh begitu.


Jawab Ha Na mengerti.


Tanpa tahu Jae Ha berbohong,Hong Ah bahkan tidak tahu siapa Ha Na dan hubungan kakak adiknya bersama Jae Ha..


Jae Ha dan Ha Na sudah sampai di rumah Jae Ha.


Rumahnya sangat luas bernuansa modern.


Rumah itu juga bertingkat dua dan cukup megah.


Sesuai dengan karakter Jae Ha yang pengacara kondang.


"Oppa,rumahmu besar sekali..


Ha Na berdecak kagum melihat kediaman Jae Ha.


Tapi Jae Ha langsung merangkul leher Ha Na dan menariknya ke dalam.


"Sudah,ayo masuk saja...


Ha Na ikut saja tarikan dan ajakan kakak laki lakinya itu.


Jae Ha berganti baju sebentar sementara Ha Na sudah lebih dulu masuk ke ruang Jae Ha biasa menghabiskan waktu untuk melukis itu.


Ha Na yang masih sendirian di ruangan itu kagum melihat karya karya lukisan Jae Ha.


Semuanya terlihat indah dan penuh makna.


Tidak lama,Jae Ha masuk dan menyusul.


Jae Ha sudah memakai pakaian santai.


Ia mengahampiri Ha Na dan berdiri di samping Ha Na.


"Oppa,lukisanmu benar benar indah..


"Benarkah???


Ha Na menatap Jae Ha.


"U..oppa,rambutmu yang berponi juga berpakaian biasa seperti ini..


Kau sangat tampan...


TEKKKK....


Jantung Jae Ha langsung berdetak mendengar Ha Na memujinya.


"Terima kasih....


Ha Na tersenyum dan memandang lukisan itu kembali.


Tapi Jae Ha masih memandang Ha Na.


"Kau juga sangat cantik Ha Na..


Seorang adik perempuan yang cantik..


"Oppa....


Panggilan Ha Na menyadarkan Jae Ha.


"Eh,kenapa???


"Kapan kapan kau haru melukis aku ya.


Aku mau menjadi modelmu....


"Dengan senang hati,tentu saja...


Kau bisa melukis???


Ha Na menggeleng.


"Aku tidak ahli dalam melukis..


"Aku akan mengajarimu..


Cobalah.....


Ha Na tersenyum.


"Ia nanti,tapi aku mau lihat lihat lukisan oppa dulu.


Ha Na tertarik pada lukisan matahari terbenam yang ada di hadapannya.


"Oppa,apa makna lukisan ini??


Ha Na bertanya pada Jae Ha.


Jae Ha berdiri tepat di belakang Ha Na dan menjawab pertanyaan Ha Na.


"Lukisan ini bermakna aku yang lelah dan ingin istirahat.


Karena matahari hanya bisa istirahat saat telah terbenam dan berganti tugas dengan bulan untuk sementara..


Ha Na mengangguk..


"Oh..Begitu..


Jae Ha yang berdiri tepat di belakang Ha Na malah menghirup aroma rambut Ha Na yang sangat wangi.


Sementara Ha Na masih sibuk memandangi lukisan itu.


"Harum shampo Ha Na sangat enak.


Wanginya sepeti shampo bayi.


Jae Ha bahkan sampai terpejam untuk meresapi harumnya rambut Ha Na itu.


Hal itu berlanjut ketika Jae Ha mengajari Ha Na melukis.


Jae Ha duduk di belakang,sementara Ha Na duduk di depannya.


Ia mengajari dan mengarahkan bagaimana melukis pada Ha Na.


Hal itu menjadi momen yang sangat menyenangkan untuk Ha Na dan Jae Ha.


Mereka juga saling bercanda dan bercoletan cat air ke wajah masing masing.


Tapi saat Ha Na belajar melukis,Jae Ha mengambil kesempatan dengan bisa sangat dekat dengan Ha Na dan tanpa sepengetahuan Ha Na,Jae Ha mencium rambut panjang Ha Na dari belakang.


Namun Jae Ha tetap menanamkan dalam hati jika apa yang di lakukannya hanyalah kasih sayang seorang kakak laki laki pada adiknya.


Jae Ha juga berjanji akan mengajari Ha Na melukis tiap hari rabu malam.


Dan Ha Na tentu saja senang...


Sepulangnya Ha Na dari rumahnya.


Jae Ha kembali ke ruang melukisnya dan melukis wajah Ha Na malam itu juga untuk esok hari di berikan pada Ha Na.