THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
SELAMAT JALAN PARK MIN JAE



Setelah sekian lama menunggu akhirnya Min Jae menelepon Ha Na.


Ha Na segera mengangkatnya.


*Halo,Min Jae..


Iya,Ha Na..


Kau kemana saja?


Kenapa baru sekarang menghubungiku??


Ha Na...


Aku mencintaimu.


Sangat sangat mencintaimu*..


Ha Na merasa aneh,kenapa Min Jae tiba tiba seperti ini?


Baru Ha Na hendak menjawab,Min Jae sudah mematikan teleponnya.


Aneh..


Ada apa dengannya??


Ha Na bingung namun seorang perawat memanggilnya.


Ha Na terpaksa menunda untuk menghubungi Min Jae dan melakukan pekerjaannya terlebih dahulu.


Rupanya saat ini,Min Jae sedang di sekap oleh seorang penjudi sekaligus bos dari perusahaan rentenir.


Pria jahat itu menyekap dan menghajar Min Jae karena dendam saat itu ia di usir dengan paksa


karena kalah banyak .


Pria jahat itu di hajar oleh Min Jae dan di depak keluar dari kasino.


Karena dendam pada ulah Min Jae,pria itu lalu mencegat Min Jae di jalan dan menculiknya.


Min Jae di bawa ke sebuah gudang kosong lalu di hajar hingga babak belur.


Pria itu tidak mungkin lagi melepaskan dan membiarkan Min Jae keluar hidup hidup.


Karena itu,Min Jae meminta pada pria jahat itu agar di perbolehkan menelepon Ha Na dan mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.


Permintaan Min Jae di kabulkan dan karena itulah Min Jae tadi menelepon Ha Na dengan sisa tenaga terakhirnya dan di ambang sekarat.


Sebuah pukulan balok keras menghantam kepala Min Jae dan membuat Min Jae menutup mata untuk selamanya.


Selang menyelesaikan operasi,Ha Na yang masih di UGD kaget.


Dokter...Dokter tolong selamatkan ketua kami.


Seorang pria gemuk menggendong Min Jae di punggungnya.


Buku dan pulpen di tangan Ha Na langsung terjatuh..


Ha Na berlari menghampiri Min Jae.


Saat menyentuh wajah Min Jae,tangan Ha Na berlumuran darah.


Mulut Ha Na seakan kaku tidak mampu bicara.


Mata Ha Na juga seperti akan keluar karena tidak percaya akan apa yang di lihatnya..


Ha Na langsung menangani Min Jae.


Saat di baringkan di ranjang pasien..


Pupil Min Jae sudah membesar dan tidak merespon.


Seketika lutut Ha Na lemas..


Min Jae sepertinya Mati otak..


Ia bahkan harus bernafas dengan alat bantu..


Apa yang Min Jae ucapkan tentang wasiatnya kemarin sepertinya adalah pertanda akan datangnya hari ini.


Ha Na mengingat kartu donor organ yang dimiliki Min Jae dan sudah di titipkan padanya.


Ha Na mulai goyah..


Air matanya menetes sambil berdiri di samping Min Jae yang terbaring dan tidak lagi sadar.


Min Jae!!!!!


Ha Na akhirnya menangis keras..


Anak buah Min Jae yang ikut datang tertunduk ke bawah dan ikut menangis.


Sepertinya mereka paham jika hal buruk telah menimpa ketua mereka.


Ha Na benar benar kacau.


Min Jae...


Kenapa seperti ini???


Apa aku harus benar benar mengangkat jantungmu?


Aku tidak sanggup..


Tidak sanggup..


Ha Na terus menemani di sisi Min Jae dan menangis.


In Joo dan Ah Ra sudah menelepon orang tua Ha Na yaitu Yun Hee dan Jung Hwa.


Ah Ra bercerita semua yang ia ketahui tentang Ha Na dan Min Jae baik soal hubungan asmara mereka juga latar belakang Min Jae yang seorang ketua gengster juga keadaan Min Jae yang sekarat seperti ini hingga membuat Ha Na terpukul.


Untungnya saat di hubungi,Yun Hee dan Jung Hwa juga memang sudah dalam perjalan bertolak ke Seoul.


Jung Hwa dan Yun Hee benar benar mencemaskan keadaan Ha Na.


Tapi kondisi Ha Na memang patut di cemaskkan.


Ia tidak mau beranjak dari sisi Min Jae walau hanya sebentar.


Setelah sekian jam,Yun Hee dan Jung Hwa langsung ke rumah sakit tempat Ha Na bekerja begitu sampai ke Seoul.


In Joo dan Ah Ra segera mengarahkan orang tua Ha Na tempat puterinya berada sekarang.


Yun Hee dan Jung Hwa bergegas berlari.


Saat sudah di ruangan itu,seorang dokter menjelaskan pada keuda orang tua Ha Na.


Tuan,nyonya..


Pasien yang sekarang dokter Hyun tunggui adalah pasien yang sudah positif dalam keadaan mati otak.


Dia bisa tetap hidup karena peralatan medis yang melekat di tubuhnya.


Dan si pasien ternyata seseorang yang sudah terdaftar sebagai pendonor organ.


Pasien itu sendiri menunjuk dokter Hyun sebagai walinya karena tidak memiliki kerabat.


Jung Hwa dan Yun Hee merasa iba.


Walau Min Jae terlihat seperti berandalan ternyata dari keterangan In Joo dan Ah Ra sudah banyak kelakuan mulia yang di lakukannya semasa hidup bersama Ha Na.


Yun Hee dan Jung Hwa menghampiri puterinya.


Ha Na..


"Suara lirih Yun Hee membuat putrinya berpaling dan melihatnya..


Ibu...


"Ha Na menatap ibunya dengan mata berkaca..


Ha Na langsung menyergap memeluk sang ibu.


Jung Hwa juga mendekat dan mengelus kepala Ha Na.


Ha Na terisak menangis tiada hentinya..


Ibu.....


Kenapa dia malah seperti ini..


Aku bahkan belum memperkenalkannya pada kalian.


Dia pria yang sangat baik..


Ha Na tetap berbicara tentang Min Jae pada kedua orangnya walau dengan hujan tangis.


Sang ibu mecoba menenangkan..


Iya Ha Na ibu tahu,dia pasti memang pria yang sangat baik hingga kau menangisinya seperti ini.


Tapi,jangan melupakan wasiat yang sudah dia titipkan padamu Ha Na.


Dia tidak akan tenang dalam kepergiannya jika kau seperti ini.


Apa kau tidak kasihan padanya?


Sekarang ia sedang terjebak.


Ia tidak lagi bisa bangun karena keadaannya,ia juga masih terjebak di sini dan tidak bisa pergi ke akhirat karena kau belum merelakan kepergiannya dan menjalankan amanah yang ia titipkan padamu.


Jangan biarkan dia tersakiti lagi Ha Na.


Dimanapun Min Jae berada,ia akan tetap tahu tentang perasaanmu yang sangat menyayanginya.


Jung Hwa juga ikut menimpali..


Benar perkataan ibumu Ha Na.


Biarkan Min Jae pergi dengan tenang dan melakukan pengorbanan terakhirnya.


Ia sudah tidak ingin melihatmu menangis lebih lama lagi,jika ia sudah bersusah payah berjuang sejauh ini untuk menggerakkan hatimu maka hargai perjuangannya dengan memenuhi harapan terakhirnya.


Dengan kata kata bijak dari orang tuanya,Ha Na akhirnya tergerak..


Walau sangat berat adanya..


Namun,inilah yang Min Jae inginkan...


Ha Na memberikan izinnya..


Baiklah..


Ayo lakukan donor organ itu...


Keputusan Ha Na telah bulat dan di dengar oleh para dokter.


Karena itu,besok pagi pagi sekali..


Min Jae akan mewujudkan harapan terakhirnya sebagai pendonor organ.


Kabar keadaan Min Jae telah sampai ke telinga Dong Joo dan Min Jae di Sokcho.


Dong Joo turut berduka.


Ia tahu jika saat ini Ha Na pasti sangat tersiksa.


Ha Na yang perasaannya lemah pasti tidak akan kuat menghadapi ini sendiri.


Dong Joo benar benar mengkhawatirkan Ha Na.


Terlebih donor organ akan di lakukan besok pagi.


Won Hee malah bahagia mengetahui kabar Ha Na yang saat ini sedang terpuruk.


Hahaha.


Rasakan kau Ha Na!


Padahal pacarmu yang mati itu hanya preman pasar kelas rendah tapi kau menangisinya seperti menangis darah!


Won Hee benar benar bahagia di atas penderitaan Ha Na.


Karena khwatir pada kondisi Ha Na.


Tanpa sepengetahuan Won Hee,Dong Joo sudah meluncur ke Seoul terlebih dahulu.


Dong Joo tidak bisa membiarkan Ha Na sendiri untuk saat ini.


Won Hee yang tidak tahu menahu dan tidak sabar ingin melancarkan rencana jahatnya tanpa tahu sasarannya sudah pergi.


Menjelang sore,Won Hee sudah berpakaian seksi dan dan membawa 2 gelas minuman yang dimana salah satunya telah ia masukkan obat itu.


Won Hee mengetuk pintu kamar Dong Joo..


Tok..Tok..Tok..


Won Hee menunggu namun tidak ada jawaban.


Kemana Dong Joo?


Apa sedang tidur???


Won Hee merasa bingung karena berulang kali mengetuk namun Dong Joo tidak kunjung membukakan pintu.


Won Hee kesal lalu kembali ke kamarnya.


Ia memutuskan menelfon Dong Joo.


Namun kecewa berat harus ia tanggung...


Won Hee baru tahu jika Dong Joo sudah meluncur sendiri ke Soul dan tidak membawanya..


SIALLLLLLL


DONG JOO.....


BERANINYA KAU!!!!!!


Won Hee mengamuk sejadinya.


Semua rencananya juga gagal..


Tanpa Won Hee ketahui.


Dong Joo sudah mendapat surat kuasa dari pasien yang menjadi senjata Won Hee.


Rupanya saat perjalanan bisnis itu,ia sengaja membiarkan Won Hee ikut agar bisa mencari keberadaan surat itu.


Di sela sela ia melimpahkan tugas pada Won Hee.


Dong Joo menyusup ke kamar Won Hee dan menemukan dokumen yang ia buat tanpa sepengetahuan siapapun bersama pasien itu.


Dong Joo berhasil mengamankan surat itu.


Dong Joo juga menyelesaikan masalah dan memberi tahu direktur rumah sakit tentang ulah puterinya itu demi mendapatkan dirinya.


Surat itu akan Dong Joo beri pada ayah Won Hee.


Dong Joo akan melihat tindakan apa yang ayah Won Hee ambil setelah tahu ulah puterinya itu.


Won Hee juga tidak mau ketinggalan dan menyusul pulang ke Seoul.


Sepanjang malam Ha Na terjaga.


Ha Na memandangi wajah Min Jae dengan cermat.


Ha Na mengenggam tangan Min Jae..


Lalu mulai bebicara walau tahu Min Jae tidak akan bisa menjawab setiap perkataannya.


Hei..


Apa kau tidak lelah tertidur terus?


Biasanya kau sering datang dan menjahiliku dengan semua ulahmu..


Tapi sekarang kau hanya terus diam walau aku berada di dekatmu.


Apa kau tidak kasihan padaku..


Mulai lagi..


Mata Ha Na mulai berkaca..


Ha Na lalu tertunduk..


Ha Na mengerahkan segala kekuatannya untuk menghadapi hari esok.


Hari dimana ia harus merelakan Min Jae untuk selamanya dan akan menjadi perpisahan abadi untuk mereka berdua..


Malam telah berganti.


Pagi itu Ha Na mengantar kepergian Min Jae ke ruang operasi.


Ha Na sendiri yang mendorong ranjang pasien Min Jae.


Ha Na menggunakan riasan dan berbaju indah.


Ia tidak ingin Min Jae kecewa saat melihatnya dalam perjalan pergi menuju alam baka.


Ha Na mencoba tegar sekuat tenaga.


Tenaga mendis dan staff rumah sakit memberi jalan dan berdiri berjajar di lorong menuju ruang operasi.


Semuanya memberikan rasa hormat mereka untuk menghormati kemuliaan Min Jae yang akan mendonorkan organnya untuk kelangsungan hidup orang lain yang lebih membutuhkan.


Di antara deretan orang itu ada In Joo,Ah Ra,Yun Hee,Jung Hwa,Fernando,Ae Ri juga Dae Ho dan Song Yi.


Mereka semua hadir untuk menguatkan Ha Na.


Terlebih,Ha Na juga memepersiapkan diri untuk mengangkat jantung Min Jae seperti permintaan terakhirnya saat hidup dahulu.


Walau sebenarya tidaklah sanggup,namun Ha Na tidak ingin mengecewakan Min Jae.


Min Jae sudah memasuki ruang operasi..


Perlahan setiap dokter berkumpul dan melakukan penghormatan pada Min Jae sebelum membedahnya.


Ha Na benar benar melakukan penguatan dirinya.


Ruang operasi ini terasa seperti sebuah pemakaman.


Setelah itu,proses pengangkatan organ di mulai.


Satu per satu dokter ambil bagian.


Organ tubuh Min Jae juga mulai lenyap dan di amankan.


Hingga akhirnya,proses pengangkatan jantung.


Saat ingin mengambilnya..


Ha Na melihat tato namanya di dada Min Jae.


Hal itu membuat Ha Na teringat lagi akan hal yang telah berlalu.


Namun Ha Na harus tetap kuat dan bertahan.


Hingga akhirnya jantung Min Jae berhasil di angkat.


Ha Na memegang jantung itu dan merasakan detak hidup Min Jae.


Ha Na tidak bisa lagi kuat dan menitikkan air mata di balik masker bedah itu.


Min Jae..


Hari ini semua dosamu pasti sudah di ampuni.


Aku yakin,kau sudah menjadi orang paling hebat di alam baka sekarang karena menyombongkan apa yang sudah kau lakukan semasa hidup.


Aku harap di akhirat sana kau bisa bertemu lagi dengan kedua orang tuamu.


Jadilah penghuni surga dan bukan anggota gengster..


Aku akan selalu mengenangmu..


Selamat tinggal Park Min Jae..


Ha Na berdamai pada kepergian Min Jae..


Ha Na yakin saat ini roh Min Jae sedang menyaksikan semua yang terjadi padanya di ruang operasi.


Min Jae akan pergi dengan tenang setelah amanahnya di jalankan.


Kini tinggal jenazah Min Jae yang kaku tertinggal.


Hari itu juga Min Jae langsung di kebumikan.


Ia di makamkan di pemakaman yang dekat dengan bukit.


Ha Na sendiri yang membawa foto Min Jae di iringi peti mati Min Jae di belakangnya.


Ha Na berkabung sangat dalam...


Tidak ada yang ingin mengusik Ha Na,semuanya membiarkan Ha Na berduka dan mengenang semua tentang Min Jae.


Bahkan di pemakaman itu,setelah semua orang pulang,Ha Na masih tetap tinggal..


Hanya tinggal ia sendiri di pusara peristirahatan terakhir Min Jae.


Ha Na memandang foto Min Jae yang tersenyum di depan batu nisannya itu.


Kau senang...


Senyummu lebar sekali..


Kau pasti sudah damai ya sekarang...


Ha Na berbicara pada foto itu


Tiba tiba halusinasinya datang..


Min Jae datang dengan pakaian serba putih dan duduk di seberang Ha Na sambil berjongkok.


Ha Na melihat Min Jae yang tepat di seberang makamnya sendiri dan memandangnya.


Hei,sudah kubilangkan jangan menangis.


Kau itu jelek kalau menangis..


Ha Na mencoba berdebat..


Hei,kalau bukan karenamu mana mungkin aku menangis..


Dan lagi kenapa kau belum naik ke atas?


Apa malaikat maut kau ajak berduel tadi?


Atau akhirat tidak mau membukakan pintu untukmu??


Min Jae tertawa sambil memalingkan wajahnya.


Lalu mulai menjawab Ha Na.


Leluconmu itu tidak lucu tahu


Aku sudah jauh jauh kesini dari akhirat sana.


Aku ingin melihat kalian menggunakan foto yang tepat tidak untuk pemakamanku.


Tapi setelah melihat foto ini di atas makamku,yah aku cukup puas.


Aku terlihat sangat tampan.


Min Jae yang dengan tatapan senyum ceria itu lalu melirik Ha Na.


Sudah,jangan terus bersedih setiap mengingatku.


Aku meninggalkanmu bukan karena ingin tapi memang sudah ini ajalku..


Kau harus hidup dengan baik dan layak.


Jangan lupa makan dan tidur teratur.


Aku pergi meninggalkanmu untuk memberimu kekuatan menjalani hidup di dunia ini dengan baik agar kelak di akhirat sana kita bisa bertemu kembali.


Bukankah walau aku sudah mati,aku akan selalu hidup di hati dan kenanganmu.


Setidaknya,aku sudah mendapat sedikit tempat tak terlupakan di hatimu dan menggeser Dong Joo itu.


Ha Na tersenyum walau harus memaksakan diri..


Pergilah dengan tenang dan awasi aku dari atas sana.


Jika kelak ada kesempatan di kehidupan kedua maka kau harus langsung menemuiku sebagai pria baik baik..


Min Jae tersenyum lalu berdiri..


Baiklah...


Sudah saatnya aku harus pergi dan naik ke atas lagi..


Selamat tinggal.


Ya..Selamat tinggal....


Begitu halusinasinya akan Min Jae menghilang,Ha Na tesadar dan menatap lagi foto Min Jae di atas makamnya itu.


Ha Na lalu mengecup foto itu sambil memejamkan mata.


Selamat jalan Park Min Jae..


Terima kasih sudah hadir di hidupku walau hanya dalam waktu yang singkat....