
"Cinta datang dan pergi silih berganti.
Namun kita tidak pernah tahu,mana yang akan hanya singgah atau berlabuh selamanya di hati kita."
Namun apapun bentuk dan namanya,cinta tetaplah cinta.
Saat luka karena cinta lama sedih menghalau maka cinta baru akan datang dan menepis cinta lama itu menjadi cinta baru yang akan mewarnai hari esok dan seterusnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ha Na yang telah memejamkan mata dan bersiap untuk di tabrak itu sudah pasrah.
Tapi untung saja mobil itu berhasil mengerem walau sedang dalam kecepatan tinggi.
Pria dengan baju hangat biru tua itu keluar.
Ia memandang aneh wanita yang tidak gentar walau hampir di tabraknya itu.
Ekspresi wanita itu juga seperti sedih dan kecewa padahal ia sudah selamat dari maut yang harusnya lega dan bersyukur.
"Apa dia perempuan gila???
Pria itu melihat Ha Na yang bertelanjang kaki di malam hari dan sendirian.
"Benar,wanita ini memang sudah tidak waras.
Begitulah gumam si pria dalam hati.
Walau begitu ia tidak sampai hati meninggalkan Ha Na sendirian walau dikiranya Ha Na adalah wanita kurang waras.
Pria itu membawa Ha Na kekantor polisi.
Bukan tanpa alasan,Ha Na tidak mau bicara saat pria itu mencoba menanyai tentang dirinya,baik nama,alamat ataupun darimana ia berasal.
Karena itulah pria itu membawa Ha Na kekantor polisi.
Baik tuan..
Siapa nama anda?
"Namaku Jung Jae Ha.
Aku seorang pengacara.
Lalu apa yang membawamu kesini?
Jae Ha sudah di kantor polisi dan ingin membuat laporan terkait Ha Na.
"Begini pak,tadi di jalan wanita di sebelahku ini sepertinya sengaja ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakkan diri ke mobilku.
Untung saja aku berhasil mengerem.
Tapi saat aku menanyainya soal idenditas dia diam saja.
Aku rasa wanita ini kurang waras.
Ha Na tetap diam walau pria di sebelahnya menyebutnya seperti itu.
Tidak jauh darinya,Ha Na terpancing melihat dua orang yang saling berkelahi dan membuat keributan di kantor polisi.
Kedua pria itu ribut entah karena masalah apa lalu saling baku hantam.
Saat itu salah seorang pria meninju dada pria lainnya dengan kuat.
Pria itu tiba tiba pingsan dan tidak sadarkan diri.
Semua orang panik.
Polisi yang memeriksa berkata.
"Jantungnya berhenti...
Mendengar hal itu,Ha Na bangun dan tergerak ingin menolong.
Ia lalu mendekati pria itu.
Saat polisi memandangnya,Ha Na menjawab
"Aku seorang dokter.
Mendengar hal itu Jae Ha dan polisi tadi kaget.
Ha Na di biarkan menangani pasien itu sambil menunggu ambulance datang.
Ha Na membuka baju kemeja pria itu dan melihat memar biru di dadanya.
"Pasien ini pasti terkena trauma karena pukulan tadi.
Ia juga mengalami gagal jantung dan area biru itu, menandakan aliran darahnya tersumbat.
Pertama tama Ha Na memompa jatung pasien itu.
Setelah bersusah payah dan denyut nadinya kembali.
Ha Na memina pulpen tajam yang ada di saku Jae Ha.
"Hei,berikan pulpenmu!!!
Jae Ha kaget namun segera memberinya.
Detik berikutnya Ha Na mengagetkan semua orang yang hadir dengan menusukkan pulpen itu ke dada pria tadi.
Seketika darah segar keluar dan pria itu tersadar kembali.
Ha Na mencoba menyelamatkannya dengan menghentikan darah yang menyumbat itu agar tidak beku dengan menusukkan pena itu dan membuat aliran darah mengalir kembali.
Tidak lama ambulance datang.
Salah satu petugas itu mengenali Ha Na.
"Dokter Hyun?
Senang melihatmu,kenapa lama sekali cuti?
Rumah sakit sangat membutuhkamu.
Dokter In Joo dan Ah Ra benar benar kerepotan saat kau tidak ada.
Segeralah kembali.
Mendengar pembicaraan itu,Jae Ha malu sendiri karena tadi terang terangan mengatakan di depan Ha Na jika ia adalah wanita kurang waras.
Tapi Jae Ha juga tidak 100% salah karena tampilan Ha Na saat ditemuinya benar benar seperti orang gila.
Selang beberapa waktu,Yun Hee dan Jung Hwa menjemput puterinya di kantor polisi.
Jung Hwa mengenal pria yang menemukan Ha Na itu.
Ia juga berterima kasih karena telah menemukan dan menyelamatkan Ha Na.
Tanya Jung Hwa pada pria itu untuk memastikan.
"Iya,aku memang Jung Jae Ha..
Paman sendiri bukankah Hyun Jung Hwa?
"Iya kau benar sekali.
Kedua pria yang sama sama berprofesi sebagai pengacara itu saling berjabat tangan dan berkenalan.
Jung Hwa mengenal pria ini,dia adalah lulusan sekolah hukum Harvard.
Jae Ha juga termasuk dalam deretan pengacara top.
Dulu dia bernaung di salah satu firma hukum terkenal di Inggris.
Usianya masih tergolong muda yaitu 28 tahun.
Ayah dan ibunya juga orang hebat dalam bidang hukum,ayahnya seorang hakim dan ibunya seorang jaksa.
Karena kesuksesannya,ia tertarik mendirikan firma hukum di Korea.
Firma hukum itu juga langsung mendapat respon baik dan banyak peminat.
Terlebih pengaruh ayah dan ibu Jae Ha juga besar.
Walau memiliki firma hukum itu,ia tetap turun tangan menangani klien.
Jae Ha sangat pintar dan cerdas.
Ia juga menjadi langganan para kalangan atas juga menteri.
Kinerjanya sudah tidak di ragukan.
Tapi Jae Ha sudah memiliki seorang tunangan yang juga seorang pengacara.
Jae Ha cukup tangguh untuk di jadikan lawan.
Jae Ha juga mengenal Jung Hwa.
"Julukannya si pengacara angkuh.
Senang membantu kaum lemah dan menolak klien yang salah dan semena mena.
Pengacara hebat yang selalu menjatuhkan lawannya.
Jadi dia ayah dari wanita itu..
Jung Hwa dan Jae Ha saling bertatapan.
Ha Na sudah di dekat mobil sebelum masuk ke mobil iya minta izin untuk bicara sebentar dengan Jae Ha untuk mengucapkan terima kasih.
Ha Na mendekati mobil Jae Ha.
Jae Ha baru saja masuk ke dalam mobilnya.
Dari samping,Ha Na mengetuk pintu mobil Jae Ha.
Jae Ha menatap Ha Na dan segera menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf,aku hanya ingin mengucapkan terima kasih..
"O..i..iya...sama sama.
Aku juga ingin minta maaf karena menyebutmu tidak waras tadi.
Ha Na tersenyum kecil.
"Tidak apa apa,lagipula tampilanku memang meyakinkan seperti orang gila.
Jae Ha ikut tertawa dengan deretan gigi putihnya itu.
Ia geli sendiri dengan omongan Ha Na.
Tapi,Ha Na segera menyudahi pembicaraan itu.
"Baiklah,kalau begitu aku permisi pergi dulu..
"Iya,sampai jumpa...
Ha Na segera pergi dan berlalu dari hadapan Jae Ha.
Jae Ha memandang punggung Ha Na dari kaca spion mobilnya.
"Gadis itu pasti menyimpan suatu kesedihan yang mendalam sampai menderita seperti itu.
Kasihan..
Entah apa yang menimpanya..
Tapi aku rasa itu pasti sangat buruk hingga membuatnya terpukul dan terguncang sedemikian rupa
Tidak lama tunangan Jae Ha menelepon.
Jae Ha mengangkat dengan suara manis gadis yang menelfonnya itu.
Tunangan Jae Ha adalah sahabat masa kecilnya dulu yang bernama Ji Hong Ah.
Seorang gadis yang ceria dan selalu bersemangat bagai musim semi.
Hong Ah dan Jae Ha bersahabat dari kecil hingga benih benih cinta semakin muncul saat mereka dewasa dan memutuskan untuk bertunangan.
Hong Ah juga lulusan sekolah hukum Harvard.
Walau banyak tawaran berdatangan,ia tetap memilih bekerja dan bernaung di firma hukum milik Jae Ha.
Karena tidak ingin jauh jauh dari Jae Ha.
Setelah hari ini berlalu,Ha Na bertekad akan kembali lagi ke rumah sakit esok hari dan mengakhiri cuti panjangnya.
Keputusan Ha Na di sambut hangat oleh orang tuanya.
Terus berdiam dan hanya terpuruk tidak akan membuat Ha Na lebih baik.
Karena itu ia sadar dan ingin menghadapi kenyataan kembali walau pahit dan susah.
Di banding terus menjadi pengecut dan benalu ia memilih bangkit dan menatap dunia kembali.
Jae Ha selain menjadi pengacara hebat juga gemar melukis.
Ia memiliki bakat itu yang bahkan bukan di turunkan dari kedua orang tuanya.
Malam ini sambil menuangkan inspirasinya di atas kanfas,Jae Ha teringat kembali pada aksi heroik Ha Na yang menyelamatkan pria tadi.
Ada rasa kagum dan penasaran di fikiran Jae Ha pada sosok Ha Na.