
Jae Ha membuka mata dan menyadari kehadiran Ha Na yang mematung melihatnya sedang berciuman..
Jae Ha kaget dan segera melepas pautan bibirnya dengan Hong Ah lalu menatap Ha Na.
Hong Ah merasa aneh lalu berbalik ke belakang dan melihat Ha Na..
Lalu menatap Jae Ha kembali...
"Siapa dia Jae Ha?...
Jae Ha menatap Ha Na dan Hong Ah bergiliran..
Tapi Ha Na segera menjawab pertanyaan Hong Ah tadi.
"Aku Hyun Ha Na,aku dokter di sini sekaligus orang yang Jae Ha selamatkan dari kejadian penusukan itu.
Jae Ha juga sudah aku anggap seperti kakak laki lakiku sendiri karena ia sudah beberapa kali menyelamatkanku.
Jae Ha juga bercerita kalau dia sudah memiliki tunangan yang sangat cantik.
Senang akhirnya bisa bertemu denganmu dan maaf kalau kehadiranku menggangu waktu berdua kalian.
Kalau begitu,aku akan permisi dulu.
Hong Ah tiba tiba menghentikan langkah Ha Na.
Tunggu....
Ha Na benar benar berhenti dan membalikkan badan.
Ha Na tersenyum..
"Ada apa???
"Aku juga ingin memperkenalkan diri secara resmi,namaku Ji Hong Ah.
Aku seorang pengacara sekaligus tunangan Jae Ha.
Senang bisa bertemu denganmu juga..
Lain waktu kita harus berbicara berdua saja ya.
Karena kau sudah seperti adik untuk Jae Ha maka kau harus menganggapku kakakmu juga.
Panggil aku kakak ya mulai sekarang.
Ha Na tersenyum dan terlihat bahagia.
Tapi tidak pada Jae Ha yang terlihat prihatin.
"Aku mencoba bermain hati dengan dua wanita yang baik ini.
Di sini akulah pria brengsek yang bermain curang dan ingin serakah memiliki keduanya tanpa ingin melepas salah satunya.
Maafkan aku Hong Ah yang mulai curang dan tidak setia sebagai tunanganmu.
Dan maafkan aku Ha Na yang tidak bisa benar benar menjadi seorang kakak seperti yang kau harapkan.
Aku malah memiliki perasaan yang tidak seharusnya padamu karena aku sudah memiliki tunangan.
Ha Na,apakah kau adalah ujian untuk hubunganku dengan Hong Ah atau kau memang benar benar salah satu takdir cinta untukku??
Untungnya Ha Na dan Hong Ah tidak saling salah paham.
Mereka berdua sama sama baik dan pengertian.
Mereka tidak gopoh dalam menilai dan mengambil keputusan.
Tapi yang Jae Ha sesalkan adalah saat Ha Na melihatnya bermesraan dengan Hong Ah tadi.
Entah apa dan bagaimana yang Ha Na rasakan saat itu.
Di sisi lain,Ha Na juga rupanya cukup terganggu karena melihat Jae Ha bermesraan dengan tunangannya seperti tadi.
Namun Ha Na segera menepis fikiran itu.
"Apa yang aku fikirkan?
Wajar saja mereka bermesraan.
Mereka adalah pasangan kekasih dan terlebih lagi mereka juga sudah bertunangan.
Sah sah saja kan...
Namun tetap saja,ada sesuatu yang mengganggu tiap Ha Na melihat hal itu.
Begitu juga pada Hong Ah yang sekarang sudah di dalam mobilnya menuju jalan pulang.
Kehadiran Ha Na benar benar mengganggu fikirannya .
Itu semua karena tadi saat ia bersama Jae Ha dan Jae Ha bercerita tentang Ha Na.
Jae Ha kelihatan bersemangat dan ceria,tapi saat menceritakan kehidupan cinta Ha Na yang menyedihkan Jae Ha juga ikut hancur dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Hong Ah merasa terancam dan takut Jae Ha berpindah ke lain hati karena merasa ada sesuatu yang beda saat Jae Ha bercerita tentang Ha Na.
Ketiganya bingung dengan pemikiran masing masing .
Malam telah tiba,Ha Na akan menemani Jae Ha malam ini karena tidak ada yang menjaganya.
Ha Na masuk ke ruangan Jae Ha dan melihat Jae Ha sedang melukis di atas kertas.
Mungkin untuk menghilangkan kebosanannya.
Begitu melihat Ha Na masuk,Jae Ha tersenyum.
Ha Na duduk di tepian ranjang Jae Ha.
"Oppa bagaimana kondisimu??
"Aku sudah jauh lebih baik Ha Na..
"Syukurlah oppa.
Ha Na terlihat senang dan tenang setelah mendengar Jae Ha baik baik saja.
"Apa yang kau lukis oppa??
Jae Ha menunjukkan lukisannya.
Lukisan pemandangan desa neneknya.
"Wah,inikan desa nenekmu yang waktu itu kita kunjungi ya.
Jawaban Ha Na benar.
"Yapz,tepat sekali...
Ha Na lalu memandang Jae Ha.
"Oppa,sekali lagi terima kasih ya..
Aku benar benar berhutang nyawa padamu.
Tapi aku juga merasa bersalah dan...
Stttttt..
Jae Ha menaruh satu jari telunjuknya di depan bibir Ha Na agar Ha Na berhenti bicara.
Ha Na sontak terdiam dan kaget.
Ha Na juga berhenti bicara..
Sekarang giliran Jae Ha yang bicara..
"Sudah Ha Na,jangan membahas itu lagi.
Aku kan sudah bilang aku akan melindungimu.
Tidak peduli apapun,aku akan selalu melindungi adik tersayangku ini.
Ha Na benar benar tersentuh pada perkataan Jae Ha.
Oppamu ini sedang malas mengangkat sendok...
"Lihatlah,oppa jadi manja begini.
Tapi karena oppa sedang sakit,baiklah..
Ha Na setuju untuk menyuapi Jae Ha.
Perlahan sendok demi sendok,Ha Na menyuapi Jae Ha.
Jae Ha melahap makanan itu dengan cepat.
Walau makanannya biasa,namun memakan makanan itu sambil memandang wajah cantik Ha Na, makan makanan yang dimakannya ini menjadi senikmat masakan koki di restoran bintang lima.
Ha Na juga senang bisa menyuapi Jae Ha.
Apalagi melihat Jae Ha makan dengan lahap dan habis tidak bersisa.
Ha Na meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu kemeja.
"Anak pintar.....
Ha Na memuji Jae Ha dengan manisnya..
Jae Ha lalu berbaring di ranjangnya dan Ha Na menyelimutinya.
"Tidurlah oppa,aku akan menemanimu malam ini...
Jae Ha agak khawatir..
"Kau tidak akan pulang??
Kau akan tidur dimana??.
"Aku akan menjagamu oppa,besok setelah orang tuamu datang aku akan pulang dan istirahat.
Malam ini aku yang akan menjagamu dan akan tidur di sofa.
Oppa tidurlah...
Jae Ha iba pada Ha Na.
Saat Ha Na masih berada di dekatnya,Jae Ha menarik tangan Ha Na.
Membuat Ha Na tercekat..
"Ha Na,kita bisa berbagi ranjang.
Tidur di sofa akan terasa tidak nyaman.
Tidurlah di ranjang ini bersamaku.
Tek.......
"Jae Ha mengajakku tidur bersamanya..
Aku harus bagaimana??
Ha Na kelihatan bingung,hal itu membuat Jae Ha duduk kembali dan membuka selimutnya.
Ia lalu menarik Ha Na dan memaksanya baring bersamanya.
Setelah berbaring bersama dan berhadapan,Jae Ha menyelimuti Ha Na dan dirinya bersama.
Ha Na masih terpaku dan bingung,ia ingin menolak tapi mulutnya tidak kuasa mengucapkan sesuatu.Ia malah menuruti apa yang Jae Ha perintahkan padanya.
Sekarang ia sudah berbaring bersama Jae Ha di atas satu ranjang dan didalam satu selimut.
"Ha Na,jaga tidurmu dan jangan mengigau ya..
Aku tidak bisa tidur nyenyak nanti.
Ha Na tertawa..
"Tidak,aku akan mengorok sekuat mungkin agar oppa tidak bisa tidur.
Jae Ha tertawa dengan deretan gigi putihnya itu.
"Sudah ayo tidur,sudah larut..
Kita akan membuat pasien lain bangun jika tertawa lebih keras...
"Iya oppa...
Jae Ha lalu mengecup kening Ha Na sebagai pengantar tidur.
Ha Na diam dan hanya menerima.
Jae Ha sangat bahagia saat ini.
"Tidak ada hari yang membahagiakan dari hari ini.
Aku dan Ha Na bisa tidur bersama di satu ranjang dengan jarak yang sangat dekat.
Inilah yang di sebut musibah membawa berkah..
Ha Na tertidur lelap setelah itu.
Jae Ha memilih terjaga sambil memandangi wajah Ha Na yang tertidur pulas.
Saat Ha Na tertidur dengan pulas.
In Joo dan Ah Ra datang ke rumah sakit tengah malam buta dengan membawa bayi mereka.
Bukan untuk mengobati pasien melainkan bayi merekalah yang harus di rawat karena kejang demam (step).
Bayi mereka terkena infeksi bakteri yang memang rentan terhadap bayi.
Hal itulah yang memicu terjadinya kejang demam pada bayi mereka.
In Joo dan Ah Ra merasa bersalah karena teledor sebagai orang tua.
Mereka berdua sibuk bekerja dan tidak merawat putera kecilnya dengan baik.
Saat mereka sibuk merawat pasien,anak mereka bahkan tidak bisa di rawat oleh orang tuanya.
Ah Ra menangis melihat anaknya yang di infus.
"Maafkan ibu nak,apa ini caramu menyadarkan ibu.
Kau sangat ingin perhatian dan di rawat oleh ibu karena itu sekarang kau menjadi pasien nak??
Maafkan ibu nak...
Disini Ah Ra yang sangat menyesal karena sebagai ibu gagal mengurus bayinya.
Di tengah upayanya mengobati orang lain agar sehat,ia malah membuat anaknya jatuh sakit karena kurang perhatian.
Ah Ra lalu membuat keputusan yang besar di hidupnya.
Ia berbicara pada suaminya,ingin berhenti menjadi seorang dokter dan ingin fokus menjadi ibu yang baik bagi anaknya.
Ia sudah cukup banyak menyelamatkan pasien dan sudah cukup puas.
Karena itu sekarang ia hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi anaknya.
Biarlah In Joo yang mencari nafkah dan ia yang mengurus urusan rumah dan anak.
Teguran ini sudah cukup baginya untuk sadar,jika anak sangatlah berharga.
Profesi sebagai dokter memang terhormat dan menjanjikan.
Tapi menjadi seorang ibu adalah anugerah dari tuhan yang tidak semua wanita bisa mendapat gelar itu.
Karena setiap wanita bisa menjadi isteri tapi setiap wanita belum tentu bisa menjadi seorang ibu jika tuhan belum mempercayakannya melahirkan anak.
Karena itu,Ah Ra yang sudah di percaya untuk menjaga titipannya memilih melepas gelar dan profesinya untuk lebih terhormat dengan gelar seorang ibu.
Ah Ra yakin tidak akan menyesalinya karena sekarang puteranya ada prioritas utamanya.
In Joo juga menghormati dan bangga pada keputusan berani isterinya itu.