
Hari ini rumah sakit Ha Na kedatangan seorang pasien Gangguan stress pasca trauma ( PTSD).
PTSD dapat berkembang setelah seseorang mengalami kejadian traumatis atau mengerikan,seperti pelecehan seksual atau fisik,kematian tidak terduga dari orang dicintai atau bencana alam.
Penyakit ini tergolong sulit sembuh total karena memungkinkan untuk kambuh jika situasinya mendukung.
Yang menangani pasien ini adalah Bo Na,si psikiater kembaran Bo Ra.
Pasien yang datang adalah seorang buruh pabrik wanita berusia 35 tahun.
Ia berteriak histeris dan hampir melukai orang lain karena melihat sosok menejer yang baru.
Sosok menejer wanita yang baru itu membuatnya teringat akan ibu mertuanya yang dulu sering menyiksanya secara mengerikan.
Pasien wanita itu seperti mengingat kembali bagaimana dulu di siksa secara membabi buta walau ibu mertuanya sudah di penjara.
Semua kenanangan pahit itu meninggalkan trauma yang mendalam hingga psikisnya terganggu.
Selama ini ia hanya meminum obat penenang jika penyakitnya kambuh namun tidak berkonsultasi lebih lanjut dengan psikiater.
Kali ini,untuk kali pertamanya,ia akan menjalani sesi pengobatan dengan Bo Na.
"Nona Ah Jung Min...
Sekarang kita akan memulai sesi pengobatan ini.
Aku harap kau bisa terbuka dan tetap tenang agar kita menemukan titik terang masalahmu.
Silahkan bercerita..
"Pasien itu memandang meja dan mulai menceritakan kisah hidup dan kekerasan yang di lakukan oleh mertuanya.
"Aku sangat mencintai suamiku..
Setelah menikah aku pindah dan tinggal dengan mertuaku karena suamiku adalah anak satu satunya.
Ayahnya telah lama tiada.
Awalnya saat baru tinggal bersama,ibu mertuaku selalu terlihat baik dan ramah.
Tapi saat suamiku harus bekerja keluar pulau dan meninggalkanku,saat itulah ibu mertuaku yang kejam mulai menampakkan siapa dirinya yang sebenarnya dan menyiksaku.
Ternyata,ia tidak benar benar menyukaiku karena aku dari keluarga miskin.
Ia bahkan membuatku keguguran saat aku hamil,ia memfitnahku dan berbohong pada suamiku jika aku sengaja menggugurkan kandungan karena belum ingin memiliki anak,tidak hanya itu ia bahkan menuduhku sering menyiksanya selama kepergian suamiku.
Padahal yang terjadi adalah sebaliknya,sudah tidak terhitung semua kekerasan yang ia lakukan padaku.
Memeberiku makan sekali sehari,menyiramiku dengan air panas,menendang dan memukulku adalah sebagian kecil dari puluhan kekerasan yang tidak terhitung ia lakukan padaku.
Suamiku yang akhirnya bisa pulang malah termakan omongan ibunya dan berhasil memfitnahku.
Aku di usir dari rumah itu dan di ceraikan.
Mentalku tidak stabil dan kejiwaanku juga tidak baik,beruntung ada seorang dermawan yang menolongku dan membawaku ke pusat perlindungan wanita.
Aku mengadukan semuanya dan berhasil membuat ibu metuaku di penjara,tapi karena hasutannya selama suamiku pergi rupanya di pulau itu suamiku telah berpindah kelain hati dan memiliki wanita lain.
Bahkan setelah di penjara wanita jahat itu masih bisa menyiksaku,terlebih anaknya juga lebih memilih wanita barunya di banding aku.
Betapa sakit dan sulitnya aku sembuh dari semua ini dokter..
Pasien itu menangis hingga tertunduk.
Ia sedih karena teringat kembali akan semua hal buruk yang menimpanya.
Bo Na ikut sedih dan prihatin.
Pasien ini harus melalukan penyembuhan dengan mengubah pola pikirnya terliebih dahulu.
Selama ini ia masih sering di hantui oleh ketakutan karena cenderung menganggap segalanya masih seperti dulu dan tidak berubah.
Kenyataan suaminya hidup bahagia dengan yang lain juga menjadi cerita sendiri.
Rasanya siapapun akan gila jika bernasip seperti ibu ini.
Untuk seterusnya,ibu itu akan selalu menjadi pasien tetap Bo Na dan akan selalu di pantau setiap harinya.
Jika penyakit seperti tumor,usus buntu atau penyakit medis yang hanya memerlukan operasi tentu akan lebih cepat untuk di sembuhkan,tapi masalah psikis walau tidak melukai tubuh namun jiwa,perasaan dan fikiran si pasien sangat mudah terpengaruh dan tidak mudah untuk sembuh,tidak juga bisa melalui proses operasi.
Melainkan mendalami lebih jauh tentang si pasien dan menemukan kembali dirinya sebelum trauma kejadian itu menghampirinya.
Membangun sebuah kepercayaan dan benteng perlindungan untuk dirinya agar tidak lagi di serang ketakukan dari dokumen trauma di dalam dirinya.
Jika si pasien bisa semakin kuat dan percaya,maka sekalipun dokumen trauma itu mencuat ke permukaan maka ia akan berhasil melawan dan melewatinya sehingga hal itu bukanlah apa apa baginya,namun prosesnya tentu tidak adak sebentar.
Menjahit hati dan fikiran yang terluka tidak akan semudah membalut luka dengan perban....
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Jae Ha telah menginjakkan kaki kembali di Korea.
Ia pergi ke pusat kemiliteran untuk mengetahui dimana ia akan di tempatkan.
Saat melihat jalan dan melintasi rumah sakit tempat Ha Na dulunya bekerja,Jae Ha lalu terbesit ingin menjenguk Ha Na.
"Tidak Jae Ha!
Jangan lakukan itu!
Jae Ha berusaha membentengi dirinya agar tidak lepas kendali lagi.
Tapi ia tidak tahu,jika Ha Na tidak lagi bekerja di rumah sakit itu.
Takdir membuat Jae Ha harus lebih di uji.
Jae Ha malah akan di tempatkan di pusat militer yang tidak jauh dari rumah sakit baru tempat Ha Na bekerja.
Polosnya,Jae Ha malah bersyukur ia di tempatkan di kota itu karena menganggap tidak akan bertemu Ha Na di sana.
Saat sedang di mobil,Hong Ah menelpon Jae Ha.
"*Halo...Jae Ha...
"Iya,ada apa Hong Ah..
"Tidak,aku hanya ingin memastikan kau tidak macam macam..
Aku baru selesai meminum obat..
"Iya,baguslah Hong Ah.
Istirahatlah...
"Jae Ha,ingat ya..
Pegang janjimu...
"Iya Hong Ah*..
Jae Ha menutup telepon itu dan menatap kedepan.
Setelah menghirup udara di Korea kembali,Jae Ha benar benar tidak bisa mengalihkan fikirannya dari Ha Na.
Ha Na yang sedang melihat pasangan lansia yang saling menjaga di rumah sakit tempatnya bekerja sedang tersentuh.
Pasangan suami isteri yang berusia lanjut itu sama sama dalam keadaan sekarat,mereka setuju untuk tidak meminta pengobatan lanjutan.
Suami isteri itu berbaring di ranjang yang saling berdekatan dan berpegangan tangan.
Walau kondisi mereka sudah sangat lemah namun mereka tetap saling tersenyum.
Mereka ingin pergi bersama agar tidak kesepian di alam baka.
Ha Na memantau dari jauh.
Yeon Jin lalu mendekat dan berbincang dengan Ha Na.
"Apa kau iri pada mereka??
Ha Na mengangguk..
"Tentu saja...
Sangat iri.....
Yeon Jin tersenyum..
"Yah,pepatah hingga maut memisahkan sepertinya berlaku untuk mereka.
Ha Na lalu mengingat Jae Ha kembali..
"Aku merindukanmu Jae Ha..
Sangat sangat merindukanmu..
Bagaimana kabarmu di sana...
Ha Na ingin menangis lalu berlalu pergi meninggalkan Yeon Jin sendiri.
Tidak lama Bo Ra si dokter umum menghampiri Yeon Jin.
Mereka saling menatap lalu berpegangan tangan.
Ya..
Tanpa di ketahui siapapun,Bo Ra menjalin hubungan dengan Yeon Jin.
Namun hal itu harus di tutupi karena saudara kembarnya yang seorang psikiter Bo Na,juga menaruh hati pada Yeon Jin sejak lama.
Tapi Yeon Jin memilih Bo Ra tanpa sepengetahuan Bo Na.
Mereka menutupi hal itu agar tidak menyakiti Bo Na.
Ha Na akhirnya menangis di sudut rumah sakit itu.
Ia berjongkok dan menangis tersedu sedu...
Luka di hati Ha Na yang masih basah dulunya harus robek lagi dengan luka baru yang lebih besar.
Sementara saat ini Jae Ha baru saja tiba di pusat militer tempatnya bertugas.
Ha Na dan Jae Ha berada di jarak yang tidak jauh lagi..
Akankah takdir mempertemukan kedua insan itu lagi..