
Di taman itu Hong Ah masih mematung.
Sementara Suk Kyu memilih pergi dengan perasaan kecewa yang dalam..
Ha Na kaget bukan main saat tahu Jae Ha mempermainkannya.
Ha Na segera duduk..
Begitu juga Jae Ha yang ikut bangun dan duduk.
Ha Na menatap Jae Ha dengan penuh amarah.
PLAKKK....
Ha Na menampar Jae Ha dengan kuat.
Ha Na juga menitikkan air mata dan mulai menangis.
Jae Ha menerima tamparan itu.
"Oppa bodoh!!!
Bodoh!!!!
Apa kau tahu betapa cemasnya aku tadi hah!!!!
Apa kau tahu kau sudah menggoyahkan perasaanku!!!
Kenapa kau jahat sekali!!!!!
Jae Ha tercengang,ternyata Ha Na juga di landa keraguan seperti dirinya.
"Aku selalu memikirkanmu Ha Na.
Otakku begitu kacau saat tadi melihatmu bersama pria lain!!
Aku sangat marah dan benci!!!
Ha Na menjawab lagi.
"Kita tidak sepatutnya begini oppa,kau itu sudah punya tunangan!!!
Tapi kau juga selalu bersikap yang membuatku salah paham!!!
Aku harus bagaimana untuk menghindarimu!
Ha Na menangis kuat,Jae Ha sangat iba lalu memeluk erat Ha Na.
Ia tidak menyangka jika Ha Na juga sama kacaunya seperti dirinya.
"Maafkan aku Ha Na,semua ini salahku..
Aku tidak bisa menjaga sikap dan perasaanku.
Aku malah terhanyut dan larut dalam perasaanku.
Jae Ha melepas pelukannya lalu memegang kedua belah wajah Ha Na dengan tangannya.
Ia memandang wajah Ha Na sebentar lalu mengecup bibir Ha Na.
Kali ini Ha Na tidak kaget lagi dan mulai meresapi ciuman itu.
Setelah sekian lama akhirnya bibirnya terjamah kembali oleh seorang pria.
Setelah kepergian Dong Joo,Jae Ha lah pria pertama yang bisa masuk lagi ke hati dan pikiran Ha Na.
Ha Na tidak lagi menolak saat bibir Jae Ha bersahutan memaut bibirnya erat.
Yang saat ini Ha Na rasakan adalah bahagia saat dunianya hanya milik Jae Ha dan dirinya.
Mereka berdua lupa akan Hong Ah dan Suk Kyu yang tadi mereka tinggalkan dan kecewakan.
Hari itu Jae Ha dan Ha Na sama sama mematikan ponsel mereka.
Jae Ha dan Ha Na memilih menikmati waktu berdua di rumah Jae Ha.
Tanpa mereka ketahui,kepergian Hong Ah kemarin ke Belanda bukanlah untuk liburan melainkan untuk mengecek kesehatanya agar tidak di ketahui Jae Ha.Hong Ah di vonis menderita kanker otak dan sudah cukup parah,kanker itu akan terus menggerogoti otaknya.
Hong Ah sendiri tidak memilki potensi untuk selamat dari kanker itu walau menempuh jalan operasi karena kemungkinan berhasilnya sangat kecil.
Kanker itu terletak di bagian yang sangat sensitif dan berhimpitan dengan saraf pusat.
Jika di lakukan operasi bisa saja Hong Ah meninggal di meja operasi itu.
Karena itulah saat ini Hong Ah hanya pasrah saat melihat Jae Ha pergi dengan Ha Na.
Setidaknya jika ia pergi nanti Jae Ha tidak terlalu menangisinya dan ada seseorang yang mendampinginya untuk menghilangkan dukanya.
Namun Hong Ah juga tentu sedih dan kecewa,padahal impian terakhirnya adalah bisa menjadi pengantin Jae Ha sebelum menutup matanya.
Namun Hong Ah tidak akan memberi tahu Jae Ha sekarang.
Ia akan membiarkan Jae Ha bersenang senang dahulu sebelum harus menerima kabar buruk itu.
Ha Na sedang melukis bersama Jae Ha.
Seperti biasa,Jae Ha berada di belakang Ha Na dan Ha Na duduk di depan Jae Ha.
Jae Ha menuntun Ha Na melukis dan berkali kali mengecup pipi Ha Na yang lembut itu.
"Oppa,hentikan..
Bagaimana aku bisa konsen melukis..
Jangan cium pipiku terus...
"Tidak,aku tidak akan berhenti.
Sudah lama aku ingin melakukannya...
Jae Ha malah merangkul pinggang Ha Na dengan kedua tangannya.
Ha Na menyesap menghirup aroma tubuh Ha Na melalui leher Ha Na.
Ha Na merinding geli apalagi dengan kumis tipis Jae Ha yang baru tumbuh dan belum di cukur itu mengenai lehernya.
Jae Ha semakin intens menciumi leher Ha Na dengan nafas yang memburu.
"Oppa....
Ha Na menatap Jae Ha.
Ha Na mengelak dan menghindar..
Sehingga Jae Ha terkejut dengan birahi yang sudah di ubun ubun itu.
Ha Na menatap Jae Ha dengan mata sendunya itu.
Jae Ha menyadari kesalahannya..
"Apa yang sudah aku lakukan di situasi seperi ini!!
Jae Ha lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku Ha Na..
Aku salah....
Ha Na tersenyum lemah..
"Tidak apa apa oppa yang terpenting kau sudah menyadarinya.
Jae Ha lalu memeluk Ha Na.
"Aku mencintaimu Ha Na...
"Iya oppa,aku juga...
Sore harinya,Ha Na pulang bersama Jae Ha.
Ha Na belum bercerita pada ibunya jika ia sudah bersama Jae Ha.
Ha Na takut bercerita pada ibunya dan mengakui hal itu.
Ia masih belum berani memberi tahu kebenarannya.
Esok hari Ha Na dan Jae Ha berniat bertemu dengan Hong Ah untuk memperjelas semuanya.
Juga berterus terang dengan hubungan mereka.
Hari ini Jae Ha dan Ha Na bertemu dengan Hong Ah di sebuah restoran.
Ha Na duduk di samping Jae Ha dan Hong Ah duduk sendirian di seberang meja itu.
Hong Ha terlihat sangat menyedihkan tapi ia sudah menyiapkan sesuatu juga karena ia belum siap untuk kehilangan Jae Ha selama masih hidup.
Jae Ha membuka omongan.
"Hong Ah,sebelunya aku minta maaf..
Aku dan Ha Na...
"Tunggu dulu...
Hong Ah menjeda omongan...
"Aku ingin kau dan Ha Na melihat ini...
Hong Ah menyerahkan sebuah amplop besar ke arah Ha Na dan Jae Ha.
Jae Ha dan Ha Na saling bertatap aneh.
Jae Ha berinisiatif membuka amplop itu dan membacanya bersama Ha Na.
Ha Na dan Jae Ha langsung seperti kehilangan nyawa saat membaca kertas itu.
Lembaran kertas itu tidak lain adalah hasil pemeriksaan Hong Ah yang menyatakan dirinya mengidap Kanker otak stadium lanjut dan tidak memiliki harapan untuk sembuh.
Jae Ha langsung menatap Hong Ah seakan tidak percaya.
"K..kau...apa benar??
Hong Ah dengan mata berkaca mengangguk sambil memejamkan mata lalu air matanya juga mulai berjatuhan.
Ha Na juga merasa seperti di pukul palu kesalahan yang sangat besar.
"Dan akhirnya perkataan ibu benar.
Aku berbuat salah dan menyebabkan semuanya menderita.
Hong Ah sedang sakit rupanya dan aku malah merebut kekasihnya.
Aku sempat berbahagia di atas penderitaan orang lain.
Dan sekarang pada akhirnya akulah yang paling menderita disini.
Jae Ha bangun dari kursinya dan memeluk Hong Ah erat.
Wajah Jae Ha sangat menyesal dan bahkan ingin menangis.
"Maafkan aku Hong Ah..
Maafkan aku...
Aku meyesal,aku minta maaf...
Tepat di hadapan Ha Na,Jae Ha memeluk erat Hong Ah.
Ha Na menyadari betapa hina dan rendahnya dirinya sekarang karena sudah merusak kebahagiaan sepasang kekasih yang sangat bahagia dan saling mencintai ini.
Ha Na menangis dalam hati melihat Jae Ha yang begitu hancur.
Ha Na juga lalu mengingat kembali bagaimana dulu ia menangis saat kepergian Dong Joo.
Ha Na benar benar muak pada kisah cintanya yang sangat tidak adil ini.
Selalu tidak ada akhir bahagia untuk kisah kasihnya.
Setiap ia jatuh hati dan memiliki perasaan pada seorang pria maka pasti pria itu akan bernasib buruk seperti mendapat kutukan.
Ha Na merasa hatinya seperti di bubuhi garam saat ini.
"Ya tuhan apa sebenarnya aku pantas untuk hidup??