THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
AKU



Dong Joo sepanjang perjalanan ke Sokcho hanya mendiamkan Won Hee.


Won Hee sebenarnya kesal dan ingin marah.


Namun,ia mengurungkan niatnya itu dan bersabar agar rencananya menjebak Dong Joo bisa berhasil..


■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■


Di tempat lain,Min Jae baru saja mendapatkan gajinya bulan ini.


Karena nominalnya cukup besar,Min Jae berniat membelikan Ha Na sebuah cincin.


Tidak perlu menunggu lama,Min Jae segera ke toko perhiasan dan membelikan Ha Na sebuah cincin berlian bermata putih.


Min Jae menelepon Ha Na untuk bertemu di depan rumah sakit.


Menerima pesan Min Jae,Ha Na langsung berlari keluar.


Min Jae sedang berdiri di depan rumah sakit dan bersandar di tiang rumah sakit itu..


Saat melihat Ha Na keluar..


Min Jae dan Ha Na saling tersenyum.


Ha Na mendekat pada Min Jae..


Hei,apa kau sebegitu senang melihatku?


Tentu saja...


Wah,aku langsung melayang rasanya..


Ada apa Min Jae?


Bagaimana dengan lukamu??


Oh itu,lukaku baik baik saja.


Sebenarnya kedatanganku ke sini ingin memberimu ini...


To The Point saja,Min Jae memberikan kotak berisikan cincin itu.


Ha Na membukanya dan tersenyum melihat hadiah manis itu.


Maaf ya,berliannya kecil sekali..


Ha Na menggeleng.


Tidak Min Jae,ini sangat bagus..


Terima kasih ya..


Jadi kau menyukainya??


Ha Na mengangguk..


Tentu saja....


Ha Na bahkan langsung memakainya dan mengecup pipi Min Jae..


Min Jae kaget dan memegang pipinya.


Aigooo..


Rasanya benar benar jantungku di buat seperti naik roller coster.


Min Jae sangat senang karena Ha Na menyukai hadiah darinya.


Ha Na baru ingat sesuatu


Min Jae,apa kau sibuk?


Em,tidak..


Kenapa memangnya?


Kalau begitu bisakah kau mengantarku ke daerah Daegu?


Bukankah itu cukup jauh Ha Na?


Iya memang,tapi aku harus mengantarkan hasil pemeriksaan beberapa pasien yang waktu itu sempat di rawat disini.


Juga mengantar beberapa vaksin untuk di rumah sakit cabang kami di sana.


Hem,sepertinya penting.


Kalau begitu ayo pergi....


Ha Na senang karena Min Jae mau mengantarnya.


Baiklah,kalau begitu aku siap siap dulu.


Tunggu ya...


Min Jae sangat bahagia melihat Ha Na yang tersenyum lebar padanya.


Ya ampun,dewiku tersenyum lagi hari ini..


Tidak perlu menunggu lama,sekarang Ha Na dan Min Jae sudah meluncur ke lokasi rumah sakit di Daegu.


Sepanjang jalan,Ha Na dan Min Jae terus saja bercanda.


Berbeda dengan Won Hee dan Dong Joo yang saling diam dan membenci.


Ha Na..


Ada yang ingin aku katakan..


Iya,ada apa Min Jae katakan saja..


Min Jae mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberikan hal itu pada Ha Na.


Ha Na kaget..


Bukankan ini kartu donor organ?.


Apa maksudnya?.


Ha Na menatap Min Jae serius.


Min Jae segera memberi penjelasan.


Yah,kau tahu kan semasa hidup aku selalu bergemelut dengan dunia hitam.


Setidaknya jika suuatu saat aku kecelakaan atau mengalami mati otak aku ingin di ampuni oleh Tuhan dengan mengorbankan organ organ tubuhku ini.


Aku memberikannya padamu karena aku tidak punya keluarga atau wali,jadi jika suatu saat terjadi hal yang buruk padaku aku mau kau menunjukkan kartu itu dan menyumbangkan organku pada rumah sakit untuk orang orang yang lebih membutuhkan.


Juga,jika memang itu terjadi..


Aku ingin kau yang mengangkat jantungku karena kau lah wanita pertama yang membuatku berderbar.


Tiba tiba perasaan Ha Na menjadi sedih mendengar ucapan serta wasiat dari Min Jae.


Hei,jangan sedih begitu.


Wajahmu jelek kalau sedih..


Pacarku bukan tipe seperti itu..


Ha Na lalu bergelayut manja di lengan Min Jae..


Ha Na menyandarkan kepalanya di lengan Min Jae.


Kau sungguh mulia Min Jae.


Kau adalah orang baik..


Min Jae melihat sejenak kesamping wajah Ha Na yang bersedih.


Maafkan aku Ha Na jika membuatmu bersedih.


Tapi hanya padamu aku bisa menitipkan wasiat itu.


Aku tidak pernah tahu kapan aku akan mati.


Setiap hari pekerjaanku berisiko dan selalu berhadapan dengan maut.


Bisa bersama denganmu membuatku sadar dan mensyukuri nikmat di balik hidup yang berat ini.


Aku harap di kehidupan kedua kelak,kita terlahir setara dan berjodoh kembali.


Min Jae berfikir jauh bahkan sebelum tahu kapan ajal akan datang padanya.


Ha Na juga merasa takut kehilangan Min Jae,padahal ia bahkan belum lama mengenal pria itu.


Ha Na mulai takut kehilangan dan akan sulit melupakan semua tentang Min Jae sekalipun Dong Joo akan datang lagi padanya.


■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■


Won Hee dan Dong Joo sudah sampai di Sokcho.


Won Hee berniat melancarkan rencanya di hari terakhir saja.


Sementara ia masih berusaha untuk bisa mendekati Dong Joo secara alami.


Tapi Dong Joo tidak menunjukkan itikad baik sedikitpun.


Dong Joo seringkali mengabaikannya bahkan tidak mengangap kehadirannya dan memilih menyibukkan diri pada pekerjaan.


Won Hee hampir di ambang batas kesabarannya.


Karena itu,Won Hee melakukan sesuatu yang bodoh.


Saat sedang dalam rapat pembahasan di ruangan rapat itu,Won Hee dengan senga menjatuhkan gelas kaca yang berisi air di mejanya.


Tak pelak,gelas itu lebur ke lantai..


Won Hee melakukan aksinya dan memugut serpihan kaca yang tajam itu sehingga tangannya terluka dan berdarah.


Won Hee pura pura berteriak kesakitan dan mencari pehatian Dong Joo.


Luka di jari Won Hee cukup dalam karena ia sengaja menancapkan pecahan beling itu cukup dalam.


Banyak darah yang keluar dari luka itu.


Beberapa orang di ruangan rapat itu kaget dan menghampiri Won Hee.


Namun,harapan Won Hee pupus lagi.


Dong Joo bahkan tidak bergeming walau mendengarnya berteriak kesakitan.


Won Hee menatap Dong Joo penuh amarah.


Dasar jahat!!


Kau benar benar tidak peduli rupanya padaku!!


Manusia tidak punya perasaan!!


Won Hee menelan pahit lagi pil kekecewaan itu.


□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□□


Ha Na dan Min Jae sudah sampai di desa Daegu.


Ha Na segera menyerahkan dokumen yang di perlukan oleh rumah sakit itu juga memberi vaksin yang di butuhkan.


Min Jae juga Ha Na ajak masuk.


Min Jae tentu saja canggung dan malu malu.


Tapi Ha Na dengan bangga memperkenalkan Min Jae sebagai kekasihnya.


Sambil Ha Na masih berbicara dengan rekannya sesama dokter di rumah sakit itu,Min Jae permisi keluar untuk merokok.


Di luar


Min Jae yang hendak merokok di kagetkan dengan pemandangan seorang ibu yang tengah hamil besar menaiki motor dan berhenti di rumah sakit itu.


Saat ia turun dari motor,wanita itu malah pingsan.


Min Jae kaget dan segera menghampirinya.


Hei...


Bangun...


Nyonya....kenapa kau pingsan??


Aishhh


Min Jae yang panik lalu menggendong ibu itu ke dalam.


Ha Na....


Ha Na berbalik dan kaget melihat Min Jae menggendong seorang wanita yang hamil besar dan tidak sadarkan diri.


Ha Na segera menghampiri Min Jae.


Kenapa?


Apa yang terjadi dengan wanita ini?


Aku juga tidak tahu Ha Na,tadi tiba tiba saja dia pingsan setelah turun dari motornya.


Ayo,cepat letakkan dia di ranjang pasien.


Min Jae segera meletakkan pasien itu.


Ha Na mulai memeriksa pasien itu.


Kehamilannya sudah cukup bulan,sepertinya ia salah mengkonsumsi sesuatu dan keracunan.


Nafasnya juga lemah dan tidak beraturan.


Kehamilannya sudah cukup bulan,tidak lama air ketubannya malah sudah merembes keluar.


Bagaimana ini?


Gawat!!


Hanya dokter anastesi yang ada di rumah sakit itu dan kebetulan dokter lainnya sedang tidak masuk dan ada juga yang cuti.


Ha Na bicara pada dokter anastesi itu..


Tolong biarkan aku untuk melakukan operasi sesar di sini.


Bayi di dalam perutnya harus kita selamatkan.


Sang ibu juga harus di berikan oksigen..


Karena tidak ada pilihan lain,operasi mendadak itu di lakukan di tempat.


Ha Na benar benar melakukan operasi sesar itu.


Min Jae juga ikut melihat.


Karena baru pertama menyaksikan langsung ia benar benar ngeri melihat tindakan Ha Na.


Para perawat juga sudah menunggu untuk menyambut bayi itu.


Bayi mulai terlihat,bersiap...


Ha Na mulai memberi aba aba dan mengeluarkan bayi itu.


Si bayi masih tidak menangis dan anggota tubuhnya agak kebiruan.


Perawat terus berusaha menggosok gosok badan si bayi juga memberi oksigen pada bayi itu.


Ha Na terus memohon


Ya Tuhan,aku mohon biarkan bayi ini selamat..


Aku mohon..


Ha Na masih di sibukkan mengeluarkan plasenta dan menutup perut si ibu.


Tapi si bayi belum juga merespon.


Melihat hal itu,Min Jae tiba tiba ikut campur.


Bolehkah aku memberinya nafas buatan??


Ha Na dan yang lainnya saling berpandagan.


Namun Ha Na memeberi kesempatan dan memberi kode dengan mengangguk..


Sekarang Min Jae melakukan perannya.


Ia mulai memberi nafas buatan pada bayi mungil itu.


Setelah itu....


Si bayi mulai menggerakkan tangan dan kakinya.


Tubuhnya juga sudah mulai memerah..


Tidak lama tangisnya pecah..


Min Jae terpana..


Ada senyum merona dengan mata berkaca di rautnya sekarang


Min Jae memandang Ha Na..


Ha Na tersenyum di balik maskernya..


Kerja bagus Min Jae..


Kau hebat..


Min Jae merinding mendengar tangis bayi cantik itu...


Aku...


Aku menyelamatkannya..


Aku sudah membuat bayi itu bisa menangis..


Aku..aku.


Si ibu juga sudah melewati masa kritisnya.


Rupanya ia mengkonsumsi obat yang seharusnya tidak di anjurkan untuk ibu hamil.


Karena obat itu berdosis tinggi malah menimbulkan komplikasi dan membuat kontraksi lebih cepat.


Karena kehadiran Ha Na dan Min Jae di waktu yang tepat.


Ibu dan bayi itu bisa selamat..