THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
NEGARA



Saat Ha Na terbangun rupanya Dong Joo sudah memindahkannya ke matras agar Ha Na bisa tidur dengan nyaman.


Ha Na bangun pukul setengah sembilan pagi.


Ia kaget karena hanya sendirian di ruangan itu padahal sebelumnya bersama Dong Joo.


Hem,dia pasti sudah memindahkanku ke kasur ini.


Ternyata di balik dingin dan angkuh sikapnya,Dong Joo adalah pribadi yang hangat dan tidak ingin menunjukkan perhatiannya secara langsung.


Ha Na langsung keluar dari kamar itu.


Saat ia melangkah rupanya semua staff rumah sakit sedang berkumpul.


Dong Joo juga hadir dan sepertinya segera memperkenalkan diri.


Dari belakang Ha Na merapihkan rambut seadanya dan segera bergabung dengan kerumunan itu.


Dong Joo kaget,tahu tahu Ha Na sudah berdiri di sampingnya.


Ha Na juga memperkenalkan dirinya secara resmi.


Setelah itu,direktur kepala rumah sakit ini mulai mendekat pada Dong Joo dan juga Ha Na..


Maaf,karena saat baru saja tiba kalian kemarin harus langsung berkutat dengan pasien.


Seperti yang kalian lihat dan hadapi sendiri.


Pasien yang datang secara memblundak tidak sebanding dengan tenaga medis yang hanya seadanya.


Mau tidak mau semua divisi saling membantu disini.


Siapapun dokternya walau bukan spesialisnya boleh menangani pasien.


Jika keadaan sangat darurat,pasien akan di jemput menggunakan helikopter.


Tapi jarang ada yang bisa selamat hingga menunggu helikopter datang karena jarak tempuh yang jauh menuju desa ini.


Aku harap kalian berdua bisa menjadi secercah harapan baru untuk rumah sakit ini.


Iya pak..


Jawab Ha Na dan Dong Joo bersamaan.


Di sini,di rumah sakit ini ada beberapa dokter spesialis bedah.


Setidaknya kehadiran dokter dokter itu juga membantu Ha Na dan Dong Joo agar bisa saling tolong menolong.


Staff di rumah sakit ini tergolong ramah dan cepat membaur.


Walau berasal dari tempat yang berbeda dan sebelumnya juga merasa berat karena di tempatkan di tempat ini tapi seiring berjalannya waktu mereka mulai berteman dengan kondisi ini sambil menunggu waktu yang akan membawa mereka bisa di pindah tugaskan dari sini.


Selesai perkenalan itu,Ha Na menelfon ibunya..


Ha Na berkeluh kesah manja pada ibunya,tapi Yun Hee berusaha menguatkan putrinya itu agar tetap kuat menjalani pilihannya.


Tapi,Yun Hee juga tidak menekan Ha Na terlalu jauh.


Jika Ha Na ingin pulang dan menyerah,Yun Hee juga tidak mempermasalahkannya.


Tapi alangkah lebih baik jika Ha Na berjuang dan menghadapi medan perang itu dahulu daripada menyerah sebelum berperang.


Berkat nasihat ibunya itu Ha Na menjadi sedikit tenang dan tidak khawatir lagi.


Saat selesai menelfon,Ha Na berbalik dan tidak sengaja menubruk Dong Joo yang melintas..


AAAAAA...


Ha Na berada di dalam dekapan Dong Joo.


Dong Joo juga kaget melihat Ha Na yang sekarang di bawah pandangan matanya.


Ha Na lekas menyingkir dan menatap orang yang ia tubruk tidak sengaja tadi..


O...Senior..


Maaf,aku tidak hati hati...


Dong Joo masih berdiri di hadapan Ha Na..


Ia tidak menjawab omongan Ha Na.


Ha Na yang tadinya membungkuk sekarang menatap Dong Joo yang berdiri di hadapannya.


Kenapa dia diam saja?


Apa dia marah padaku?


Sikap orang ini benar benar aneh dan susah di tebak.


Ayo jalan..jalan..


Sejak kemarin kita belum menjelajahi desa ini.


IGD juga masih aman..


Ayo sempatkan diri untuk mengenal tempat ini..


Eh???????


Ha Na bingung karena Dong Joo tiba tiba mengajaknya jalan jalan.


Kenapa ini?


Tumben saja ia mengajakku jalan jalan..


Bukan tanpa sebab Dong Joo begini adanya,Dong Joo merasa bersalah karena kemarin tidak bisa menguatkan Ha Na saat situasi genting melanda.


Jika Ha Na terus di sibukkan dengan pekerjaan dan hanya terperangkap di rumah sakit itu,Dong Joo akan merasa lebih terbebani.


Karena sudah menyeretnya dalam masalahnya juga menyengsarakannya pula.


Dong Joo sebenarnya adalah pribadi yang baik dan peduli pada orang lain diam diam tanpa mau menunjukkannya.


Ha Na dan Dong Joo sudah memakai pakaian santai.


Ha Na kaget saat di depannya Dong Joo sudah menunggu sambil menaiki motor...


Ha Na mulai menghampiri Dong Joo.


Senior,motor siapa itu?


Punya salah satu dokter disini,dia bilang jika ingin berkeliling desa lebih baik jika menggunakan motor.


Cepat naik.


Eh?


Iya..iya...


Ha Na agak canggung karena di boncengi oleh Dong Joo.


Ha Na memegang kecil kaos Dong Joo dan setelah itu motor bebek ini mulai melesat.


Walau rawan konflik dan serba kekurangan,ternyata desa ini desa yang indah..


Desa ini tidak jauh dari laut dan pantai pantai juga terlihat di tepian jalan.


Udaranya segar karena tersapu angin laut yang sepoi sepoi.


Terasa ringan saat kita menarik nafas dan menghembuskannya kembali.


Aktifitas warga di sini seperti di desa pada umumnya,hanya penjagaan yang ketat, juga posko posko pemeriksaan yang membuat desa ini tampak rawan dan menakutkan.


Tiba tiba,Dong Joo menginjak rem mendadak dan membuat Ha Na terpepet ke arahnya hingga menempel erat di punggungnya.


Ha Na juga spontan memejamkan mata dan merangkul pinggang Dong Joo.


Rupanya ada 3 orang anak yang menjadi korban tabrak lari di depan.


Ha Na membuka matanya dan melihat sendiri 3 anak yang sepertinya masih SMP itu tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah..


Segera saja Ha Na dan Dong Joo turun dari motor dan menolong anak anak itu.


Mereka segera menelfon ambulance untuk segera datang.


Cerita tentang kecelakaan yang menimpa ketiga anak itu adalah.......


Yang tergeletak di jalanan itu adalah 3 sahabat yang selalu bersama.


Hong Myung Jun,Nam Sil Go,Yu Ho Jang.


Tapi dari ketiganya itu,yang bernama Nam Sil Go adalah anak keturunan campuran antara ibunya berkebangsaan Korea selatan dan ayahnya Korea utara.


Karena lahir dari negara yang saling bermusuhan itu,Sil Go juga sering di bully oleh teman temannya dan di juluki pribumi komunis.


Sil Go sering sedih dan menangis karena mendapat perlakuan berbeda.


Ayahnya sudah lama meninggal dan ia hanya hidup dengan ibunya yang bekerja sebagai petani.


Tapi beruntung Sil Go masih memiliki sahabat yang baik seperti Myung Jun dan Ho Jang.


Walau begitu orang tua sahabatnya sebenarnya juga tidak menyukai Sil Go dan sering kali melarang anak anak mereka untuk berteman dengan Sil Go.


Tapi Myung Jun dan Ho Jang tetap berteman dengan baik dengan Sil Go di belakang orang tuanya.


Hari itu,saat mereka pulang sekolah sambil berjalan kaki sebuah mobil pick up yang di kendarai oleh supir yang mabuk menabrak bocah bocah ini.


Si pengendara lari begitu saja tanpa bertanggung jawab.


Ketiga anak itu tidak sadarkan diri..


Kembali ke saat ini.


Ha Na dan Dong Joo sudah bersiap menangani pasien pasien itu di rumah sakit.


Saat ambulance sampai,ketiga pasien itu langsung di larikan ke IGD.


Orang tua para murid SMP itu juga sudah di hubungi.


Semuanya mengalami cidera parah..


Begitu orang tua mereka sampai semuanya langsung histeris melihat keadaan putera mereka.


Dari hasil pemeriksaan.


Myung Jun mengalami kerusakan hati yang parah,Ho Jang bahkan terkena jantung bocor yang membuatnya mengalami banyak pendarahan.


Tapi yang sangat amat nahas adalah Sil Go.


Bocah malang itu mengalami cidera parah di otak dan sepertinya hanya menunggu waktu untuk pergi selamanya.


Ibu Sil Go baru saja datang.


Ha Na langsung menghampirinya.


Nyonya,anda ibunya Sil Go?


Iya,bagaimana anakku dokter?


Wajah ibu Sil Go yang sangat sedih dan putus asa itu membuat sipapun teriris sedih melihatnya.


Ha Na membawa ibu Sil Go pada putranya itu.


Setidaknya ia bisa mengucapkan perpisahan jika ingin.


Saat menatap putranya,wanita itu menutup mulut dengan kedua tangannya sambil menangis.


Perlahan ia menghampiri putranya..


Sil Go,ayo bangun nak.


Kenapa kau malah begini dan disini?


Ibu sudah memasak sup ayam kesukaanmu nak..


Ayo kita pulang.


Wanita itu menatap anaknya yang sudah sangat sekarat.


Ha Na menangis karena tidak kuat menahan air mata melihat penderitaan ibu itu.


Ibu yang akan kehilangan puteranya untuk selamanya.


Tapi,kini ibunya lebih mendekat dan mencoba tersenyum sambil menggenggam tangan anaknya.


Pergilah nak,jika kau kesakitan ibu akan merelakanmu.


Ibu tahu luka luka ini pasti sangat menyengsarakanmu.


Ibu juga tahu kau sangat takut pada jarum suntik dan rumah sakit.


Sekarang kau boleh pergi jika ingin,ibu sudah cukup untuk berpamitan padamu.


Temuilah ayahmu dan katakan untuk menunggu ibu..


Semua yang melihat hal ini baik dokter,perawat juga orang tua teman Sil Go yang dulu selalu mengucilkan Sil Go semuanya menangis.


Tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata melihat ketegaran ibu ini.


Dan langit sepertinya menjawab omongan ibu yang nestapa ini,Sil Go sepertinya sudah siap pergi setelah bertemu dengan ibunya.


Tepat saat ibunya selesai bicara,saat itu juga Sil Go menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi untuk selamanya.


Ibu Sil Go yang tadinya tersenyum sekarang menangis memeluk tubuh dingin dan kaku puteranya yang telah tiada.


Hari itu kepergia Sil Go tidak sia sia semata,karena teman temannya mengalami kerusakan jantung dan hati maka atas seizin ibu Sil Go,ia ikhlas mendonorkan organ milik anaknya pada sahabat Sil Go semasa hidup itu.


Orang tua sahabat Sil Go yang dulu membenci Sil Go kini berlutut di hadapan ibu Sil Go dan tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih atas jasa besarnya menyelamatkan putera mereka.


Mereka berjanji akan merawat dan menjadikan ibu Sil Go keluarga setelah ini.


Semua staff medis membungkuk memberi hormat pada jenazah Sil Go yang berbudi luhur menyumbangkan organnya.


Janganlah membeci seseorang terlalu dan berlebihan.


Karena kita sendiri tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan menimpa kita di hari esok.


Sil Go lahir dari orang tua yang berbeda kebangsaan dan negara yang di anggap musuh.


Tapi haruskah ia di salahkan walau ia bukanlah musuh dan penjahat yang menjajah desa ini?


Kini orang yang mereka cemoohkan dan mereka sebut pribumi komunis itu malah menjadi pahlawan yang memperjuangkan hidup teman sedesanya tinggal.


Kini setelah kematian dan pengorbanannya barulah orang orang yang terdahulu mengejeknya menangis di tepian pusaranya dan menyalahkan diri atas segala perbuatan yang menyakiti anak laki laki yang tidak bersalah itu.


Walau berbeda negara dan saling bermusuhan tapi bukanlah salah negara itu,melainkan orang orang yang menghuni dan membawa nama negara sebagai acuan.


Negara hanyalah simbolis nama tempat mereka tinggal,menetap dan di lahirkan.


Tapi negara tidaklah bisa berbuat kejam melainkan orang yang menduduki tempat itu yang berulah.


Ha Na menangis di sudut IGD,saat itu Dong Joo datang dan menepuk punggungnya.


Seketika Ha Na berbalik dan memeluk Dong Joo erat sambil menangis.


Ha Na benar benar tidak kuat menahan siksaan batin melihat adegan tadi.


Dong Joo mengelus lembut punggung Ha Na dan tangan yang satunya merangkul pinggang Ha Na.


Menangislah..


Kau manusia dan bukan dewa..


Menangislah dan tumpahkan semua rasa sedih itu..