THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
UNDANGAN



Jae Ha meninggalkan Ha Na sendiri di restoran itu.


Jae Ha telah pergi dan pulang bersama Hong Ah.


Hong Ah memenangkan hati Jae Ha kembali.


Sementara hati Ha Na malah remuk dan hancur.


Ha Na keluar dari restoran itu disertai hujaman hujan yang turun dengan derasnya mengguyur seluruh tubuh Ha Na.


Ha Na menangis dan berjalan kaki di tengah guyuran itu sengaja agar air mata pedihnya tersamarkan.


Ha Na menangis sambil memaki dalam hatinya.


"Kenapa?


Kenapa aku terus berakhir menyedihkan?


Apa aku tidak boleh jatuh cinta??


Apa aku adalah kutukan untuk semua pria?


Min Jae,Dong Joo dan sekarang Jae Ha.


Apa aku ini hanya pembawa sial yang tidak layak mendapatkan cinta sejati.


Aku hanya ingin ada seseorang pria untukku....


Ha Na menangis sejadinya.


Di sisi lain,Jae Ha juga sangat sedih..


Memikirkan Hong Ah yang tidak sehat juga Ha Na yang di tinggalnya sendiri di restoran tadi.


Andai ia bisa membagi dirinya menjadi dua,tidak ingin ia meninggalkan kedua wanita yang sama sama di cintainya itu.


Tapi untuk sekarang keadaan Hong Ah lebih mengkhawtirkan dan membutuhkan dirinya.


"Maafkan aku Ha Na.


Aku harus meninggalkanmu sendiri dan mengecewakanmu.


Aku memberimu harapan dan sekarang menghempaskannya begitu saja.


Ha Na,maafkan aku...


Jae Ha menangis sejadinya di dalam hati.


Jae Ha memohon ampun pada tuhan dan rela menukar semua kebahagiaannya demi kebahagiaan Ha Na.


Malam harinya Ha Na mengurung diri di kamar dengan kamar yang gelap.


Ia sengaja tidak menghidupkan lampu di kamarnya dan menyamarkan dirinya dalam gelap.


Sudah tidak terhitung lagi lembaran tisue yang Ha Na habiskan untuk menyeka air matanya.


"Andai aku seorang remaja.


Hidupku tidak akan serumit ini.


Aku masih sangat muda tapi kenapa harus sangat menderita.


Aku sangat merindukan Jae Ha sekarang.


Sangat sangat rindu...


Betapa malangnya nasibku ini.


Ha Na tetap tidak bercerita pada ibunya.


Ia ingin dewasa dan menyelesaikan ini secara pribadi.


Di rumah Hong Ah..


Jae Ha sedang duduk di samping Hong Ah yang berbaring di ranjangnya.


Jae Ha mengelus rambut di dahi Hong Ah dan mengecup lembut dahi Hong Ah.


"Kenapa tidak bercerita padaku tentang keadaanmu??


Apa aku tidak cukup penting bagimu?


Aku sangat mengkhawatirkanmu...


Hong Ah menatap Jae Ha.


" Tapi kau hampir mengkhianatiku..


Andai saja aku tidak sakit kau pasti sudah menjadi milik orang lain sekarang.


Walau penyakit ini berbahaya dan mengancam hidupku tapi aku bersyukur,dengan penyakit ini juga aku berhasil membawamu kembali.


Tapi sekarang aku tidak yakin,apa saat sekarang kau bersamaku adalah tetap dengan rasa cinta seperti dulu atau hanya sekedar rasa kasihan karena penyakitku ini.


Jae Ha nampak panik


"Tidak Hong Ah,jangan berkata seperti itu.


Aku tetaplah tunanganmu..


Kita tetap harus berbagi suka dan duka bersama.


Aku akan berusaha mencari dokter terbaik agar bisa menyembuhkanmu.


Kita akan selalu bersama dan aku akan tetap mendampingimu..


Hong Ah lalu meminta sebuah permintaan besar.


"Jae Ha,bolehkan aku meminta seuatu??


"Apapun itu Hong Ah,katakan saja...


"Aku ingin kita menikah.


Itulah permintaan yang terlontar dari mulut Hong Ah pada Jae Ha.


Jae Ha tidak mungkin untuk menolak permintaan tulus Hong Ah tersbut.


Jae Ha lalu mengangguk.


"Baiklah,ayo kita menikah...


Hong Ah sangat senang namun Jae Ha hanya pura pura senang.


Jae Ha berat menimbang semuanya yang pada akhirnya yang harus terluka adalah Ha Na.


"Maafkan aku Ha Na.


Aku bersalah telah memancing perasaanmu dan sekarang kau harus terjerembab lagi dalam jurang yang dalam karena kisah cintamu.


Aku tahu,saat ini kau pasti sedang menyalahkan dirimu.


Hanya Hong Ah yang bahagia malam ini.


Tapi Ha Na dan Jae Ha perasaannya sama sama tercabik dengan rasa bersalah tarik menarik.


Ha Na bertahan dengan memendam semua rasa sakitnya.


Esok harinya,Ha Na kembali bekerja seperti biasa.


Hari ini Ha Na kedatangan seorang pasien wanita berusia 32 tahun yang mengidap Kanker rahim.


Di lihat dari kondisinya pasien ini harus segera menjalani operasi untuk mengangkat kanker rahim itu.


Tapi selama ia di rawat,tidak ada satupun wali dari wanita itu datang.


Hal itu membuat Ha Na penasaran dan bertanya pada perawat tentang pasien wanita itu.


"Suster Jung,dimana keluarga pasien??


Raut sang perawat seperti tidak nyaman untuk mengungkapkannya..


"Itu Dokter Hyun,sebenarnya ia sudah di asingkan dan tidak di anggap lagi oleh kerabatnya.


Wanita itu adalah perebut suami orang,keluarganya tidak mau menganggapnya lagi karena perbuatannya yang memalukan.


Setelah beberapa tahun menikah wanita ini ternyata tidak bisa memiliki anak karena mengidap kanker rahim.


Tinggallah wanita ini sebatang kara.


Ha Na lalu merenung,jika saja ia merebut Jae Ha dari Hong Ah apa seperti ini karma yang akan di terimanya.


Ha Na memutuskan akan mengoperasi wanita itu.


Namun sang pasien nyatanya menolak.


Ia memilih ingin mati saja di banding sembuh.


Hal itu ia sampaikan saat berbicara berdua dengan Ha Na saat ini.


"Nona,kau masih muda dan berpeluang untuk sembuh.


Lakukanlah operasi...


Tapi pasien itu sepertinya sudah tidak punya semangat hidup.


"Tidak dokter,aku tidak ingin hidup lagi.


Aku tidak punya siapa siapa dan tidak ada yang mau menerimaku.


Aku hanya ingin hidupku segera berakhir dokter.


Pasien itu menitikkan air matanya.


Ha Na tidak bisa memaksa lagi jika pasien tidak mau.


Hanya 3 hari setelah penolakan operasi itu kondisi ginjal pasien memburuk juga paru parunya tidak berfungsi dengan baik.


Pasien akhirnya meninggal karena komplikasi itu.


Ia meninggal dalam kesendirian dan kesepian.


Ha Na juga selalu menyendiri karena masalahnya tidak ia ceritakan dengan orang lain.


Jae Ha sedang menemani Hong Ah untuk mencoba baju pengantin.


Pernikahan mereka akan di adakan sebentar lagi.


Jae Ha tidak konsen karena selalu memikirkan Ha Na.


Hong Ah selalu bertanya tentang tanggapan Jae Ha tentang bajunya tapi Jae Ha hanya berkata bagus dengan ekspresi bahagia di buat buat.


Hong Ah agak kecewa.


Ia tahu apa yang menyangkut di fikiran Jae Ha sekarang.


"Kau pasti memikirkan wanita itu kan Jae Ha??


Walau ragamu ada di hadapanku tapi aku sangat yakin fikiranmu pasti di tempat Ha Na.


Tidak bisakah kau membuatku bahagia di hari hari terakhirku??


Hong Ah bersedih..


Kini rasa bencinya pada Ha Na mulai bangkit.


Jae Ha dengan fikiran yang semeraut ingin sekali bertemu Ha Na.


Ia benar benar rindu dan khawatir pada kondisi Ha Na.


Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan Hong Ah sendirian.


"Jae Ha...


Hong Ah memanggil Jae Ha..


"Iya,ada apa Hong Ah??


"Pergilah,temui wanita itu dan sampaikan undangan pernikahan kita.


Aku ingin dia juga datang dan di undang...


Jae Ha tercekat..


"Bagaimana ini?


Apa aku harus mengundangnya??


Tidakkah itu akan menambah luka untuknya??


Tapi hanya ini kesempatanku bisa bertemu dengannya atas seizin Hong Ah.


Jae Ha menerima tawaran itu dan berdiri untuk beranjak pergi.


"Baiklah Hong Ah,aku akan mengundangnya.


Aku pergi dulu...


Hong Ah mengangguk..


"Ternyata kau menerima tawaranku Jae Ha.


Padahal aku hanya berniat mengetesmu saja.


Tidak kusangka ternyata perasaanmu pada gadis itu bukan hanya isapan jempol belaka.


Seperginya Jae Ha,Hong Ah agak kasar bicara pada pelayan butik pengantin itu.


"Pilihkan aku pakaian yang paling bagus dan buat aku menjadi pengantin tercantik!!!


Hong Ah meluapkan kemarahannya.


"Bahkan jika aku mati sepertinya aku akan memilih melihatmu bersedih di banding berbahagia bersama yang lain Jae Ha.


Aku rasa aku harus mencabut kata kataku waktu itu.


Aku juga harus sembuh walau apapun caranya.


Jae Ha benar benar ingin menemui Ha Na.


Ia menelepon Ha Na saat di depan rumah sakit.


Ha Na segera keluar setelah menerima telepon itu.


Ia berlari keluar dan melihat Jae Ha bersandar di depan mobil merahnya.


Jae Ha juga menatap ke arah Ha Na dan tersenyum lemah.


Mereka berdua lalu memutuskan duduk di sebuah bangku taman.


"Ha Na,bagaimana kabarmu??


Ha Na menatap Jae Ha sambil tersenyum lemah.


"Aku hanya seperti ini,aku baik baik saja walau tidak baik baik saja.


Jae Ha prihatin pada jawaban itu.


"Maaf Ha Na,maafkan aku..


Ha Na hanya mengedipkan mata karena tidak mampu menjawab.


Jika sepatah saja keluar dari mulutnya maka air matanya akan berderai saat itu juga


Tapi Jae Ha harus tetap menyampaikan apa yang harus diketahui Ha Na.


"Ha Na,seminggu lagi aku akan menikah.


Hong Ah memintaku mengundangmu,dia mau kau datang.


Telah retak dan pecah seribu semua perasaan dan hat Ha Na.


Bibirnya terkatup tidak dapat menjawab.


Jae Ha juga merasa hancur mengucapkan undangan itu.


Ia lalu memeluk Ha Na erat.


Tanpa terasa,air mata Ha Na berjatuhan.


Ha Na menangis tersedu sedu di pelukan Jae Ha itu.


Seorang mata mata Hong Ah mengintai dan mengirim foto itu ke Hong Ah sebagai hasil intaiannya.