
Rupa rupanya pria yang berada di depan ruang operasi dan betemu dengan Ha Na tadi adalah tentara Korea utara.
Ia menjadi korban luka tembak saat konflik yang memanas itu terjadi.
Tentara itu juga menyelinap ke rumah sakit untuk mendapat pengobatan.
Saat itu juga tentara tampan itu berjumpa dengan Ha Na.
Ha Na juga tahu kalau tentara itu terluka dari banyaknya darah yang merembes di tangannya saat menutup luka di perutnya menggunakan tangan.
Ha Na melarikan pria itu ke ruang perawatan..
Nona,tolong jangan buat keberadaanku di ketahui oleh orang lain.
Jika mereka tahu,aku pasti tidak boleh mendapat pengobatan disini karena ini bukanlah wilayahku.
Tapi,bagaimana ini?
Dari seragammu saja orang akan tahu,aku tidak mungkin menyembunyikanmu.
Sudah jangan fikirkan hal lain dulu,aku akan menyelamatkanmu.
Pria itu mulai bercerita tentang luka yang di alaminya sekarang.
Tadinya ia tertembak oleh sebuah peluru,timah panas itu bersarang di area perut sebelah kanannya.
Tentara itu nekad dan mencongkel peluru yang menembusnya itu dengan pisau belatinya.
Perluru itu berhasil keluar dan di buangnya.
Tapi,setelah itu ia malah mendapat pendarahan hebat.
Darah segar tidak henti hentinya keluar dari lukanya itu.
Dari pengamatan Ha Na,karena pria itu mencabut peluru dengan belati yang tajam alhasil ia mendapat luka yang berlapis di dalam.
Jika dilakukan penjahitan juga harus berlapis.
Tapi pertama tama,ia menghentikan pendarahan pria itu terlebih dahulu.
Ha Na bekerja secepat mungkin agar tentara itu bisa keluar dan tidak tertangkap.
Setelah pendarahan mereda,Ha Na segera menjahit luka pria itu.
Sejenak tentara itu memerhatikan wajah Ha Na dan terpesona.
Betapa cantiknya dokter wanita ini.
Hatinya juga sangat baik dan cantik seperti rupanya.
Ha Na selesai menjahit dan segera menutup luka pria itu dengan perban.
Ha Na juga membekali tentara itu beberapa obat serta antibiotik untuk lukanya.
Jangan lupa habiskan obatmu agar lukanya cepat kering dan tidak infeksi.
Ayo pergi sekarang,aku akan menuntunmu keluar melalui pintu belakang..
Dokter,jika aku boleh tahu siapa namamu?
Aku?
Aku Hyun Ha Na..
Nama yang indah.
Aku juga akan memperkenalkan diri,namaku Oh Yuk Jae.
Terima kasih atas pertolonganmu.
Aku tidak akan melupakan jasa dan kebaikanmu.
Tapi kenapa kau menyelamatkanku?
Padahal kita adalah rakyat yang tidak akur dari dua negara yang selalu berkonflik.
Bukankah salah kau menyelamatkan tentara yang bisa saja menjajah dan menyerangmu ini?
Ha Na tersenyum..
Karena aku adalah seorang dokter,tugasku adalah menyelamatkan pasien tidak peduli siapapun itu.
Setidaknya,seorang dokter atau apapun profesinya juga harus menggunakan nurani dan tidak hanya membesarkan ego lalu mengabaikan rasa kemanusiaannya.
Apakah benar jika aku tidak menolongmu yang membutuhkan pertolongan hanya karena kau tentara Korea utara?
Negara kita boleh saja tidak akur,tapi jangan sampai kita melalaikan menolong orang yang membutuhkan.
Aku seorang dokter yang masih memiliki hati nurani dan pekerjaanku menjunjung tinggi keselamatan nyawa manusia.
Tentara itu tersenyum dan kagum pada Ha Na.
Kau adalah manusia yang membuatku malu pada diri sendiri.
Padahal aku adalah tentara yang seharusnya melindungi rakyat,tapi perbuatanku malah melukai rakyat yang tidak bersalah hanya karena membawa nama bela negara.
Tapi kami malah marah dan bukannya minta maaf saat negara tetangga menegur kami.
Kami yang bersegaram aparat negara ini turun ke lapangan dan menunjukkan kehebatan kami.
Karena ulah kami,warga yang tidak bersalah juga terkena imbas serangan,anak anak tidak bisa keluar untuk bermain,juga para lansia yang terkurung ketakutan di dalam rumah.
Lalu apa yang di sebut "bela negara" yang aku dasarkan?
Kami malah menjajah dan menghancurkan martabat kami yang sepertinya di atas awan ini.Kami membenarkan kelakuan kami yang salah dan tidak mengidahkan rasa kemanusiaan lagi.Aku benar benar malu pada diri sendiri.
Setelah merasa bersalah yang berkepanjangan,tentara itu di giring Ha Na lewat pintu belakang dan berhasil keluar tanpa di ketahui oleh siapapun.
Semoga pria itu bisa selamat dan sampai di negaranya tanpa terluka lagi.
Dong Joo menghampiri Ha Na dan mengejutkannya.
Hei.....
Ha Na berbalik dan tersenyum sambil menahan rasa kagetnya...
Mengagetkan saja senior...
Sedang apa kau di sini??
Em,tidak..hanya yah..
Memandang keluar saja..
Ha Na jelas merahasiakan yang terjadi dari Dong Joo.
Dong Joo merapihkan kerah jubah dokter Ha Na yang tidak terlipat sambil bicara.
Kan sudah aku bilang,panggil aku Dong Joo saja.
Ha Na malah terdiam kaku sambil memandang Dong Joo.
Kalau kau begini terus,aku tidak akan bisa tidak jatuh hati padamu senior..
Iya..Dong Joo...
Dong Joo tersenyum saat Ha Na menyebutkan namanya.
___________________________
Hari itu berlalu dengan sengit.
Menjelang sore,Ha Na menjadi asisten Dong Joo yang membedah pasien anak kecil yang berusia delapan tahun untuk mengangkat tumor jinak yang bersarang di area sekitar jantungnya.
Ha Na lagi lagi di buat kagum dengan tangan cekatan Dong Joo yang menyelesaikan operasi itu dengan sempurna dan teliti tanpa menyebabkan pendarahan.
Tapi Ha Na masih malu untuk menjawab perasaan Dong Joo yang sebenarnya sudah siap untuk ia terima.
Hari berganti begitu saja.
Dan hari ini adalah hari sabtu.
Ah Young,Ah Ra dan In Joo sudah meluncur menuju tempat Ha Na berada.
Di mobil,Ah Ra memerhatikan Ah Young yang terus menatap kaca.
Sebelum pergi ia menyempatkan diri mempercantik diri di salon dan sehari sebelumnya juga melakukan perwatan wajah dan rambut untuk bertemu Dong Joo.
Hei,berhentilah berkaca!
Cermin itu akan retak dan ketakutan melihat wajahmu terus!!
Aish diam saja!
Aku sudah memberikan tumpangan,jadi sebaiknya kau tutup saja mulut besarmu itu Ah Ra!!
In Joo yang duduk di belakang hanya bisa diam melihat pertengkaran kakak beradik ini.
Hem,beginilah wanita.
Semuanya merasa selalu benar dan paling benar.
Pria sepertiku tidak sebaiknya ikut campur.
Jika menengahi,aku hanya akan di minta tutup mulut.
Jika membela Ah Young,aku akan di putuskan oleh Ah Ra.
Jika membela Ah Ra,aku akan di pecat dari daftar calon adik ipar oleh Ah Young.
Wanita wanita perkasa ini akan sangat menyeramkan jika sedang marah.
In Joo lebih baik duduk di belakang dan menganggap keberadaannya tidak di akui.
Ah Ra dan Ah Young masih sibuk bertebat yang semakin tidak jelas pangkal ujungnya..
Perjalanan jauh harus mereka tempuh untuk bisa berjumpa dengan Ha Na..