
Hari hari di rumah sakit berlalu sangat berat untuk Ha Na setelah hubungannya dan Dong Joo berakhir.
Won Hee juga sudah mengumumkan secara resmi jika dirinya dan Dong Joo berpacaran sehingga seantero rumah sakit tahu.
Hal itu Won Hee lakukan agar Dong Joo benar benar tidak bisa bersama Ha Na lagi.
Dong Joo bahkan tidak bisa dekat dekat dengan Ha Na karena selalu di tempel oleh Won Hee kemanapun ia pergi.
Namun,memaksakan perasaan seperti yang di lakukan oleh Won Hee hanya membuat ia menyiksa dirinya sendiri.
Walau kini Dong Joo berstatus sebagai pacarnya namun Dong Joo tidak pernah memperlakukannya sebagai mana semestinya seorang kekasih.
Dong Joo selalu tidak senang saat melihat wajahnya,mengacuhkan omongannya dan juga tidak peduli segala sesuatu tentang Won Hee.
Won Hee memang kecewa dan sedih.
Ia tahu jika sebenarnya usahanya hanya sia sia belaka setelah memisahkan Ha Na dan Dong Joo.
Toh,Dong Joo tetap membencinya dan tetap tidak bisa mencintainya.
Tapi Won Hee tidak menyerah dan putus asa.
Bagaimanapun Dong Joo harus tetap menjadi miliknya.
Ia akan membuat perasaannya yang hanya sepihak bisa bersatu dengan Dong Joo.
Dong Joo juga selalu di bawah tekanan,jika saja Dong Joo dekat dekat dengan Ha Na.
Won Hee tidak segan segan akan mengeluarkan senjata pamungkasnya dan mengeluarkan surat yang bisa menghancurkan karir Ha Na dan teman temannya.
Dong Joo selalu pilu menatap Ha Na yang selalu berpapasan dengannya di ruang operasi.
Juga mata Ha Na yang selalu berkaca saat memandangnya.
Dong Joo marah pada dirinya sendiri dan sering emosi karena beban hati dan fikirannya.
Ha Na juga hancur dan berantakan.
Ia sering menangis di saat perasaan sedihnya tidak terbendung lagi.
Entah di toilet,di rumah atau dimanapun.
Ha Na akan menangis jika mengingat kenangan manisnya bersama Dong Joo.
Ha Na terlihat kehilangan banyak berat badan dan tidak fit.
Ia terus menyibukkan diri dan kurang istirahat.
Melihat hal itu sebagai sahabat In Joo dan Ah Ra juga menderita.
Ah Ra,lihat..
Kasihan Ha Na.
Dia selalu berpura pura tersenyum dan bersemangat.
Tapi ibunya jelas bilang kalau dalam semalam dia bisa menghabiskan empat kotak tisu untuk menyeka air mata dan ingusnya.
Iya In Joo,kasihan sekali Ha Na.
Won Hee benar benar wanita iblis yang tidak punya perasaan.
Dia tidak punya hati dan bahkan lebih rendah dari binatang.
In Joo dan Ah Ra tidak bisa membantu apapun untuk Ha Na.
Mereka hanya bisa terus memberi semangat untuk Ha Na dan mendukungnya sebisanya.
Tapi Tuhan tentu tidak akan menguji orang baik seperti Ha Na melebihi kemampuannya.
Maka hadirlah sosok tidak terduga yang akan mengisi hari hari Ha Na.
Orang itu tidak lain adalah Park Min Jae.
Si ketua gengster yang jatuh hati pada Ha Na sejak pandangan pertama,terlebih Min Jae juga sudah tahu jika sekarang Ha Na sudah putus dengan Dong Joo.
Min Jae merasa sebuah jalan sudah terbuka untuknya..
Walau bisa di sebut memanfaatkan situasi atau apa lah namanya yang jelas ia akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin untuk mendekati Ha Na.
Setiap melihat Ha Na,perasaan Dong Joo akan tercabik cabik,ia juga pernah melihat sendiri Ha Na menangis di sebuah sudut ruangan karena perpisahan paksa yang mereka lalui.
Karena itu untuk membalas setiap air mata Ha Na yang jatuh,Dong Joo bersumpah akan membuat Won Hee juga melalui hari hari yang sulit nantinya.
Karena itu ia tidak pernah memperlakukan Won Hee dengan baik.
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Hari ini,Min Jae datang lagi ke rumah sakit untuk bertemu Ha Na.
Namun kali ini lukanya cukup parah karena berkelahi dengan anggota geng lain dinihari tadi.
Telapak tangannya tertusuk kaca dan cukup dalam.
Seperti biasa juga,ia hanya mau di tangani oleh Ha Na dan mengamuk jika dokter lain yang menanganinya.
Padahal saat ini Ha Na sedang mengoperasi pasien dan belum bisa keluar dari ruang operasi.
Min Jae rela menunggu hingga 1 jam dan membiarkan tangannya bercucuran darah tanpa henti.
Setelah operasi selesai,Ha Na keluar dari ruangan itu dan langsung di rundung oleh perawat tentang keadaan pasien langganan Ha Na.
Dokter Hyun,pasien Kim Min Jae tertusuk kaca cukup dalam di telapak tangan kanannya.
Ia menolak di tangani oleh kami dan terus menunggumu.
Apa????
Jadi bagaimana keadaannya?
Dia kehilangan banyak darah dan aku juga khawatir infeksi pada lukanya.
Mendengar hal itu,Ha Na segera berlari ke ruang UGD untuk menemui Min Jae.
Saat Ha Na datang,Min Jae duduk di ranjang pasien itu sambil tersenyum melihat sosoknya.
Kau akhirnya datang..
Ayo cepat obati aku.
Ha Na beraut khawatir dan resah sementara Min Jae malah tersenyum lebar seakan luka itu tidak berarti apa apa.
Padahal lantai rumah sakit itu sudah di banjiri darah dari lukanya yang menggenang.
Ha Na segera menghampirinya.
Tolonglah Min Jae,jika aku sedang operasi kau harus mau di tangani oleh orang lain.
Ini tidak seperti luka kecil yang biasanya kau tunjukkan padaku,tapi ini cidera yang serius.
Iya dokter,aku mengerti.
Ha Na menatap Min Jae yang hanya cengengesan bercanda menjawabnya.
Orang ini benar benar..
Membuatku tidak habis fikir saja.
Ha Na membedah Min Jae dan memberinya beberapa jahitan.
Sambil di jahit,Min Jae mengajak Ha Na bicara.
Hei,dokter cantik
Kau sudah putus kan dengan pacarmu?
Ha Na tersentak..
Bagaiaman kau tahu?
Hei,aku ini penguntitmu..
Dan juga lihat ini..
JRENGGGGGG...
Di atas dada kirinya Min Jae mentato dadanya dengan nama Ha Na
Ha Na melotot tidak percaya..
Apa yang kau fikirkan!!
Kan aku sudah bilang kalau aku suka padamu.
Dokter yang kau suka juga sudah punya pacar lain.
Ayo..pacaran saja denganku..
Di sebelah pasien itu ada In Joo.
In Joo reflek dan menepuk kepala pria itu dari belakang.
PLAKKKKKK
Apa yang kau lakukan hah!!!
Kau,harusnya sadar!!
Siapa yang kau tembak barusan hah!!
Ha Na tidak cocok untukmu,dia gadis baik baik dan kau itu pria jahat yang menyeramkan.
Hei jaga mulutmu banci!!
Apa banci katamu!!
Aku ini pria sejati dan bahkan istriku sedang hamil tau!!
Kau lihat apa kurangnya aku?
Aku tampan,kuat dan berduit,lalu kenapa aku tidak boleh dengan dokter ini?
Setiap hari aku datang kesini hanya sekedar untuk melihat wajahnya.
Setiap malam aku membuntutinya takut takut jika ia mendapat kejahatan di malam hari.
Aku bahkan kadang meminta anak buahku melukaiku agar bisa kesini membawa luka dan di obati olehnya.
Jadi kenapa aku tidak boleh memiliki perasaan padanya??
In Joo dan Min Jae tetap berdebat.
Namun Ha Na entah kenapa merasa tersentuh pada pria bertato dan ketua gengster itu.
Seolah semuanya ia lakukan hanya demi Ha Na.
Ha Na mengingat lagi hari harinya.
Tanpa aku sadari,setelah aku putus hanya pria ini yang bisa membuatku marah,tertawa dan melupakan Dong Joo walau hanya sesaat.
Biarpun pria ini memang bekerja dengan dunia hitam dan jelas tidak baik juga berbahaya.
Tapi ia tidak pernah melukaiku atau melecehkanku seperti para gengster di luar sana.
Ia hanya ingin perhatian dan berusaha membuatku tersenyum.
Sudah Ha Na,mulai besok jangan layani pria gila ini lagi.
Aku rasa dia akan menimbulkan masalah nantinya.
Hei!!!
Banci katamu!!!
In Joo dan Min Jae semakin panas,Ha Na mulai menengahi.
CUKUP!!
Jangan bertengkar lagi,ini rumah sakit dan bukan arena tinju.
Jika ingin bertengkar lakukanlah di luar sana.
Min Jae tersenyum licik.
Kau dengar,dia meminta kita berkelahi di luar.
Pasti akan sangat menyenangkan..
In Joo jadi agak ciut.
Bagaimana ini?
Kalau benar benar berkelahi aku tentu saja kalah..
Sudah...
Jangan lagi,jika kau menyakiti In Joo aku tidak akan mau mengobatimu lagi.
In Joo tersenyum.
Ha Na mengeluarkan senjata pamungkas yang langsung mematikan Min Jae.
Min Jae tentu saja mengalah dengan wajah kesal.
Baiklah,aku tidak akan melakukan apa apa padanya.
Tapi...kau harus jadi pacarku.
Dasar ******** gila...
In Joo emosi pada mulut Min Jae yang sembarang bicara.
Tapi Ha Na bahkan lebih gila lagi.
Baiklah,boleh saja..
APA?????
In Joo dan Min Jae sama sama menjawab dan menatap Ha Na tidak percaya.
Tapi Ha Na hanya santai dan menjawab..
Tidak masalah,ayo berkencan...
Ha Na menerima perasaan Min Jae si ketua gengster.
Bukan cuma In Joo yang sekarang seperti di tabuh gong otaknya.
Tapi juga semua orang di UGD yang mendengar hal itu.
Termasuk Dong Joo..
Dong Joo mengepalkan tangannya karena sakit hati.
Apa??
Dia menerima cinta pria tidak jelas itu!!
Aku yakin,ini pasti caranya untuk menyakitiku saja dan tidak serius.
Dong Joo segera keluar dari UGD dengan wajah marah dan kesal.
Berbeda dengan Min Jae yang saat ini sedang bahagia.
Maaf,tadi aku tidak salah dengar kan?
Tidak,kau tidak salah dengar..
Jadi kau benar benar menerimaku??
Ha Na mengangguk..
In Joo menepuk keningnya...
Tapi kenapa?
Apa kau hanya bercanda saja?
Ha Na menatap Min Jae tajam.
Ya sudah kalau kau tidak mau..
Aaaaa...tidak tidak
Aku mau,aku mau..
Aku senang..sangat senang....
Min Jae benar benar bahagia...
Ha Na juga tersenyum melihatnya.
Tapi Ha Na di sidang oleh In Joo dan Ah Ra sekarang.
Hyun Ha Na!!!
Apa kau sudah gila dan kehilangan akal sehat!!
Apa karena sudah kehilangan Dong Joo yang sempurna kau jadi trauma dan memilih laki laki tidak jelas itu??
Ah Ra,jangan berkata seperti itu.
Jangan terlalu cepat mengecap seseorang buruk jika kita belum mengenalnya lebih jauh.
Tapi Ha Na!!
Kenapa harus dia??!!
Kenapa harus dia yang kau pilih!!
Iya,benar kata istriku.
Kenapa harus dia yang kau pilih Ha Na?
Ha Na menghembuskan nafas berat.
Tidak ada alasan khusus.
Hanya saja,hatiku memang ingin mencoba dengannya.
Tolong rahasiakan dari ayah dan ibuku.
Kalian adalah sahabatku,aku harap kalian mengerti.
Walau berandalan itu memang kelihatannya jahat tapi ia belum pernah melukaiku.
Juga selalu berusaha menghiburku setiap hari.
Aku rasa dia pria baik.
Jadi tidak ada masalahnya aku mencoba dengannya.
Melihat senyum di wajah Ha Na.
Ah Ra dan In Joo tidak bisa apa apa lagi.
Mereka menerima keputusan mutlak Ha Na.
Dong Joo juga bingung dan bicara pribadi dengan Ha Na di mobilnya tanpa di ketahui oleh Won Hee.
Jadi kau menerima pria itu?
Iya Dong Joo
Apa kau sangat kecewa sehingga membalasku seperti ini Ha Na?
Apa kau tidak ingat hal yang sudah kita lalui?
Di desa penuh konflik juga kita sudah melewatkan malam bersama.
Ha Na menutup mata sebentar..
Cukup Dong Joo.
Aku hanya ingin menghibur diriku.
Aku benar benar terpuruk.
Dong Joo juga putus asa.
Maafkan aku Ha Na.
Aku yang bersalah,tapi aku juga sedang memikirkan jalan keluarnya Ha Na.
Aku tidak hanya diam saja.
Karena itu,aku akan membiarkanmu saat ini.
Tapi jika nanti aku sudah menemukan jalan untuk kita bersama aku berjanji akan membawamu kembali padaku bagaimanapun caranya.
Setelah percakapan itu,Dong Joo menjemput Won Hee di bandara.
Won Hee baru saja pulang dari Jepang.
Di dalam mobil,Dong Joo tetap dingin seperti biasa.
Hal itu membuat Won Hee kesal karena tidak ada perkembangan juga perasaan Dong Joo padanya.
Di saat perjalanan itu,Won Hee meminta Dong Joo menghentikan mobilnya.
Ada apa lagi?
Mata mataku bilang kau tadi bicara berdua dengan Ha Na di mobil.
Dong Joo kaget,karena Won Hee bisa tahu.
Jadi kau juga memata mataiku?
"Jawab Dong Joo dengan santai.
Aku tidak peduli,karena aku tahu Ha Na juga sudah memiliki pria baru.
Aku yakin kau dan Ha Na pasti membahas hal itu alih alih tentang perasaan kalian untuk kembali bersama.
Dong Joo hanya diam.
Won Hee menatap Dong Joo.
Dalam sekejap ia menarik kerah Dong Joo dan mencium bibir Dong Joo.
Dong Joo kaget lalu mendorong badan Won Hee.
Detik berikutnya,Dong Joo keluar dari mobil dan muntah sejadinya.
Melihat hal itu,perasaan Won Hee benar benar terluka.
Apa aku semenjijikkan itu?
Bahkan setelah mengecap bibirku ia muntah seperti itu.
Won Hee menitikkan air mata yang sempat jatuh karena terluka dengan sikap Dong Joo.