
Hari ini,pagi pagi buta Dong Joo sudah harus menghadapi kegagalan.
Ia menangani pasien yang henti jantung,saat sedang melakukan CPR,sang pasien malah mati otak dan tidak lama menghembuskan nafas terakhirnya.
Dong Joo sangat menyayangkan karena pasien itu masih sangat muda,kisaran 26 tahun.
Ha Na sendiri sedang mengoperasi pasien usus buntu akut.
Pasiennya adalah seorang wanita,parahnya wanita itu sedang hamil muda.
Ha Na harus ekstra hati hati agar janin wanita itu tetap bisa selamat.
Atas kerja kerasnya,Ha Na berhasil menyelamatkan ibu dan calon bayinya.
Ha Na dan Dong Joo sedang istirahat di ruang karyawan.
Dong Joo duduk di samping Ha Na di sebuah kursi.
Ha Na juga tahu kalau operasi yang dilalui Dong Joo gagal dan tidak berhasil menyelamatkan pasiennya.
Hei,sudahlah..
Kau sudah berusaha sebaik mungkin,kita juga tidak menyangka pasien itu akan mati otak.
Kau tidak bersalah Dong Joo.
Dong Joo masih terlihat tidak bersemangat.
Ha Na lalu menggengam tangan Dong Joo..
Hei,lihat aku..
Dong Joo menuruti pinta Ha Na untuk menatapnya.
Tangan kita memang ditakdirkan untuk berusaha menyelamatkan pasien.
Tapi tangan Tuhan adalah tangan yang memiliki kuasa untuk mengambil nyawa manusia.
Kita tidak akan bisa lebih hebat darinya.
Tuhan juga pasti sudah menghendaki nyawa itu kembali padanya,tapi tuhan juga memberikan keselamatan pada janin yang ibunya aku operasi.
Kita hanya bisa berusaha Dong Joo,tapi semua keputusan akan kembali pada yang kuasa.
Jadi jangan berkecil hati lagi dan tegakkan kepalamu.
Masih banyak nyawa pasien yang harus kau selamatkan dan tangani.
Dong Joo akhirnya bisa berfikir jernih setelah mendengar siraman rohani dari Ha Na.
Terima kasih Ha Na.
Sementara Ha Na sedang menenangkan jiwa Dong Joo yang sedang rapuh.
Kawasan Korea utara sedang di landa bencana alam.
Terjadi gempa bumi yang cukup kuat.
Untungnya Korea Utara hanya merasakan sedikit getarannya saja.
Dari berita yang di pantau Ha Na,Dong Joo dan semua staff medis dari televisi,banyak korban yang berjatuhan dan terjebak di bangunan rumah yang runtuh.
Sejauh ini,sudah di evakusi 158 orang meninggal,267 orang luka luka termasuk orang tua dan anak kecil.
Namun yang memiriskan tenanga medis dan obat obatan sangat tidak memadai.
Ha Na sangat prihatin dan ingin membantu,namun ia jelas tidak bisa menembus batas dan masuk ke negara itu.
Dong Joo berdiri tepat di sebelah Ha Na,ia bisa melihat wajah Ha Na yang khawatir itu.
Dong Joo,kita harus membantu mereka..
Tapi Ha Na,kita tidak bisa memasuki daerah itu.
Kau tahu sendiri kan..
Ha Na menatap Dong Joo dengan wajah khawatir.
Tidak lama seseorang memasuki rumah sakit tempat Ha Na bekerja.
Setelah Ha Na lihat lebih jelas lagi,rupanya sosok itu adalah tentara Korea selatan yang waktu itu ia selamatkan.
Ha Na tersenyum lebar menyambut kedatangannya.
Oh Yuk Jae????
Tentara itu juga tersenyum menyambut Ha Na.
Sedangkan Dong Joo berdiri dengan wajah cemberut penuh cemburu.
Apa hubungannya dengan tentara itu?
Kenapa mereka bisa saling kenal?
Ha Na juga tidak bercerita padaku.
Saat Ha Na melangkah maju hendak mendekati tentara itu,Dong Joo menyelip dan berdiri di depan Ha Na menghadang jalan Ha Na.
Dengan wajah serius,Dong Joo menatap keras tentara itu.
Ada perlu apa kau kemari?
Kenapa juga kau bicara pada pacarku?
Ha Na menganga di belakang pundak Dong Joo.
Ya tuhan mulut pria ini.
Apa apaan dia..
Apa dia salah paham dan mencurigaiku dengan
tentara yang aku selamatkan itu?
Tentara itu tersenyum melihat tingkah kekanakan Dong Joo.
Hei,tenanglah.
Aku sudah menikah.
Tentara itu membayangkan jari manisnya yang sudah terlingkar cincin pernikahan.
Dong Joo tidak kuasa menahan bahagia dalam hatinya.
Ia menahan senyum yang tertahan.
Nah,kalau begitu kan aku bisa tenang.
Dong Joo lalu menyingkir dan membiarkan Ha Na berhadapan dengan tentara itu.
Ha Na menatap Dong Joo sekilas seolah mengisyaratkan kalau mereka memiliki pembicaraan yang harus di lanjutkan nantinya.
Sekarang,Ha Na sudah saling berhadapan dengan tentara itu.
Bagaimana lukamu?
Seperti yang kau lihat,aku sudah sehat berkat bantuanmu dokter.
Syukurlah.
Itu....
Aku selaku jendral dari pasukanku,ingin meminta bantuanmu untuk menangani rakyat kami yang sekarang terkena bencana alam.
Tenaga medis kami tidak cukup dan banyak penduduk yang membutuhkan pengobatan.
Aku datang kesini memintamu secara khusus untuk membantuku.
Aku mohon dokter..
Tapi,bukankan aku tidak boleh melewati batas wilayah.
Apa lagi melakukan tindakan medis disana.
Sebenarnya,ayahku adalah presiden dari Korea utara.
Mendengar pernyataan itu semua mata tercengang,mereka tidak menyangkan berhadapan langsung dengan putera presiden Korea utara.
Aku juga sudah menceritakan pada ayahku perihal kau yang sudah menyelamatkanku.
Karena itu aku mohon padamu untuk membantu kami,aku harap hubungan negara kita bisa menjadi baik dengan saling membantu.
Ha Na tentu saja menyanggupinya,tapi ia tidak pergi sendiri.
Dong Joo juga tentunya ikut bersama Ha Na.
Kebetulan,seorang wartawan menjadi pasien di rumah sakit tempat Ha Na bekerja.
Ia kagum pada Ha Na dan Dong Joo lalu membuat artikel tentang mereka.
Tentang dokter yang melakukan aksi heroik membantu negara seberang.
Wartawan itu yakin,berita ini akan menjadi berita besar nantinya.
Selain itu di Seoul,direktur rumah sakit tempat Dong Joo dan Ha Na di tempatkan dulu telah di pecat oleh ketua yayasan rumah sakit karena terbukti menggelapkan dana rumah sakit dan menyalahgunakan kekuasaan dengan memindahkan Dong Joo dan Ha Na ke desa rawan konflik yang jelas tanpa sepengetahuan dewan direksi.
Ayah Hye Mi selaku menteri keuangan yang korut juga yang membuat direktur rumah sakit mendepak Ha Na dan Dong Joo dari rumah sakit atas perintah putrinya kini bermasalah dengan hukum dan di lengserkan dari posisinya.
Era kejayaannya telah berakhir saat dewan audit negara menyita semua hartanya yang tidak ia lapor pada negara.
Mendengar hal ini,Jung Hwa langsung memperjuangkan puterinya agar di bawa kembali ke Seoul.
Jung Hwa bertemu dengan direktur baru rumah sakit saat Ha Na di Seoul.
Dan atas persetujuannya,Ha Na akan di tarik kembali tidak lama lagi.
Tapi hal yang terjadi di Seoul tidak semulus urusan Ha Na dan Dong Joo saat ini.
Mereka sedang menembus medan bencana untuk mengobati orang orang yang terluka.
Ha Na sedang menjahit luka seorang wanita.
Dong Joo sendiri di lokasi terpisah juga membantu seorang pria yang tidak sadarkan diri,di tanah itu juga Dong Joo memompa jantung pasiennnya.
Ha Na dan Dong Joo bekerja sama dengan staf medis di sana.
Walau harus berkutat dengan bahaya akan gempa susulan yang bisa saja terjadi tapi Ha Na dan Dong Joo benar benar tidak gentar sedikit pun.
Mereka terus berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien pasiennya...
Hanya saja,mereka tetaplah manusia.
Yang kadang di sertai dewi fortuna tapi kadang juga harus menerima kesialan.
Dong Joo tanpa sengaja memasuki area yang ditanam ranjau.
Lebih lagi,ia menginjak salah satu ranjau yang aktif dan tidak lama Dong Joo juga mau tidak mau harus merasakan pahitnya menjadi korban.
Ranjau itu meledak dan membuat Dong Joo terlempar cukup jauh.
Tentara yang waktu itu menyelamatkan Dong Joo segera menyelamatkannya.
Ia mendekati tubuh Dong Joo yang tertingkap di tanah setelah terkena ledakan dari ranjau itu.
Dong Joo langsung di bopongnya ke tenda pengungsian.
Ha Na yang tengah sibuk benar benar kaget melihat Dong Joo yang terkulai tidak sadarkan diri.
Tentara itu juga menerangkan jika Dong Joo sepertinya telah menginjak ranjau.
Dari hasil pemeriksaan Ha Na,dada dan perut Dong Joo mengalami pembengkakan karena benturan yang kuat.
Dong Joo harus segera di bedah.
Tapi,tempat ini tidak memadai untuk melakukan operasi namun jika terlambat Dong Joo bisa saja mengalami henti jantung.
Tentara itu lalu ingin membantu Ha Na dan akan berusaha secepat mungkin untuk bisa kembali ke rumah sakit agar dapat mengoperasi Dong Joo.
Dengan menggunakan mobilnya,tentara itu membawa Ha Na secepat mungkin melaju.
Ha Na terus berdoa dan memohon keselamatan Dong Joo.
Ya tuhan,aku mohon izinkan aku untu menjadi mukjizat bagi Dong Joo.
Izinkan aku menyelamatkannya atas restumu..
Aku mohon...
Ha Na benar benar khusuk berdoa yang membuat Tuhan tidak bisa berpaling dan menunda menjawabnya.
Ha Na berhasil sampai di rumah sakit Geulip dan langsung bersip untuk operasi.
Pasien yang harus di bedahnya kali ini adalah Dong Joo.
Tapi,lagi lagi cobaan mendera.
Gempa susulan terjadi di wilayah Korea utara.
Getaran itu juga sedikit mengguncang wilayah Ha Na.
Jalannya operasi Dong Joo sempat sedikit goyah karena getaran gempa susulan itu.
Namun Ha Na menenangkan diri sebentar dan tetap melanjutkan operasinya.
Karena gempa yang mengerikan itu banyak warga Korea utara yang memasuki wilayah Korea selatan untuk mencari keamanan.
Melihat hal yang menimpa negara tetangganya,walau selama ini berhubungan buruk tapi warga Korea selatan tetap menerima warga Korea utara yang ingin berlindung dari bencana alam itu.
Semua warga saling membantu demi menjunjung tinggi arti kemanusian.
Di saat ras,bangsa dan negara tidak lagi mereka pandang sepihak dengan fikiran sempit tapi saling membantu satu sama lain,betapa indahnya rasa tolong menolong itu.
Walau harus menghadang bencana,orang orang Korea utara yang mengungsi ke negara Korea selatan di lindungi dengan baik juga mendapat bantuan obat obatan dari warga sekitar.
Para warga gotong royong membangun tenda tenda darurat untuk para pengungsi itu.
Tidak ada konflik yang terjadi tapi rasa saling membangun untuk peduli pada sesama sangat kental di sini.
Di mana dua budaya berbeda saling membaur bersama sama dan melengkapi untuk menjunjung tinggi arti tenggang rasa dan gotong royong.
Walau dengan kondisi alam yang tidak bersahabat.
Ha Na berhasil menyelesaikan operasi daruratnya.
Dong Joo berhasil melewati masa kritisnya.