THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
DAG DIG DUG



Ah Ra sedang bekerja hari ini,Ah Ra menangani seorang pasien epilepsi yang terus terusan kejang.


Saat ingin menyuntikkan obat penenang agar pasien menjadi tenang,pasien itu malah tiba tiba menyasarkan kakinya ke perut Ah Ra yang sedang isi.


ARGGGHHHHHHH......


Ah Ra terjatuh dan kesakitan,In Joo dan para staff medis lain segera menghampiri Ah Ra.


In Joo sangat khawatir melihat isterinya yang kesakitan.


Ia segera menggendong istrinya dan membawanya ke dokter kandungan di rumah sakit itu.


Beruntung kandungan Ah Ra tidak apa apa,hanya saja Ah Ra harus istirahat total hari ini dan tidak boleh bekerja.


Karena In Joo sangat khawatir,ia meminta isterinya di rawat inap dan di beri infus hari ini.


Ah Ra tidak bisa menolak karena In Joo yang begitu panik seperti saat ini.


Ia jelas mengkhawatirkan anaknya.


Ah Ra di rawat di ruangan pasien.


Ah Ra,aku tinggal kerja dulu ya.


Nanti kalau sudah selseai aku akan menjengukmu lagi.


Ia In Joo,aku tidak apa apa.


Cepat kabari jika terjadi sesuatu ya.


Iya In Joo..


Tidak lama In Joo pergi sambil tersenyum pada isterinya.


Ah Ra mengistirahatkan dirinya.


Saat itu Ah Ra menoleh dan melihat seorang ibu yang hamil besar di temani oleh suaminya.


Mereka seperti akan menyambut kelahiran bayi itu,namun raut mereka tampak sedih dan bukannya bahagia.


Hal itu mengusik hati Ah Ra...


Ah Ra lalu berniat menanyakan tentang hal itu.....


Permisi....


Pasangan itu segera menoleh pada Ah Ra.


Ia nona,ada apa?


Sang istri menyahut lebih dulu.


Kenapa kalian bersedih?


Bukankah kalian akan menyambut kelahiran bayi itu?


Sang isteri lalu merubah raut wajahanya menjadi suram dan ingin menangis.


Sang suami lalu membantu menjawab pertanyaan Ah Ra.


Dengan raut yang sedih si suami menjawab.


Bayi dalam kandungan ini sudah meninggal nona.


Isteriku nanti di operasi untuk melahirkan bayi kami yang sudah tiada ini.


Ah Ra terkejut.


Astaga,bayi mereka sudah tidak bernyawa rupanya.


Ah Ra jadi merasa bersalah.


Ah Ra perlahan bangun dan menuju mendekati pasien itu.


Aku minta maaf nyonya dan tuan.


Aku tidak tahu masalah yang menimpa kalian.


Tidak apa apa,walau berat kami sudah bisa menerima dan merelakannya.


Sang isteri begitu tegar saat menjawab Ah Ra.


Ah Ra lalu duduk di dekat pasien itu.


Aku juga sedang hamil muda,tadi ada pasien yang mendorongku tapi untungnya aku tidak apa apa.


Kau harus lebih hati hati lagi.


Sepertinya kau seorang dokter..


Iya nyonya,aku dokter di sini.


Kalau boleh tahu apa yang menyebabkan bayi kalian seperti ini?


Sang isteri mulai bercerita di dampingi suaminya yang memegang tangannya.


Dari hasil cerita pasien itu tidak ada hal yang buruk yang ia lalukan.


Tiba tiba saja bayinya tidak aktif lagi dan saat di USG ke rumah sakit bayi itu sudah tidak memiliki detak jantung dan di nyatakan meninggal.


Si isteri juga mengatakan tekanan darahnya sempat naik saat itu.


Hal itu membuat Ah Ra sedikit curiga.


Sang ibu barusan mengatakan jika tekanan darahnya sempat naik.


Ah Ra menelfon Ha Na dan memintanya kemari membawa alat USG.


Ah Ra meminta izin memeriksa perut pasien itu.


Setelah di izinkan,Ah Ra meraba dengan seksama.


Tidak..tidak,bayi ini belum meninggal.


Perasaanku sangat kuat.


Perut si ibu juga belum mengeras,aktifitas di dalam perutnya juga masih seperti biasa.


Dan bayi ini masih merespon bisa bergerak.


Tidak lama Ha Na datang.


Ah Ra segera menceritakan kronologinya.


Ha Na bukankah dulu kau juga begitu,detak jantungmu sempat hilang saat beberapa menit saat kau akan di lahirkan oleh ibumu.


Iya Ah Ra,hal itu kerena tekanan darah ibuku sempat naik.


Perasaanku berkata bayi ini masih hidup dan bisa di selamatkan.


Orang tua bayi lalu saling menatap dan penuh harap.


Ha Na segera meng USG perut di si ibu.


Beberapa lama mencari pergerakan dan detak bayi akhirnya ketemu walau sangat lemah..


Bayinya masih hidup..


Ha Na mencetuskan hal itu.


Sang ayah langsung menangis bahagia.


Ha Na segera membawa pasien itu ke ruang operasi.


Namun sebelum pergi,sang pasien memegang tangan Ah Ra dan berterima kasih sebesar besarnya karena sudah menyelamatkan bayinya.


Ah Ra turut bahagia dan menguatkan sang ibu.


Setelah semuanya pergi,Ah Ra kembali ke ranjangnya sambil memegang perutnya.


Ah Ra bicara dari hati pada bayinya.


Anak pintar.


Ibu rasa saat kau besar nanti kau akan menjadi dokter yang hebat.


Bahkan saat di dalam kandungan,jiwa heroik kedokteranmu sudah muncul untuk menolong temanmu yang masih di dalam perut tadi.


Ah Ra bangga pada bayinya.


Ia mengelus perutnya dan berterima kasih atas kerja sama tadi.


Ha Na menjadi asisten bedah operasi sesar bayi itu.


Ha Na membantu menyelamatkan si bayi yang memang saat keluar dari rahim ibunya sangat pucat dan tidak menangis.


Bahkan detaknya sangat lemah..


Namun dokter berjuang dengan baik hingga bayi itu memerah dan menangis dengan kencang.


Bayi cantik yang di nyatakan meninggal itu kini hidup dan sudah melihat dunia.


Ha Na berkesempatan memotong tali pusat bayi itu.


Ha Na bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan bayi ini hidup melalui Ah Ra.


Jika saja ia di operasi terlambat dari waktunya bayi ini mungkin tidak akan selamat.


Hari ini bisa di lihat jika pernyataan manusia tidak akan bisa melawan ketetapan Tuhan yang memberi kehidupan.


________________________


Pasien itu semalam baru saja menjalani operasi tukak lambung.


Namun karena sudah cukup berumur walau operasinya berhasil namun selang beberapa jam kondisi vitalnya terus turun dan malah terkena henti jantung selang beberapa jam operasi.


Dong Joo terus memompa jantung pasien itu,namun hal itu tidak mengubah takdir pria itu untuk pergi selamanya.


Perawat minta Dong Joo berhenti memompa jantung pasien yang sudah tidak bernyawa itu dan mengumumkan waktu kematian pasien.


Walau harus menyerah Dong Joo tidak ingin terpuruk lagi karena ka sudah berusaha sebaik mungkin.


Dong Joo mengabari kabar meninggalnya pasien pada keluarganya.


Keluarga pasien hanya bisa pasrah.


Namun ketegaran istrinya patut di acungi jempol.


Istrinya menerima jika suaminya sudah harus pergi meninggalkan dunia dengan lapang dada.


Terima kasih dokter,karena sudah berusaha sebaik mungkin.


Iya nyonya,aku harap anda dan keluarga di berikan ketabahan.


Wajah wanita yang penuh keriput itu nampak murung.


Setelah itu wanita itu melanjutkan omongan menjawab Dong Joo.


Hanya dia satu satunya keluargaku dokter.


Kami adalah orang buangan,suamiku dahulunya narapidana kasus pembunuhan.


Dan aku adalah narapidana karena kasus pencurian dulunya.


Kami berdua adalah residivis di sebuah tahanan dulu.


Kami bertemu dan saling jatuh cinta saat di penjara.


Setelah keluar,kami memulai hidup baru sebagai pasangan suami isteri.


Keluarga kami tidak ada yang mau mengakui kami sebagai keluarga karena masa lalu kami yang kelam.


Jadi aku menua dan hanya menghabiskan waktu dengan suamiku.


Sebagai wanita aku juga tidak subur dan kami berdua tidak di karuniai anak.


Sekarang setelah suamiku tiada,hanya aku yang akan hidup sendiri di dunia ini.


BLAMMMMM...


Dong Joo menjadi iba.


Perasaannya meleleh karena hal ini.


Ia jadi teringat ibunya setelah mendengar cerita nenek itu.


Karena ibunya juga hanya memiliki ia dan ayahnya sebagai anggota keluarga.


Dulu,kakek Dong Joo sangat kaya.


Namun karena mencemari desa dengan limbah pabrik,ia di tahan dan mendekam di penjara.


Karena ulahnya,ia di benci oleh warga desa dan sanak keluarganya dan juga bangkrut total.Semua pengikutnya pergi dan keluarganya mengambil semua hartanya saat ia di penjara.


Ia juga di asingkan ke tahanan yang di gabung bersama narapidana kelas kakap.


Dari cerita ibunya,kakek Dong Joo meninggal setelah sakit sakitan dan tewas di tahanan.


Ibu Dong Joo tidak bisa melayat karena juga mendekam di tahanan dengan kasus lain.


Tidak ada yang mau menerima jenazah kakek Dong Joo baik itu saudara atau adik adiknya yang dulu ia bantu saat susah.


Sehingga mereka hanya memakamkannya di makam para mayat tak di kenal di belakang penjara.


Ibu Dong Joo sangat sedih dan membatin mengetahui ayahnya di perlakukan seperti itu.


Karena tidak mau lelaki yang meninggal itu seperti kakeknya dulu.


Dong Joo akan membiayai pemakaman suami pasien itu dengan layak.


Istri si pasien sangat berterima kasih pada Dong Joo.


Tidak henti hentinya ia membungkuk dan berterima kasih.


Sekarang hati Dong Joo terasa lapang adanya.


Ha Na sedang tergesa gesa mengirim data pasien,ia berlari dengan kencang tanpa tahu lantai rumah sakit itu sedang dalam keadaan licin karena baru saja di pel.


Akhirnya tidak terelak lagi,Ha Na berseluncur dan di hadapannya ada Dong Joo.


Karena ia menghindar menabrak Dong Joo,Ha Na menjatuhkan dirinya.


AAAAARRGGGHHH..AWASS...


Dan tidak lama...


BRUKKKKK...


Ha Na terjatuh di sudut rumah sakit itu.


Ha Na sepertinya kesakitan.


Celananya juga robek di bagian paha.


Dong Joo segera menghampiri pacarnya karena khawatir..


Kau baik baik saja Ha Na?


Wajah Ha Na tersenyum pahit karena menahan sakit dan juga malu.


Sakitnya tidak seberapa Dong Joo,tapi bagaimana aku bisa seceroboh ini sampai jatuh di hadapan pacarku.


Memalukan sekali.


Dong Joo membuka jubah dokternya dan menutupi paha Ha Na dan terlihat karena sobekan di celananya itu.


Dong Joo memeriksa pergelangan kaki Ha Na yang agak membiru.


Saat Dong Joo mencoba menyentuhnya.


Argghhhh,sakit..


Ha Na sepertinya kesakitan karena terkilir.


Tidak memungkinkan juga untuknya berjalan.


Dong Joo lalu berinisiatif menggendongnya.


Ha Na dan semua staff rumah sakit kaget.


Dong Joo yang di kenal dingin, tidak segan menolong Ha Na dan menggendongnya.


Ha Na berdebar penuh kebahagiaan sekarang.


Melihat pacarnya dengan wajah serius menggendongnya dan membawanya pergi menyusuri koridor yang ramai orang orang tanpa rasa canggung.


Dong Joo bahkan tidak peduli jika ia akan menjadi bahan omongan asal bisa menolong Ha Na sekarang.


Pemandangan itu juga di lihat oleh Won Hee.


Dalam hati Won Hee juga ingin di perlakukan seperti itu oleh Dong Joo.


Hem,apa aku harus jatuh juga ya?


Menyenangkan sekali jika aku bisa berada di posisi Ha Na sekarang.


Won Hee masih belum mengetahui fakta jika Ha Na dan Dong Joo berpacaran.


Saat ini,Ha Na sedang menunggu hasil ronsen kakinya.


Dong Joo menghampiri Ha Na di ranjang pasien..


Sebaiknya kau pulang saja,kondisi kakimu tidak memungkinkan untuk bekerja.


Iya,aku akan istirahat saja.


Terima kasih ya sudah menolongku..


Dong Joo tersenyum menjawab omongan Ha Na.


Dong Joo juga menyeka rambut poni Ha Na yang agak berantakan.


Ha Na meraih tangan Dong Joo dan mengecup lembuh punggung tangan kanan Dong Joo dan meletakkan telapak tangan kanan Dong Joo di pipinya.


Dong Joo tentu saja tersentuh..


Ia membelai pipi Ha Na yang lembut itu.


Ha Na...


Iya...


Ada apa?


Besok ayo ke rumahku..


Dag Dig Dug...


Jantung Ha Na berdetak tidak karuan saat mendengar Dong Joo mengundangnya ke rumahnya besok.