
Setelah pulang dari kebun itu,Ha Na dan Jae Ha kembali ke rumah neneknya.
Di sana Ha Na dan Jae Ha bersiap pulang kembali ke Seoul karena esok hari harus bekerja seperti biasa.
Ha Na sedang berganti pakaian di kamar kecil Jae Ha dulu.
Jae Ha saat kecil sempat tinggal dengan neneknya karena orang tuanya adalah orang sibuk.
Banyak barang barang kecil dan foto Jae Ha di kamar ini.
Ha Na memerhatikan lemari belajar Jae Ha.
"Oppa kecil benar benar menggemaskan.
Tok tok tok
Ha Na,kau sudah selesai ganti baju??
Suara ketukan pintu dan orang yang berbicara itu tidak lain adalah Jae Ha.
"Iya oppa,sudah...
Karena itu Jae Ha masuk ke kamar setelah memastikan Ha Na sudah tidak dalam keadaan berganti lagi.
Jae Ha melihat Ha Na yang memperhatikan foto kecilnya yang terpampang di atas meja belajar itu.
Jae Ha segera mendekat pada Ha Na.
"Bukankah sejak kecil aku sudah sangat tampan??
Ha Na dan Jae Ha saling bertatapan.
Raut Ha Na seakan mengejek..
"Oppa terlalu percaya diri tahu...
Ayo pulang...
"Baiklah..ayo..
Ha Na dan Jae Ha pamit pulang pada nenek Jae Hwa.
Nenek Jae Ha sebenarnya masih rindu dan ingin Jae Ha tinggal lebih lama di sini.
Tapi,apa daya..
Jae Ha harus pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
Ha Na juga memeluk nenek Jae Ha dan berterima kasih untuk segalanya.
Nenek Jae Ha berpesan agar nanti datang untuk mengunjunginya lagi.
Ha Na dan Jae Ha mengiyakan permintaan nenek itu,
lalu berlalu pergi.
Sekarang Ha Na dan Jae Ha sudah ada di dalam mobil di perjalanan pulang.
"Ha Na,tidurlah dulu.
Perjalanan kita masih jauh...
Ha Na menatap Jae Ha.
"Iya oppa
Tapi jika butuh teman bicara bangunkan aku ya...
"Iya Ha Na.
Istirahatlah....
Ha Na menurut dan tidur sejenak.
Jae Ha juga senang karena Ha Na menuruti omongannya.
Di perjalanan,Jae Ha juga mulai lelah dah ngantuk.
Sementara Ha Na tidur dengan pulas.
Jae Ha lalu menepi dan turun sebentar untuk pergi ke minimarket, membeli kopi agar tidak mengantuk.
Jae Ha sengaja tidak membangunkan Ha Na dan turun sendiri.
Jae Ha merasa lebih segar setelah mencuci mukanya dan meneguk kopi yang di belinya.
Jae Ha lalu kembali lagi ke mobil.
Saat ia masuk dan duduk, Ha Na masih tertidur.
Jae Ha lalu membetulkan posisi tidur Ha Na.
Tapi,tidak di sangka Jae Ha malah terlalu dekat dan seksama memerhatikan wajah Ha Na yang sedang tidur itu dengan jarak tidak lebih dari sejengkal.
Jae Ha jadi bedebar..
Jae Ha baru menyadari ia terlalu dekat.
Bahkan nafas Ha Na yang keluarpun bisa terendus olehnya.
Jae Ha terpaku pada bibir Ha Na dan menelan ludah karenanya.
Ia juga gugup dan tidak tahu harus bagaimana.
Sebagian dari dirinya merasa tertantang.
"Bukankah Ha Na sedang tidur?
Dia pasti tidak menyadari jika aku hanya sekedar ingin mengecup bibirnya.
Tanpa Jae Ha sadari,dirinya mulai serakah dan ingin memiliki Ha Na secara lebih.
Jae Ha mulai semakin mendekat ke arah bibir Ha Na.
Semakin dan semakin dekat...
Lalu....
Kringgg...kring...
Ponselnya berdering.
Jae Ha kaget lalu menjauh dari Ha Na.
Ia melihat ponselnya dan itu adalah panggilan dari Hong Ah.
"Apa yang sudah aku lakukakan!!
Aku bahkan sudah berniat mengkhianati tunanganku!!!
Jae Ha akhirnya sadar kalau ia sudah salah.
Untungnya Hong Ah menyadarkannya di waktu yang tepat sebelum ia berbuat terlalu jauh.
Jae Ha juga menyesal karena merusak kepercayaan Ha Na padanya jika ia tahu tentang semua ini.
Tapi yang Jae Ha bingungkan adalah..
Selama ini belum ada satupun wanita yang bisa mengusiknya selain Hong Ah.
Karena bagi Jae Ha hanya Hong Ah cinta sejati yang ia idam idamkan sejak kecil dulu.
Tapi kenapa ini harus terjadi saat ia bertemu Ha Na.
Apa karena Ha Na penuh luka dan membuatnya iba?
Atau ia salah mengartikan dan sebenarnya malah jatuh hati pada Ha Na??
Jae Ha benar benar pusing karena itu semua.
Jae Ha berhasil mengantar Ha Na pulang dengan selamat.
Ia langsung pamit pulang dan tidak mampir.
Untuk meluruskan perasaannya agar tidak ragu atau goyah lagi.
Jae Ha menelepon Hong Ah malam itu sangat lama.
Ia tidak ingin memberi celah lain di fikiran dan hatinya selain untuk Hong Ah.
Jika sekarang ia berkhianat maka nanti ia hanya akan menyesal karena dulu tidak mencoba mencegahnya.
Karena itu sebelum terlambat lebih baik ia menghindar dan mencoba seperti semula kembali.
Hari yang baru telah tiba.
Ha Na kembali bekerja hari ini.
Saat di perjalanan menuju rumah sakit,seorang gadis tiba tiba menghadang mobil Ha Na.
Rem mobil Ha Na sampai berdecit.
Ha Na kaget dan keluar dari mobilnya.
Ha Na segera keluar dan menghampiri gadis itu.
Gadis itu juga mendekat pada Ha Na.
"Nona tolong aku.
Tolong selamatkan aku..
Gadis itu melihat kiri dan kanan seperti ketakutan.
Karena itu Ha Na membawanya ke mobil terlebih dahulu.
Di mobil sebuah cerita mengenaskan terdengar oleh Ha Na.
Gadis belia yang masih 16 tahun itu sambil menangis bercerita jika ia sering di perkosa dan mendapat kekerasan oleh ayah tirinya.
Hari ini ia kabur karena sudah tidak mampu.
Sementara sang ibu hanya bisa berbaring karena lumpuh.
Tapi karena tekanan batin,gadis itu memutuskan untuk kabur.
Sudah hampir 2 tahun ia terus dilecehkan oleha ayah tirinya itu.
Ia sempat melapor pada polisi tapi polisi tidak percaya.
Karena ayahnya sudah lebih dulu mengancam ibunya untuk bersaksi palsu.
Lagi lagi setelah itu, ia dan ibunya di siksa.
Tapi hari ini gadis itu sudah benar benar tidak kuat.
Ia kabur dan meninggalkan ibunya yang saat ini mungkin di siksa oleh ayahnya.
Pertama tama untuk mengobati pendarahan yang di alami gadis itu karena sempat di perkosa sebelum berhasil kabur tadi.
Ha Na segera membawa anak itu ke rumah sakit terlebih dahulu.
Si anak tampak gemetar dan sangat takut.
Ha Na juga menghubungi ayahnya dan Jae Ha untuk menyelesaikan kasus ini.
Polisi juga sudah di hubungi.
Tapi, setelah Ha Na menangani gadis itu.
Jae Ha dan ayahnya mengajak Ha Na bicara.
Ha Na kaget saat mendengar,ternyata ayah tirinya sudah ditemukan tidak bernyawa.
Rupanya gadis itu lari karena sudah memubuh ayah tirinya itu.
Saat di perkosa oleh ayahnya,gadis itu berhasil meraih gunting di meja.
Ia segera menusuk ayahnya bertubi tubi dan kabur.
Ha Na menjadi resah..
"Jadi bagaimana nasib gadis ini ayah??
"Aku dan Jae Ha juga belum tahu nak.
Tapi yang jelas,dia membunuh untuk membela diri.
Kami akan mengusahakan yang terbaik karena selama ini ia juga sudah menjadi korban kebejatan ayah tirinya itu.
"Lalu ibu gadis itu bagaimana???
"Dia baik baik saja Ha Na.
Jawab Jae Ha.
"Ibu gadis itu tidak ingin puterinya di penjara.
Ia akan memberi kesaksian mengenai kebejatan suaminya itu selama ini.
Betapa ia dan anaknya sangat menderita dan ketakutan.
Seorang perawat tiba tiba mengagetkan Ha Na
"Dokter Hyun,pasien yang baru masuk tadi kejang kejang....
Ha Na kaget...
"Ia bergegas menghampiri gadis tadi.
Jung Hwa dan Jae Ha juga cemas.
Tapi mereka hanya bisa menunggu di luar.
Ha Na mendekati pasien itu dan menemukan hal lain.
Ternyata sebelum memperkosa korban,sang ayah tiri menyuntikkan narkoba dalam dosis besar pada gadis ini.
Sehingga yang terjadi sekarang adalah gadis itu mengalami overdosis parah.
Mulutnya juga mengeluarkan banyak busa.
Ha Na dengan cepat menangani gadis ini.
Dalam benak Ha Na tentu mengutuk ayah tiri pasien tersebut.
Kenapa ia harus mati dengan mudah sebelum mempertanggung jawabkan perbuatannya di depan hukum.
Sementara anak dan isteri yang ia siksa masih harus tetap hidup dan menanggung derita atas perbuatannya selama hidup.
Namun mungkin saja ini menjadi lembaran hidup baru untuk gadis itu dan ibunya.
Ha Na akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan gadis ini dari kehancurannya.
Jae Ha dan ayahnya juga akan melindungi gadis itu secara hukum dan memastikan ia akan bebas walau dikaitkan dengan pembunuhan tidak sengaja pada ayahnya karena apa yang dia lakukan adalah sebagai wujud untuk pembelaan dirinya.
Gadis itu berhasil melewati masa kritisnya.
Sementara Jung Hwa masih berkoordinasi pada polisi.
Jung Hwa meminta Jae Ha mengantar Ha Na pulang terlebih dahulu karena setelah dari rumah sakit tadi,Ha Na juga ikut memberi kesaksian setelah membuat laporan karena menemukan gadis itu pertama kali.
Jae Ha menurut dan mengantar Ha Na pulang.
Tapi di mobil Ha Na terlihat gelisah dan tidak tenang karena memikirkan gadis itu.
"Ha Na,tenanglah..
Kami akan mengurusnya dengan baik,oppa dan ayahmu ini pengacara hebat.
Percayakan saja pada kami...
Ha Na tersenyum lemah..
"Ia oppa,terima kasih....
Ha Na masih tetap kelihatan tidak semangat.
Jae Ha lalu mengusulkan sesuatu yang lain.
"Ha Na mau melukis???
Ha Na menatap Jae Ha...
"Aku ingin melihat oppa melukis saja..
"Baiklah,kalau begitu kita ke rumahku sekarang..
Ha Na mengangguk setuju.
Jae Ha mulai melukis dan Ha Na duduk di sampingnya.
Yang Jae Ha lukis adalah seorang wanita yang berwajah sedih dan pilu dengan tetesan air mata di pipinya.
Jae Ha jelas menggambarkan kepedihan di hati Ha Na saat ini.
Jae Ha lalu berucap di samping Ha Na.
"Mau mencoba??
Aku akan menuntunmu....
Ha Na menatap Jae Ha dan mengangguk.
Sekarang Ha Na berada di depan Jae Ha dan Jae Ha berada di belakang Ha Na sambil memegang tangan Ha Na untuk menuntun kuas itu berjalan.
Ha Na dan Jae Ha sangat dekat.
Saat itu Jae Ha benar benar penuh rasa bergejolak di dada.
Wajahnya persis berada di samping pipi Ha Na.
Tekadang dengan sedikit gerak pipinya dan pipi Ha Na saling bersentuhan.
Hal itu membuat Jae Ha benar benar kacau di dalam sana.
"Aku tidak bisa lebih waras lagi.
Aku hanya berlindung dari fakta jika aku memiliki rasa pada Ha Na bukan hanya sebatas sebagai kakak dan adik tapi sebagai pria dan wanita.
Ha Na bukan wanita cantik biasa.
Jika hanya wanita cantik sudah biasa bagiku..
Tapi Ha Na adalah sosok lain yang membuatku berdebar kuat hingga seperti ini.
Salahkah aku??
Tentu saja salah...
Tapi.....
Dalam renungannya itu,Jae Ha tidak bisa memenangkan fikiran jernihnya dengan fikiran kacaunya.
Saat itu tangan sebelahnya yang bebas lalu memcoba merangkul pinggang Ha Na dengan perlahan.
Ha Na menyadari jika tangan Jae Ha merangkulnya.
"Ada apa dengan oppa?
Kenapa dia jadi seperti ini?
Ha Na juga bingung dengan apa yang terjadi.
Kini tangan Jae Ha telah sepenuhnya merangkul pinggang Ha Na.
Namun Jae Ha dan Ha Na tetap diam dan tetap melukis di atas kanvas itu.
Keduanya saling diam atas kegundahan di hati masing masing.
Jae Ha terlambat menyadari perasaannya pada Ha.
Ha Na juga telah terlambat untuk menghentikan Jae Ha.