
Keesokan paginya,Jae Ha terbangun dan melihat Ha Na sudah tidak ada di sisinya.
Ia tertidur sangat lelap sampai tidak menyadari Ha Na pergi.
Namun Jae Ha sangat senang karena semalam bisa menghabiskan malam tidur bersama Ha Na.
Hal ini cukup untuk membuat pagi Jae Ha tampak riang.
Jae Ha duduk dan meregangkan tubuhnya yang kaku.
Sedangkan Ha Na sudah pulang ke rumah.
Ha Na sedang menyantap roti berselai yang di buat ibunya.
Sambil makan,ia merenung lagi tentang apa yang terjadi padanya dan Jae Ha semalam.
Ha Na masih merasa aneh karena ia mau saja tidur bersama Jae Ha.
Walau itu hanya tidur biasa dan bukannya tidur dalam hal lain,namun tetap saja ia semalam tidur ditemani oleh seorang pria.
Yun Hee melihat gelagat aneh puterinya yang mengunyah makanan sambil melamun.
Ia lalu duduk di samping Ha Na.
"Ha Na.....
Yun Hee memanggil peterinya dengan lembut.
Ha Na kaget dan tersadar dari lamunannya.
"O..ibu....
"Ada apa nak?
Kenapa melamun begitu?
Kalau ibu boleh tahu,apa yang mengganggu fikiranmu??
Ha Na memandangi ibunya..
"Apa aku cerita saja ya pada ibu???
Ha Na menarik nafas panjang lalu meletakkan roti isi itu di meja.
"Ibu,sebenarnya aku merasakan perasaan yang aneh.
Jae Ha yang sudah aku anggap seperti kakak laki lakiku sekarang membuatku merasa berbeda.
Terlebih ia juga selalu menyelamatkanku.
Aku takut ibu,takut memiliki perasaan lain padanya.
Sedangkan Jae Ha sendiri sudah punya tuangan.
Aku bahkan sudah bertemu dan berkenalan langsung dengan tunangannya.
Wajah Ha Na nampak sedih,kalut dan kacau.
Yun Hee juga ikut sedih.
Yun Hee lalu mengelus lembut rambut puterinya itu.
"Ha Na,ibu jadi ikut sedih.
Tapi kau juga ingat,jika tindakanmu salah kau akan menyakiti hati seorang wanita yang tidak bersalah.
Perasaanmu sekarang mengarah pada rasa sukamu pada Jae Ha.
Tepis keraguanmu dan jangan berfikir macam macam.
Pilihamu sekarang adalah tetap menjadi adik yang baik baginya atau putus hubungan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Ibu bukannya tidak mendukungmu,tapi ibu tidak mau melihatmu kecewa dan sedih.
Jika kau merebut Jae Ha dari tunangannya,bayangkan apa yang di rasakan tunangannya Jae Ha yang tidak bersalah.
Ia akan sangat terluka.
Apa kau akan bersenang senang di atas penderitaannya??
Ha Na menggeleng.
"Aku tidak mau seperti itu ibu..
Aku tidak ingin merusak hubungan orang lain,terlebih itu oppaku sendiri.
Aku akan berusaha menjernihkan perasaanku ibu.
Yun Hee tersenyum dan senang atas pemikiran puterinya.
Tentu Yun Hee hanya ingin yang terbaik untuk puterinya.
Di rumah sakit,Jae Ha kedatangan Hong Ah dan orang tuanya.
Orang tua Jae Ha membawa kabar baik kalau besok Jae Ha sudah bisa pulang.
Jae Ha tentu sangat senang.
Setelah mampir sebentar,orang tua Jae Ha pergi untuk berangkat kerja.
Tinggallah Hong Ah dan Jae Ha saja..
"Hong Ah,apa hari ini tidak masuk kerja??
"Tidak Jae Ha,hari ini aku akan merawatmu..
Jae Ha tersenyum tapi dalam benaknya ia sedikit sedih karena itu berarti hari ini ia tidak bisa bersama Ha Na.
Padahal Ha Na sendiri hari ini tidak masuk kerja.
Ia menghadiri perpisahan pengunduran diri Ah Ra dari pekerjaannya bersama rekan rekannya di rumah sakit.
Acara itu akan di lakukan siang nanti.
Pagi ini Ha Na memilih istirahat di rumah saja.
Walau begitu dalam setiap aktifitasnya selalu terbayang tentang Jae Ha.
"Aku tidak boleh ingin merampas milik orang lain!!
Tidak Ha Na,kau tidak boleh lemah!!
Ha Na terus menguatkan dirinya sendiri.
Jae Ha juga berusaha fokus pada Hong Ah,tapi entah kenapa saat Hong Ah sudah bersamanya dan berada di sisinya sekarang ia malah mengharapkan Ha Na yang ada di sini dan bukannya Hong Ah.
Tapi saat memandang ketulusan Hong Ah,juga wajah Hong Ah yang sepenuh hati selalu memahaminya Jae Ha jadi merasa bersalah dan tidak tahu diri.
"Harusnya aku bersyukur wanita sebaik Hong Ah mau memilihku.
Apa aku lupa semua perjuangan lika liku hubungan kami?
Aku benar benar bodoh ingin menyakiti wanita sebaik ini.
Tuhan pasti akan menghukumku jika aku benar benar meyakitinya.
Setelah pemikiran itu,Jae Ha menarik wajah Hong Ah dan mengecup lembut bibir Hong Ah.
Hong Ah tersenyum dan menutup matanya.
"Aku tahu Jae Ha,kau tidak akan pernah berubah dan meninggalkanku...
Hatimu tidak akan berpindah ke lain hati karena aku tahu hanya hatiku yang menjadi rumah untuk hatimu.
Sejauh apapun kita pergi pada akhirnya tempat yang paling nyaman untuk kita datangi hanyalah rumah.
Aku dan hatiku akan selalu menjadi rumah untukmu.
Hari itu Jae Ha sangat manja pada Hong Ah.
Seharian ia juga berbincang tentang banyak hal bersama Hong Ah.
Jae Ha berusaha membuat keadaan seperti dulu lagi saat hanya ada Hong Ah di hati dan fikirannya.
Di acara perpisahan Ah Ra..
Ia menyampaikan sebuah pidato perpisahan pada semua staf.
"Baiklah semuanya,aku akan sedikit memberi pidato untuk ucapan perpisahanku.
Sebelumnya aku ingin minta maaf dan berterima kasih pada kalian semua atas kerja sama dan bantuan yang kalian berikan.
Aku memiliki kenangan yang indah dan kadang kala juga menyusahkan di rumah sakit ini,tapi aku tetap bahagia karena bergabung dengan tim hebat seperti kalian.
Namun,aku juga harus memutuskan berhenti karena bayiku juga membutuhkanku.
Walau sebenarnya ini adalah keputusan yang berat dalam hidupku tapi apa boleh buat kedapannya semoga kinerja kalian di rumah sakit semakin bagus lagi dan semakin sukses.
Akhir kata aku ucapat terima kasih dan semangat!!!
Semuanya memberi tepuk tangan yang meriah untuk Ah Ra.
Hari ini para staff bisa sedikit beristirahat sejenak di acara perpisahan ini.
Mereka saling melepas penat dan tertawa ria.
Tidak ada pasien juga alat alat medis yang harus mereka tangani.
Hari ini para staff medis mendedikasikan diri sebagai orang biasa untuk melepas salah satu dokter hebat mereka yang akan menjadi orang biasa kembali.
Hari itu Ha Na juga tidak menghubungi Jae Ha walau hanya lewat ponsel.
Ha Na ingin benar benar melepaskan perasaan konyolnya pada pria yang sudah terikat tali pertunangan itu.
Esok harinya Jae Ha sudah di perbolehkan pulang.
Di lobi rumah sakit,Ha Na melihat langsung Jae Ha sudah keluar dan didampingi oleh Hong Ah.
Ha Na hanya melihat mereka berdua dari jauh dan memutuskan untuk tidak menyapa.
Ha Na tidak yakin,jika ia bertemu dan di dekat Jae Ha lagi perasaan liarnya bisa saja berubah dan tidak terkendali.
Ha Na memilih melanjutkan pekerjaannya dan merawat pasiennya.
Jae Ha meninggalkan rumah sakit dan memandang rumah sakit itu dari dalam kaca jendela mobilnya.
Jae Ha juga memilih menghindar dari menemui Ha Na karena tidak ingin menyakiti Hong Ah lagi.
Jae Ha bukannya langsung ke rumah..
Ia malah ingin ke taman karena suntuk setelah beberapa hari di rumah sakit.
Ia ingin menghirup udara segar.
Hong Ah setuju dan akan menemaninya..
Ha Na juga rupanya akan bertemu seseorang di taman hari itu.
Ia memutuskan untuk ikut kencan buta demi mengalihkan perasaannya.
Jalan demi jalan di susuri,Jae Ha sudah lebih dulu sampai.
Ia dan Hong Ah duduk menghirup udara segar di taman itu.
Ha Na juga sudah bertemu dengan orang yang menjadi pasangan kencan butanya,dia adalah Han Suk Kyu.
Seorang dokter gigi yang buka praktek di daerah gangnam.
Ha Na dan pria itu saling berbincang sambil berjalan kaki.
Han Suk Kyu orang yang sederhana dan mudah di ajak bicara sehingga membuat Ha Na nyamanan.
Tapi,lagi lagi Ha Na harus bertemu dengan Jae Ha.
Ha Na dan teman kencannya itu berjalan mendekati kursi taman dekat Jae Ha duduk.
Jae Ha juga menoleh dan melihat Ha Na berjalan dengan pria yang tidak di kenalnya.
"Bukankah itu Ha Na??
Dengan siapa dia???
Saat Jae Ha masih penuh dengan tanda tanya,Ha Na menatap ke depan dan melihat Jae Ha dan juga Hong Ah.
Ha Na berhenti melangkah dan menatap serius.
Suk Kyu juga berhenti dan melihat apa yang membuat Ha Na berhenti bicara.
Jae Ha langsung berdiri dan menghampiri Ha Na.
Hong Ah kaget dan ikut berdiri juga.
Hal iti rupanya karena Jae Ha melihat Ha Na.
Hong Ah melihat mata Jae Ha yang tajam melihat Ha Na bersama pria lain.
Tatapan mata itu persis sama saat tatapan Jae Ha dulu cemburu jika ia didekati pria lain..
Jae Ha sudah di depan Ha Na.
"Oppa....
Panggil Ha Na....
Tapi Jae Ha langsung bertanya..
"Dia siapa Ha Na??
Suk Kyu segera menjawab.
"Perkenalkan,aku Han Suk Kyu..
Aku seorang dokter gigi dan teman kencan buta Ha Na..
Jae Ha mengangkat sebelah alisnya.
"Ternyata Ha Na ikut kencan buta.
Kenapa tidak memberi tahu aku..
Aku tidak bisa membiarkan mereka!
Ha Na juga memperkenalkan Jae Ha pada Suk Kyu.
"Suk Kyu,dia ini sudah seperti kakak laki lakiku.
Namanya Jung Jae Ha..
Dia seorang pengacara..
Suk Kyu tersenyum dan senang bisa berkenalan dengan Jae Ha.
Tapi Jae Ha bertingkah dan menarik tangan Ha Na juga menyeretnya ke sisinya.
"Maaf Suk Kyu,aku rasa aku harus membawa Ha Na.
Luka tusukku ini sepertinya bermasalah...
Aku harus pergi dulu dengan adikku..
Jae Ha membawa Ha Na begitu saja dan meninggalkan Hong Ah juga Suk Kyu.
Hong Ah hanya mematung dan tidak berkata apa apa.
Jae Ha menyeret Ha Na..
"Oppa,lepas..
"Sudah ikut saja!!!
Jae Ha sepertinya marah.
Ia membawa Ha Na entah kemana.
Setelah melintasi jalan yang cukup jauh rupanya Jae Ha membawa Ha Na ke rumahnya.
Jae Ha membawa Ha Na ke dekat kolam renannya.
Di situlah Jae Ha melepas tangannya yang sedari tadi memegang Ha Na.
Jae Ha akan marah besar..
"Ha Na,kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau ikut kencan buta??!!!
Ha Na menjawab dengan takut.
"Oppa,kenapa marah marah..
Aku kan sudah dewasa,aku berhak saja kencan buta dengan siapapun...
Lagi pula Suk Kyu pria yang baik
"Tidak!!
Jae Ha menyangkal omongan Ha Na.
Ha Na juga ikut emosi.
"Oppa,kau itu bukan siapa siapaku!!
Kau tidak berhak marah dan melarangku!!!
Mendengar kata itu keluar dari mulut Ha Na,Jae Ha terdiam dan malu sendiri.
"Aku bukan siapa siapa??
Ternyata aku tidak di anggap apapun olehnya.
Harusnya aku malu...
Saat Jae Ha terdiam,Ha Na berbalik dan ingin pergi.
Tapi...
BRUK...
Saat Ha Na menoleh rupanya Jae Ha pingsan.
"Oppa!!!!
Ha Na kaget dan terduduk menghampiri Jae Ha yang tidak sadar.
"Oppa...
Oppa!!
Ha Na panik..
Ha Na lalu memberi Jae Ha nafas buatan melalui mulut Jae Ha..
Ha Na berusaha sangat keras..
Hingga rupanya,saat Ha Na memberi nafas buatan itu Jae Ha membuka matanya.
Ternyata ia hanya pura pura pingsan untuk mengetes apa Ha Na masih peduli padanya atau tidak.
Jae Ha yang merasakan hembusan nafas Ha Na dimulutnya lalu memegang kepala Ha Na dan menyatukan bibirnya dan bibir Ha Na.
Ha Na kaget dengan mata terbelalak saat bibirnya terpaku di atas bibir Jae Ha.