
Ha Na hanya pasrah pada saat itu juga,jika memang ia harus mati.
"Kau sudah pasrah rupanya".Hong Ah senang ketika Ha Na mulai ketakutan dan pasrah seperti sekarang.
Tapi kesenangan Hong Ah tidak berlangsung lama karena Jae Ha lalu berdiri di samping Ha Na sambil memegang tangan Ha Na.
"Tembaklah aku juga Hong Ah".Begitulah seruan yang keluar dari mulut Jae Ha.
"Jadi kau jugan ingin mati bersamanya dan meninggalkanku?".
Jae Ha mengangguk,"Iya Hong Ah,lebih baik aku mati berkalang tanah di banding hidup tanpa Ha Na."
Hati Hong Ah sangatlah panas.
Tangan Jae Ha menggengam erat tangan Ha Na."Biarlah kita sehidup semati Ha Na,aku ikhlas jika ini adalah hari terakhir kita di dunia tapi awal baru kita hidup abadi di alam sana".
Saat Ha Na dan Jae Ha telah bersiap untuk mati.
Tiba tiba pandangan Hong Ah terasa kabur.
"Kenapa ini?"Ada apa dengan mataku."Penyakit Hong Ah sedang menyerang,ia lalu kehilangan kesadarannya.
"Hong Ah!"Seru sang ayah saat melihat puterinya pingsan.
Melihat hal itu,Ha Na segera menghampiri Hong Ah.
"Jangan sentuh puteriku."Bentak ayah Hong Ah dengan nada tinggi pada Ha Na.
"Tuan,aku ini seorang dokter,sekarang aku harus menjalankan tugasku.Sekarang kami bukan musuh tapi pasien dan dokter.Aku harus menyelamatkannya terlebih dahulu."Jawab Ha Na dengan tegas.
"Ini demi puteriku,aku harus bisa mengkondisikan
diri ".
"Baiklah,lakukan tugasmu."Ayah Hong Ah sudah memberi izin pada Ha Na.
Karen itu Ha Na segera bergerak.
Ha Na mulai memeriksa Hong Ah.
Dari hasil pengamatannya,Hong Ah sekarang menghadapi kondisi yang di namakan Papilledema(pembengkakan organ penting).
"Tuan,aku butuh persetujuanmu untuk membedah Hong Ah."
Ada banyak cairan di kepalanya yang harus segera di keluarkan,jika terlambat ia bisa mengalami serangan jantung."
Ayah Hong Ah nampak ragu,takut takut jika Ha Na berbuat sesuatu yang buruk saat mengoperasi Hong Ah.Ha Na menangkap hal itu.
"Tuan,aku sudah melakukan sumpah dokter."
"Aku juga tidak pernah merusak citeraku dengan melakukan malapraktik."Ucap Ha Na meyakinkan.
"Baiklah,aku percayakan ia padamu."
Tapi jika sesuatu yang buruk terjadi,aku akan menjamin kau akan membayar mahal untuk semua itu."
Ha Na mengangguk,"Aku tidak bisa menjamin apapun karena aku bukan Tuhan."
"Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin sebisaku".
Hong Ah segera di bawa ke ruang operasi.
Setidaknya saat ini ia harus bisa berada dalam kondisi stabil terlebih dahulu.
Jika tanda vitalnya tidak segera membaik maka bisa saja ini menjadi hari terakhir Hong Ah di dunia.
Jae Ha yang duduk di luar ruang operasi mulai memanjatkan doa dengan khusuk,"Ya tuhan,aku mohon selamatkan Hong Ah,berikanlah ia kesempatan hidup dan bukakan pintu hati dan jiwanya agar ia bisa menjadi manusia yang lebih baik."
Jae Ha juga turut berdoa untuk Ha Na semoga diberi kemudahan dalam melaksanakan operasi itu.
Operasi berlangsung cukup lama.Ayah dan ibu Hong Ah sudah mondar mandir dengan cemas.Hingga,Ha Na dan timnya keluar dari ruang operasi itu.
Orang tua Hong Ah langsung menghampiri Ha Na.
"Bagaimana dengan puteri kami?"Tanya ayah Hong Ah penuh kecemasan.
Ha Na menurunkan masker di mulutnya."Hong Ah sudah berhasil melewati masa kritis."
Ayah dan Ibu Hong Ah sangat lega dan bahkan sampai menitikkan air mata.Ayah Hong Ah juga menyesal telah berprasangka buruk pada Ha Na.
Ia kagum dan mengakui kinerja Ha Na yang hebat itu.
Jae Ha juga segera menghampiri kekasihnya itu,"Kerja bagus Ha Na,kau hebat."
Seuntai senyum Ha Na berikan untuk Jae Ha."Terima kasih Oppa."
Hong Ah masih belum siuman,namun ia sudah baik baik saja.Jika keadaannya bisa pulih dengan cepat ia bisa kembali ke Amerika dan menjalankan operasi.
Saat mengecek keadaan Hong Ah ke kamarnya,Ha Na menatap Hong Ah."Hong Ah,lekaslah pulih dan terima kasih karena kau sudah bertahan dan mempermudah operasiku tadi."
Ha Na berbicara pada Hong Ah dan tidak membenci atau mencelakainya padahal ia memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hal itu.
Hong Ah memang belum bisa sadar,namun telinganya bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan Ha Na tadi di tengah matanya yang masih tertutup."Ternyata kau sangat baik dan memang tulus,aku yakin hal itulah yang membuat Jae Ha sangat mencintaimu dan tidak bisa melupakanmu".
Hong Ah berbiacara demikian dalam benaknya.
Jae Ha bertemu dengan Ha Na di lobi rumah sakit untuk berpamitan.
"Ha Na,aku harus kembali ke kamp militer."
"Besok,aku akan kemari lagi."
"Jika ada sesuatu yang mendesak segera hubungi aku ya."
Ha Na mengangguk."Iya Oppa,tenang saja."
"Kalian berdua."
Suara yang tidak asing itu membuat Jae Ha dan Ha Na menoleh.Rupanya itu adalah orang tua Hong Ah.
Masing masing pasangan itu saling berpandangan.
"Dokter,terima kasih telah menyelamatkan puteriku."Seru ayah Hong Ah.
"Iya Paman,memang sudah tugasku sebagai dokter."
"Nak,jadi ini wanita yang kau cintai itu?"Tanya ibu Hong Ah pada Jae Ha.
"Iya ibu,dialah wanita yang aku cintai selama ini."Jawab Jae Ha tegas tanpa ragu.
Ayah dan ibu Hong Ah saling bertatapan lalu sama sama mengangguk dengan tersenyum.
"Kami akan membebaskanmu Jae Ha."Seru ayah Hong Ah.
"Maksud ayah?"Tanya Jae Ha karena masih tidak mengerti.
Ayah Hong Ah menghemhuskan nafasnya sebelum mengatakan sebuah keputusan bulat yang sudah ia sepakati dengan isterinya.
"Berpisahlah dengan Hong Ah,Jae Haa.Kami sudah merelakanmu dan menyadari betapa kau sangat menderita selama ini."Wajah ayah Hong Ah penuh sesal dan kepiluan yang mendalam terkait keputusan berat ini.
Melihat sang suami yang tidak lagi mampu berkata kata,kini giliran ibu Hong Ah yang meneruskan."Iya nak,walau kau bukan menantu kami lagi nantinya tapi kita akan tetap mejadi keluarga untuk selamanya,berbahagialah untuk kami nak".
"Terima kasih,ayah dan ibu."Jae Ha terharu lalu menatap Ha Na.
Ha Na mengucap syukur dalam hatinya.
"Terima kasih karena telah memberikan jalan untuk kami ya tuhan.Setelah semua rintangan yang berliku dan terjal ini akhirnya aku dan Jae Ha bisa mendaki ke puncak kemenangan kami bersama."
Ha Na dan Jae Ha segera mengabari orang tua mereka masing masing.
Yang amat sangat bahagia adalah Jae Ha.Ia menangis bahagia atas kabar yang di berikan puterinya itu.
"Yun Hee,akhirnya Ha Na kita bisa bahagia bersama orang yang di cintainya."Ucap Jung Hwa penuh sukacita.
"Iya Jung Hwa,syukurlah."Yun Hee juga menitikkan air mata atas kabar bahagia yang Ha Na sampaikan tadi.
Esok harinya,Hong Ah sudah siuman.Ia ingin bertemu dengan Ha Na dan Jae Ha.
Keduanya bersama sama menemui Hong Ah.
"Hong Ah,bagaimana kondisimu?"Tanya Ha Na lembut.
"Aku sudah lebih baik,hanya lemah saja."Jawab Hong Ah yang tidak lagi dengan nada tinggi seperti waktu itu.
Jae Ha juga tersenyum pada Hong Ah.
Hong Ah lalu memberikan sebuah amplop pada Jae Ha."Bukalah."
Jae Ha bingung dan lekas membuka amplop itu,ternyata isinya adalah surat cerai yang sudah di setujui Hong Ah.
"Hanya itu yang aku bisa berikan untuk menebus kesalahanku pada kalian berdua,berbahagialah tapi aku mungkin tidak akan datang ke pernikahan kalian karena harus kembali ke Amerika dalam waktu dekat."
Hong Ah tersenyum pada Ha Na dan Jae Ha.
"Terima kasih Hong Ah."Ucap Jae Ha.
Hong Ah mengangguk,tidak lama Ha Na memeluk Hong Ah."Terima kasih Hong Ah,lekaslah sembuh dan sehat kembali,aku akan selalu berdoa untukmu."
Hong Ah tersenyum dan mengelus punggung Ha Na.
Beban di hati Hong Ah seakan hilang dan plong,"Semoga kalian akan selalu bersama dan penuh kebahagiaan selamanya."
*****
Semua telah berjalan lancar,tidak lama pernikahan itu segera di gelar karena Jae Ha harus kembali wajib militer dan mendapatkan cuti beberapa hari saja.
Pernikahan dadakan dan sederhana Ha Na dan Jae Ha di gelar di sebuah Villa indah di bawah bukit dengan konsep taman.
Ha Na sedang di ruang pengantin di temani ibunya.
"Ha Na,kau terlihat sangat cantik."Puji sang ibu pada puterinya.
"Terima kasih ibu."Jawab Ha Na sambil tersenyum.
Ha Na memandang ke kaca pada sosok dirinya yang bergaun pengantin bernuansa putih yang indah di hari bahagia ini.
"Sudah saatnya Ha Na,ayo keluar."
"Baik ibu."
Yun Hee menggiring puterinya itu keluar.
Ha Na yang keluar dari belakang membuat semua tamu berdecak kagum.Jung Hwa sudah mempersiapkan lengannya untuk menggiring Ha Na menuju altar.
Ha Na tersenyum dan segera meraih lengan ayahnya.
Di depan sana,Jae Ha melihat Ha Na yang semakin mendekat,ia memuji Ha Na dalam hati."Hari ini kau sangat cantik Ha Na,kau laksana dewi yang terjatuh di bumi hari ini."
Jae Ha juga sangat tampan dengan setelan pengantinnya.
Sampailah Jung Hwa dan Ha Na di altar itu,ia lalu menyerahkan Ha Na pada Jae Ha."Aku serahkan puteriku padamu,tolong jaga dan cintai dia seperti aku dan isteriku menjaga dan mencintainya selama ini."
"Iya ayah,pasti akan aku lakukan."Jawab Jae Ha penuh keyakinan.
Jae Ha dan Ha Na saling mengikrarkan janji sehidup semati untuk saling bersama hingga maut memisahkan.
Pernikahan itu berjalan lancar dan penuh hikmat hingga semua prosesi selesai.
Kini Jae Ha membuka tudung pengantin Ha Na dan mencium bibir isterinya di depan semua orang.
"Aku mencintaimu,istriku dokter."
"Aku juga mencintamu,suamiku si pengacara."
Ciuman itu di penuhi riuh sorak sorai dari para tamu.
Jae Ha dan Ha Na menjadi pasangan pengacara dan dokter seperti ayah dan ibu Ha Na.
Jae Ha dan Ha Na menempuh hidup bahagia sebagai pengantin baru.Semuanya beraharap Jae Ha dan Ha Na akan berbahagia selamanya.
.TAMAT.