THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
PANTI ASUHAN



Hari ini Ha Na sangat gugup.


Sebentar lagi Dong Joo akan menjemputnya.


Ia gelisah sendiri,berdiri dan duduk tidak tentu arah.


Ha Na juga mondar mandir kesana kemari.


Ha Na bahkan menggigit kukunya karena gugup.


Aduh bagaimana ini?


Apa yang harus aku lakukan nanti?


Apa kami akan.....


Selintas fikiran erotis dan kotor melintasi fikiran Ha Na.


Namun Ha Na segera menyadarkan dirinya.


Sadarlah Ha Na!!


Apa yang kau fikirkan!!


Ada ada saja!


Tidak lama,suara mobil Dong Joo sudah terdengar dari luar.


Ha Na panik lagi dan merapikan rambutnya lalu keluar.


Sekarang Ha Na sudah ada di mobil Dong Joo.


Ha Na terkaku dan diam..


Dong Joo memutuskan bicara duluan..


Orang tuamu mana Ha Na?


Ayah dan ibuku bekerja hari ini,ayah menjadi pengacara untuk ibuku.


Kenapa bisa begitu?


Yah begitulah,ada pasien ibuku yang menuntut karena merasa tidak puas.


Ia ingin ibuku memalsukan sertifikat kematian suaminya agar mendapat warisan.


Tapi ibuku jelas saja tidak mau.


Wali pasien itu malah menuntut ibuku dengan tuduhan yang bukan bukan karena sakit hati.


Suaminya jelas meninggal karena di racuni oleh selingkuhan isterinya.


Untuk membuat selingkuhannya bebas dan ia juga mendapat warisan ia meminta ibuku berbohong dan bekerja sama.


Namun ibuku menolak.


Begitulah,saat ini Jung Hwa sedang membela isterinya di meja hijau.


Setelah berusaha menjatuhkan Yun Hee dengan tuduhan mengada ada,kini Jung Hwa sedang di pengadilan menuntut balik pasien yang menyuruh Yun Hee memalsukan akte kematian itu.


Namun sangat mengesalkan karena wanita itu terus menyangkal dan bilang kalau tuduhan itu palsu.


Tapi ia salah besar karena lawannya adalah Jung Hwa.


Pengacara keluarga wanita itu adalah teman Jung Hwa dan ia datang sebagai saksi kejutan di persidangan itu.


Untuk membantu meluruskan masalah ini maka pengacara itu di datangkan.


Dari hasil ucapan pengacara itu di ketahui,sang suami yang sudah meninggal semasa hidup sudah tahu jika isterinya berselingkuh dan juga pernah mendengar isterinya dan selingkuhannya berencana untuk membunuhnya demi mendapatkan warisan.


Karena itu jauh jauh hari ia sudah meminta pengacara untuk menyumbangkan semua hartanya pada badan amal dan mengungkapkan hal ini jika terjadi hal yang seperti di rencanakan mereka.


Karena saksi kunci sudah datang maka tidak ada alasan bagi wanita itu untuk lolos dari hukum lagi.


Sekarang ia ketakutan dan bersiap menghuni jeruji besi dalam waktu yang lama.


Yun Hee dan Dong Joo bertidak sebagai penegak hukum dan memberikan kebenaran untuk membela kebenaran pasiennya.


Kembali ke Ha Na dan Dong Joo.


Ha Na sudah sampai di rumah Dong joo.


Tapi semua yang Ha Na khayalkan buyar.


Karena saat masuk ke rumah Dong Joo ada seorang wanita tua di sana.


Wanita itu rupanya istri dari pasien mantan narapidana yang hanya sebatang kara dan waktu itu Dong Joo biayai pemakamannya.


Karena iba melihat wanita itu tidak punya siapa siapa,Dong Joo mengajaknya tinggal dirumahnya untuk sementara waktu sambil mengurus surat untuk membawa nenek ini tinggal di panti jompo.


Dalam benak Ha Na.


Memalukan sekali,entah apa yang aku fikirkan saat Dong Joo bilang ingin membawaku ke rumahnya.


Aku fikir kami cuma berdua tapi ada orang lain di sini.


Aishhh...dasar otakku ini mesum sekali.


Ha Na mencoba bicara dari hati ke hati pada wanita itu.


Sebagai sesama wanita lebih nyaman baginya untuk bicara dengan Ha Na.


Wanita itu jadi lebih terbuka dan bisa mencurahkan isi hatinya.


Dari curahan perasaan wanita itu,Ha Na tahu jika sebenarnya wanita itu tidak lagi memiliki semangat hidup.


Alih alih ke panti jompo,ia ingin pergi ke sebuah pantu asuhan tempatnya dulu pernah tinggal setelah orang tuanya tiada.


Jika bisa ia ingin bantu bantu di sana karena merindukan masa kecilnya dahulu dan ia juga menyukai anak anak.


Mendengar hal itu,Ha Na dan Dong Joo memutuskan akan mewujudkan keinginan nenek itu dan membawanya kesana.


Ha Na juga sudah meminta izin pada ayah dan ibunya untuk pergi dan akan pulang terlambat.


Sepanjang jalan,Ha Na,Dong Joo dan nenek itu menikmati jalanan yang melewati pohon pohon hijau di tepian jalan.


Nenek Myung Sim juga sangat senang sepertinya dari raut wajahnya yang berseri.


Setelah menempuh kurang lebih 6 jam perjalanan akhirnya mereka sampai.


Ha Na,Dong Joo dan nenek itu segera menyambangi panti asuhan itu.


Ha Na dan Dong Joo bercengkrama dengan anak anak di panti asuhan sementara nenek itu bertemu dengan kepala panti asuhan.


Saat semua anak sedang bergabung dengan Ha Na dan Dong Joo ada seorang anak laki laki sekitaran usia 15 tahun yang duduk menyendiri.


Dari hasil bertanya dengan anak lain,anak laki laki yang menyendiri itu adalah anak nakal di panti asuhan ini.


Kemarin saja ia bekelahi dengan teman sekelasnya dan di skors.


Tapi,ada yang menarik perhatian Ha Na.


Kenapa ia terus memegang area matanya?


Apa dia kesakitan?


Ha Na lalu bicara pada Dong Joo


Hei,Dong Joo.


Lihat anak itu.


Sepertinya dia kesakitan di bagian mata.


Dong Joo lalu memerhatikan dengan seksama.


Lalu mengambil keputusan.


Ha Na,ayo dekati anak itu.


Ha Na mengangguk.


Saat mendekat Ha Na dan Dong Joo kaget melihat mata anak itu yang mengeluarkan darah.


Ha Na,apa mungkin anak ini terkena Hifema (pendarahan mata).


Penjelasan:trauma pada mata dapat menyebabkan pendarahan pada ruang anterior mata atau ruang bagian depan mata.


Pendarahan ini disebut hifema.


Cairan ini disekresikan oleh siliaris di ruang posterior mata melewati pupil hingga sampai ke bagian anterior mata.


Hifema anak ini tergolong besar sehingga matanya terlihat penuh dengan darah.


Ha Na berspekulasi.


Ini pasti karena ia terlibat perkelahian beberapa waktu itu.


Karena pukulan yang sangat keras pada area matanya.


Dong Joo segera meminta anak itu agak berbaring dan menutup matanya.


Tapi masalahnya mereka juga tidak punya obat obatan di sini.


Terlebih anak ini juga harus di bedah,ia harus mendapat tindakan pembedahan virektomi tertutup,parasintesis,irigasi dan aspirasi melalui insisi minimal atau mengeluarkan gumpalan darah yang ada.


Karena darurat Dong Joo dan Ha Na membawa anak itu ke rumah sakit terdekat.


Walau begitu si anak tetap tenang dan tidak sepanik Dong Joo dan Ha Na.


Ia sangat santai dan biasa saja.


Aku tidak apa apa kakak.


Ini sudah biasa?


Sudah biasa katamu?


Sudah jangan banyak bicara.


Anak itu segera di operasi begitu sampai rumah sakit.


Dong Joo dan Ha Na menunggu di luar.


Mereka tampak khawatir.


Untungnya itu hanya operasi kecil dan tidak memakan waktu yang lama.


Selang beberapa jam mereka sudah bisa menemui pasien.


Ha Na dan Dong Joo duduk di samping anak itu.


Ha Na mengajak bicara lebih dulu.


Hei,anak pintar siapa namamu?


Aku Kwang Hee kakak.


Terima kasih kalian telah membawaku kesini dan mengobatiku.


Ha Na masih teringat omongan anak itu tadi.


Kwang Hee,kenapa kau tadi bilang kalu kondisimu sudah biasa?


Wajah anak itu nampak sedih.


Setiap aku habis berkelahi memang seperti ini.


Tapi biasanya tidak sesakit ini dan darahnya juga tidak lama berhenti.


Kenapa bisa begitu?


Pantas saja hifemamu membesar,pasti ini sudah kronis.


Dong Joo mulai penasaran..


Anak itu memutuskan bercerita.


Kalian pasti tahu aku anak nakal dan sering berkelahi di sekolah kan.


Sebenarnya aku bukan berkelahi karena mauku,tapi aku membela diri.


Anak anak di sekolah selalu saja merundungku karena aku anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.


Walau aku tidak bertingkah mereka tetap saja membenci dan menggangguku.


Aku tidak bisa hanya diam dan menerima hinaan mereka saja.


Mau tidak mau aku berkelahi walau selalu kalah.


Aku di keroyok dan di fitnah memulai duluan.


Ha Na dan Dong Joo prihatin pada anak itu.


Dong Joo mencoba mengajaknya bicara karena ia dulu juga pernah merasa menjadi bahan bullyan teman temannya.


Apa orang orang di panti asuhan tahu tentang keadaanmu di sekolah?


Anak itu menggeleng..


Aku tidak mau jadi anak cengeng Hyung (kakak laki laki).


Untuk apa mengadu,para pengurus panti sudah cukup sibuk mengurus anak anak dan kebutuhan kami.


Jika aku mengadu hanya akan membuat masalahnya tambah rumit.


Pihak sekolah tidak akan memihak kaum lemah dan rendah seperti kami.


Aku akan bertahan hingga lulus sekolah,kelak aku ingin menjadi pengusaha hebat dan menyumbangkan banyak uang untuk panti asuhan.


Agar anak anak di panti asuhan bisa makan dengan enak dan punya pakaian yang bagus.


Aku juga akan mendirikan sekolah gratis untuk anak anak yatim piatu agar mereka tidak perlu memikirkan biaya sekolah lagi.


Mendengar impian dan cita cita mulia anak itu membuat Ha Na dan Dong Joo tersentuh.


Karena itu,Ha Na dan Dong Joo akan mengurus surat pindah anak itu agar bersekolah di sekolah yang lebih baik.


Kebetulan,Ha Na memiliki teman yang berprofesi sebagai kepala sekolah.


Ha Na akan memindahkan anak itu ke sekolah tempat teman Ha Na berada.


Sekolah itu bisa menggratiskan anak anak seperti Kwang Hee dan memberi beasiswa penuh hingga ke perguruan tinggi.


Kwang Hee sangat senang dan menantikan hal itu.


Setelah membawa Kwang Hee kembali ke panti asuhan juga mengantar nenek Myung Sim,Ha Na dan Dong Joo pamit pulang kembali ke Seoul.


Semua anggota panti asuhan mengantar keluar kepergian Ha Na dan Dong Joo.


Kini tinggal Dong Joo dan Ha Na di mobil itu.


Ha Na sepertinya kedinginan karena terus menggosok gosok tangannya.


Melihat hal itu,Dong Joo lalu meraih tangan Ha Na dan menarik Ha Na agar memeluknya.


Tangan Ha Na masuk ke dalam saku dalam mantel hangat Dong Joo.


Terasa sangat canggung saat Ha Na mendekap di dada Dong Joo yang sedang menyetir itu.


Sekarang aku merasa hangat sekali.


Dada Dong Joo benar benar bidang dan empuk.


Rasanya sangat nyaman.


Dong Joo tersenyum melihat Ha Na yang mendekap di dadanya.


Ha Na dan Dong Joo tiba tiba harus berhenti di jalan.


Dong Joo melihar keluar jendela dan mobil mobil berjajar berhenti juga.


Sepertinya ada sesuatu di depan sana yang menjadi sumber kemacetan ini.


Dong Joo keluar sebentar untuk memastikan.


Setelah tahu sumber kemacetan,Dong Joo masuk kembali ke mobil.


Ha Na segera bertanya..


Ada apa Dong Joo?


Ada lubang besar yang sedang di tambal di depan sana,tidak jauh juga ada pohon tumbang yang belum di pindahkan.


Pohon itu tumbang dan melintang di tengah jalan.


Sepertinya kita akan terjebak disini Ha Na.....