THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND

THAT ARROGANT LAWYER IS MY HUSBAND
IBU..



Dong Joo sedang mengobati luka di lengan Ha Na.


Lengan Ha Na harus di jahit karena mendapat luka cukup dalam akibat batu runcing itu.


Ha Na mendapat 7 jahitan di lengan..


Kau tidak apa apa?


Apa ada keluhan lain?


Tidak,aku rasa yang lainnya baik baik saja.


Selesai menjahit,Ha Na dan Dong Joo yang masih di balik tirai di ruang perawatan itu berdiam sejenak.


Dong Joo memandang Ha Na.


Hei,bocah..


Kau itu terlalu berani tahu..


Ha Na tersenyum..


Sebenarnya aku sangat takut,tapi ayah dan ibuku selalu berkata bahwa mukjizat itu nyata jika kau setulus hati berdoa dan memohon pada yang kuasa di sertai usaha yang maksimal.


Aku hanya berbekal hal itu..


Seperti keberadaan aku sekarang.


Kau tahu,ayah dan ibuku sempat berpisah selama 4 tahun tanpa kabar,ayahku juga sempat lupa ingatan.


Tapi dengan kekuatan cinta dan bukti keberadaan mukjizat itu,akhirnya orang tuaku bisa bersatu kembali dan lahirlah aku sebagai buah cinta mereka.


Dong Joo tersenyum.


Hem,mungkin karena itulah kau selalu membuat terjadinya mukjizat,karena seperti ceritamu tadi..


Kau terlahir dari adanya mukjizat dan lahir kedunia ini juga membawa mukjizat untuk orang lain.


Di tengah pembahasan itu,Ha Na sedikit menyimpang dan menanyakan hal lain yang berhubungan dengan kehidupan pribadi Dong Joo.


Senior...


Em...


Itu,sebenarnya aku berteman dengan adik dari Ah Young.


Dia juga tetanggaku..


Dong Joo langsung mengubah ekspresi saat mendengar pernyataan Ha Na.


Aku juga tahu kalau kau dan Ah Young dulu memiliki hubungan spesial..


Jadi,aku cuma ingin tahu bagaimana dulu kau bisa jadian dengan Ah Young..


Haruskah aku menjawabnya??


Ha Na mengangguk..


Baiklah,begini ceritanya.


Hal itu sebenarnya tidak di sengaja,saat aku makan siang di sebuah restoran.


Aku melihat Ah Young sepertinya di lecehkan oleh kliennya yang berasal dari kalangan atas.


Sepertinya makan siang itu untuk membahas kasus yang akan Ah Young hadapi,tapi malah berubah menjadi pesta minum minum.


Ah Young bahkan diminta menuangkan minuman ke gelas pria itu,Ah Young juga tidak bisa menolak.


Hingga akhrinya pria itu lebih kurang ajar dan merangkul bahu Ah Young.


Ah Young sangat tidak nyaman,walau Ah Young beberapa kali menepisnya tapi pria itu selalu mengulang perbuatannya lagi.


Karena hal itu terjadi di depan mataku,aku tidak lagi bisa tinggal diam.


Aku segera menghampiri Ah Young dan berpura pura mengaku sebagai pacarnya.


Aku juga menggertak pria mesum itu dan mengancam akan melaporkannya ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan dan melecehkan Ah Young.


Pria itu takut dan akhirnya meminta maaf.


Ah Young malah benar benar jatuh hati padaku,karena ia gigih terus mengejarku,aku mencoba pacaran dengannya.


Tapi tidak berapa lama kami putus karena aku tidak bisa membuat diriku jatuh hati padanya.Aku juga tidak punya perasaan lebih untuknya,jadi aku memutuskan mengakhiri hubungan itu dan memilih berteman.


Saat cerita Dong Joo selesai,Ha Na malah tersenyum tanpa alasan yang jelas.


Hei,ada apa ini?


Kenapa tersenyum?


Tidak..yah cuma ingin saja.


Itu berarti dia tidak menyuakai Ah Young sebenarnya dan aku tidak perlu takut Dong Joo di bayangi masa lalu nantinya.


Jadi,sepertinya kau sudah menerimaku?


Ha Na memunculkan wajah aneh...


Hem,tutup matamu..


Eh,kenapa?


Apa dia mau menciumku di sini?


Tutup saja cepat!


Permintaan Ha Na di turuti oleh Dong Joo.


Ia menutup matanya dan bersiap menanti ciuman dari Ha Na.


Rupanya Ha Na mengerjai Dong Joo dan diam diam kabur dari tempat itu meninggalkan Dong Joo sendirian.


Tapi,yang masuk malah seorang perawat pria bernama Ahn Jae Wok..


Kenapa dengan dokter Kang?


Kenapa dia menutup matanya begitu?


Apa dia sedang tidur?


Jae Wok malah mendekat pada wajah Dong Joo..


Hei,kenapa Ha Na lama sekali??


Dong Joo penasaran lalu membuka matanya perlahan.


AAAAAAAAAA.


Dong Joo berteriak kaget karena melihat malah Jae Wok yang ada di hadapannya.


Kenapa?


Kenapa kau bisa ada di sini?


Jae Wok juga tidak kalah kagetnya..


Ya??


Aku memang mencarimu karena ada pasien yang harus di periksa.


Tapi sepertinya kau sedang meditasi atau tidur dengan posisi tegak.


Maafkan aku dokter Kang.


Dong Joo kecewa dan mencoba menenangkan diri.


Tapi setelah itu,Dong Joo malah tersenyum dan geli sendiri.


Jadi dia mengerjaiku rupanya.


Hahahahaha..


Entah apa yang aku harapkan tadi.


Dong Joo juga keluar dan meninggalkan ruangan itu.


Ha Na tersenyum karena geli hati melihat hal tadi.


Tapi saat melewati ruang operasi,Ha Na melihat seseorang yang mencurigakan.


Seorang pria dengan seragam tentara mengintai ruang operasi sambil memegang perutnya..


Ha Na menghampiri pria itu..


Tuan,sedang apa??


Tentara itu kaget melihat kehadiran Ha Na di sisinya.


Setelah Ha Na perhatikan baik baik,pria itu memegang luka di perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


Ha Na dan pria itu saling menatap...


____________________________________


Di Seoul.


Pasien pasien itu berasal dari sebuah panti jompo dan semuanya sudah berusia lanjut.


Kenapa rumah sakit lebih ramai dari taman hiburan hari ini?


Aku rasa hari ini aku akan jatuh bangun dan tunggang langgang lagi menghadapi pasien.


In Joo sedikit mengeluh karena pasien yang sangat banyak.


Tapi,Ah Ra saat ini sedang menemani seorang nenek yang berusia 95 tahun.


Keadaannya lemah dan tak berdaya karena terlalu banyak muntah dan kehilangan cairan.


Nenek,apa sanak keluargamu sudah tahu keadaanmu?


Sudah nak,perawat sudah menelepon ketiga anakku.


Tapi,kenapa mereka belum datang menjengukmu?


Hem,mereka semua orang sibuk..


Anak pertamaku seorang jaksa,yang kedua seorang pegawai pemerintah,lalu yang bungsu adalah menejer keuangan di sebuah bank.


Tapi,bagaimana bisa mereka mengabaikan ibu mereka yang sedang sakit betapapun sibuknya?


Nenek itu melihat ke atas seperti menerawang jauh.


Lalu mulai berbicara...


Nak,saat aku tua begini aku tentu menyusahkan.


Mereka menitipkanku ke panti jompo karena kerepotan mengurusku yang sudah renta ini.


Apa lagi ketiga anakku belum ada yang menikah,mereka hanya sibuk dengan pekerjaan saja.


Saat aku sedang di panti jompo walau memiliki banyak teman,tapi aku tetap memikirkan anak anakku.


Aku teringat saat mereka kecil dulu yang selalu tidak mau jauh dariku dan selalu berebut untuk didekatku.


Sekalipun terkadang aku emosi dan memarahi mereka tapi mereka tetap datang kepadaku untuk sekedar memegang tanganku atau memelukku.


Semua kenangan itu seakan baru kemarin terjadi walau puluhan tahun sudah berlalu.


Dulu,setiap aku selesai memasak,anak anak akan duduk manis di meja menunggu makanan di hidangkan dan makan dengan lahap.


Tapi sekarang,mereka lebih senang keluar dengan teman temannya dan makan di luar.


Saat aku terlalu cerewet,mereka akan marah dan mendiamkanku.


Sekarang mereka mampu berhari hari tidak bertemu denganku dan jarang bicara denganku.


Padahal saat kecil dulu,mulutku sampai lelah meladeni celotehan mereka.


Saat kecil,mereka memanggil "ibu" puluhan kali dalam sehari.


Tapi semakin beranjak dewasa,hal itu semakin jarang aku dengar.


Wajah nenek itu sangat sendu,dan bahkan kornea matanya yang sudah memudar sepertinya sudah membendung banyak air mata,


Ah Ra bahkan sudah menangis dan menyapu air matanya dengan bajunya.


Nenek itu sudah jelas sangat merindukan anak anaknya.


Kenapa menangis nak?


Hal ini wajar adanya,kau tidak bisa menghentikan waktu dan membuat anakmu tetap kecil.


Semakin dewasa anakmu akan semakin menyeramkan.


Saat anakku mulai bisa melawan dan marah padaku,hatiku rasanya pedih sekali dan rasanya ingin menangis.


Dulu saat aku memarahi mereka,jika mereka menangis aku akan minta maaf sambil memeluk mereka.


Tapi sekarang,saat aku marah pada mereka.


Mereka akan lebih keras dan tidak mau mengalah.


Banyak hal yang akan berubah seiring anak anakmu dewasa.


Ah Ra sudah kebanjiran air matanya.


Nenek....


Ah Ra lalu memeluk nenek itu.


Tapi,bukan cuma Ah Ra rupanya yang menangis.


Anak anak sang nenek yang berada di balik tirai juga menangis mendengar perkataan ibunya.


Rupanya sejak tadi mereka sudah di situ dan mendengarkan semua perkataan ibunya tanpa ibunya ketahui.


Ketiganya menangis dan merasa bersalah.


Karena sudah tidak kuat,yang paling bungsu menggeser tirai itu..


Ibu.........


Ah Ra segera bangun..


Nenek itu lalu tersenyum melihat ketiga anaknya datang..


Kalian sudah datang.


Ah Ra menyingkir dan membiarkan ketiga saudara itu mendekat pada ibunya.


Yang tertua dan yang tengah terduduk di sisi ibunya.


Yang bungsu mendekap di samping pipi ibunya.


"Maafkan kami ibu,kami sudah durhaka dan membuatmu sedih.


"Kami sering tidak memedulikan perasaanmu dan mengabaikanmu.


"Kami anak anak yang tidak tahu balas budi..


Maafkan kami ibu..


Tidak apa apa nak,ibu tetap mencintai kalian apapun yang terjadi.


Maaf karena ibu sering menyusahkan dan merepotkan kalian.


Aku bersyukur kalian semua bisa menjadi orang sukses karena didikanku.


Kami semua tidak akan bisa begini tanpa tangan lembut dan semua pengorbananmu ibu.


Kami berjanji akan menemanimu dan mendengarkanmu sebisa mungkin.


Kami bertiga akan mencari istri yang juga menyayangimu dan tidak hanya menerima kami saja.


Tanpamu kami tidak akan merasakan hidup yang indah ini ibu.


Ah Ra tersenyum dan membalikkan badan untuk pergi menjauh.


Ia yakin keadaan nenek itu akan semakin membaik setelah bersama ketiga anaknya sekarang.


Ah Ra tidak ingin mengganggu reuni keluarga yang indah itu.


Akhirnya setelah sekian tahun berlalu,momen yang nenek itu rindukan bisa kembali ia rasakan saat ketiga anaknya bergelayut manja di sisinya dengan penuh kasih sayang.


Saat kita hanya lebih sukses dan merasa hebat dengan pangkat dan pekerjaan yang berkelas.


Juga merasa hidup yang sukses dan bergelimang harta,kita menjadi menyepelekan ibu kita yang hanya di rumah.


Terkadang kita merasa sombong dan merasa bisa hidup tanpa ibu kita setelah sukses.


Bahkan saat kita kesal dengan ibu kita,pernah terlintas ingin ibu kita segera di panggil sang pencipta saja.


Tapi jika kita renungkan lagi dan mengingat segala jasanya yang melahirkan kita,merawat kita,menangis saat kita sakit,menunda lapar demi merawat kita,memakai pakaian lama yang telah usang demi membelikan kita pakaian baru juga memberi kita makanan yang lezat dan ia hanya makan setelah kita atau sisa dari kita.


Ibu yang akan terus tersenyum hanya karena kita bahagia walau menanggung banyak beban demi memberikan kita masa kecil yang bahagia.


Ibu yang mengantar kita di hari pertama sekolah dan menunggu di depan kelas hingga kita keluar dari kelas.


Semua tentang ibu itu,apakah pantas kita berfikir menyingkirkannya saat ia sudah renta dah tidak berguna?


Hanya karena ego dan emosi sesat kita,kita ingin ibu tidak ada di hidup kita.


Betapa bodohnya jika seperti itu adanya.


Sayangilah selagi ibumu masih ada,dan maklumi segala tingkah di usianya yang renta karena saat kecil ia juga banyak menahan emosi dengan tingkah kenakalan kita.


Temanilah ia di kala sendiri karena dulu ia menjauh dari teman temannya hanya untuk bersama kita dan meninggalkan dunianya.


Saat ibu berfikir kita adalah segalanya,kita juga harus berfikir ibu adalah segalanya bagi kita.


Baik hari ini,nanti dan seterusnya.


Ah Ra langsung menelfon Ae Ri setelah melihat adegan tadi dan berkata.


"ibu,aku mencintaimu...


Ae Ri tersenyum dan terharu mendengar ucapan anak bungsunya itu.


"Iya Ah Ra,ibu juga mencintaimu..