
Lelaki yang terluka itu telah mendapat pertolongan pertama dari Yun Hee.
Ia sudah di larikan ke rumah sakit yang di bawa oleh ambulance.
Pria itu sempat berkata akan membalas semua hutang budi atas apa yang di lakukan oleh Yun Hee.
Yun Hee tentu menganggap itu bukanlah hal penting,karena sebagai manusia sudah sepantasnya saling menolong dan membantu satu sama lain.
Yun Hee memutuskan membuka toko kuenya kembali karena keadaan sudah kondusif.
Orang yang Yun Hee tolong bukanlah orang biasa,ia adalah pengusaha properti besar di Seoul yang akan menjadi lawan pria jahat yang menjebloskan orang tua Yun Hee ke penjara dulu sekaligus klien Fernando.
Takdir mempetemukan dua orang korban kejahatan pria yang sama.
_____________________
Dae Ho dengan wajah semalas malasnya sedang menunggu Song Yi keluar dari tempatnya bekerja.
Ia benar benar menjemput wanita itu
Hei,kenapa kau lama sekali keluar!
Kau bilang minta di jemput jam empat,tapi sekarang sudah setengah lima dan kau belum juga keluar!
Saat Dae Ho mengomel tidak lama malah Song Yi sudah masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi depan di sampingnya..
Sudah lama menuggu?
Maaf tadi aku ada kelas khusus untuk muridku..
Oh,tidak tidak..aku juga baru sampai.
Dasar tidak tahu malu!
Tentu saja aku sudah lama menunggu,apa kau tidak punya jam dan melihat waktu.
Kau itu sudah terlambat setengah jam!
Dan ugh....bau keringatmu itu benar benar seperti bau kaus kaki yang belum di cuci seminggu.
Ayo jalan,tunggu apa lagi..
Oh..iya baik baik..
Ssshhhhhh apa aku ini supirmu!!!!
Tapi kemana kita akan pergi?
Em,ke gym aku ingin berolahraga bersamamu.
Apa???
Tapi aku tidak ingin olahraga.
Eiy..lihatlah..
Song Yi memencet otot lengan Dae Ho.
Ototmu ini lembek sekali,kau harus berolahraga agar otot tubuhmu keras dan kekar.
Dae Ho tidak punya pilihan selain menyerah,tapi sebelum ke tempat fitnes itu,ia menyempatkan diri untuk singgah di toko kue milik Yun Hee.
Baru saja masuk,Dae Ho sudah di sambut oleh senyum manis Yun Hee..
Oppa...
Dae Ho juga segera melempar senyumnya untuk membalas senyum Yun Hee.
Yun Hee melihat di belakang Dae Ho ada seorang wanita yang mengikutinya.
Wah siapa itu?
Apa oppa sudah punya pacar.
Em,dia pasti ingin mengenalkan pacarnya.
Hai,Oppa dan Itu...
Oh ini temanku...
Apa teman??
Aku adalah wanita yang kencan buta dengan Dae Ho..
Song Yi langsung mengulurkan tangannya pada Yun Hee.
Aku Cheon Song Yi.
Aku Min Yun Hee..
Salam kenal...
Dasar mulut ember wanita itu,apa yang dia katakan pada Yun Hee tadi??
Nilaiku pasti sangat jatuh di mata Yun Hee karena kencan buta dengan wanita seperti ini.
Oppa ayo belikan kue yang manis untuk pacarmu..
Yun Hee,tunggu dia bukan pacarku.
Kami hanya kencan buta saja,tidak lebih..
Apa yang kau katakan...
Slaappppp...
Seenaknya saja Song Yi menepuk bokong Dae Ho di hadapan Yun Hee.
Dae Ho memejamkan mata menahan malu yang sudah di ambang batas.
Aku dan Dae Ho yah akan berkencan.
Orang tua kami juga berteman,dah yah dia cukup masuk dalam tipeku.
Hahahahaha.
Yun Hee malah tertawa sejadinya melihat pasangan aneh itu.
Walau begitu melihat Yun Hee tertawa seperti sekarang benar benar membuat Dae Ho bahagia.
Ia benar benar rindu memandang tawa Yun Hee.
Saat itu,Song Yi memerhatikan Dae Ho yang sedang menatap ke arah Yun Hee.
Hei,ada apa ini?
Sepertinya Dae Ho memiliki perasaan khusus untuk gadis itu.
Matanya tidak bisa berbohong dan berpaling untuk menatap gadis itu.
Setelah membeli beberapa kue,Dae Ho dan Song Yi kembali masuk ke mobil.
Hei,Dae Ho apa mungkin kau itu punya perasaan pada Yun Hee?
Eiy,kenapa dia bisa tahu?
Apa aku terlalu kentara sekali?
Tidak...tidak..tentu saja tidak.
Dia itu sudah punya suami,mana mungkin aku berani.
Dia juga tetanggaku,aku hanya sesekali sering membantunya dan lalu kami menjadi dekat dan dia menganggapku kakaknya.
Aku kan cuma bertanya singkat,tapi kenapa kau menjawabnya dengan panjang lebar.
Eh..apa begitu?
Hahahahaha,aku cuma ingin kau tidak salah faham.
Dae Ho malah tertawa bodoh karena salah tingkah.
Jawabannya malah seperti soal esai padahal pertanyaan adalah pilihan ganda.
Fiuhhh.....
Kenapa aku jadi gelagapan dan seperti ini.
Hem,semakin Dae Ho seperti ini,aku semakin yakin kalau memang ada sesuatu antara dia dan Yun Hee.
Baiklah sekarang kau bisa tidak mengakuinya dan berkilah.
Tapi lihat saja nanti,aku pasti akan mendapat kebenarannya.
Dae Ho dan Song Yi sudah sampai di tempat gym yang Song Yi sebutkan alamatnya.
Saat masuk ke dalam alangkah kagetnya Dae Ho melihat teman laki laki Song Yi yang berotot kekar dan badan besar.
Song Yi juga terlihat ramah pada mereka.
Wanita ini benar benar luar biasa,tidak heran perawakannya seperti sekarang,lihat saja pergaulannya dengan orang orang ini.
Maka dari itu dia tidak mengenal mode,salon dan aksesoris wanita.
Dae Ho,ayo cepat..
O..iya iya baiklah..
Baiklah ini adalah kencan ala Dae Hoo dan Song Yi.
Dae Ho benar benar di siksa oleh Song Yi.
Ia melakukan rentetan olahrga dengan istirahat yang singkat.
Saat Song Yi masih terlihat bugar,lain halnya dengan Dae Ho yang seperti sudah kehabisan nafas dan tenaga.
Sshhhhh,lain kali aku tidak akan mau di ajak ke sini lagi.Lebih baik aku mengoprasi 10 orang dalam sehari di banding olahraga satu jam dengannya.
Pulang dari tempat Gym itu kaki dan tangan Dae Ho seakan hampir putus dari badannya.
Di saat melelahkan itu ia minum sebotul soju dan memakan kue yang di beli dari toko Yun Hee tadi.
Baru suapan pertama kue itu di mulutnya.
Rasa manis dan lezat kue itu melumer di mulutnya.
Memudarkan rasa lelah dan pahitnya hari ini.
Di tambah segelas soju dingin untuk memulihkan tenaga yang terbuang hari ini.
Rasa manis dan lezat itu mengingatkan Dae Ho akan tawa Yun Hee tadi siang.
Energinya terisi kembali setelah berolahraga berat bersama wanita macho tadi.
Hem,alangkah nikmatnya jika kue ini bisa aku nikmati bersamamu Yun Hee.
Kau benar benar semanis kue ini,dan wanita macho itu seperti soju yang pahit dan keras ini.
Dae Ho menghembuskan nafas dalam dan mengistirahatkan dirinya dari rutinitas berat hari ini.
Juga Yun Hee dan Jung Hwa yang memakan ramen bersama menikmati malam ini berdua setelah seharian terpisah karena pekerjaan.
Semunya memanjakan badan setelah kerja kerasnya menjalani hari yang penat ini menuruti segala perintah otak yang tiada henti.