
Di dalam mobil yang kini sedang melaju cukup kencang, kedua nya terus berpegangan tangan seolah tidak ingin di pisah kan walau hanya sedetik .
Raut wajah Feri terlihat begitu bahagia , setelah pernyataan cinta Indri semalam, kini prempuan di sebelah nya tidak pernah menunjukan raut wajah tidak suka atau bahkan terpaksa.
Kedua nya sama-sama sudah saling terbuka , membangun cinta yang baru saja di tanam oleh kedua nya .
" I love you ," Kata-kata cinta itu terus terlontar dari bibir Feri untuk pujaan hatinya .
" Mas udah , aku malu !!" Cicit Indri kepada suaminya. " Sudah puluhan kali kamu bilang itu sedari kita memasuki mobil ," Kata Indri kembali dengan wajah yang sudah bersemu merah .
" Aku bahagia sayang , karena akhir nya kau membalas cinta ku begitu cepat !" Sahut nya menggebu-gebu , sangat terlihat jelas kalau Feri sedang kembali kasmaran saat ini .
" Kemarin nggak bahagia ?!" Tanya Indri .
" Aku bahagia , tapi kamu yang terlihat tidak bahagia sampai membuat ku sedikit galau," Jelas Feri .
" Aku bahagia , makanya sampai menyerah kan darah perawan ku hanya untuk suamiku," Jawab Indri tak mau kalah .
" Tapi baru tadi malam kamu menyerah kan tubuh mu secara cuma-cuma , tampa ada paksaan dari ku ," Feri berujar sambil tersenyum ke arah Indri .
" Mas kenapa si yang kita bahas soal ranjang mulu," Cicit Indri .
Feri kembali diam , pandangan nya lurus ke depan dan bibir yang terus berkali-kali mencium punggung tangan milik istri cantik nya.
Sekitar satu jam lama nya menyusuri jalanan , akhir nya Land Range Rover hitam milik Indri berbelok ke arak kiri memasuki gerbang yang cukup besar .
Indri cukup tercengang ketika mobil yang di kendarai suaminya menyusuri lahan pemakaman yang cukup luas.
Dirinya masih bisa berfikir positif , mencoba mngikuti lajur jalanan tampa banyak bertanya kepada Feri .
" Mass !!"Cicit Indri sambil menoleh ke arah Feri dengan tatapan penuh tanya ketika mobil sudah berhenti dan terparkir di lahan kosong tengah-tengah pemakaman.
" Kenapa sayang ?! ayok turun ," Kata Feri sambil membuka seatbelt yang masuh melilit di tubuh kekar nya .
Indri terus terdiam , namun mata nya mengikuti pergerakan Feri yang sedang berjalan memutari mobil lalu membuka kan pintu untuk nya .
" Sayang ayok !!" Ajak Feri mengulur kan tangan nya sambil tersenyum .
" Mas tapi kenapa ?!" Indri masih terlihat bingung , mata nya terus mencari keberadaan rumah yang munkin ada di sekita sini , namun nihil , yang dapat di lihat adalah tanah berbalut rumput hijau yang sangat luas.
"Kita akan ketemu ibu dan ayah di sini sayang !"Jelas Feri , mereka berdua terus berjalan pelahan dengan tangan yang saling menggenggam.
" Jadi mertua ku sudah meninggal dunia ?!" Guman Indri dalam hati dengan raut wajah yang sudah jauh berubah.
Cukup jauh Indri dan Feri berjalan , akhir nya Feri berhenti di samping tiga kuburan yang berjejer.
Faizal Padma Alexander .
Inggit Hartantri .
Michelle Claura Alexander .
Indri membaca setiap nisan marmer yang tertera nama keluarga Feri dengan perasaan yang sudah campur aduk .
Hati nya bergemuruh ketika Feri menghampiri gundukan tanah sambil terus tersenyum .
" Ayah , ibu , Laura abang datang ," Kata Feri sambil mengusap batu nisan yang terbuat dari marmer hitam .
Indri hanya mengangguk , tangan nya mengusap bahu Feri perlahan seraya berbisik .
" Maaf ," Lirih Indri ketika pandangan kedua nya saling menatap .
Feri memejam kan mata nya sesaat , lalu kembali menatap Indri dengan jemari tangan mengusap pipi Indri lalu tersenyum .
" Ayah , ibu . Dia istriku , cantik bukan ? sesuai apa yang kalian doa kan untuk ku agar mendapat istri yang cantik dan baik ," Tutur Feri .
Indri hanya terdiam , prempuan itu seolah bisu dan tidak bisa berkata-kata lagi sambil menatap gundukan tanah yang sudah berbalut rumput hijau di hadapan nya .
Tidak banyak yang di lakukan ke dua nya , Feri hanya memperhatikan Indri yang terlihat sedikit syok dan hanya terdiam dengan tatapan kosong dan tangan yang terus mengusap rerumputan di hadapan nya .
" Ayok pulang ," Ajak Feri pelan , bibir nya pun tersenyum ketika Indri menoleh ke arah nya,"Nanti kita kebali lagi kalo kamu udah baik-baik aja oke !" Feri lansung bangun , lalu menarik pelan tubuh Indri agar segera ikut berdiri.
Kedua nya berjalan menyusuri jalan setepak untuk kembali menuju parkiran mobil , tangan Feri selalu menggenggam dan menuntun Indri pelahan.
Sesampai nya di dekat mobil mereka yang terparkir , Feri melepas kan genggaman tangan nya yang memaut pada jemari Indri , membuka kan pintu mobil untuk istrinya .
-Dreug...
" Sayang ayok !!" Titah Feri .
Mendapat panggilan dari suaminya , Indri melihat ke arah Feri lalu menganggukan kepala.
Bukan nya masuk kedalam mobil,Indri malah menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Maafkan aku mas !!" Ucap nya sedikit berbisik.
" Hey ! kamu kenapa sayang ?" Feri menundukan pandangan nya agar bisa melihat wajah Indri lebih jelas.
Indri kembali diam , dengan seribu ingatan yang pernah menjadi prasangka buruk tentang keluarga suaminya .
Indri selalu mendesak Feri untuk segera membawa dirinya menemui orang tua Feri , bahkan ketika Feri mengatakan 'Nanti' Indri sempat berfikir kalau Feri takut kedua orang tua nya tidak merestui pernikahan mereka seperti hal nya ayah dan ibu nya dulu ,bahkan Indri tidak pernah di anggap cucu oleh kedua orang tua ayah nya sampai saat ini ,hanya karena ibunda nya terlahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.
" Kita pulang ," Ujar Feri kembali .
Pelukan Indri pun merenggang , lalu beranjak masuk ke dalam mobil .
Bukan nya lansung menutup pintu mobil nya , Feri malah menarik seatbelt di sisi nya lalu memasang kan untuk Indri .
Trek...
"Selesai ," Jelas nya menatap Indri sambil tersenyum .
" Terimakasih mas ," Kata Indri lalu membalas senyuman suaminya .
" Maaf aku tidak jujur lebih awal ," Ujar Feri lalu mencium pipi Indri.
-Cup..
Brughh..
Pintu mobil pun di tutup , lalu Feri berjalan ke arah sisi lain untuk segera masuk dan melajukan mobil nya untuk segera pulang .
TBC🍀🍀🍀
JANGAN LUPA LIKE , VOTE DAN KOMEN NYA GUYS.