
"Mas!"Panggil Indri kepada Feri yang sedang memakai pakaian setelah baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya sayang?"Sahut Feri lalu menoleh ke arah Indri yang sedang berjalan ke arah nya.
"Ini.Tadi setelah kamu berangkat ada wanita datang dan menitip kan ini unuk mu!"Indri memberikan amplop putih kepada Feri.
Kedua alis Feri mengangkat, seolah bertanya kepada Indri, barang tersebut dari siapa.
"Apa ini?"Feri menerima nya."Dan siapa yang datang?!"Cicit Feri kembali.
"Tadi naman nya! Fa-fali.. eh ...Fagi?"Indri berusaha mengingat.
"Fabby?!"Gumam Feri dengan mata menatap Indri.
"Hah iya!"Indri tersenyum ketika Feri mengingat nya.
—Degg.
Untuk apa dia kesini? tanya Feri dalam hati.
"Kata nya kamu sama dia udah temenan lama!"Ucap Indri.
Feri langsung menatap Indri, dengan raut wajah yang sangat terkejut.
Apa aku harus jujur siapa dia kepada istriku? pikirnya.
Tampa membuka nya, Feri langsung memasukan amplo tersebut ke dalam saku celananya.
"Aku lihat nanti, sekarang aku mau ketemu Gian dulu."Feri tersenyum, lalu meraih telapak tangan Indri dan menarik nya ke arah box bayi berada.
Feri bersama Indri berdiri tepat di dekat box yang anak nya tempati.Bayi itu terlihat tenang dan tertidur dengan pulas, hanya bibir nya yang bergerak-getak seperti sedang mengingin kan makanan nya.
Pria itu tersenyum, mengusap pipi putra nya lembut.
"Biarkan dia tidur!"Bisik Feri, lalu membawa Indri kembali menuju sofa yang berada tidak jauh dati box tempat anak nya tertidur.
"Mas mau kopi atau yang lain?"Tanya Indri.
Feri menggeleng kan kepala, sambil tersenyum ke arah nya.
"Tidak, kalau aku mau, tinggal suruh Sandi. Aku cuma mau kamu saat ini."Tutur Feri dengan suara pelan.
"Sabar yah! setelah satu bulan kamu baru boleh buka puasa."Kata Indri mengusap pinggung tangan suaminya.
—Cup..
"Terimakasih untuk semuanya sayang, aku sangat mencintai mu."Ucap nya serius, sambil terus menatap dan menyingkir kan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
"Aku juga cinta sama mas! cinta aku lebih luas dari lautan, lebih besar dari gunung, tapi mas harus tau, itu akan hilang kalau mas berkhianat."Indri tersenyum, wajah nya terlihat bercanda, namun Feri merasa ini adalah ancaman setelah hari ini Feri menerima sesuatu dari mantan kekasih nya dulu.
Aku akan mengatakan nya di waktu yang tepat.Gumama Feri sambil terus memperhatikan wajah Indri.
"Aku adalah laki-laki yang sangat bodoh ketika berkhianat kepada istri secantik kamu."Feri memeluk tubuh istri kecil di samping nya.
"Iya aku tahu kamu bukan pria seperti itu, bahkan dari ke dua sahabat kamu, cuma suamiku yang tidak pernah bermain wanita."Sahut Indri.
"Aku bukan tipekal pria seperti itu sayang."Feri kembali menatap netra Indri yang kini juga sedang menatap nya.
"Tapi aku dan Gian akan pergi kalau kamu seperti itu."Tegas Indri.
"Dan aku akan menahan kalian! kalau pun kalian pergi tampa sepengetahuan ku, aku akan mencari kalian sampai ujung dunia sekalipun."Feri terlihat serius dengan ucapan nya.
Ko hati aku kaya aneh ya? Ahh! mungkin hormon habis melahirkan.Indri menepis perasaan aneh di dalam hati nya.
"Eeee..oek..oek.."Suara Giandra membuat kedua nya menatap ke arah box bay.
Indri beranjak, lalu berjalan ke arah baby box untuk membawa putra nya.
"Adudududu...anak mommy baru bangun, tahu aja Daddy nya udah pulang."Gumam Indri kepada putranya.
Feri tersenyum, lalu menyusul Indri yang sudah menggendong putra pertama nya.
"Mas mau gendong! tapi gimana? mas takut dia kenapa-kenapa, tubuh nya lemah dan sangat lembut sekaki."Feri mencuil pipi gembuk Gian.
"Hayu duduk lagi di sofa, aku ajarin cara gendong nya."Kata Indri.
Feri mengangguk, dan segera mengikuti langkah Indri yang sudah terlebih dulu berjalan menuju sofa berukuran besar di kamar nya.
Sementara itu di kediaman Raynan dan Asila.Kedua pengantin baru itu semakin hari terlihat semakin lengket.
Hampir setiap pagi, sore, dan malam Raynan selalu meminta jatah nya.
Udah kek minum obat ya Raynan!🙄
Sore hari ini misal nya, kedua sejoli itu masih betah berbaring di lapisi selimut setelah pergulatan panas kedua nya.
"Sayang!"Rayanan mengusap kelapa Asila.
"Ray aku cape!"Rengek Asila.
"Jadi mau tidur aja?"Raynan kembali bersuara.
Asila mengangguk, lalu menyelusup kan kembali kepala nya di bawah ketiak Raynan.
Tangan Raynan langsung mengusap kepala Asila, lalu turun kepunggung agar rasa lelah nya sedikit menghilang.
"Aku mau mandi dulu yah! pulang dari kantor kan aku lansung hajar kamu."Ucap Feri.
Dengan cepat kepala Asila berger1ak, tidak memberi izin suaminya pergi hingga tangan nya memper erat pelukan di pinggang Raynan.
"Apa aku tidak bau? kamu selalu mencium keteiak ku sayang, bahkan sampai mengendus nya."Feri tersenyum.
"Aku suka mas."Singkat Asila.
"Hah, apa?!"Raynan sedikit terkejut.
"Aku suka bau nya!"Sahut Asila yang masih betah bersama ketiak suaminya.
"Bukan yang itu! tadi kamu panggil apa?"Raynan sumringah.
"Mas Raynan."Sahut Asila.
Raut wajah pria itu berbinar, akhirnya yang di ingin kan nya terwujud.
"Aku suka kau memanggil ku dengan sebutan tersebut, dari pada Ray..Ray..Ray.."Cicit Raynan.
"Ray!!"Pandangan Asila mendongkak, dan menatap wajah Raynan.
"Kamu nakal Asila!"Tangan Raynan menarik pinggang Asila, lalu menempel kan kening kedua nya hingga tak berjarak.
"Tapi seperti nya kamu suka kalau aku nakal sayang."Jawb Asila, wanita itu terus menatap mata Raynan penuh godaan.
Raynan tersenyum.
"Aku tahu kamu suka kalau aku yang memimpin permainan bukan."Bisik Asila.
"Heemm..aku menyukai permainan nakal mu istriku."Suara Raynan kembali berat, bahkan Asila kembali merasakan sesuatu yang mengeras di perut nya.
"Apa kamu bersedia memimpin istriku."Raynan menatap Asila sayu.
"Nanti malam yah?!"Jawab Asila.
"Aku mau sekarang!"
"Kita baru saja selesai, nanti malam saja yah? nggak enak sama mama papah, kalau kita di kamar terus."Jelas Asila.
"Hemm..baiklah, nangi malam! rasa nya aku ingin pindah rumah agar tidak kembali mendengar alasan itu."Raynan berujar.
"Di rumah orang tua kamu aja aku udah di hajar terus menerus, nggak kebayang kalo kita tinggal di rumah sendiri."Asila sambil membayang kan.
—Cup..
Raynan mencium bibir Asila, lalu memejam kan matanya sambil memeluk tubuh Asila.
Dengan tubuh kedua nya yang masih sama-sama polos, Asila dan Raynan terlelap di bawah gulungan selimut sambil memeluk satu sama lain.
...TBC🍀🍀🍀...
...JANGAN LUPA! LIKE, FOLLOW, VOTE, KOMEN DAN SHARE....