
...Michael Feri Alexander....
...Ini aku, Fabby.Wanita yang pernah sangat mencintai mu! aku minta maaf karena sudah pergi tampa berpamitan terlebih dulu, tapi aku harus melupakan rasa cinta itu , karena orang tua ku.Kini aku sudah mempunyai satu putra, usia nya tujuh tahun dan dia mengidap kangker darah....
...Maukah kamu berpura-pura menjadi ayah nya sebelum dia meninggal? dia selalu menanyakan keberadaan ayah nya, sementara dia sudah tidak mau menemuiku dan hidup bahagia dengan wanita pilihan nya....
...Aku memang tidak tahu diri Fer! maafkan aku....
...Kumohon! datanglah ke Rumah Sakit Anak.Dia sedang berjuang di stadium akhirnya, kumohon Feri bantulah aku....
...-Fabby-...
Feri menghempas kan kepala nya menyandar di kepala ranjang.Pikiran nya melayang kemana-mana, dengan tatapan kosong terus menatap langit-langit kamar.
"Permintaan macam apa ini?"Gumam Feri lalu mengusap wajah nya kasar.
Pandangan Feri lansung tertuju pada wanita yang sedang terlelap di samping nya.Mengusap lembut rambut Indri yang terurai.
"Aku harus bagai mana sayang? apa aku jahat ketika menolak keinginan seorang anak yang sedang mengidap kanker darah stadium akhir! aku takut kamu marah, apalagi ketika tahu bahwa Fabby adalah seseorang dari masalalu ku."
Sedang merasa kacau dengan pikiran nya.Suara Gian yang mulai menangis, membuat nya sadar hingga dirinya dengan cepat menuruni ranjang dan segera berjalan menuju baby box di mana putra nya berada.
"shu..shu..shu..Ini Daddy sayang."Feri mengudap lembut kepala Gian.
Namun tangisan bayi kecil itu tak kunjung reda, hingga mampu membangun kan Indri yang baru saja terlelap.
"Giandra bangun mas?"Suara nya terdengar serak, mata nya terus mengerjap berusaha menghilang kan kantuk, lalu berjalan ke arah Feri berada sambil menggulung rambut coklat nya yang terurai.
"Oh kamu pup sayang! ayok mommy ganti."Tutur Irma setelah memeriksa popok anak nya.
"Mas bantuin ya!"Ujar Feri.
Indri menoleh lalu tersenyum.
"Yaudah, tolong ambilin tissue basah, pampers, sama diaper cream nya di laci baju Gian yang ke dua."Jelas Indri.
Suaminya mengangguk, lalu mulai berjalan ke arah laci tempat penyimpanan semua barang-barang Giandra.
Indri mulai mengangkat bayi kecil nya ke atas baby tafel, dan mulai melucuti celana dan panpers Giandra.
"Ini sayang."Feri meletakan semua yang di minta Indri tepat di samping Giandra.
"Terimakasih Daddy."Indri menatap suaminya dan tersenyum.
—Cup..
Feri hanya tersenyum lalu mencium kening istrinya.
"Mas tidur aja, Giandra biar sama aku aja!"Ujar Indri.
"Aku mau disini, bersama kalian."Sahut Feri.
Tidak ada sahutan kembali dari Indri, wanita itu tangah sibuk membersih kan bayi nya dengan sangat telaten.
Mata kecil Giandra pun terus mengerjap, menggerakan tangan nya yang berbalut sarung tangan kecil.
"Dia tampan."Kata Feri tersenyum sambil terus menatap kedua nya.
"He'em, ini kamu versi kecil."Timpal Indri.
"Dia juga mirip kamu sayang."
"Tentu saja yang membuat nya kita berdua."Indri tertawa."Sama Daddy dulu yah! Mommy beresin baby tafel nya dulu biar nggak berantakan."Cicit nya sambil memberikan Giandra pada Feri.
Mata Giandra tebuka, bibir nya terus tertuju pada dada Feri dengan tangan kecil yang tidak pernah mau diam.
"Ya ampun Gian! apa tidak sakit terus memukuli wajah mu."Gumam Feri.
"Oek.."Giandra mulai menangis.
"Kan Daddy sudah bilang! jangan tinju sama diri sendiri, selain nggak asik juga nggak bermanfaat."Ia berbicara dengan putra nya.
"Dia lapar mas."Jelas Indri kepada suaminya.
"Giandra memukul wajah nya sendiri sayang!"Tutur Feri kepada Indri yang sedan mengambil alih Giandra.
"Apa Giandra mau berbagi dengan Daddy nya?"Pria itu tersenyum dengan tatapan mata terus tertuju pada bayi yang sedang menyesap makanan nya.
"Daddy nakal."Kata Indri.
"Ayolah, sudah sepuluh hari!"Rengek Feri.
"Enak aja! masih tersisa tigapuluh hari lagi."Cicit Indri hingga membuat raut wajah suamimya masam.
Duapuluh menit berlalu, akhirnya Giandra sudah kembali terlelap.
"Tidur yang nyenyak sayang!"Indri meletakan Giandra kemabali ke dalam baby box dan memakai kan selimut untuk melindungi tubuh kecil nya dari dingin nya malam.
"Baiklah, kita tidur sekarang!"Kata Feri pelan, lalu mengangkat tubuh Indri dan berjan kembali menuju ranjang king size milik kedua nya.
"Mas aku masih bisa jalan."
—Cup..
"Tidurlah, sebentar lagi akan ada yang meminta jatah kembali."Feri menarik selimut untuk menutupi tubuh Indri.
Feri memutari ranjang, lalu menyusul Indri yang sudah berbaring, dan memeluk tubuj kecil itu sangat erat.
"Emuach...good night darling."Feri mencium kepala Indri, lalu memejam kan mata.
^
^
Ke esokan harinya setelah melakukan sarapan bersama dan mengantar Feri sampai teras rumah, kini Indri sudah kembali ke dalam kamar nya.
Pertama yang di periksa nya adalah Giandra, sebelum ia melakukan aktifitas lain.
Raut wajah nya berbinar, bibir nya tersenyum ketika melihat Giandra yang sedang tidur dengan lelap nya.
"Mommy mandi dulu yah!"Indri berbisik, lalu mengendus pipi Giandra gemas dan segera beranjak menuju pintu kamar mandi.
Germercik air shower yang menghantam punggung polos Indri mulai terdengar, tangan nya mulai mengaplikasi kan shampoo dengan aroma strawbarry.
Pandangan Indri menunduk, menatap bekas luka yang masih di terhalang plaster anti air.
"Tubuh ku tak seindah dulu! ada beberapa goresan stretch mark dan di tambah luka jahitan bekas operasi."Gumam nya.
Selesai dengan ritual mandi nya, Indri segera beranjak menuju walk in closet.
Indri membawa dress rumahan nya, membawa pakaian dalam dan kotak obat untuk mengganti plaster yang menutupi luka operasai cesar nya.
"Ponsel ku di mana yah?"Mata Indri terus menyusuri setiap tempat, hingga akhir pencarian nya tertuju pada laci nakas di samoing tempat tidur nya."Biasa nya Ranti simpen disini."Gumam Indri ketika mengingat beberapa kali Ranti menyimpan ponsel nya setelah ia merapikan kamar nya.
—Rettt..
Indri membuka laci nakas, dan benar saja! ponsel nya berda di salam sana.
Namun pandangan mata nya juga teralih, melihat lipatan kertas putih yang berada di samping ponsel nya.
"Kertas apa ini?"Gumam Indri lalu membawa nya keluar.
Lipatan kertas putih itu terbuka, mata Indri terus melihat dan membaca nya seksama, hingga sesaat wanita itu terdiam, sebelum ia meneruskan tuliasan tangan yang tertera.
"Jadi Fabby adalah mantan pacar mas Feri dan dia memiliki seorang anak pengidap kanker stadium akhir."Ucap nya berbisik dengan hati yang sudah bergemuruh.
Indri kembali melipat kertas nya rapih, dan menempat kan nya kembali ke tempat asal nya di dalam nakas.
"Tenang Indri, tenang! mas Feri akan segera berbicara soal ini dan keputusan nya.Jangan pernah berfikir buruk, suamimu pria baik dan selalu menghargai istrinya."Indri berusaha mencoba menenang kan hati nya yang terus bergemuruh hingga membuat seluruh tubuh nya terasa lemas.
...TBC🍀🍀🍀...
...JANGAN LUPA! LIKE, VOTE, DAN KOMEN NYA....
Mommy nya Giandra di rumah aja tuantik yah🤭