
...Sore hari nya di kediaman Feri dan Indri....
"Masih marah nih!"Feri yang baru saja datang mendudukan dirinya di samping Indri yang sedang sibuk dengan cemilan di sofa kamar nya.
Indri terdiam seribu bahasa, bibir nya cemberut dengan mata yang terus terlihat mendelik ke arah Feri.
"Yaudah deh kalo masih marah, aku mah nggak apa-apa! lagian yang ngelarang kamu buat pergi murni dari Dokter, bukan akal-akalan aku."Tutur Feri yang sudah terlihat pusing dengan sikap Indri yang saat ini lebih pemarah.
Mata Indri hanya menatap Feri yang mulai meninggal kan dirinya.Ada rasa ingin mengejar, tapi rasa gengsi nya sangat tinggi sampai Indri membiar kan Feri pergi keluar dari kamar nya.
—Bruak!!
Pintu kamar nya di banting cukup keras, sampai membuat Indri tersentak kaget.
Merasa suaminya benar-benar marah saat ini, Indri lansung beranjak untuk menyusul suaminya.
"Mas!"Panggil nya lembut, mata Indri melihat Feri yang menghilang di balik pintu ruangan kerja nya.
Langkah kaki Indri terus berjalan perlahan, sambil terus merutuki dirinya yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
—Ceklek..
"Mas?!"Panggil Indri pelan ketika Indri membuka pintu ruang kerja suaminya.
Terlihat Feri yang tengah duduk dengan mata terpejam sambil memijat pelipis nya yang terasa pening.
"Mas!"Indri terus berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Apasih! aku cape Indria!!"Sahut Feri dengan nada bentakan yang cukup kencang.
–Deg!
Indri terkejut, baru kali ini Feri terlihat sangat marah kepada dirinya samapai panggilan sayang pun di ubah Feri dengan hanya memanggil nama.
"Maaf!"Indri lansung duduk di samping nya, lalu memeluk tubuh Feri.
"Udah sana tidur! aku tuh pulang cepet kangen sama yang di rumah, yang di rumah nya cuma bisa marah-marah nggak jelas, tahu gini aku izinin aja kamu pergi kemarin, perkara Nabila ikut, kamu nggak aja sampe merembet beberapa hari, kerjaan aku tuh bukan cuma ngurusin semua tentang kamu!"Lagi-lagi Feri berteriak kepada istrinya.
Dada Feri kembang-kempis, nafas nya terdengar memburu, Indri yang sedang memluk nya hanya terdiam sambil terus menahan tangis yang akan segera pecah.
"Maaf mas! tapi aku juga nggak tahu kenapa aku sering kesel sama kamu." Suara Indri bergetar.
"Berisik Indri! kamu bisa pergi nggak sih?! kepala aku beneran pusing!"Kepala Indri yang sedang menempel di punggung nya bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Masuk kamar.Atau aku yang pergi keluar sekarang!"Tegas Feri.
Perlahan tangan Indri yang sedang memeluk Feri merenganggang, lalu bangkit meninggal kan Feri sambil terus menggigit bibir bawah nya.
—Klek..
Indri menutup pintu ruang kerja suaminya pelan, lalu berjalan ke arah kamar.
"Hiks..hiks.."Tangis Indri pun pecah.
Dengan perasaan yang sedang sangat rapuh, Indri segera menaiki ranjang dan menyembunyikan wajah nya di balik selimut tebal.
Sekian lama Indri menahan suara tangisan nya, hingga rasa mulas di bagian perut bawah pun sudah terasa sangat jelas.
Tangisan nya terhenti, lalu menatap dan terus mengusap bagian perut yang terasa sakit.
"Ssssshhhh."Indri terus meringis ketika rasa sakit nya semakin intens.
Rasa mulas di bagian perut bawah nya hilang kembali, Indri kembali terlihat tenang dengan tangan yang terus mengusap perut nya.
Wanita dengan perut yang sudah sangat membesar itu pun bangkit, mendudukan tubuh nya di tepi ranjang sesaat sebelum ia pergi ke arah sudut kamar untuk membawa air minum.
"Awww!!"Tangan Indri bertumpu pada diding dengan tubuh sedikit membungkuk ketika menahan rasa sakit yang kembali timbul.
"Hah! air apaan nih anget? masa gw ngompol sih?!"Indri menatap penuh tanya ketika cairan yang cukup banyak keluar begitu saja dari tubuh nya.
—KLEK..
Pintu kamar terbuka, bersamaan dengan timbul nya Feri.
"Sayang kamu kenapa?"Feri lansung menghampiri Indri.
"Perut aku sakit mas!"Pekik Indri.
"Kamu pipis?"Tanya Raynan ketika melihat lantai yang basah.
"Nggak tahu, aku nggak ngerasa pipis, tapi itu keluar dari tubuh aku."Sahut nya lirih.
"Kita ke Dokter sekarang!"Feri lansung memangku tubuh Indri, dan segera keluar dati kamar nya.
"Sandi...Ranti! tolong ambilkan koper di kamar saya dan segera siap kan mobil."Feri berteriak.
^
^
Para petugas medis pun lansung melihat ke arah Feri yang sedang berjalan memangku wanita dengan perut besar yang terlihat kesakitan.
"Bawa kesini pak!"Suster membuka ruangan kebidanan.
Dengan sangat hati-hati Feri meletakan tubuh Indri di atas berangkar.
"Bisa tolong buka ****** ***** nya pak?"Ucap Suster kepada Feri.
Feri mengangguk, lalu mulai membuka ****** ***** yang di kenakan Indri.
"Oh sudah ada bercak yah!"Kata wanita tersebut.
Petugas wanita itu lansung memakai sarung tangan, membuka paha Indri lebar-lebar.
"Mau di apain Sus?!"Feri sedikit menahan tangan Suster.
"Kita periksa bikaan nya pak!"Jelas nya sambil tersenyum.
"Maaf ya bu, saya periksa dulu! ini memang sedikit tidak nyaman.Tarik nafas yah."Jelas nya kepada Indri.
Indri hanya terlihat pasrah, tubuh nya begitu lemah seperti tidak bertenaga.
Feri yang melihat ke adaan Indri saat ini, cukup menyesal karena telah beberapa kali membentak Indri yang sudah berusaha meminta maaf mepada nya.
Apalagi ketika mengingat setiap kata yang Dokter Oscar kata kan sebelum nya, bahwa hormon ibu hamil bisa membuat perubahan emosi, makanya Indri kadang terlihat manja, tiba-tiba menagis dan juga marah.
Tapi malam ini Feri lost control, ia tidak bisa mengendalikan emosi nya hingga Feri berani membentak Indri.
"Air ketuban nya sudah mulai kering, tapi bukaan nya masih dua!"Jelas nya terlihat sesikit panik.
"Ibu nya suka periksa ke Dokter Ratna atau Oscar?"
"Oscar Sus."Sahut Feri.
"Di tunggu yah! saya telpon Dokter Oscar dulu."Jelas nya lalu meninggal kan Feri dan Indri.
Feri kembali mendekat, mengusap punggung tangan Indri untuk memberi istrinya semangat.
"Sayang!"Panggil nya lirih.
Indri hanya menatap sesaat, kemudia memejam kan mata nya kembali.
"Maaf kan mas."Kata Raynan kembali.
Lagi-lagi Indri tidak menjawab, wanita itu gerus meringis, berjuang untuk lebih kuat ketika perut nya terasa lebih sakit.
^
^
Akhir nya setelah menunggu lumayan lama, Dokter Oscar pun tiba lalu segera menghampiri Feri dan Indri yang sudah terlihat semakin lemas.
"Kenapa ini? usia kandungan nya baru tigapuluh dua minggu!"Tanya Dokter kepada Feri.
"Kami bertengkar Dok!"Jawab Feri jujur.
Dokter Oscar lansung menatap Feri tajam.
"Dan istri anda kontraksi sampai harus melahir kan dini sdperti ini!"Pekik nya.
"Siapkan ruang operasi sekarang juga! sebelum ketuban nya kering dan membahaya kan nyawa kedua nya!"Teriak Dokter.
—Deg...
Hati Feri bagaikan di hantam benda yang sangat keras hingga debaran jantung nya terasa begitu kencang.
Pria itu terus mengingat perkataan Dokter, yang berujar tentang keselamatan nyawa kedua orang terkasih nya.
Dengan cepat berangkar yang Indri tempati di dorong beberapa petugas untuk segera melakukan tindakan operasi.
Feri teus berlari di belakang para petugas medis, mata nya sudah berutaian air mata dengan perasan menyesal yang terus berkecamuk.
"Andai aku bisa ngendaliin diri aku! kamu nggak bakal kaya gini sayang.Maaf kan aku..maaf kan aku..maaf kan aku sayang."Feri berucap lirih.
...TBC🍀🍀🍀...
...JANGAN LUPA! FOLLOW, LIKE, KOMEN, VOTE DAN SHARE!!...