
Suara kicau burung pun mulai bersahutan , matahari sudah mulai memancar kan sinar nya.
Namun kedua sejoli , masih saja terlihat pulas dalam gulungan selimut tebal .
Maklum saja kini Nabila selalu bergadang , usia kandungna yang sudah semakin matang membuat nya tidak bisa tidur dengan nyaman , begitu pun dengan suaminya Aldrich , ia selalu menemani istrinya yang selalu terjaga hingga tengah malam bahkan sampai jam tiga pagi , karena di jam-jam tersebut Nabila baru bisa terlelap .
" Mas ...mas " Tiba-tiba saja Nabila terbangun , tangan nya terus menepuk-nepuk lengan Aldrich yang kini berada di atas pinggang nya .
" Hemmmmm...Kenapa sayang ?" Aldrich hanya mampu bersuara tampa menggerakan tubuh atau pun membuka mata nya .
" Tolong bantu aku bangun , aku mau pipis !" Jelas Nabila .
Seketika Aldrich langsung mendudukan tubuh nya dengan mata yang masih terturup .
" Tunggu sebentar sayang , mas masih pusing " Cicit Aldrich , mata nya mulai mengerjap ,lalu beranjak turun dari atas ranjang menuju sisi ranjang lain untuk membantu Nabila duduk .
" Let's go mom ...Hati-hati " Ujar Aldrich sambil menarik tangan dan punggung Nabila perlahan .
" Maaf mas , aku ganggu tidur kamu yah " Ucap Nabila pelan . " Tadi nya aku gak mau bangunin kamu , tapi rasa nya kepada ade ada di bawah banget jadi susah buat bangun sendiri " Tangan Nabila terus menggenggam tangan Aldrich .
" It's oke sayang , ini kewajiban ku ! jangan sungkan kepada ku . Bangun kan saja suamimu ini walau tengah malam sekali pun , aku bahkan tidak mau kamu ke kamar mandi sendiri , perut mu sudah sangat besar , cara berjalan mu saja sudah terkihat susah " Jelas Aldrich sambil tersenyum .
Nabila menganguk , mata nya melihat wajah Aldrich seraya mebalas senyuman suaminya .
Perlahan tangan Nabila menarik tangan Aldrich , mencoba untuk berdiri perlahan .
Dengan sangat hati-hati , Aldrich membopong tubuh Nabila yang sedang berjalan perlahan menuju pintu kamar mandi .
" Mas boleh keluar , sekarang aku bisa sendiri " Ujar Nabila .
" Tidak , mas di sini aja "Tolak Aldrich , lalu dengan cepat Aldrich membantu mengangkat drees panjang Nabila .
" Kata Dokter Ratna ,perkiraan lahir nya kapan sayang ? aku lupa!" Tanya Aldrich di sela-sela Nabila sedang membuang air seni nya .
" Dua atau tiga minggu lagi aku lupa " Sahut Nabila .
" Cepat sekali dia tubuh sayang , hingga tidak terasa sebentar lagi dia akan terlahir ke dunia " Kata Aldrich , wajah nya begitu berbinar ketika membahas kelahiran putri kecil nya .
" Ya , dia sehat mas ! kerena dady nya selalu memberi yang terbaik " Sahut Nabila , kaki nya mulai berdiri ketika merasa sudah selesai .
" Sudah ?" Nabila pun menganguk , lalu mulai meraih bahu Aldrich untuk kembali berjalan .
" Tunggu !" Jelas Aldrich , Nabila pun terhenri lalu menatap Aldricj penuh tanya .
" Kenapa ?" Tanya Nabila , namun tiba-tiba Aldrich sedikit membungkuk dan memangku tubuh Nabila .
" Mas aku berat " Cicit Nabila .
" Shuuuttt....Sayang aku masih bisa berjalan normal walau pun kamu sekarang gendut " Aldrich melontar kan candaan .
Bug..
Bug..
Nabila memukul bahu Aldrich , namun bibir nya tetap tersenyum .
" Aku semakin semok sayang " Jelas Nabila lalu tertawa .
" Ya aku tahu ,.bahkan kau lebih sexy dari pada biasa nya " Bisik Aldrich nakal , pandangan kedua nya pun bertemu , dan kembali tertawa bersama .
" Hahahahah... mas bisa saja , aku tidak yakin setelah lahiran tadi bentuk tubuh ku masih bagus " Kata Nabila .
Tubuh Nabila kini sudah kembali berada di atas tempat tidur , Aldrich meraih beberapa bantal lalu menyusun nya untuk Nabila bersandar.
" Aku akan tetap mencintai mu sayang , bagai mana aku bisa perpaling dari wanita yang mau susah payah mengandung darah daging ku " Jelas Aldrich , tubuh nya duduk d samping Nabila , pandangan nya saling menatap dengan satu jemari Aldrich mengusap lembut pipi Nabila .
" Mas bisa kesini " Nabila berusaha membuat wajah Aldrich lebih mendekat .
" Kenapa ?" Tanya Aldrich sambil mendekat .
" I love you to the moon and back Dady " Bisik Nabila.
Aldrich menatap Nabila , raut wajah nya terpancar begitu bahagia , tak kala lengkungan di bibir Aldrich terus terukir .
Aldrich mencium seluruh wajah Nabila .
" Aku lebih mencintai mu Nabila , kau harus tahu itu " Balas Aldrich .
" Tidurlah kembali , aku mau mandi oke " Telapak tangan nya me ngacak-acak rambut Nabila sebelum pria itu beranjak dan menghilang di balik pintu kamar mandi .
Linangan air mata di sudut Nabila pun tiba-tiba terjatuh di pipi Nabila.
Rasa bahagia memiliki Aldrich tidak bisa di jelas kan oleh kata-kata , bahkan Aldrich rela tidak berangkat ke kantor hanya karena Nabila mengalami kontraksi palsu .
" Sayang , sebelum kamu lahir saja dady mu sudah sangat menyayangi mu , jadilah anak yang baik dan berbakti sayang " Bisi Nabila sambil mengusap perut nya .
Seperti mengerti apa yang di bicaraka ibu nya , bayi dalam perut Nabila pun lansung merespon dengan tendangan cukup kencang .
" Ya anak pintar " Nabila pun terkekeuh sendiri .
Lima belas menit Aldrich berada di dalam kamar mandi , akhir nya pria itu keluar dengan menggunakan bathrobe berwana hitam milik nya .
" Mas ini baju nya udah aku siapain " Kata Nabila yang kini sudah duduk di sofa , gorden tebal di kaca kamar nya pun sudah terbuka dan membiar kan cahaya matahari masuk .
" Sayang ! aku bilang tetap lah di berbaring , istirahat saja untuk saat ini " Aldrich berjalan ke arah nya .
" Aku senang menyiapkan nya sayang , lagi pulang aku akan sering berjalan-jalan agar aku bisa lahiran normal " Jelas Nabila .
Aldrich mencium bibir Nabila . " Terimakasih momy " Lalu Aldrich pun beranjak dan segera memakai stelan jas berwarna abu-abu dan kemeja lenban panjang berwarna putih .
Lama Nabila memperhatikan Aldrich , wanita itu terus mengagumi ke tampanan suaminya , hingga Aldrich menoleh dan menangkap basah Nabila yang tengah menatap nya .
" Aku tampan ! aku tahu itu " Goda Aldrich kepada Nabila .
" Mas , kamu itu kepedean sekali " Nabila berdengus kesal .
Aldrich lansung berjalan ke arah Nabila , membawa dasi berwana senada dan membelikan nya pada wanita yang kini sedang duduk di sampin nya .
" Pasangkan " Titah Aldrich .
Nabila pun menganguk , menerima dasi yang di berikan Aldrich lalu mulai memasangkan nya perlahan .
" Gak usah natap kaya gitu ! aku malu " Jelas Nabila tampa menatap kembali pandangan Aldrich pada nya .
" Nabila aku sangat mencintai mu " Lirih Aldrich .
Netra Nabila pun langsung menatap Aldrich , menyelami manik indah milik suaminya .
" Jangan menatap ku seperti itu ! atau aku akan menjadi kan mu sarapan pagi ini "
Plakk..
Nabila memukul lengan Aldrich.
" Kamu tengil mas " Cicit Nabila .
" Aku gak tengil , hanya sedikit mesum saja " Aldrich pun tertawa.
" Nah , selesai ! suamiku sudah terlihat tampan " Nabila menepuk pelan dada Aldrich dengan kedua tangan nya .
" Terimakasih istriku sayang " Kata Aldrich .
" Ayok kita kebawah , mau di gendong atau..."
" Aku jalan sendiri mas , kita jalan pelan-pelan saja " Nabila lansung menjawab tampa menunggu Aldrich selesai bicara .
" Oke baiklah , tapi urusan kamar biar bi Marni yang merapihkan , jangan pernah membantah! aku tidak suka " Jelas Aldrich , lalu kedua nya berjalan bersamaan menuju ruang makan yang berada di lantai bawah .
TBC...
JANBAN LUPA LIKE , VOTE DAN KOMEN YA GENGS KU , BIAR AUTHOR NYA SEMAKIN SEMANGAT , SOAL NYA AKHIR-AKHIR INI LAGI MALES BANGET NULIS GAK TAU KENAPA .