STORY AFTER MARRIED

STORY AFTER MARRIED
Eps 11



Hari demi hari pun terus Nabila jalani seperti biasanya , namun saat ini ada banyak perubahan di hidup Nabila , ketika Bayu meminta gadis itu menjadi menantu nya.


Sifat Aldrich kini sudah tak sedingin dulu pada nya , begitu pun dengan Nabila yang sudah mulai terbiasa dan mulai akrab dengan laki-laki yang tiba-tiba saja akan menjadi suami nya itu.


Tok..


Tok..


Tok..


Aldrich mengetuk pintu kontrakan Nabila.


" Nabila " Panggil nya.


Sedikit lama Nabila membuka kan pintu untuk nya , manik nya menatap sekeliling yang, sudah banyak ibu-ibu yang kini tengah memperhatikan nya.


" Nabila " Panggil nya kembali dengan suara sedikit berteriak.


Crek..


Pintu terbuka.


" Iya iya , sebentar aku mandi dulu " Terlihat gadis itu sudah berpakaian rapi namun dengan handuk yang masih menggulung di kepala nya.


" Kau ini , sudah ku bilang . tinggalah di apartemen ku , agar aku tidak lagi berurusan dengan ibu-ibu yang menatap ku seperti kucing melihat ikan " Aldrich terus menerus menggerutu kepada Nabila.


" Iya , jangan bawel " Nabila pun sedikit menutup kan pintu nya.


" Cepat lah ini sudah siang " Cecar nya sambil melihat jam di tangan nya.


" Iya . Aku sudah selesai , ku bilang juga tuan tunggu saja di mobil ,tidak usah turun " Jelas Nabila , tangan nya terus menggosokan handuk di kepala nya.


" Nabila , jangan memanggil ku dengan sebutan itu terus , belajar lah memanggil ku dengan sebutan yang sedikit romantis " Raut wajah Aldrich pun terlihat sedikit kesal.


" Aku harus memanggil apa ?" Tanya Nabila sambil menyisir rambut nya.


" Saya juga tidak tau , tapi cobalah tidak memanggil ku tuan kembali " Aldrich frustasi.


"Sudah-sudah , ayo kita berangkat , perjalanan menuju kampung ku cukup jauh " Jelas Nabila .


" Apa ibu mu sudah tau kita akan berkunjung ?" Tanya Aldrich.


" Belum" Sahut Nabila , sambil berjalan meninggal kan Aldrich yang masih berada di dalam.


" Cepatlah , aku harus mengunci nya , apa anda mau saya kunci dari luar ?"Titah nya kepada Aldrich .


" Kau ini semakin hari semakin berani padaku "Gerutu nya sambil berjalan ke arah Nabila yang kini tengah menunggunya di ambang pintu.


" Memang nya kenapa ? bukan kan tuan calon suami saya ?" Nabila menatap Aldrich lalu tersenyum.


-Deg


Aldrich pun terdiam mendengar perkataan Nabila , mata nya menatap seseorang yang berada di hadapan nya.


" Eheumm " Nabila memangling kan wajah nya berusaha menghilang kan kegugupan pada dirinya.


Seperti Nabila yang kini merasa gugup setengah mati , sama hal nya dengan Aldrich ia pun berusah menetral kan perasaan gugup nya.


" Cepatlah , aku akan menunggu mu di mobil " Aldrich pun beranjak pergi meninggal kan Nabila.


Setelah selesai mengunci pintu , Nabila pun segeda menyusul Aldrich yang sudah terlebih dulu menuju mobil.


Langkah nya selalu menjadi perhatian orang-orang yang berada di sana .


-Brugh


Nabila pun memasuki mobil .


" Kau ini memang lamban sekali " Lelaki di sebelah nya kembali mengomeli nya.


" Seperti nya anda memang tidak menyukai saya ?" Ucap Nabila , mata nya menatap Aldrich sedikit kesal.


" Tidak juga " Singkat Aldrich.


" Tapi anda selalu mengomeliku tuan " Nabila melirik ke arah Aldrich yang kini tengah mengemudi.


" Berhentilah memanggil ku tuan " Mohon Aldrich.


" Nah kan , anda mengomel lagi "


" Sudah ku bilang berkali-kali , berhentilah memanggil ku seperti itu tapi kau sangat keras kepala "


" Baiklah , aku harus memanggil anda apa ?" Nabila bertanya.


"Terserah kau saja " Sahut Aldrich.


" Mmmmmm , om ?" Bisik Nabila , namun Aldrich terlihat sangat tekejut lalu melihat ke arah nya.


" OM ? " Aldrich menatap nya penuh tanya.


" Iya , anda lebih tua dari ku bahkan sampai dua belah tahun " Jelas gadis yang duduk di sebelah nya , lalu terlihat sedikit tersenyum.


" Apa di depan ibu mu kau akan memanggil ku dengan sebutan itu ?"


" Tidak , aku akan memanggil nama saja , seperti saat di hadapan papih dan mamih " Sahut Nabila.


Aldrich pun hanya terdiam mendengar jawaban dari Nabila , ia hanya pokus kedapan melihat jalanan kota yang sedikit padat dan ramai hingga menimbulkan kemacetan yang sedikit panjang.


Setelah tiga jam menempuh perjalanan , mobil mewah berwarna hitan yang Aldrich kemudikan kini sudah sampai di kampung halaman Nabila.


Mata Aldrich melihat sekitar, hamparan kebun yang sangat luas , masih banyak sekali pepohonan rindang sehingga membuat udara sekitar menjadi lebih sejuk dan segar, belum terlihat rumah mewah , hanya terlihat rumah sederhana namun terlihat sangat nyaman.


" Di mana rumah mu ?" Aldrich menoleh le arah Nabila.


" Sebentar lagi kita sampai " Nabila pun tersenyum ke arah Aldrich.


Mobil pun terus berjalan dengan kecepatan cukup pelan , hingga tiba-tiba Nabila memerintah nya untuk masuk ke dalam halaman rumah yang cukup sederhana.


" Mobil nya parkir disini saja " Titah nya ketika berhenti di depan rumah nya.


" Iya , memang tidak se mewah rumah anda , tapi rumah ku bersih dan rapi jadi anda tidak usah khawatir " Nabila berbicara dengan mata yang juga menatap Aldrich.


" Tidak , justru desa ini terlihat lebih baik dari pada kontrakan yang berada di kota milik mu " Jawab nya kembali.


Ketika sedang berbincang , terlihat ada seorang wanita sedikit berumur , keluar dari dalam rumah menatap mobil yang terparkir di hadapan rumah nya dengan tatapan penuh tanya.


Nabila pun bergegas keluar dari mobil.


" Ibu " Panggil Nabila , raut wajah nya tak henti memancar kan senyum.


" Nabila ?" Ayu menatap putri sulung nya penuh tanya.


" Ibu sehat ?" Nabila menghambur ke pelukan sang ibu.


" Itu siapa ?" Tanya Ayu ketika melihat seorang laki-laki keluar dari mobil dengan setelan celana hitam dan kemeja putih dengan lipatan lengan kemeja sampai sikut.


" Itu Aldeich , dia ingin bertemu ibu " Nabila tersenyum kepada Ayu.


" Selamat sore " Sapa Aldrich kepada wanita yang kini tengah di peluk Nabila.


" Sore " Mata nya terus menatap seorang yang berbadan tegap dan tampan di hadapan nya. " Mari masuk " Ajak Ayu ramah kepada tamu nya itu.


Aldrih pun mengangguk , bibir nya memperlihat kan sedikit senyuman , lalu mengikuti langkah dua wanita di hadapan nya.


Ketika Aldrich sudah memasuki rumah , manik nya menatap sekitar rumah yang sangat sederhana namun terlihar rapi dan nyaman.


" Duduklah , maaf ke adaan rumah nya memang seperti ini " Ayu tersenyum ramah .


" Terimakasih " Aldrich pun duduk bersebelan dengan Nabila.


" Sebentar ibu ambilkan minum dulu " Ketika Ayu akan beranjak menuju dapur Aldrich pun menahan nya.


" Bu duduklah , saya mau bicara " Titah nya.


Ayu pun berbalik , lalu kembali duduk berhdapan dengan Aldrich.


" Baiklah , apa yang ingin kalian bicarakan " Ayu menatap Aldrich lalu Nabila.


Seketika Nabila pun menatap Aldrich.


" Saya Aldrich bu , saya kesini berniat meminang putri ibu " Jelas nya sehingga membuat Ayu terdiam.


" Nabila ?" Ia malah menatap nya penuh tanda tanya.


" Iya bu , mas Aldrich datang kesini dengan tujuan baik " Sahut Nabila.


Aldrich pun langsung menatap nya , ketika mendengar Nabila menyebut nya dengan sebutan Mas.


" Apa uang yang kau kirim kan kepada ibu terus bertambah karena kamu menjual diri " Ayu menatap Nabila dengan raut wajah kecewa.


-Deg


" Ti tidak bu , Nabila tidak mungkin seperti itu " Pekik Nabila , suara nya terbata-bata ketika melihat ada sedikit kemarahan di mana ibu nya.


Aldrich pun tersenyum ke arah Ayu yang kini juga sedang menatap nya.


" Tidak bu , saya memang mencintai anak ibu " Jawab nya spontan tanpa memikir kan apapun.


-Deg


APA DIA MEMANG MULAI MENCINTAI KU ? ATAU HANYA SEDANG MEMBELA KU SAJA . Gumam nya dalam hati.


Ketika ke adaan sedang serius , tiba-tiba saja dua orang anak berseragam merah putih dengan keringat bercucuran, memasuki rumah.


" Kami pulang bu " Ucap si kembar bersamaan.


Tatapan dua anak kembar itu pun beralih kepada Aldrich , lalu menatap Nabila.


" Kaka pulang " Teriak mereka , lalu berjalan ke arah Nabila.


Nabila pun tersenyum , lalu menyambut mereka dengan pelukan hangat.


Aldrich yang melihat pemandangan di samping nya hanya terdiam , ada rasa kagum di hati nya pada seorang gadis berusia delapan belas tahun namun sudah bisa membiayai adik dan ibu nya.


"Ini siapa ?" Tanya Rara.


" Ini ka Al Ra " Nabila pun tersenyum.


" Hallo , nama kalian siapa " Sambut nya ramah , tak pernah Nabila melihat Aldrich seperti ini sebelum nya.


" Aku Rara "


" Da aku Riri "


" Kalian persis sekali , ka Al jadi bingung " Jelas Aldrich.


" Riri lebih tinggi dari Rara padahal Rara adalah kaka nya " Jawab Nabila.


Aldrich pun tersenyum hangat ke arah adik kembar nya , hari ini Aldrich terlihat berbeda , mungkin karena ia adalah anak tunggal , jadi ketika ada seorang anak kecil ia terlihat sangat menyukainya.


" Kalian masuk kamar dulu ya , mandi ,udah itu belajar " Titah sang ibu lalu di jawab anggukan oleh ke dua putri nya.


"Nak Al , apa kau bersungguh-sungguh ingin melamar anak ku ?" Tanya Ayu.


" Saya serius bu , tinggal beberapa minggu lagi kita akan tunangan , maka datang lah ke kota " Jawab Aldrich.


" Kenapa orang tua nya tidak ikut datang ? apa hubungan kalian di tentang ?" Cecar nya kembali.


" Mereka akan menemui ibu ketika ibu di kota nanti " Jelas Nabila.


" Nabila adalah pilihan orang tua ku bu , jadi tidak mungkin kalo mereka tidak menyetujui kami " Jelas nya kembali , walau memang Sinta masih menentang nya .


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


JANGAN LUPA LIKE & VOTE.