
..."Ananda Raynan Muhammad Biantara....
...Saya nikah dan kawin kan anda dengan putri kandung saya Asila Savrinatya dengan mas kawin satu Rumah dan Mobil dengan seperangkat alat solat di bayar tunai."...
..."Saya terima nikah dan kawin nya, Asila Savrinatya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"...
Begitulah janji suci yang Raynan ikrar kan untuk Asila tadi pagi.
Kini kedua mempelai tengah berdiri di singgasana nya sambil terus menyambut uluran tangan dan ucapan doa dari setiap tamu yang datang.
Tidak terlalu banyak tamu undangan, hanya ada keluarga dan beberapa rekan bisnis dan teman dari Asila maupun Raynan.Nabila dan Aldrich pun ikut menghadiri acara yanga sangat bahagia bagi Raynan dan Asila.
Namun Feri tidak terlihat datang, sahabat nya itu hanya mengirim kan pesan permohonan maaf nya karena tidak bisa hadir dengan alasan Indri yang sudah hamil besar dan sudah tidak boleh naik pesawat.
"Akhirnya sahabat gw laku juga!"Kata Aldrich kepada nya yang kini sedang memeluk Raynan sambil terus menepuk-nepuk bahu nya.
"Selamat ya Asila."Nabila pun mengucap kan selamat kepada mempelai wanita.
"Iya bu terimakasih, Queen kenapa nggak di ajak?"Tanya Asila.
"Queen ada sama oma-opa nya! jangan panggil ibu, aku bukan bos kamu lagi, panggil saja Nabila! lagian umur kamu jauh lebih tua dari aku."Ujar Nabila tersenyum.
"Ah iya!"Sahut Asila.
Setelah memberi ucapan selamat dan doa, Aldrich dan Nabila kembali turun, meninggal kan pelaminan yang mulai di hampiri banyak orang.
Acara resepsi pernikahan Raynan dan Asila pun terus berjalan dengan lancar, tamu-tamu undangan kini perlahan mulai berkurang.
"Kenapa?"Raynan menoleh ke arah Asila yang tiba-tiba menghempas kan diri nya ke atas kursi.
"Kaki aku sakit!"Asila membuka sepatu hak tinggi nya memperlihat kan kaki nya yang memerah karena lecet.
"Sabar yah! sebentar lagi acara nya selesai!"Kata Raynan yang sudah berjonkok di hadapan nya sambil meneliti luka di kaki Asila.
Asila mengangguk seraya tersenyum kepada pria yang sudah menjadi suaminya beberapa jam lalu.
(Anggap aja Raynan sama Asila.)
Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, para tamu undang pun sudah berangsur pulang meninggal kan ballroom hotel tempat pesta pernikahan Raynan dan Asila di selenggara kan.
Sepasang pengantin pun kini turun dari kursi pelaminan, beranjak pergi menuju kamar untuk segera membersih kan diri dan segera beristirahat.
"Kaki nya masih sakit?"Tanya Rayanan ketika kedua nya berada di dalam lift.
Asila mengangguk.
"Sedikit membaik karena aku lepas sepatu nya!"Asila menganggkat tangan kanan yang sedang menenteng sepatu highills milik nya.
"Mau di gendong?"Tanya Raynan tersenyum menggoda.
"Nggak usah, aku masih bisa jalan! lagi pula aku pasti berat Ray."Asila tersenyum.
Kedua nya terkekekuh.
Ting..
Pintu lift terbuka, Raynan dan Asila pun kembali melangkah kan kaki nya mencari nomor kamar yang tertera di akses card.
"Nomor berapa sih?"Tanya Asila.
"Sampa!"Raynan menoleh ke arah Asila, lalu menempel kan akses card nya di handle pintu kamar hotel di hadapan nya.
โPlip.
Klek..
Mata Asila membulat ketika melihat kamar yang akan di huni nya bersama Raynan.
"Masuk!"Raynan melambaikan tangan nya ke arah Asila sambil tersenyum.
Namun Asila tetap berdiri di ambang pintu sambil terus menatap sekitar kamar.
Mendapat Asila hanya terdiam, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat shok, Raynan kembali berjalan ke arah Asila, meraih tangan Asila lalu menarik nya masuk.
"Ini siapa yang siapin?"Cicit Asila dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Aku! kenapa? suka nggak?"Tanya Raynan.
"Kamu yang lebay Asila, kalau mau tidur kan tinggal merem, lagi pula kamu nggak bakal bisa tidur malam ini."Goda Raynan.
"Tidurlah, cape gini ko! seharian berdiri sambil terus salaman sama orang."Sahut Asila.
"Aku mandi dulu, setelah itu aku ke bawah dulu, mau antar mama, papa, sama Maura pulang!"Jelas Raynan, lalu berjalan ke arah kamar mandi dan menghilang di balik pintu.
^
^
Suaminya kini sudah selesai mandi, dengan memakai kaos dan celana pendek pria itu segera pergi untuk mengantar orang tua dan kaka nya yang akan segera pulang.
"Aku ke bawah dulu yah! mau nitip makanan atau apa?"Tanya Raynan.
"Titip Iced coffe jelly aja."Raynan pun mengangguk lalu segera meraih handle pintu.
"Ray!"Panggil Asila.
Raynan pun kembali berbalik arah.
"Iya."Sahut nya.
"Ini uang nya."Asila yang masih memakai gaun pengantin nya berjalan sedikit pelan.
Mata Raynan meruncing, menatap tidak suka ke arah Asila.
"Apa maksud mu?!"Tanya Raynan yang terdengar dingin.
"Nggak ada maksud, ini kan buat bayar iced coffe nya."Ujar Asila.
"Iced coffe jelly cuma duapuluh ribu, apa kamu pikir aku tidak mempunyai uang sebesar itu?!"Cecar Raynan.
"Bukan gitu tapi."
"Apaan sih? sana mandi ganti baju, udah malem nanti masuk angin!"Raynan langsung menutup pintu kamar hotel nya meninggal kan Asila yang masih berdiri di tempat.
"Dihh..ambekan ternyata!"Asila meletakan uang nya di atas nakas, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan Asila melepas kan setiap barang yang menempel di tubuh nya, lalu beralih mengatur kehangatan air dan segera memenuhi bathup.
Sembari menunggu bathup nya penuh, terlebih dulu Asila membersih kan riasan wajah nya dengan make up remover.
Cukup lama Asila melakukan ritual membersihkan dirinya di kamar mandi, akhir nya wanita itu keluar dengan hanya menggunakan bathrobe.
Mata nya menatap sekitar, mencari keberadaan suaminya.
"Belum balik ternyata."Asila bermonolog.
Perlahan Asila berjalan ke arah koper nya yang entah kapan bisa berada di kamar itu dan entah siapa juga yang membawa nya, namaun sesaat Asila mengingat sesuatu yang di berikan kaka ipar nya Maura.
(Nanti malem di pake yah!) begitulah pesan nya kepada Asila ketika memberikan satu buah paperbag.
Wanita itu duduk di atas sofa, membuka hadiah yang di berikan Maura untuk dirinya.
"Apaan nih?"Gumam nya ketika melihat gulungan kain putih.
Asila merogoh dan mengeluar kan dari paperbag nya, membuka pita yang melilit benda tersebut lalu membentang kan nya.
"Emmmm...ka Maura!"Cicit nya pelan, ketika melihat isi hadiah nya adalah gaun tidur.
Lama Asila berfikir sambil terus menatap nya.
"Yaudah deh pake aja, toh Raynan sudah jadi suami aku, apa susah nya nyenengin suami sendiri, apalagi kalo dapet pahala."Kata Asila kembali.
Setelah gaun tidur itu melekat di tubuh Asila, wanita itu terus menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Lumayalah, nggak nembus-nembus amat."Asila cuek.
Tubuh nya kembali berbalik arah, melangkah menuju tempat ridur untuk segera menyingkir kan bungan mawar yang di tata sedemikian rupa.
"Foto dulu kaya nya, di buang sayang ini mah!"Asila langsung membawa ponsel dan segera memotret ranjang king size dengan sprai putih yang akan ia dan Raynan tempati.
โCeklek..
"Asila!!"
...TBC๐๐๐...
...FOLLOW, LIKE, VOTE, DAN KOMEN.๐๐๐...