
Langit sudah menghitam , dalam perjalanan pulang Nabila terus-menerus melihat jam yang melilit di pergelangan tangan sebelah kirinya .
" Aduh jam delapan !! " Cicit Nabila penuh kecemasan.
Pandangan Nabila pun langsung melihat kedepan , menatap seorang supir taxi yang sedang mengemudi dengan kecepatan sedang .
" Pak , boleh agak ngebut sedikit ?!" Pinta wanita itu dengan wajah yang sudah terlihat panik .
Taxi yang Nabila tumpangi pun lansung melaju dengan cepat.
Hingga sekitar satu jam , taxi yang di tumpangi nya berhenti tepat di gerbang besar berwarna putih .
" Terimakasih pak ,"Kata Nabila setelah memberikan ongkos nya .
" Terimakasi kembali neng ," Sahut nya ketika Nabila menuruni mobil.
Langkah kaki Nabila seolah susah untuk di gerakan , mata nya terus menatap gerbang dengan penuh kecemasan , hingga suara seorang laki-laki paruh baya mampu membuat nya sangat terkejut .
" Non baru pulang ?" Suara Rahmat menyapa Nabila ketika seorang wanita berperawakan kecil itu berdiri di depan gerbang yang tertutup.
" A-iya pak " Sahut nya sambil tersenyum.
" Pak Rahmat ? apa mas Aldrich sudah pulang ?" Tanya Nabila .
" Sudah non , dari jam lima sore malah " Jelas Rahmat.
-Degg..
Matilah kamu Nabila ! Umpat nya dalam hati .
" Saya masuk dulu pak " Nabila pun berjalan lebih cepat menuju rumah bercat putih yang bisa di bilang cukup besar.
Tangan nya mendorong pintu perlahan , mata nya meneliti setiap sudut ruangan , seperti maling yang akan masuk rumah .
Kaki Nabila terus berjalan pelan , bahkan hingga sedikit berjinjit berusaha tidak menimbul kan suara.
" Nabila ,kenapa kamu berjalan seperti itu nak ?" Suara Sinta langsung membuat Nabila menoleh .
"Euhhh .... Heheheh " Nabila terlihat sangat gugup dan hanya mampu menjawab pertanyaan ibu mertua nya dengan senyuman yang terlihat dipaksakan .
Sinta yang melihat tingkah aneh Nabila pun tergelak dengan kaki yang berjalan ke arah nya .
" Kamu ini " Sinta menepuk bahu Sinta .
" Kaya maling tau gak , jalan nya pake mengendap-endap sambil celingukan " Ujar Sinta dengan senyum yang masih menghiasi bibir nya.
" Mas Aldrich sudah pulang kan mah " Tanya Nabila.
" Sudah , dia sudah berada di kamar kalian sejak tadi " Jawab Sinta .
" Naiklah , suami manja mu itu menunggu mu " Ujar Nabila penuh candaan .
Nabila mengangguk , raut wajah nya tersipu malu ketika mendengar pernyataan ibu mertua nya .
Lankah kaki Nabila pun perlahan terus menaiki satu-persatu anak tangga , hingga tubuh kecil itu sudah sampai di depan pintu kamar nya.
Lama ia memandang gagang pintu kamar milik nya bersama Aldrich.
Namun perlahan tapi pasti , tangan nya menyentuh , lalu mulai mendorong nya .
-Gerkk..
Pintu kamar pun terbuka perlahan , manik Nabila melihat seorang yang sedang duduk di sofa dengan laptop di pakuan nya .
Perlahan Nabila pun masuk , dengan kecemasan yang memenuhi relung hati nya.
" Dari mana ?" Tanya Aldrich dengan raut wajah datar,dengan mata yang masih menatap laptop.
" Sayang , maaf kan aku pulang telat " Ujar Nabila.
-Deg.
Jantung Nabila berpacu lebih cepat , semua tulang kaki nya terasa lemas , ketika Aldrich menatap nya tajam dengan ekspresi wajah yang sangat menyeram kan .
-Takk.
Aldrich menyimpan laptop nya di atas meja dengan sedikit keras.
Pria itu berjalan ke arah nya tampa sepatah kata pun , mata nya terus menatap Nabila penuh penekanan.
Pandangan Nabila langsung beralih kebawah , ia tidak sanggup menatap Aldrich yang kini tengah menatap nya .
" Dari mana saja kamu ? hem ?" Bisik Aldrich kepada Nabila yang sudah ada dalam pelukan hangat nya .
" Apa mas tidak marah ? " Tanya Nabila , wajah nya mendongkak ke atas , mencoba menatap Aldrich , yang kini sedang memeluk erat tubuh nya .
" Hemmm ,"Gumam Aldrich .
" Aku sangat merindukan mu kau tau ?" Ujar Aldrich di sela hidung yang selalu mengendus pucuk kepala nya .
" Aku sudah was-was, kalau mas akan memarahi ku " Cicit Nabila .
" Apa kau mau aku marah pada mu ?" Tanya Aldrich .
Nabila pun menggeleng kan kepala nya seraya berkata .
" Aku tidak mau melihat mu marah , itu sangat menyeram kan " Sahut Nabila , gelat tawa Aldrich pun terdengar sangat kencang .
" Hahahahahahah , apa aku sangat menakuti mu sayang ?" Aldrich menatap Nabila seksama , jemari tangan nya bermain dengan rambut yang sedikit menghalangi wajah Nabila , lalu menyelip kan nya di antar telinga .
" Baiklah sayang , aku harus mandi dulu sekarang " Aldrich pun melepas kan dekapan nya.
" Mandilah , kau bau sekali " Ledek Aldrich .
Nabila mengangguk , tangan nya mulai meletakan tas slepang kecil berwarna hitam milik nya di atas nakas
Nabila mulai beranjak , langkah kaki nya menjauh dari Aldrich menuju kamar mandi .
Wanita bertubuh mungil itupun menutup pintu kamar mandi , tidak lupa Nabila pun mengunci nya dari dalam .
Sementara Aldrich langsung kembali duduk di sofa lalu membawa laptop nya kembali , dan mulai mengerjakan kerjaan nya yang sengaja Aldrich bawa ke rumah .
Lima belas menit Nabila berada di dalam kamar mandi , membersihkan tubuh nya di bawah kucuran air shower , akhir nya Nabila keluar dengan tubuh yang telihat segar .
Aroma bunga mawar pun menyeruak di dalam ruangan .
Bathrobe besar berwarna hitam dan lilitan handuk di kepala , langkah kaki nya menuju lemari besar dan membawa satu dress rumahan milik nya .
Setelah selesai , Nabila kembali menuju Aldrich berada dengan laptop yang masih dalam pangkuan .
" Mas " Panggil Nabila sambil duduk di sisi kosong sebelah suami nya .
" Ya sayang? " Sahut Aldrich tampa menoleh .
" Kerjaan nya banyak yah ?" Tanya Nabila .
" Iya , aku sengaja membawa nya pulang karena aku sudah sangat merindukan mu , tapi istri ku malah tidak ada di rumah " Jelas Aldrich .
Nabila hanya mengulum senyum , tangan nya mulai memeluk Aldrich .
" Maaf , tadi aku hanya mampir sebentar ke cafe tempat dulu aku bekerja " Jawab Nabila.
Aldrich mengalih kan pandangan nya kepada istri nya itu , tangan nya mulai menutup laptop lalu meletakan kembali di meja .
" Kau bertemu Rio ?" Tanya Aldrich .
" Aku juga bertemu Nurul dan Indri mas " Sahut Nabila .
Nabila semakin menenggelam kan wajah nya di dada Aldrich .
Satu jari tangan mulai menusuk-nusuk perut roti sobek milik suami nya.
" Apa kamu cemburu suamiku?" Tanya Nabila dengan senyum jahil.
" Tidak , enak saja aku cemburu sama anak bau kencur " Elak Aldrich.
" Hahahahahah ,, mas aku tau kamu cemburu " Ledek Nabila .
" Ah iya mas , aku bertemu sahabat SMA mu dulu " Ujar Nabila , hingga Aldrich langsung merenggang kan pelukan Nabila , lalu menatap nya .
" Siapa dia ?" Tanya Aldricj dengan dahi yang mengkerut.
" Euhhh ? Raynan , ya nama nya Raynan " Jawab Nabila .
Mimik muka Aldrich pun terlihat sangat terkejut , manik nya lalu menatap Nabila .
" Apa kalian bertemu di cafe ?" Tanya Aldrich , lalu di jawab anggukan oleh Nabila.
" Sayang , bisakah kamu menghindar dari nya ?" Lirih Aldrich.
" Kenapa ? bukan kah dia sahabat mu mas ? apa tidak ingin menemui sahabat lama mu ?" Cecar Nabila.
" Tidak , hubungan ku dengan nya sedang tidak baik-baik saja " Jelas Aldrich .
" Baiklah , lagi pula dia tidak akan menemui ku bukan " Nabila berusaha menenang kan ke khawatiran Aldrich.
Entah apa yang membuat hubungan mu dengan Raynan memburuk , tapi aku melihat banyak kecemasan dan rasa khawatir di mata mu . Kata Nabila dalam hati .
TBCππππ
...ππππππ...
Jangan lupa like,komen dan vote.
Maaf kalau othor masih banyak typo yang belum ke periksa.
Sun jauh dari othor ππππ.