
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.Semua nya terasa berjalan begitu cepat.
Kini Feri hanya fokus mengurus Pabrik dan kebun teh yang di waris kan kedua orang tua nya.
Sudah tiga minggu Feri mengundur kan diri di perusahaan Aldrich, meninggalkan sekertaris cantik untuk menjadi pengantinya.
Beberapa kali Nabila protes dengan mendatangi rumah yang kini di tempati Feri dan Indri tidak jauh dari rumah Aldrich.
Rumah besar yang sudah berpuluh-puluh tahun di tinggal kan nya dan hanya di urus oleh Sandi dan sang istri, kini di tempati kembali bersama Indri dan calon buah hati nya yang beberapa bulan lagi akan segera lahir.
"Sayang lagi apa?"Feri menghampiri Indri yang sedang menyiram kan air ke pot bunga yang berjejer rapi di halaman rumah nya.
"Lagi nyiramin bunga nya mas, lihat sudah mau mekar!"Ucap Indri antusias.
"Biar Ranti saja, kamu jangan kelelahan! perut kamu sudah semakin membesar, aku takut melihat nya."Feri berujar dengan tangan yang terus mengusap perut Indri.
"Kasian Ranti juga mas, dia sudah membantu kita membersih kan rumah besar ini, juga mengurus Sandi dan anak nya."Jelas Indri.
"Sudah!"Feri mengambil gayung kecil di tangan Indri, kembali meletakan ke dalam ember.
Tangan Indri pun di tuntun perlahan masuk ke dalam rumah.
"Aduh!!"Langkah kaki Indri terhenti ketika merasakan tendangan yang sangat kencang di dalam perut nya.
"Kenapa? apa mau melahir kan?!"Pria itu selaku terlihat lebih panik.
"Mas dia hanya menendang! usia kandungan ku juga baru tiga puluh minggu, jadi masih lama."Cicit Indri.
"Masuk kamar dan istrirahat yah, mas mau lihat pabrik di antar Sandi sebentar!"Jelas Feri sambil terus berjalan menuntun ny ke arah kamar.
–Klek...
Feri membuka kan pintu untuk istri nya Indri,tampak kamar yang begitu luas di dominasi warna putih dengan sedikit sentuhan warna emas dan abu-abu.
Berbeda dengan kamar nya dulu waktu di apartemen, semua warna hampir berwarna hitam dan abu-abu.
Indri terus berjalan pelan bersama Feri yang terus menggenggam lengan nya, lalu terlepas setelah wanita itu duduk di tepi ranjang king size, milik kedua nya.
‐Cup.
"Mas janji akan cepat pulang."Pamit Feri setelah mencium kening istrinya."Jaga diri baik-baik,jangan pernah jauh kan ponsel mu dan kalau ada apa-apa cepat panggil Ranti! dia akan segera membantu mu oke?"Jelas Feri panjang lebar, lalu di jawab anggukan oleh Indri.
Ketika Feri akan beranjak pergi, tangan Indri menahan nya, lalu membawa Feri kembali mendekat dan segera memeluk tubuh kekar yang selalu membuat nya merasa aman dan nyaman.
"Kenapa hemm?!"Feri berbisik lalu mengusap kepala istrinya.
"Aku nggak boleh ikut yah?"Tanyan Indri lirih.
Kedua tangan Feri mendorong bahu Indri, meneliti wajah yang kini terlihat sedih.
"Aku mau ikut."Renget Indri yang akan segera menangis.
"Loh? kamu kenapa sayang! nggak biasa nya kaya gini."Feri tersenyum ketika melihat tingkah istrinya saat ini, seperti anak kecil yang akan di tinggal kerja ayah nya.
"Nggak tau aku kangen kamu aja!"Jelas nya.
"Aku masih ada di sini dan belum berangkat cintaku!"Pria itu terkekeuh, setiap hari ada saja sikap Indri yang membuat nya kesusahan namun Feri sangat menyukai nya.
"Aku ikut atau mas nggak usah kerja!"Tegas nya dengan tatapan yang mendongkak berusaha menatap tubuh tinggi di hadapan nya.
Helaan nafas Feri terdengar, tidak ada pilihan lain selain menidur kan singa betina nya dulu, kaki nya beranjak naik, menarik tangan Indri untuk segera menyusul nya.
"Aku tidak bisa memilih, kalo kamu ikut kamu pasti kelelahan, tapi kalau aku tidak berangkat bos macam apa aku ini!"Jelas nya sambil membawa Indri ke dalam dekapan nya."Tidurlah, mas berangkat kalo kamu udah tidur!"Indri mengangguk, mata nya mulai terpejam ketika tangan Feri terus mengusap punggung dan kepala nya bergantian.
Beberada menit Feri menemani Indri, akhir nya pria itu bisa pergi bersama Sandi untuk segera memantau para pekerja kebun dan pabrik nya.
......................
"Asila! kamu di cariin Raynan."Nabila berdiri di ambang pintu kamar Asila yang baru saja selesai mandi pagi.
"Pak Raynan bu? kenapa nyari saya?"Asila menunjuk dirinya dengan raut wajah heran.
Nabila menggelang kan kepala dan mengangkat bahu dan kedua tangan nya.
"Saya tidak tahu! makanya cepet temuin Raynan di ruang tamu sebelum Queen bangun!"Titah Nabila lalu undur diri.
Asila pun lansung berjalan ke luar kamar, menutup pintu nya dan menuju di mana Raynan saat ini berada.
Mata Asila pun langsung tertuju pada pria tampan yang akhir-akhir ini sering di temui nya.
"Hay!"Sapa nya dengan raut wajah sumringah.
"Ada apa?"Tanya Asila gugup, lalu duduk di hadapan Raynan.
"Kau sudah siap? baguslah kita bisa berangkat sekarang!"Raynan lansung berdiri lalu berjalan mendekat dan meraih tangan Asila.
"Apa? mau kemana ini! aku harus kerja sebentar lagi Queen bangun!"Asila menahan tangan yang akan di tari Raynan.
"Aku sudah meminta izin dan Aldrich mengizin kan nya!"Ujar Raynan lalu kembali menggenggam tangan Asila dan menarik nya perlahan.
"Aku pamit dulu sama ibu!"Asila menghentikan tubuh nya, lalu melepas kan tangan yang di genggam Raynan.
Asila lansung berbalik arah dengan langkah kaki sedikit berlari menaiki setiap anak tangga dan berakhir di depan kamar Queen.
TOK..TOK..
"Bu!"Panggil Asila.
–Klek..
"Iya berangkat saja."Kata wanita yang sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
"Jadi ibu?"
"Iya, Raynan sudah izin sama saya dan suami saya! pergilah dan nikmati hari libur mu bersama Raynan."Asila menganggukan kepala lalu membalas senyuman Nabila kepada dirinya.
Asila kembali undru diri dari hadapan Nabila, berjalan perlahan menuruni anak tangga.
Pria jangkung yang sedang menunggu nya terlihat terus berdiri dan menatap ke arah nya sambil tersenyum.
"Ayo!"Raynan mengulur kan tangan nya.
Tangan Asila pun mengulur, meraih tangan yang terlihat lebih besar dari tangan nya.
Kemudia kedu nya berjalan bergandengan tangan, Asila yang berada di belakang Raynan terlihat mengulum senyum.
Begitu juga dengan beberapa pasang mata yang melihat kedua nya, mereka tersenyum senang ketika Raynan akan segera mendapat tambatan hatinya.
"Al! kamu harus siap-siap cari babysiter baru untuk Queen."Kata Sinta kepada putra nya yang sedang duduk di sebelah nya sambil melihat ke arah luar jendela .
"Hah! padahal Queen sudah cocok sekali dengan Asila, tapi mau bagai mana lagi kalo udah mau ada yang ambil."Jawab Aldrich lemas.
Tampa mendengar kan Aldrich yang terdengar sedang sedikit mengeluh.Mata Sinta kembali melihat pemandangan di luar yang sangat indah, terlihat Raynan yang sedang membuka kan pintu mobil Land Range Rover putih untuk Asila, membuat Sinta kembali mengingat masa muda nya bersama Bayu.
"Papih!"Teriak Sinta memanggil suaminya karena tidak tahan melihat ke romantisan dua sejoli yang terlihat sedang di mabuk cinta.
(Armada kali ah di mabuk cinta)😅
...TBC🍀🍀🍀...
...FOLLOW, LIKE, KOMEN, SAMA VOTE NYA DONGS....