
NOMER YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ! COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI !!.
" Sayang kamu di mana ? jangan menghukum ku dengan cara seperti ini " Setelah puluhan kali Aldrich menghubungi Nabila , akhir nya ia meletakan begitu saja ponsel milik nya .
Tiga hari sudah Nabila pergi meninggal kan dirinya , hidup Aldrich seolah tidak terurus.
Pria itu selalu pergi ke kantor dengan hanya menggunakan , kaos oblong dan celana jeans panjang .
Rambut yang biasa nya kelimis oleh pomade , kini terlihat sedikit acak-acakan , lingkaran hitam di mata pun sangat jelas terlihat , menandakan Aldrich kurang tidur .
Tangan nya mengusap wajah tampan nya kasar , punggung lelah nya ia sandar kan di kursi kerja nya .
" Fer ?" Aldrich berteriak memanggil Feri .
" Feri " Panggil nya kembali .
Cekrek..
Knop pintu pun bergerak , terlihat di balik pintu pria berperawakan tinggi dengan stelan jas berwarna hitam .
" Ya Al ?" Sahut Feri seraya terus berjalan mendekat ke arah bos besar nya .
" Apa pekerjaan ku masih banyak ?" Tanya Aldrich dengan tangan yang sedang memijt plipis mata nya yang tertutup.
" Aku bisa mengerjakan nya jika kau mau ?!" Ujar Feri.
" Baiklah , kerja kan semua ! aku ingin mencari istriku dulu " Cicit Aldrich lalu berdiri , tangan nya mulai mengambil barang-barang milik nya di atas meja, namun ketika akan pergi Feri memanggil nya.
" Aldrich ?" Panggilan itu membuat pria dengan tampilan sedikit acak-acakan berbalik arah .
" Feri akhir-akhir ini kau selalu tidak sopan " Aldrich mendengus kesal, pasal nya Feri selalu memanggil nya dengan sebutan nama walau masih saat jam kerja .
" Ya maaf , gw bingung , disini kadang manggil Al , ntar abis pulang kerja kadang masih manggil tuan " Jelas Feri .
" Apa? gw mau cabut ini !!" Ujar nya kepada Feri .
" Al , sebaik nya kamu bertemu Ghina , lalu selesai kan semua nya saat ini . Lalu kau cari istri mu dan bawa dia kembali " Feri memberi Aldrich solusi , untuk masalah sahabat nya itu .
" Fer , bahkan kau tahu bahwa aku dan Ghina sudah selesai sejak lama !" Pekik Aldrich yang merasa sebal dengan anjuran sahabat nya.
" Ya aku tahu Al , tapi sekarang Ghina menyangka bahwa kau masih memberi nya kesempatan dengan sisa cinta mu pada nya "Ujar Feri kemabali .
Aldrich kembali masuk kedalam ruangan nya , lalu duduk di sofa besar yang berada di ruangan milik nya .
Keadaan saat ini membuat nya sangat pusing , hingga Aldrich kembali menyandar kan punggung nya , mata Aldrich menatap lurus ke atas dengan jari yang terus memijat plipis nya .
" Baiklah , hubungi Ghina ! dan suruh dia kesini sekarang " Titah Aldrich lalu meletakan ponsel dan kunci mobil nya di atas meja .
Feri pun mengangguk , tangan nya muiai merogoh ponsel milik nya dalam saku jas .
Lalu melakukan panggilan kepada seseorang .
" Ghina ?"
.........
" Datanglah ke kantor Aldrich sekarang !"
.........
" Aku tidak tahu , tapi segeralah datang ".
Feri pun kembali memasukan ponsel milik nya pada saku jas , lalu menyusul Aldrich yang sedang menyandar kan tubuh nya di sofa dengan mata yang tertutup .
" Aku akan membantu mencari Nabila , jika masalah mu dengan Ghina selesai " Jelas Feri sambil mengulum senyum.
Aldrich langsung menengakan tubuh nya , mata yang sedari tadi terpejam kini langsung menoleh ke arah Feri .
" Apa kau yakin ?"Selidik Aldrich , raut wajah Aldrich merasa tidak yakin ketika Feri menawar kan diri untuk mencari keberadaan istrinya.
" Apa maksud mu ? apa kau meragukan sahabat mu ini" Tanya Feri kesal ketika melihat tatapan Aldrich pada nya .
" Ayolah aku tahu kau takut kepada istriku! " Ledek Aldrich.
Hingga suara telepon di meja Feri pun terdengar.
Cekrek..
Feri langsung beranjak , kaki nya melangkah cepat keluar ruangan.
Langsung membawa telpon menempel di telinga nya .
" Biarkan saja dia masuk " Suara Feri terdengar hingga ruangan
Aldrich .
Setelah beberapa detik menunggu , akhir nya Ghina pun keluar dari pintu lift , senyum wanita itu terpancar kepada Feri yang sedang menunggu Ghina di depan meja kerja nya.
" Silahkan masuk ! " Feri membuka kan pintu ruangan Aldrich .
Ghina pun mengangguk , bibir nya terus di buat tersenyum .
" Al ?" Panggil Ghina lalu duduk di sisi kosong sebelah Aldrich.
Aldrich pun lansung menoleh ke arah nya , tidak ada raut wajah ramah atau pun senyum balasan untuk Ghina.
" Duduklah yang benar , jangan seperti ini " Ujar Aldrich dingin , raut wajah nya tampa ekspresi , tangan kekar itu terus menyingkir kan kepala yang terus menempel manja di lengan nya .
" Baiklah , apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ghina penuh semangat dengan senyum yang tidak pernah luntur .
" Ghina kau salah paham padaku " Kata Aldrich pelan .
" Apa nya yang salah Al ?" Tanya Ghina sedikit bingung .
" Kita sudah selesai sejak lama , untuk apa kau kembali menanyakan rasa ku pada mu sekarang , sudah jelas aku sangat mencintai Nabila , dan untuk yang kemarin ku lakukan , anggap saja itu ciuman terakhir dan ucapan selamat tinggal untuk mu ! " Jelas Aldrich pada Ghina .
Ukitar senyum di bibir Ghina pun sirna begitu saja , raut wajah yang terlihat selalu berbinar kini berubah , mata nya sudah memerah , bibir nya bergetar , sangat jelas Ghina sedang menahan amarah nya saat ini .
" Tapi kenapa ? istri mu bahkan pergi meninggal kan mu !" Tanya Ghina lirih .
" Pergilah dari hidup kami , cari kebahagiaan tampa menghancur kan kebahagiaan orang lain " Jelas Aldrich .
Suara tangisan Ghina pun terdengar , tangan nya meremas lengan Aldrich , mata nya menatap Aldrich seraya memohon kepada nya.
" Tapi aku masih sangat mencintai mu , bagai mana aku bisa membiar kan orang yang ku cintai hidup bahagia dengan wanita lain " Sahut Ghina dengan tangis tersedu-sedu .
" Tidak , kita sudah selesai pergilah dari hidup ku , rumah tangga ku sudah di ujung tanduk karena mu , kau boleh pergi seperti dulu Ghina , masa mu sudah habis , sekarang hati dan pikiran ku di penuhi oleh Nabila ".
" Aku tidak akan membiar kan kalian bahagia Al !" Ancam Ghina dengan amarah menggebu-gebu.
" Ya aku pun tidak akan membiar kan seorang berkeliaran dengan bebas ketika kebahagiaan istri ku di usik " Balas Aldrich .
Ghina menyeringai , lalu bangkit dari duduk nya .
" Lihat saja , aku yang akan membuat Nabila sangat membenci mu " Ujar Ghina .
" Kalau kau melakukan itu , karir mu akan hancur " Aldrich pun membalas Senyuman Nabila .
" Kalau aku tidak bisa bersama mu , begitu pun dengan Nabila Al , camkan itu?!" Amarah pada diri nya terlihat berkobar , bahkan wanita itu berani menunjuk pria yang sedang duduk di hadapan nya.
" Silahkan saja , kau tahu siapa aku bukan ?!" Aldrich pun berdiri , mendekat lalu menatap Ghina penuh ejekan .
" Sialan !" Teriak Ghina , kaki nya beranjak pergi meninggal kan Aldrich begitu saja .
TBCπππππ
...πππππ...
JANGAN LUPA !! KASIH AUTHOR LIKE ,VOTE NYA π
KOMEN JUGA BIAR KITA SEMAKIN DI DEPAN EH DEKAT MAKSUD NYA.
AUTHOR SAYANG KALIAN β€Uπ GENGS .