
Sinar matahari pun sudah redup , berganti dengan cahaya bulan yang begitu indah .
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam , namun Aldrich masih berada di ruangan nya bersama Feri untuk menyelesai kan masalah penggelapan dana oleh salah satu karyawan nya.
Beberapa kali Aldrich melihat layar ponsel yang memajang foto pernikahan mereka , tidak ada satu pun pesan dari istrinya yang menanyakan kapan dia akan pulang .
" Al kita selesai kan saja besok , kasian Nabila pasti nungguin lo di rumah " Kata Feri yang sudah melihat Aldrich gelisah .
" Baiklah , kita selesai kan besok ! kita harus segera menemukan pelakunya " Jelas Aldrich , lalu ia pun bankit dari duduk nya bersamaan dengan Feri .
" Emmm...Al ? apa kamu menerima Raynan untuk menjadi invertor di perusahaan lo ?" Tanya Feri , kedua nya terus berjalan beriringan menuju pintu lift .
" Hemmmm...aku menerimanya , kita sudah berbaikan setelah dia menelepon ku untuk segera membawa Nabila ke rumah sakit sebelum dia yang pergi " Sahut Aldrich , lalu di jawab anggukan oleh Feri .
Kedua nya memasuki lift ketika suara pintu lift terbuka.
Beberapa menit mereka berada di dalam lift , kini Aldrich dan Feri sudah berada di parkiran mobil.
" Sampai ketemu besok , hati-hati di jalan " Kata Feri sebelum masuk ke dalam mobil nya .
" Iya lo juga . Eh Fer ! lo gak mau apa cepet punya bokin?! " Ledek Aldrich .
" Mau ...Masalah nya kagak ada yang mau sama gw " Sahut Feri lalu tertawa. " Udah ah gw balik " Feri pun lansung menutup pintu mobil nya.
-Pim..
-Pim..
Suara klakson mobil Feri pun berbunyi ketika mobil itu lebih dulu melaju meninggal kan Aldrich terlebih dulu .
" Yokk" Teriak Aldrich sambil mengangkat satu tangan nya .
-Brugh..
Pintu mobil Aldrich pun sudah tertutup , sebelum ia melajukan mobil milik nya , Aldrich melepas kan jas dan menggulung lengan kemeja hingga sikut tangan nya , tak lupa Aldrich pun melepas kan dasi yang masih melekat di kerah kemeja nya .
Kunci mobil pun mulai di putar ke arah kanan , derum mobil pun terdengar , hingga akhir nya kaki Aldrich menginjak pedal gas perlahan .
-Pim..
Salam perpisahan kepada security yang sedang berdiri di samping poltal .
Pria yang berprofesi sebagai petugas ke amanan pun mengangguk seraya tersenyum ke arah Aldrich .
Setelah berada di jalanan besar , Aldrich pun memacu kecepatan mobil nya.
Rasa rindu nya terhadap Nabila sudah sangat mengganggu pikiran Aldrich saat ini .
" Apa Nabila sudah tidur yah ?" Gumam Aldrich ,lalu meletakan kembali ponsel yang sempat di genggaman nya itu .
Sekitar enam puluh menit melaju di jalanan kota , Aldrich pun sudah sampai di depan gerbang rumah nya , terlihat Rahmat lansung keluar dari pos jaga nya lalu membuka kan pintu untuk Aldrich .
" Terimakasih pak " Kata Aldrich di jendela kaca yang terbuka , Rahmat pun mengangguk , lalu kembali menutup pintu gerbang.
Aldrich keluar dari mobil dengan jas dan dasi di lengan nya , langkah kaki nya sedikit berlari mendekat ke arah pintu besar yang tertutup .
-Ceklek..
Aldrich mendorong pintu rumah , suasana sudah terlihat temaram ,hanya lampu-lampu kecil berwarna kuning yang menyala di setiap sudut rumah .
" Bi " Panggil Aldrich ,Aldrich berjalan ke arah dapur mencari Marni dan Lastri .
" Iya Den " Sahut kedua nya yang sedang menonton sinetro di tv yang berada di kamar mereka .
" Tumben udah sepi " Tanya Aldrich .
" Iya bapak sama ibu baru aja naik , kalo non mah dari tadi sore udah masuk kamar , tapi tadi sempet minta teh manis"Jelas Lastri .
" Tolong bikinin coklat panas ya bi , nanti anter ke kamar " Pinta Aldrich lalu beranjak pergi menuju tempat di mana Nabila berada saat ini.
Perlahan Aldrich menaikin setiap anak tangga , setelah sampai di depan pintu , Aldrich pun menyentuh gagang pintu perlahan.
Ia takut akan membangun kan istri tercinta nya .
" Ya ampun sakit " Suara Nabila terdengar lirih.
Aldrich menatap Nabila sedikit bingung , wanita itu membungkuk , satu tangan nya bertumpu di atas tempat tidur , sedangkan tangan satu nya lagi berada di belakang pinggang dengan kepala yang menuntuduk .
" Sayang ?!" Panggil Aldrich , tubuh nya ikut membungkuk , mata nya memandang Nabila yang kini sedang meringis , dan mata yang terpejam .
" Are you oke baby ?" Tanya Aldrich satu tangan nya mengusap punggung Nabila .
" Perut aku sakit " Cicit Nabila pelan , tangan nya meremas seprai tempat tidur nya .
Aldrich berusaha tenang , walau pun sesungguh nya kepanikan sudah Aldrich rasa kan .
Tok..
Tok..
Tok..
" Den ini coklat panas nya " Kata Lastri di balik pintu kamar .
" Iya bi , masuk aja " Sahut Aldrich .
Pintu kamar pun terbuka perlahan , tatapan Lastri langsung tertuju pada Aldrich dan Nabila .
" Non kenapa ?" Lastri lansung terlihat panik setelah meletakan coklat panas di nakas sebelah tempat tidur nya .
" Perut nya sakit bi " Jelas Aldrich .
" Loh...dari kapan ? tadi bibi anterin teh manis belum kenapa-kenapa"Kata Lastri .
Rasa sakit di perut Nabila pun kembali hilang , sampai Nabila mampu mengubah posisi nya yang berdiri jadi duduk di sisi ranjang .
" Dari tadi sore bi , tadi pas bibi kesini belum terasa lagi " Jawab Nabila lemas .
" Kenapa gak nelepon mas sayang " Jelas Aldrich yang kini sudah terlihat khawatir .
" Ponsel aku lagi pake aplikasi bukaan kalo mau lahiran sayang , jadi lupa mau ngabarin kamu " Sahut Nabila .
Aldrich pun lansung melihat ponsel Nabila .
-Degg..
" Sayang ini kata nya udah harus ke rumah sakit " Aldrich pun lansung terlihat kacau.
" Bi tolong panggil pak Rahmat , suruh dia bawa koper itu " Tunjuk Aldrich pada salah satu koper besar berisi perlengkapan bayi dan Nabila .
" Siap den " Lastri pun beranjak dengan kaki setengah berlari .
Aldrich lansung menuntun Nabila untuk segera bergegas , namun ketika Nabila akan berdiri , wanita itu kembali panik .
" Mas air mas " Nabila pun lansung mematung .
" Kamu pipis ? apa kamu se gak kuat itu sampai pipir disini ?!"Cicit Aldrich , wajah nya terlihat semakin panik .
" Aku gak pipis , dia keluar begitu aja " Jelas Nabila .
Mendengar suara keributan , akhir nya Sinta dan Bayu pun keluar kamar.
Mata nya melihat pintu kamar Aldrich terbuka dengan suara argumen kedua sejoli itu .
" Al , ko malem-malem ribut " Sinta dan Bayu pun masuk begitu saja ke kamar anak nya .
" Mih Nabila pipis " Kata Aldrich .
" Hah , itu bukan pipis Aldrich ! ketuban istri kamu udah pecah" Sinta pun lansung panik ketika melihat ke arah Nabila .
" Aldrich gendong istri kamu cepet " Jelas Bayu yang kini terlihat emosi karena Aldrich terlihat linglung .
Pria itu lansung membawa Nabila dalam pangkuan nya , membawa nya keluar dari kamar menuju mobil .
" Pak saya tunggu di mobil cepet " Kata Aldrich ketika berpapasan dengan Rahmat di tangga .
" Aduh mas sakit lagi " Nabila meringis telapak tangan nya meremas kuat rambut Aldrich , namun pria itu terlihat tidak peduli sesikit pun.
" Aduhhhhh....sakit mas " Rantau Nabila setelah berada dalam mobil .
" Iya sabar!! , pak Rahmat cepetan " Teriak Aldrich .
" Iya den " Rahmat pun membawa masuk koper besar di bagasi mobil nya .
" Mih ...pih .. Aldrich duluan " Aldrich pun lansung masuk ke dalam mobil .
" Pak kecepatan penuh " Titah Aldrich .
" Jangan pak , santai aja " Sahut Nabila .
" Kamu gimana si sayang , ini darurat "
" Enggak pak sedang aja " Aldrich pun terdiam ketika Nabila menatap sinis ke arah nya .
TBC
JANGAN LUPA ! LIKE , VOTE DAN KOMEN NYA GUYS ..