
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu kamar pun terdengar , Nabila yang baru saja selesai mandi, lansung berjalan ke arah pintu dengan hayanya mengguna kan bathrobe dan rambuk acak-acakan .
" Eh mamih " Nabila pun tersenyum ke arah Sinta yang sudah terlihat rapi dengam tas kecil menggantung di lengan nya .
" Kata Aldrich semalam, hari ini kita akan ke mall beli perlengkapan baju buat dede bayi " Sinta begitu antusia , senyum nya terus terpancar di bibir nya yang sudah bergincu merah.
" Oh ya ?! ko mas Aldrich gak bilang sama Nabila mau pergi hari ini mih " Sahut Nabila yang merasa tidak enak karena ia belum bersiap apalagi Aldrich baru saja bangun dan sedang berada di kamar mandi .
" Yaudah , kalian siap-siaplah dulu , mamih nungguin di bawah yah"Sinta pun mulai beranjak dari hadapan pintu nya .
Nabila pun kembali penutup pintu , kaki nya kembali berjalan ke arah meja rias dan mulai menghidup kan pengering rambut .
Hairdryer di tangan Nabila pun terus di arah kan ke setiap arah , agar rambut panjang nya cepet kering .
Setelah merasa selesai , Nabila mematikan pengering rambut nya.
Tidak lupa ia menggunakan makeup agar membuat wajah nya semakin cantik.
" Mau kemana? ko pakai make up ?!" Suara Aldrich mampu membuat Nabila melirik ke arah pintu kamar mandi , terlihat pria jangkung yang hanya melilit kan handuk di pinggang nya , baru saja selesai dengan rambut yang masih menetes kan air.
" Mas , mamih udah nungguin kita " Cicit Nabila sedikit sebal .
Aldrich terdiam sesaat , mengingat ajakan nya kepada sang ibunda kemarin malam .
" Ya ampun aku lupa " Jelas Aldrich lalu menggeplak jidat nya sendiri.
" Kebiasaan , aku kira gak jadi hari minggu sekarang ,toh kamu diem-diem bae " Kata Nabila , wanita itu lalu beranjak pergi menuju lemari nya .
Pertama Nabila mengambil baju untuk suami nya Aldrich , lalu terdiam sesaat menatapa setiap tumpukan baju milik nya sebelum benar-benar membawa dan menutup pintu lemari kembali .
Bukan nya lansung mengenakan baju yang sudah Nabila siap kan , Aldrich justru berjalan ke arah Nabila .
Bibir nya tersenyum ketika melihat perut Nabila yang sudah semakin membesar , telapak tangan nya mengusap kulit perut Nabila dari belakang.
" Apa dia sudah berulah hari ini ?" Tanya Aldrich tepas di telinga Nabila.
" Sudah , aku terbangun karena dia menendang sangat keras !" Sahut Nabila.
" Aku mau pake baju dulu mas ! mas juga pake baju nya , mamih udah nungguin loh "Pekik Nabila sedikit kesal karena tangan Aldrich terus menggerayang nakal di tubuh nya.
Aldrich pun langsung melepas kan pelukan nya , lalu beranjak membawa baju dan mulai memakainya .
Beberapa menit Sinta menunggu kedua anak nya , kini orang yang ia tunggu sudah terlihat menuruni tangga .
Aldrich yang terlihat lebih santai , pria itu menggunakan kaos dan celana jeans pendek saja , sementara Nabila , ia terlihat begitu cantik" dengan dress selutut dan rambut yang di cepol tinggi.
" Maaf ya mamih nunggu lama " Jelas Nabila , langkah kaki nya terus berjalan , mengikis jarang antara dirinya dan Sinta .
" Tidak , teh mamih saja belum habis " Sahut ibu mertua nya seraya menunjukan cangkir kecil nya .
" Papih di mana mih ? apa gak mau ikut ?" Tanya Aldrich.
"Papi di taman belakang , biasa lagi minum kopi sama baca koran " Jawab Sinta ,satu jari nya menunjuka di arah di mana suaminya berada.
"Papih gak ikut , jadi ayok kita berangkat sekarang " Sinta pun lansung meminum teh nya sampai habis .
******
Setelah sampai , ketiga nya berjalan beriringan di lantai dasar salah satu mall terbesar di kota nya .
Tangan Nabila terus berpegangan pada lengan Aldrich , cara berjalan nya sudah terlihat seperti sedang membawa beban sangat berat , beberapa kali tangan kiri Nabila mengusap perut dan pinggang nya bergantian .
" Apa kamu cape sayang ?" Tanya Aldrich .
" Sedikit , hanya terasa tidak nyaman di perut ! ketika aku berjalan , rasanya kaya ade lebih turun lagi " Jelas Nabila , satu tangan nya terus mengusap perut bulat nya .
" Harus nya pake kursi roda ! kasian loh menantu mamih Al !" Kata Sinta yang juga melihat ke arah Nabila dengan tatapan sedikit khawatir .
" Enggak usah mih , kata Dokter juga udah harus banyak jalan biar kepala dede bayi nya cepet kebawah ".
" Mas , mamih pasti kalap deh " Basik Nabila pada Aldrich . " Tuh semua yang warna ping di masukin " Ujar Nabila kembali .
Aldrich tersenyum , melihat Sinta heboh sendiri tampa memperdulikan dua orang yang juga tengah bersama nya .
" Mbak...mbak ?! tolong dong baby box nya yang warna pink itu yah" Sungguh Sinta adalah orang paling antusias atas perlengkapan calon cucu pertamanya.
" Mih , beli yang penting-penting dulu aja " Nabila menyentuh lengan Sinta , Nabila berusaha menahan sang mertua .
" Ini semua butuh loh , selimut , bantal , bedongan dan masih banyak lagi , lagian cucu momih akan jadi queen di rumah nanti " Cicit Sinta.
" Sayang biar kan saja mamih , kamu juga pilihlah baju untuk anak kita"Adrich menuntun Nabila ke ara peleng kapan bayi baru lahir .
" Tapi semua udah sama ma....".Suara Nabila pun dengan cepat Aldrich potong.
" Shutttttt...Ingat sayang , jangan bilang jangan boros oke , untuk anak ku ,aku tidak akan itung-itungan , kamu ingat siapa pemimpin MAHARDIKA GROUP " Alis Aldrich naik turun dengan senyum nakal kepada istrinya .
Plakkk..
Nabila memukul bahu Aldrich , pipi nya sudah bersemu merah karena malu dengan pernyataan Aldrich .
Mata nya terus meneliti , tangan nya terus menggeser setiap baju yang di gantung .
Aldrich hanya duduk menunggu di sofa yang tersedia , mata nya terus melihat dua wanita yang sedang sibuk berbelanja baju untuk calon ratu kecil di rumah nya.
" Mas " Panggil Nabila sambil melambai kan tangan nya .
Aldrich pun lansung berdiri , lalu berjalan mendekat ke arah Nabila .
" Kenapa sayang ?" Tanya Aldrich .
" Mas pilihlah , untuk di bawa ke rumah sakit nanti " Jelas Nabila .
" Pilih saja sama momy nya , dady mana mengerti sayang " Sahut Aldrich sambil tersenyum .
" Pilih saja , disini kan sudah khusus untuk new born ko mas , biar anak nya nanti seneng pas liat foto yang mssih bayi , pake baju nya pilihan dady " Nabila terus tersenyum ketika menjelas kan nya kepada Aldrich , bayangan anak cantik nya sudah sangat terlihat , sampai-sampai tangan Nabila tidak henti nya terus mengusap bayi yang saat ini juga sedang meliuk-liuk di dalam perut .
" Apa dia sedang bermain ?" Aldrich langsung mendekat , pria itu tidak memlerdulikan baju yang akan ia pilih.
" Heeemmm , dia sedang main tapi tidak nakal " Nabila membawa tangan Aldrich menempel di perut nya .
Netra kedua nya sudah saling bertemu , dengan bibir yang sudah tersenyum.
" Hi girl , apa kamu mau baju yang berwarna kuning , oma dan momy mu sudah membeli banyak sekali warna pink , jadi dady akan belikan warna kuning sesuai ke sukaan dady" Aldrich terus mengusap perut Nabila , tendangan kecil itu terus terasa di tangan beras Aldrich .
" Mas suka warna kuning ?" Nabila sangat terkejut dengan apa yang baru saja suaminya kata kan .
" Shhhuutttt...ini rahasia " Bisik Aldric.
" Oh ya ?! tapi kenapa semua warna di kamar atau barang yang kau miliki berwarna putih , hitam dan abu-abu ?" Tanya Nabila sambil tersenyum .
" Aku akan menjadi ledekan Feri kalo ada satu barang milik ku ada yang berwana kuning !" Jelas Aldrich , pria itu terlihat sedikit malu dengan kenyataan yang Nabila ketahui saat ini .
" Oke , ini rahasia kita " Ujar Nabila ,dengan kedua ibu jari terangkat ke udara.
" Nabila , Aldrich mamih sudah selesai " Panggil Sinta , tangan nya melambai-lambai .
" Astaga mamih " Nabila terkejut dengan beberapa trolli di depan meja kasir .
" Baiklah , waktu nya bayar " Jelas Aldrich , tangan nya lansung menyambar dua baju bayi baru lahir berwarna kuning dan pink .
Sementara Nabila , terlihat begitu kaget dengan belanjaan sang ibu mertua , belum lagi belanjaan pilihan nya .
...INI MUBAZIR SIH , BERAPA LEMARI YANG ADE BUTUHIN KALO BAJU NYA UDAH SEBANYAK INI .GUMAM NABILA ....
TBCππππ
...πΌπππππΌ...
JANGAN LUPA LIKE ,GITH ,VOTE DAN KOMEN .
BIAR AUTHOR NYA MAKIN SEMANGAT UPDATE , SEDIH AJA NULIS NYA SUSAH ,YANG BACA RIBUAN YANG LIKE NYA GA SAMPE SERATUSπ.
DISINI GAK USAH BAYAR PAKE KOIN KO GUYS PAKE LIKE AJA AUTHOR UDAH BAHAGIA βΊπ.