
TUT..TUT..TUT..TUT..
Begitulah suasana di dalam ruang operasi, hanya terdengar perbincangan antara Dokter dan para asisten nya.
Feri hanya terdiam sambil terus mencium kening Indri yang tengah tak sadar kan diri karena pengaruh obat bius total yang di berikan kepada dirinya.
Tidak henti nya Feri berdoa untuk keselamatan kedua manusia yang sangat di cintai nya saat ini.
Denting suara peralatan ke Dokteran pun semakin jelas terdengar, membuat hati Feri semakin tak karuan.
Arini dan Bima pun sudah Feri hubungi, setelah mendengar kabar anak nya akan segera melahir kan, mereka pun langsung bergegas untuk menyusul Feri ke rumah sakit.
"Detak jantung pasien mulai melemah Dok."Suara seorang wanita kepada Dokter Oscar.
"Jangan panik!"Ucap nya tenang.
Feri pun semakin kalut, ia terus menyesali kebodohan nya yang beberapa kali membentak Indri sampai wanita itu kontraksi dini dan harus segera mendapat tindakan di kamar operasi.
Mata nya terus menatap Indri, wajah cantik itu terlihat tidak berdaya dengan selang oksigen di hidung nya, bahkan kedua tangan nya sudah di hiasi jarum infus.
Feri menangis, wanita yang sangat menakuti jarum infus itu, bahkan istrinya hanya terdiam ketika para perawat menusukan jarum di tangan nya, tidak ada penolakan atau memberontak, Indri hanya pasrah dengan ke adaan nya saat itu.
Sungguh Feri ingin menjerit ke pada tuhan, meminta agar Indri baik-baik saja.
Kumohon sayang, jangan tinggal kan aku! aku hanya punya kalian, bertahanlah demi aku dan anak kita.
Pri tangguh, dan selalu kuat di hadapan para sahabat dan pekerja nya kini sangat terlihat rapuh.
"Oek..oek..oek.."Tangisan bayi pun membuyar kan lamunan nya.
Kepala Feri mendongkak dengan pipi nya yang sudah di basahi air mata.
"Sesuai perkiraan kita tuan Feri! bayi anda laki-laki."Ujar nya sambil mengangkat bayi itu agar Feri bisa melihat nya.
Suami dari Indri itu kembali meniti kan air mata nya, kali ini bibir nya sedikit tersenyum, lalu mencium kening Indri kembali, yang masih memejam kan mata nya rapat.
"Terimakasih sayang."Bisik nya.
"Dok apa istri saya baik-baik saja?"Tanya Feri.
"Istri anda baik! tenanglah sebentar lagi dia akan siuman dan melihat anak kalian berdua."Jelas Dokter Oscar berusaha menghilang kan kecemasan Feri.
Suata tangisan bayi pun kini mendominasi ruangan, bayi kecil itu terus menjerit ketika perawat sedang membersih kan tubuh nya dari darah dan kotoran yang menempel di tubuh nya.
Rasa syukur terus Feri panjat kan, bibir nya terus mencium kening Indri sambil terus mengucap kan kata terimakasih di tekinga istrinya.
Terimakasih sayang terimakasih!
"Pak bayi nya boleh di adzanin sekarang."Jelas nya kepada Feri sambil menunjuk ingkubator berisi putra nya.
Pria itu mengangguk, lalu berjalan ke arah nya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Bibir nya tersenyum ketika melihat waja bayi yang memadukan wajah diringa bersama Indri.
Lantunan ayat-ayat suci pun Feri kumandang kan ke arah telinga anak nya.
Hingga beberapa kali putra kecil nya terlihat menggeliat, dengan bibir yang sudah mulai mencari sesuatu.
"Hallo sayang! Daddy di sini nak, doa in mommy biar cepet siuman ya sayang."Ucap Feri kepada putra nya.
^
^
Setelah melewati masa-masa yang cukup menegangkan, akhir nya Feri dan Indri sudah berada di ruang rawat-inap.
Indri sudah sadar, namun mata nya terus terpejam karena efek bius nya belum benar-benar hilang, hingga membuat nya terus-menerus mengantuk.
"Sayang!"Panggil Feri, sambil terus menggenggam tanga Indri dan terus menghujani nya dengan kecupan.
"Aku pusing mas! kenapa ngantuk nya nggak hilang-hilang?!"Guman Indri pelan.
"Sebentar lagi juga akan hilang, bersabarlah."Sahut Feri.
Indri memaksakan untuk membuka mata nya, tatapan sayu itu kini menoleh ke arah Feri yang selalu duduk di sisi nya.
"Apa mamah sama papah tahu mas?"Tanya Indri.
"Sudah, mereka sedang dalam perjalanan sayang."Kata Feri sambil tersenyum.
"Apa anak kita baik-baik saja?"Tanya Indri.
Suaminya itu kembali tersenyum, tangan nya meraih kepala Indri lalu mengusap nya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Dia sehat sayang, karena kamu sering makan banyak, berat badan nya cukup bagus untuk usia nya saat ini."Jelas Feri.
"Kapan dia di bawa kesini?"Indri terus bertanya, walau mata nya terlihat masih sangat mengantuk.
"Mungkin sebentar lagi!"Kata Feri.
Manik kedua nya pun kembali saling menatap, saling memberikan senyuman dan tangan yang terus saling menggenggam.
"Maaf kan aku."Ucap Feri kembali sedikit berbisik.
"Hah! aku sudah bosan mendengar itu! kamu bisa minta maaf nanti, kalau idul fitri."Kata Indri.
"Aku menyesal telah membentak mu! tadi sore."Suara Feri lirih.
"Aku sudah memaaf kan mu mas, aku juga salah! aku nggak bisa jadi pereda lelah mu, lagi pula sekarang anak kita sudah selamat, ya walaupun awal nya aku ingin lahiran normal, tapi apa boleh buat kalo dia sudah tidak betah lama-lama di dalam perut."Kesadaran Indri mulai penuh, sampai waniga itu terus membeo banyak hal.
"Ini sudah larut malam! apa kamu tidak ingin tidur sayang?"Feri melihat jam dinding yang terpajang di dalam ruangan Indri.
Wanita itu menggelengkan kepala nya.
"Aku ingin ketemu anak kita!"Cicit Indri.
Drrrtt..drtttt...
Ponsel milik Feri bergetar, lalu meraih benda pipih itu di atas nakas.
"Papah Bima!"Feri menatap Indri.
...–Hallo pah!...
...📞:Papah sudah sampai, tapi ini sudah sangat malam, jadi kami menginap di hotel dulu yah, besok pagi baru ke Rumah Sakit....
...–Iya pah, Indri sudah siuman! kalian bisa lebih lega saat ini....
...📞:Syukurlah kalau begitu, boleh bicara dengan Indri....
...Feri mengangguk, lalu memberikan ponsel milik nya kepada Indri....
...–Hallo pah?...
...📞:Gimana ke adaan kamu sekarang?...
...–Aku baik pah! jangan khawatir....
...📞:Selamat yah sudah jadi Ibu, besok kita jengukin kalian ke sana....
...–Iya pah....
...📞:Kalau begitu papah tutup dulu telepon nya yah....
...–Iya papah....
Sambungan telepon pun terputus, Indri kembali memberikan ponsel nya kepada Feri.
"Aku lapar!"Kata Indri.
"Harus tunggu kentut dulu sayang!"Jelas Feri.
"Kenapa susah sekali!"Rengek Indri yang tak kunjung bisa membuang angin nya.
"Belum sayang, di tunggu sebentar lagi yah."Ujar Feri.
—Cup..
"Sekarang mommy harus tidur, besok ade bayi akan kesini untuk meminta jatah!"Feri tersenyum.
"Baiklah, aku tidur!"Sahut Indri."Tapi perut ku sudah mulai terasa ngilu dan sakit."Keluh Indri.
"Ya, bius nya mulai hilang."Feri mengusap kepala istrinya.
"Aku pernah benci mamah, setelah aku melahir kan, ternyata normal atau pun secar sama-sama butuh perjuangan, aku merasa jadi anak yang tidak berguna saat ini."Lirih nya dengan tatapan sendu.
"Jangan menyesal, perbaiki sekarang selama dia masih ada di dunia ini."Ucap Feri kepada Indri.
Wanita itu mengangguk, lalu mencium telapak tangan suaminya.
"Aku tidur yah?"Kata Indri dengan mata yang sudah terpejam.
"Baiklah, aku ada di sini untuk selalu menunggu mu."
—Cup..
"Night mommy."Feri mencium kening Indri.
...TBC🍀🍀🍀...
...JANGAN LUPA, LIKE, FOLLOE, VOTE, KOMEN DAN SHARE YA😊🙏...