
Sore hari nya tepat pukul empat sore ,Indri sudah berada di rumah besar yang saat ini sahabat nya tinggali bersama keluarga besar nya .
Kini Indri tengah duduk di sofa mewah ruang tamu , beberapa kue kering dan teh panas pun telah di sajikan oleh para asisten yang bekerja di rumah tersebut.
" Indri ," Panggil Nabila , wanita ibu anak satu itu kini tengah berjalan ke arah nya dengan dress rumahan namun terlihat sangat cantik .
" Eh Nabila ," Kedua nya saling tersenyum , lalu saling memeluk ketika kedua nya sudah berada di tempat yang sama .
" Gimana ? kamu mau kan jagain anak aku nanti Dri ?" Tanya Nabila sambil duduk di sebelah Indri penuh harap.
Gadis cantik sahabat dari Nabila pun hanya tersenyum , Indri belum berani menjawab nya sekarang .
" Suamimu mana Bil ?" Indri pun bertanya balik kepada Nabila , mencoba mengalih kan pembicaraan agar Nabila tidak cepat memudar kan raut wajah senang nya .
" Sebentar lagi turun , semenjak aku lahiran dia belum pergi ke kantor , dia kerja kan semua nya di rumah ," Jelas Nabila .
Tidak lama setelah Indri menanyakan Aldrich , pintu ruangan tempat Aldrich bekerja pun terbuka.
Orang yang pertama keluar bukanlah Aldrich , namun sosok pria berwajah datar dan dingin, siapa lagi kalau bukan asisten sekaligus sahabat nya yaitu Feri, lalu kemudia di susul Aldrich di belakang nya .
" Selamat sore tuan ," Indri berdiri ketika suami dari sahabat nya itu datang .
" Sore , silah kan duduk kembali ," Titah Aldrich kepada Indri .
" Jadi bagai mana soal penawaran saya dua hari yang lalu ?" Tanya Aldrich ramah setelah ia duduk di samping Nabila .
Indri pun mengangguk ketika Aldrich menanyakan hal yang sama , lalu dengan berat hati ia memberi jawaban nya saat ini juga .
" Pertama , terimakasih atas tawaran yang sangat berharga anda untuk saya , bukan nya saya tidak tau diri atau bagai mana , tapi saya tidak bisa menerima penawaran ini tuan maaf," Jelas Indri , mata nya terus tertuju pada Nabila yang kini menatap nya sendu .
" Dri kenapa ,?" Nabila terlihat kecewa dengan Indri , namun mata nya terus menatap mata Indri yang juga ada rasa kecewa dan kesedihan .
" Pertama aku tidak bisa mengurus bayi Bil , kedua dalam waktu dekat ini aku harus pulang ," Jelas nya lirih kepada Nabila .
Dua wanita yang terlihat saling memandang penuh kesedihan , Nabila mungkin sudah sangat berharap banyak kepada Indri , namun Indri juga tidak bisa menolak ke inginan sang ibu walau pun ini sangat berat bagi nya .
" Lo kenapa ?" Tanya Nabila kepada Indri .
" Gw gak kenapa-kenapa Bil , cuma di suruh pulang aja sama mamah,"Sahut Indri sambil tersenyum getir , berusaha menyembunyikan kesedihan nya .
Ketika ke empat nya sedang serius , suara derum mobil di pekarangan rumah pun terdengar .
Setiap mata lansung tertuju pada pintu , memastika siapa yang akan datang .
" Indri !!" Ujar Raynan ketika melihat gadis yang kini sedang duduk di sofa tengah melihat ke arah nya .
" Rayanan ," Indri pun terkejut dengan kedatangan pria yang baru beberapa hari terakhir di kenal nya .
Kedua nya memang terkejut , namun ada yang lebih terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa mereka berdua sudah saling mengenal yaitu Feri dan Aldrich .
" Loh ! kalian udah saling kenal ?" Akhir nya Nabila berseuara ketika semua nya membisu .
" Iya " Jawab Indri dan Raynan bersamaan .
" Ray duduk , jangan di tatap terus , gak bakalan ada yang rebut ko tenang aja," Tutur Aldrich , namun manik nya terus melihat Feri yang kini menatap Aldrich dengan tatapan sebal.
" Indri...apakabar ? udah berapa hari kita gak ketemu yah?"Tanya Raynan sambil tersenyum , lalu duduk tepat di sebelah gadis cantik sahabat dari Nabila .
" Aku baik Ray ," Sahut Indri ramah seraya tersenyum hingga membuat hati Raynan sejuk , namun membuat hati Feri terbakar .
" Ray ! cihh ...bahkan dia memanggil ku tuan , dan dia terlihat takut pada ku , lihatlah ketika mereka saling menatap , menjijikan sekali ," Feri terus mengumpat ,ketika kesal melihat Raynan dan Indri sudah akrab terlebih dulu .
" Kalian ada sesuatu yah ? tadi nya Indri sedih loh ! ko sekarang bahagia banget kaya nya ," Jelas Nabila , pandangan nya bergantian menatap Raynan lalu ke arah Indri , dengan tatapan penuh tanya.
Raynan pun hanya tersenyum kepada Nabila , raut wajah bahagia pun tidak bisa di sembunyi kan ketika wanita pujaan hati nya berada di satu tempat yang sama bersama dirinya .
" Kita gak ada apa-apa , cuma kebetulan ketemu di cafe aja Bil," Jelas Indri .
" Yasudah , kalo memang Indri tidak bisa ! kita cari babysitters saja!"Kata Aldrich mengalih kan kembali pembicaraan .
" Nabila ? gak marah sama gw kan ?" Tanya Indri lalu dengan cepat Nabila pun menggeleng kan kepala nya seraya tersenyum.
" Terimakasih atas pengertian nya tuan , kalau begitu saya permisi dulu!"Pamit nya kepada Aldrich dan Nabila , lalu Indri pun beranjak dari duduk nya , menganggukan kepala kepada Aldrich lalu berjalan ke arah luar .
" Al , bentar yah ?! gw anter Indri dulu ," Jelas Raynan yang lansung berlari ke arah luar tampa menunggu jawaban Aldrich terlebih dulu .
Aldrich dan Nabila pun hanya saling menatap ketika melihat Raynan yang sudah terang-terangan dengan perasaan nya pada Indri .
" Bagus deh kalo Raynan mau , seenggak nya dia udah gak bakalan jones lagi," Kata Nabila sambil tersenyum ke arah Aldrich.
" Iya , biarin aja Raynan perjuangin cinta nya ," Sahut Aldrich , lalu meraih tangan Nabila dan menuntun nya untuk kembali ke kamar untuk menemui si kecil Queen , meninggal kan Feri yang masih duduk di sofa dengan raut wajah yang sudah tidak bisa di artikan.
Setelah Aldrich dan Nabila meninggal kan dirinya sendiri di ruang tamu , akhir nya Feri pun ikut berlari ke arah luar , berharap Indri masih berada di luar dan menolak ajakan pulang dari Raynan .
" Gw mohon jangan pulang bareng Raynan !!" Ucap nya lirih .
Namun nahas , apa yang di harap kan Feri tidak seindah ke nyataan yang ia lihat oleh mata kepala nya sendiri saat ini .
Netra nya menatap sendu mobil Raynan yang baru saja keluar dari halaman rumah Aldrich .
" Ohh ...****,"Feri mengacak-acak rambut nya , seraya menatap mobil putih milik Raynan sudah mulai menghilang .
Pria berperawakan tinggil itu terus berdiri , raut wajah nya terlihat kacau , dengan tangan yang terus bertumpu di pinggang dengan nafas yang sudah menderu hingga terlihat jelas dada nya yang kembang-kempis .
" Jangan rebut dia dari gw Ray ," Umpat nya dalam hati .
TBCπππ
HALLO READERS π₯° JANGAN LUPA LIKE ,VITE DAN KOMEB NYA YA , BIAR KITA MAKIN SEDEKET LOH .
SUN JAUH DARI AUTHOR πππ.
TERIMAKASIH YANG SUDAH MENEMANI AUTHOR SAMPAI SAAT INI.