STORY AFTER MARRIED

STORY AFTER MARRIED
Eps 08



" Kemana aja lo ? " Tanya Nurul ,ketika ia melihat Nabila yang baru saja tiba di cafe tempat nya bekerja.


" Eh Nurul , lagi ngelap meja ? " Tanya nya kembali kepada rekan kerja nya itu.


" Kemarin gw ke kontrakan lo sama Rio , tapi lo nya ga ada , terus kata ibu-ibu di sebelah kontralan lo , kata nya pagi-pagi lo udah pergi keluar " Jelas nya.


" Iya sorry Rul gw ada urusan mendadak " Sahut Nabila sambil berjalan ke arah loker.


"Iya ga apa-apa , kalo ada halangan apapun itu ,lo kasih kabar ke kita , gw kira lo ga masuk kerja karena sakit lambung lo " Cecar Nurul.


" Terus, Rio sama Indri tumben belum dateng ? " Tanya Nabila.


" Sebentar lagi juga mereka nongol " Jawab Nurul.


" Yaudah gw simpen tas gw dulu yah " Jelas Nabila sambil berlalu pergi.


...****************...


Sementara itu di kediaman Mahardika , para pekerja sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Contoh nya adalah Sari , ia terus mondar mandir menyiap kan sarapan untuk majikan nya.


Ada juga Marni yang masih sibuk membersih kan ruang tamu dan teras.


Tok..


Tok..


Tok..


" Tuan , nyonya , sarapan nya sudah saya siap kan " Sari mengetuk kamar Bayu dan Sinta.


Cekrek..


Sinta pun membuka kan pintu , wajah nya terlihat sudah di poles make up dengan pakaian yang sudah rapi , mungkin seperti inilah kehidupan ibu-ibu sosialita.


" Saya akan turun sekarang , kamu tolong panggil kan Al " Titah sinta kepada asisten rumah tangga nya.


" Baik nyonya " Sari pun menundukan kepala , lalu mulai berjak pergi.


" Sari " Panggil nya kembali . " Setelah memangil Aldrich , kamu suruh Marni untuk membersih kan kamar saya " Titah nya kembali , lalu di jawab anggukan sopan oleh Sari.


Tok..


Tok..


" Den , sudah di tunggu tuan dan nyonya untuk sarapan " Panggil Sari kepada anak manjikan nya.


" Iya bi " Teriakan di dalam kamar itu terlihat sangat jelas , hingga membuat Sari pun berlalu pergi.


Setelah beberapa menit Aldrich bersiap-siap , akhir nya ia telah keluar dengan stelan jas kerja nya , kaki nya menuruni satu-persatu anak tangga , lalu mulai menyusul orang tua nya yang kini sudah terlihat duduk dengan makanan di hadapan nya.


" Selamat pagi , Mih , Pih " Sapa Aldrich kepada orang tua nya dengan senyum ramah .


" Mau sarapan apa sayang ?" Tanya Sinta yang kini sudah bangkit dari duduk nya .


" Al mau roti aja mih , pake selai coklat " Sahut nya , lalu duduk di sebelah sang ayah.


Sinta pun mulai mengambil dua lembar roti , lalu ia mulai mengoles kan selai coklat kesukaan putra tunggal nya.


" Sore nanti Sarah mau datang ke kantor mu " Jelas Sinta , bibir nya tersenyum dengan tangan yang terus mengoles kan selai di roti nya.


" Tidak usah mih , Al sibuk " Aldrich berusaha menolak ibu nya secara halus .


" Biarkan saja Al , dia kan calon istri mu , jadi kalian harus mulai lebih akrab " Cicit nya sambil menyerah kan roti lapis isi coklat pesanan nya.


Tidak ada jawaban lagi dari Aldrich , ia memilih diam dan menikmati sarapan nya pagi ini .


Ia tak mau merusak suana dengan cara terus menerus menolak ke inginan sang ibu.


" Ke adaan kantor bagai mana sekarang Al ?" Tanya Bayu kepada putranya.


" Kantor baik-baik aja pih , semua nya beres tidak ada masalah apapun" Jelas Aldrich kepada ayah nya.


" Papi bangga sama kamu Al " Bayu tersenyum , dengan tangan terus menepuk bahu Aldrich.


Aldrich pun hanya tersenyum ke arah ayah nya , sambil terus memasukan roti kedalam mulut nya.


" Nabila gimana Al " Tanya Bayu tiba-tiba kepada Aldrich , hingga membuat nya terdedak.


Uhuk..Uhuk..


Tangan nya langsung meraih gelas lalu mengisi nya dengan air putih.


" Nabila baik pih , kemarin Al mengantar Nabila sampai rumah nya " Jelas nya ,raut wajah nya terlihat gugup kala melihat raut wajah Sinta yang sudah menunjukan ke tidak sukaan nya.


" Papih , calon istri Al kan Sarah , bukan pelayan itu , ngapain juga di tanya - tanya " Cecar nya dengan raut wajah tanpa ekspresi sedikit pun .


" Nabila gadis yang baik mih " Sahut Bayu singkat.


" Memang nya Sarah tidak baik ?" Tanya nya kembali kepada Bayu dengan penuh penekanan.


" Mih , Pih udah deh masih pagi udah berdebat " Aldrich melerai di antara nya. " Aldrich berangkat dulu Mih , Pih " Setelah meng habis kan sarapan nya , Aldrich pun berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Kaki nya terus berjalan ke arah luar , dengan tangan yang meraih ponsel di saku celana nya.


📞Hallo.


Fer lo dimana ? .


📞Ini gw udah sampe depan rumah lo.


Ya udah tungguin gw disitu , gak usah masuk.


📞Siap bos.


Setelah memutus kan panggilan telepon nya bersama Feri , Aldrich pun kembali memasukan ponsel nya kembali ke saku celana milik nya.


Langkah nya sedikit berlari kala melihat mobil putih milik Feri yang sudah terparkir di depan pintu gerbang.


" Tumben loh gw baru sampe gerbang udah keluar aja " Feri meledek sahabat sekaligus bos nya itu.


" Iya mami terus-terusan ngomongin anak temen nya " Sahut Aldrich.


" Terus lo sama Nabila gimana ?" Tanya Feri , sambil menjalan kan mobil nya perlahan.


" Oh iya gw lupa " Aldrich menepuk jidat nya ." Tolong kirimin uang ke Nabila" Titah nya.


" Nanti gw kirim via WA " Sahut Aldrich.


Feri pun mengangguk paham , ia pun terus melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang , berjalan menyusuri jalanan kota yang cukup padat , hingga mobil mewah berwarna putih milik Feri pun kini sudah sampai di parkiran MAHARDIKA GROUP.


Aldrich pun menuruni mobil lalu di susul oleh Feri yang berjalan di belakang nya.


Raut wajah Aldrich pun terlihat dingin , ia terus berjalan tanpa menghiraukan sambutan selamat pagi dari para karyawan nya.


Aldrich memang selalu bersikap hangat ketika bersama keluarga atau bersama teman-teman nya.


Namun ketika ia sedang berada di prusahaan yang ia pimpin , ia selalu terlihat dingin , raut wajah tanpa ekspresi , dan tegas.


Ia bahkan bisa memcat karyawan nya hanya karena sedikit kesalahan.


Langkah nya terus berjalan ke arah lift khusus menuju ruangan nya di lantai paling atas.


Ting..


Pintu lift itu pun terbuka , langkah kaki Aldrich terus melankah sedikit bergegas menuju ruangan nya.


Grekk..


Aldrich membuka pintu ruangan nya.


" Kirim kan uang pada gadis itu , kalo sudah selesai tolong beri tahu aku " Titah nya kepada Feri.


" Oke bro " Sahut Feri , namun Aldrich menatap nya dengan tatapan tajam.


Feri yang menyadari ia telah salah memanggil bos nya hanya sedikit tersenyum kala mendapat kan tatapan penuh ancaman.


"Iya ,iya tuan Aldrich Yohanes Mahardika " jelas nya , ia pun berbalik arah menuju pintu luar.


Setelah melihat Feri benar-benar keluar dari ruangan nya , Aldrich pun mulai membuka satu-persatu berkas yang berada di meja nya.


Ketika Aldrich mulai di sibukan oleh segudang pekerjaan , tiba-tiba saja pintu tuangan di ketuk.


Tok..


Tok..


" Tuan " Feri pun muncul di balik pintu.


" Ya " Jawab nya tanpan mengalih kan mata dari berkas yang berada di hadapan nya.


" Saya sudah mengirim uang nya tuan , sesuai yang anda perintah kan " Jelas Feri.


" Baiklah kau boleh pergi dari sini " Titah Aldrich , asisten nya pun mulai kembali ke meja milik nya yang berada di luar samping pintu ruangan Aldrich.


Aldrich pun meraih ponsel yang berada di samping nya , lalu mulai mengirim kan pesan pada seseorang.


^^^💌Uang nya sudah saya kirim , silah kan di chekc.^^^


Aldrich pun mengirim kan pesan pada seorang yang bersedia menjadi pacar bayaran nya .


Lama ia menunggu sebuah balasan , namun tak kunjung datang , ponsel nya hanya terdiam sunyi tak ada bunyi nada dring atau sekedar getaran.


KENAPA DIA TIDAK MEMBALAS PESAN KU ? .Gumam nya .


Hati nya merasa tidak tenang , berkali-kali ia melihat layar ponsel berharap ada pesan balasan dari gadis itu .


Namun nihil ,hingga ia pun beranjak dari duduk nya.


Glek..


Aldrich pun membuka knop pintu sedikit keras.


" Tuan anda mau kemana ?" Tanya Feri , yang langsung berdiri dari duduk nya.


" Aku akan keluar sebentar , kau tunggu saja di sini " Jelas nya, dengan berjalan sedikit tergesa-gesa.


" mana kunci mobil mu ?" Aldrich mengulur kan tangan nya.


Feri pun mulai mengeluar kan dari saku jas nya , lalu di sambar begitu saja oleh tangan Aldrich.


*****


Setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit , kini mobil mewah milik Feri sudah terparkir di salah satu cafe tempat Nabila berkerja.


Ting 🔔


Suara bell berbunyi kala pintu cafe terbuka.


Aldrich pun memasuki cafe , langkah nya terus berjalan menuju meja kosong .


Pandangan nya terus mencari seseorang , hingga mata nya melihat gadis kecil yang tengah membawa pesanan kepada seorang pria muda lalu tersenyum manis pada nya.


Ada sedikit rasa tak rela di dalam lubuk hati nya , ketika melihat Nabila tersenyum manis kepada orang lain selain dirinya.


Aldrich pun mengangkak tangan nya ke arah Nabila.


Nabila yang melihat tangan seseorang yang sedang melambai pada dirinya , ia pun mulai berjalan menghampiri seseorang yang memanggil nya tersebut.


" Tuan " Nabila pum meneliti sekitar , mata nya terus melihat ke kanan dan ke kiri. " Ehemm , apa ada yang bisa saya bantu " Nabila merasa gugup .


" Kenapa kau tak membalas pesan dari ku ?" Bukan nya menjawab tawaran Nabila , Aldrich justru bertanya kepada Nabila kembali.


"Saya sedang bekerja tuan , saya tidak boleh memain kan ponsel ketika bekerja " Jelas nya sedikir berbisik.


" Mulai besok kau tidak boleh kerja di sini lagi " Tegas nya dengan tatapan dingin.


" Tuan " Suara Nabila lirih , tatapan mata nya sedikit memohon.


" Akan ku tambah kan uang untuk mu , dan berhenti lah mulai besok " Cecar Aldrich lalu mulai beranjak pergi.


Nabila pun hanya terdiam heran dengan sikap Aldrich , ia tak melakukan apapun selain memperhatikan punggung kekar yang kini sudah berjalan keluar dari cafe tempat nya bekerja dengan raut wajah yang terlihat kesal.


DASAR OM-OM . Guman Nabila , menggeleng kan kepala.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC


JANGAN LUPA LIKE , VOTE & COMENT ☺