
Tiga hari setelah pemakaman ibu dan kedua adik nya.Nabila selalu berdiam diri di kontrakan kecil milik nya.
Tiga hari pula ia sudah tidak masuk kerja , bahkan ketika Aldrich menggedor pintu kontrakan nya , Nabila tak pernah sama sekali membuka pintu tersebut.
Pandangan nya selalu menatap kosong , lingkaran hitam di mata nya sudah terlihat sangat jelas , hidup nya seperti pecahan piring yang jatuh lalu hancur berkeping-keping.
Kenapa kalia ninggalin aku sendirian . Sungguh pilu nasib gadis cantik ini , Satu tahun ia di tinggal sang ayah , kini ia juga harus kehilangan sisa orang yang sangat ia cintai.
Dalam ke adaan kamar yang gelap gulita , ia hanya terdudku dengan tangan yang memeluk lutut.
Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari , namun gadis itu masih terjaga dengan air mata yang terus bercucuran .
Walau pun Bayu sudah menyuruh nya tinggal bersama mereka , namun lagi-lagi Nabila menolak , ia tak mau di anggap buruk terutama oleh calon ibu mertua nya.
Hati nya hancur dengan pikiran yang terus menerus memikir kan nasib nya saat ini , Nabila benar-benar sudah tak tahu arah jalan hidup nya harus seperti apa kedepan nya .
Tok..
Tok..
Tok.
" NABILA ? BUKA ATAU AKU DOBRAK " Suara Aldrich di luar sana kembali terdengar. Sudah dua kali Aldrich terus berusaha agar Nabila ingin menemui nya . Namun gadis itu terus terdiam tanpa ada jawaban sedikit pun .
BRUAKKK !!!..
Pintu kontrankan Nabila pun terbuka begitu kencang nya dengan sekali hentakan kaki Aldrich.
Nabila pun tersentak , lalu menatap ke arah laki-laki yang kini sudah berada di ambang pintu dengan menatap nya penuh rasa iba.
"NABILA " Panggil nya lembut , mata nya menatap ke adaan Nabila , yang hanya terdiam dengan ke adaan gelap gulita . Gadis yang sangat menyedih kan , kaki nya mulai melangkah mendekat , lalu memeluk gadis itu erat.
Tangis nya pun pecah di pelukan Aldrich , tangan nya terus memukul dada pria itu dengan perkataan penuh tanya yang sangat menyayat hati.
" KENAPA MEREKA MENINGGAL KAN KU HEMM? APA KAU JUGA AKAN MEMBATAL KAN PERNIKAHAN KITA ? KALO KAU MAU ,KAU BOLEH MENINGGAL KAN KU ,KARENA ALASAN UNTUK TETAP MEMPERTAHAN KAN KU SUDAH TIADA " Cecar nya , Aldrich hanya terdiam mendengar kan setiap kata yang keluar dari mulut Nabila.
" AKU AKAN TETAP MENIKAHI MU , AKU AKAN MENJADI PELINDUNG MU SAAT INI DAN SETERUS NYA " Aldrich berusaha membuat Nabila tenang , tangan nya terus mengusap lembut punggung Nabila.
" BAHKAN AKU SUDAH TAK SANGGUP MENJALANI HIDUP KU SAAT INI" Suara jeritan kepedihan itu kembali menyayat hati Aldrich , ia benar-benar tak tega melihat keadaan Nabila saat ini.
" Jangan berbicara seperti itu , kau harus melanjutkan hidup mu dengan baik agar mereka bahagia juga melihat mu " Jelas nya penuh kelembutan .
Nabila pun hanya terus menangisi kepergian ibu dan kedua adik nya.
Bahkan air mata nya sampai membuat kemeja Aldrich menjadi basah.
" Al ? ayok udah larut babget " Suara seseorang di ambang pintu membuat Aldrich menoleh.
Aldrich pun hanya mengangguk ke arah sahabat nya Feri.
" Malam ini aku akan menemani mu tidur . Tapi bukan disini " Jelas Aldrich kepada gadis yang kini sedang berada dalam dekapan nya.
Nabila menatap wajah Aldrich penuh tanya.
" Ikutlah bersama ku , kau harus tinggal bersama dengan ku " Jelas aldrich.
" Tidak . Aku akan di sini saja " Sahut nya pelan.
" Saat ini kau tidak boleh tinggal sendiri " Ajak nyankembali , Aldrich terus berusaha mengajak Nabila karena untuk keadaan nya saat ini Aldrich takut Nabila berbuat nekad.
" Aku akan baik-baik saja " Penolakan Nabila membuat Aldrich mengusap wajah nya kasar .
" Tidak . Kau tidak akan baik-baik saja kalo sendiri " Aldrich menggeleng kan kepala , suara nya lembut berusaha membuat Nabila yakin.
" Tidak. Aku akan tingga bersama mu ketika sudah menikah nanti " Kekeuh nya lagi.
Keadaan pun langsung hening , Aldrich sudah tak menjawab pernyataan Nabila , mata nya hanya menatap mata Nabila dalam.
Mata nya terpejam lalu membuang nafas nya sedikit terdengar kasar.
" Baiklah kita batal kan tunangan kita " Aldrich menatap ke arah Nabila yang juga kini menatap nya.
" Baiklah " Nabila pun menjawab nya dengan senyum penuh kepalsuan ,sebenar nya ada rasa sakit di hati nya ketika Aldrich ingin membatal kan tunangan nya.
" Ikut aku ! kita menikah malam ini juga " Jelas nya.
Nabila hanya terdiam ketika Aldrih mulai beranjak dan menarik tangan nya.
" Tuan . Tapi "
" Baiklah " Jawab nya lalu mengikuti langkah kaki Aldrich yang kini berada di depan dan sedikit menarik tangan Nabila.
********
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam , kini Aldrich , Feri dan Nabila pun telah sampai di apartemen milik Aldrich.
" Fer ? coba telepon papi dan siap kan pernikahan ku hari ini !" Titah nya kepada sahabat nya.
" Al ini masih sangat pagi sekali !" Sahut Feri.
" Papi pasti menjawab telepon dari mu "
" Kita tunggu sampai sedikit siang saja Al " Usul Feri kembali.
" Iya tuan . Akan mengganggu kalo melalukan panggilan telepon saat ini , semua orang pasti masih tertidur lelap. " Nabila pun mulai bersuara.
Aldrich pun tersenyum ke arah Nabila.
" Masuklah ke kamar " Titah nya lembut kepada Nabila.
" Tidak " Jawab nya singkat.
" Kenapa ?" Tanya Aldrich.
" Aku tidak tau. Kamar nya di sebelah mana? " Jelas nya tanpa ekspresi namun bisa membuat Aldrich tersenyum manis ke arah nya.
" Baiklah akan ku antar " Ia pun meng genggam tangan Nabila lalu mulai membawa nya ke arah kamar.
Bibir Nabila tersenyum samar, ketika Aldrich menarik tangang nya , ia terlihat senang ketika sikap Aldrich pada diri nya sudah sangat baik.
" Ini kamar mu . Masuklah kalau butuh apa-apa panggil aku atau Feri " Cicit nya setelah sampai di ambang pintu.
" Baiklah terimakasih tuan " Nabila pun tersenyum .
" Boleh kan aku meminta sesuatu ?"
" Apa ?" Pandangan Nabila dan Aldrich pun saling bertemu.
" Boleh kah kau memanggil ku dengan sebutan lain ? telinga ku sakit ketika kau memanggil ku tuan " Lirih nya namun tersenyum.
Ataya pun tersenyum , lalu menganggukan kepala nya.
" Jadi kau akan memanggi ku apa ?" Tanya Aldrich dengan antusias.
" OM " Sahut Nabila.
Aldrich pun menepuk jidat nya lalu tertawa.
Hahahahahah . Tawa Aldrich terdengar sangat kencang.
" Jangan Om "Protes Aldrich. Nabila pun tertawa ketika melihat Aldrich tertawa.
" Baiklah Mas Aldrich " Cicit nya sedikit berbisik.
Laki-laki itu pun tersenyum
-Cup tiba -tiba saja ia mencium kening gadis yang lebih pendek dari nya.
" Masuklah , jangan bersedih lagi . Aku bersama mu "Jemari Aldrich mengelus lembut pipi Nabila.
" Baikalah aku masuk " Nabila pun mulai menutup pintu kamar.Pandangan nya melihat kamar yang luas dan terlihat sangat lah mewah
Bibir nya tersenyum , namun air mata Nabila pun sudah tak bisa di tahan lagi hingga membuat nya lolos begitu saja membasahi pipi nya.
" Bu . Laki-laki itu tidak seburuk yang aku bayang kan " Lirih nya , ia pun berbaring , tangan nya mencengkram kuat bantal yang sedang ia tiduri dengan suara tangisan yang tertahan .
Gadis kecil itu memang sedang bahagia saat ini , karena masih ada orang yang sangat peduli pada dirinya yang kini hanya seorang gadis tanpa memiliki siapapun ( Sebatang kara ). Namun rasa sedih nya terus saja memenuhi relung hati nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC🍃
Jangan lupa like dan vote.
Salam cinta dari Author 😘🥰