
Lagit senja pun sudah terlihat begitu indah , kini sudah waktu nya Aldrich dan Nabila kembali pulang ke kota.
" Bu kami pulang dulu " Pamit Aldrich ke pada orang tua Nabila.
" Baiklah " wanita yang sudah terlihat berumur itu tersenyum ramah.
" Hati-hati di jalan , dan Ana , kamu baik-baik di sana ya sayang " Wanita itu mengusap kepala putri nya dengan penuh cinta.
Nabila pun tersenyum , lalu mencium pipi sang ibu tercinta , satu-satu nya lagi permata hati yang tuhan sisih kan untuk diri nya.
" Baik bu , ibu juga baik-baik . Dan kalian" Nabila menunjuk kedua adik kembar nya sambil tersenyum . " Jangan bikin ibu kesal oke ?" Pinta nya.
" Siap ka , kami akan pulang cepat dan membantu ibu " Jawab adik kembar nya Riri.
" Ya sudah kita berangkat " Nabila pun tersenyum kembali. " Dadah"Tangan Nabila melambai.
Kini Nabila dan Aldrich pun sudah beranjak pergi menuju mobil.
Setelah kedua nya berada di dalam , Aldrich pun mulai melajukan mobil nya perlahan , hingga meninggal kan rumah sederhana yang di tinggali ibu dan kedua adik Nabila.
" Eheumm " Suara Aldrich membuat Nabila menoleh ke arah nya.
" Tadi kau bilang apa ?" Tanya Aldrich tanpa memangling kan wajah.
" Apa nya yang apa ?" Nabila berkerut kening mendengar pertanyaan Aldrich.
" Tadi yang kau kata kan waktu di hadapan ibu ?" Aldrich pun membawa pandangan nya kepada Nabila.
" Banyak yang kita bicara kan di depan ibu ?" Nabila semakin di buat kebingungan oleh lelaki di samping nya itu.
Aldrich pun menghela nafas nya , lalu berkata.
" Kau memanggil ku apa ?" Jelas nya.
" Apa ? " Tanya Nabila kembali , hingga membuat raut wajah Aldrich kesal.
" Ah sudahlah , kau ini memang menyebal kan " Aldrich terlihat merajuk.
Nabila pun malah tersenyum jahil kepada Aldrich.
" Mas " Sahut Nabila ,menatap Aldrich dengan tatapan jahil.
Aldrich pun menoleh , pandangan mereka pun saling bertemu.
" Bagai mana tuan " Tanya Nabila tersenyum sambil memain kan alis nya.
" Dasar anak kecil " Ledek nya kepada Nabila.
" Dasar om-om " Balas Nabila , pandangan ya kembali lurus kedepan.
" Kenapa papih milih kamu " Gerutu Aldrich.
" Iya saya juga bingung kenapa papih maksa saya ?" Balas nya.
" Apa kita harus membuat surat perjanjian ?" Tanya lelaki yang sedang sibuk mengemudi di samping Nabila.
" Apa anda ingin memper main kan ku ?" Nabila betanya tanpa ekspresi.
Aldrich hanya terdiam , pandangan nya hanya menatap jalanan dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan .
" Saya tau anda memang tidak tertarik kepada saya , saya cukup tau diri untuk itu , tapi kalau anda ingin mempermain kan janji suci di hadapan tuhan , maka lebih baik kita akhiri saja sekarang dan jujur saja bahwa kita tidak pernah memiliki hunbungan apapun " Tegas Nabila ,kepada Aldrich . Entah mendapat kan keberanian dari mana hingga dia berani mencecar nya dengan penjelasan panjang lebar.
" Bukan begitu maksud ku " Sahut Aldrich . " Aku takut kau merasa tidak nyaman dengan ku , usia kita terpaut sangat jauh , kalaupun tidak mau ada perjajian nikah , ya sudah kita usahakan sama-sama agar hubungan yang papih ingin kan berjalan mulus dan baik-baik saja " Jelas nya kepada Nabila.
" Maaf saya lancang " Lirih Nabila . " Saya hanya tidak ingin mempermain kan hati ibu saya " Ia berusaha nahan rasa kesal nya.
" Aku tidak bermaksud memper main kan perasaan ibu mu atau pun diri mu sendiri , kau ini gadis baik dan polos , aku hanya sedang memikir kan apa aku pantas bersama mu , bahkan aku adalah seorang bajingan " Aldrich pun menatap Nabila .
" Tuan . Menikahlah bersama wanita pilihan ibu mu " Manik nya melirik ke arah Aldrich.
" TIDAK " Jawab nya tegas , mata tajam nya kini menoleh ke arah Nabila.
" Bukan kah kau tidak usah membuat surat perjanjian apaun dengan Sarah " Tanya Nabila.
" Tapi aku tidak mau hidup bersama nya " Tegas Aldrich.
" Kenapa ? bukan kah dia cantik ? mamih juga sangat senang pada nya" Tanya Nabila kembali.
" Aku tidak suka gaya hidup nya , bukan soal uang yang ku permasalah kan , tapi aku mencari istri yang akan menunggu ku pulang dan mengurus anak-anak ku , bukan wanita yang suka keluyuran bersama teman-teman sosialita nya " Cicit Aldrich , sesekali pandangan nya melihat ke arah Nabila dengan tangan yang terus memegang kemudi.
" Saya juga akan terus bekerja " Balas Nabila.
" Kalau aku yang akan menjadi suami mu , kau tidak boleh bekerja menjadi waiters , kau hanya boleh bekerja mengurus ku dan anak ku , akan ku gajih setiap bulan nya " Jawab Aldrich.
Nabila pun hanya terdiam .
" Soal perjanjian itu , kita lupakan termasuk perjanjian lima bulan itu " Ucap Aldrich kembali.
" Apa kau yakin ?" Tanya Nabila .
" Apa kau tidak akan menyesal ? kau lebih memilih ku dari pada nona Sarah ? " Aldrich pun menoleh ke arah nya lalu tersenyum.
Senyuman yang sangat jarang Aldrich perlihat pada diri nya , namun saat ini lelaki itu tengah tersenyum manis pada dirinya.
" Pindahlah ke apartemen ku , tinggal kan kontrakan kumuh mu itu " Pinta Aldrich.
" Aku tidal mau di cap jelek , oleh siapapun terutama ibu mu " Jelas Nabila.
" Ini aku yang meminta , bukan kau . Jadi tempati saja , bukan kan itu akan menjadi tempat tinggal kita berdua nanti ?"
" Akan ku pikir kan nanti " Jawab Nabila singkat.
Aldrich pun terus memacu kecepatan mobil nya cukup tinggi , kini langit cerah sudah berganti menjadi gelap gulita.
Suasana mobil seketika hening setelah perdebatan nya .
Kini gadis bawel itu sudah terlelap di samping nya.
" Kalo lagi diem cantik " Gumam Aldrich.
Setelah beberapa jam melalui jalananya , dari kampung menuju kota , kini mobil itu pun sudah berhenti di pinggir jalan .
Ia pun terus melirik Nabila yang masih terlelap , ia kebingungan babagai mana cara nya membangun kan gadis kecil di sebelah nya.
" Nabila " Aldrich menepuk pelan pipi gadis yang tengah tertidur.
" Nabila " Lagi-lagi ia tak melihat tanda Nabila akan terbangun.
Setelah cukup lama menunggu , akhirnya Nabila mengerjap kan mata nya.
Nabila menoleh ke arah Aldrich yang sedang memejam kan mata , dengan jari yang memijat pelan pelipis alisnya.
" Tuan " Panggilan Nabila membuat Aldrich langsung menatap le arah nya.
" Akhir nya kau bangun juga " Suara Aldrich sedikit berbisik.
" Berapa lama aku tidur ? kenapa ga di banguni " Cecar Nabila.
Aldrich pun menghela nafas nya kasar , ia terlihat menggeser tubuh nya lalu mulai membuka pintu.
" Turun lah , sudah malam " Titah nya sambil berlalu menuruni mobil.
Melihat Aldrich yang sudah keluar dari mobil dengan raut wajah kesal , Nabila pun langsung bergegas menyusul Aldrich.
-Brugh
Tuit..Tuit
Setelah melihat Nabila mengeluari mobil , Aldrich pun langsung menekan remote control untuk mengunci mobil nya.
" Tuan " Panggil nya sedikit berlalri mengejar Aldrich yang sudah berada di depan nya.
Laki-laki berbadan tegap itu pun menoleh.
" Stop memanggil ku tuan , aku bukan majikan mu " Tegas nya.
Nabila pun hanya terdiam ketika melihat tatapan menakutkan dari Aldrich.
" Baiklah om " Sahut nya.
Mendengar Nabila memanggil nya om , Aldrich hanya mengusap wajah nya kasar.
" Terserah kau saja " Aldrich pun kembali berbalik badan .
" Om tungguin " Nabila pun berlari mengejar Aldrich.
" Masuklah , aku akan pulang sekarang "Titah nya ketika Aldrich sudah sampai di depan pintu kontrakan milik Nabila.
" Masuklah dulu , aku akan membuat kan anda coklat hangat " Tawar Nabila sambil membuka kunci pintu.
" Tidak usah , lain kali saja. Masuklah , kunci pintu dan istirahat " Aldrich pun langsung meranjak meninggal kan Nabila yang kini sedang berada di ambang pintu.
Ada perasaan aneh di relung hati nya , seperti banyak sekali kupu-kupu yang sedang berterbangan .
Bibir nya terus tersenyum kala melihat punggung laki-laki yang kini sudah perlahan menghilang.
Setelah benar-benar Aldrich sudah tak terjangkau oleh pandangan nya , Nabila pun masuk lalu menutup pintu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
JANGAN LUPA LIKE & VOTE
DUKUNGAN DARI KALIAN SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR ☺
MAAF KALO MASIH BANYAK TYPO 🤭