
Hari demi hari pun berlalu , namun Feri masih saja bersikap dingin kepada istrinya .
Sudah tiga malam Feri tidur memunggungi Indri , tidak ada kecupan hangat atau pun pelukan yang biasa laki-laki itu lakukan .
Beberapa kali Indri bertanya apakah suaminya masih marah ?! namun Feri tetap mengatakan tidak . Indri bukan gadis sepuluh tahun yang bisa di bohongi , mesi Feri terus berkata tidak ! tapi sikap nya kepada Indri sudah menjawab perasaan nya saat ini .
Pandangan Feri selalu menghindari Indri , begitupun ketika Indri bertanya , pria itu selalu menjawan , he'em , ya atau tidak .
Sungguh ini membuat wanita itu kebingungan untuk membuat suasana seperti biasa kembali .
Tut....tut....
Suara ponsel Indri yang kini terus berusaha menghubungi Feri .
" Ish...Mas Feri bener-bener deh ," Rengek Indri yang merasa kesal panggilan nya terus di abaikan Feri .
" Sekali lagi , kalo masih nggak di angkat awas aja !!" Indri berujar sambil menempel kan kembali ponsel nya di telinga .
Tut....tut...tu....
๐ : Sayang aku sibuk ! berhentilah menelpon ku .
-Mas tapi kamu ...
๐ :Aku pulang telak hari ini , jangan menunggu ku dan tidurlah terlebih dulu .
Sambungan telepon pun Feri putus kan secara tiba-tiba .
Raut wajah Indri pun lansung berubah menjadi sendu , bagai mana bisa Feri mengabaikan nya beberapa hari lama nya .
" Awas aja ya ! aku kerjain kamu ," Gumam Indri sambil tersenyum jahil .
...----------------...
" Al , kerjaan kita udah selesai kan ?!" Tanya Feri kepada Aldrich yang sedang duduk berdampingan denga Raynan .
" Udah , kalo mau pulang silahkan !" Jelas Aldrich .
" Nggak , gw mau nengok pabrik bentar , Sandi nyuruh gw kesana ! kata nya ada beberapa masalah yang harus segera di selesai kan ," Tutur Feri .
" Masih marahan lo sama Indri cuma gara-gara gw ?" Tanya Raynan sambil tersenyum .
" Nggak , akhir-akhir ini gw sibuk aja !" Elak nya lalu berdiri dan pelahan meninggal kan kedua sahabat nya .
" Jangan lama-lama di diemin , nanti gw tikung baru tau rasa loh !!" Ujar Raynan kembali .
Tampa memperdulikan perkataan Raynan , Feri terus berjalan ke arah luar ruangan dengan langkah kaki sedikit cepat .
Setelah keluar dari gedung Mahardika Group , Feri pun bertemu dengan Sandi yang menunggu nya di lobby .
" Kamu duluan saja , saya ambil mobil dulu!"Titah Feri lalu di angguki oleh Feri .
Dengan langkah cepat Feri berjalan ke arah parkiran , lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan nya cukup kencang .
Mobil yang Feri tunggangi terus melaju , mencoba menyusul mobil Sandi yang sudah berada jauh di depan .
Hari pun semakin sore , langit pun sudah terlihat menghitam seolah akan segera turun hujan besar .
Beberapa kali pandangan nya mendongkat , berharap hujan tidak segera turun sebelum ia pulang dan menemani istrinya yang sudah beberapa hari di abai kan nya .
Sesungguh nya rasa cemburu terhadap Raynan sudah pudar dan hampir tidak ada sama sekali , hanya saja Feri sedang menguji sampai mana Indri berusaha untuk membujuk nya agar kembali seperti biasa .
Setelah satu jam perjalanan , akhir nya Feri dan Sandi pun sampai di lokasi pabrik teh milik Feri yang di dirikan oleh orang tua nya dulu .
" Ada masalah apa ?" Tanya Feri lansung kepada Sandi , setelah kedua nya duduk di kursi ruangan milik Feri .
" Kalo pabrik sejauh ini tidak ada kendala pak , hanya saja beberapa pekerja yang sudah cukup lama , mereka ingin gaji nya di naikan ," Jelas Sandi .
" Berapa lama mereka mengabdi di perusahaan ayah ku ?!" Tanya Feri kembali .
" Bagai mana perkembangan pabrik dan kebun teh ?!"
" Semua nya masih berjalan dengan baik pak ," Jawab Sandi .
" Baiklah , naikan gaji dan upah lembur ," Titah Feri . " Saya akan segera mengundur kan diri dari Mahardika Group dan akan segera pokus mengurus PT .Mukti Abadi ." Tutur Feri .
" Itu akan lebih baik pak , anda bisa lebih fokus kepada perusahaan anda."Kata Sandi seraya tersenyum kepada bos nya itu .
" Baiklah kita pulang ," Ajak Feri sambil melihat jam di pergelangan tangan nya yang sudah menunjukan pukul delapan malam .
Kedua nya pun keluar dari ruangan milik ayah Feri dulu . Berjalan beriringan menuju parkiran mobil mereka saat ini .
" Saya pulang dulu pak , hati-hati di jalan !" Pamit Sandi .
" Baiklah saya juga pulang dulu , sampai kan salam ku pada anak istri mu ," Jelas Feri lalu beranjak masuk ke dalam mobil .
Langit malam pun semakin gelap , perlahan rintik hujan sudah mulai membasahi mobil yang sedang Feri kendarai .
Beberapa kali Feri melihat ponsel nya , berharap Indri akan kembali menghubungi nya , dan bertanya kapan diri nya akan segera pulan .
Senyum di bibir nya terukir ketika mengingat Indri yang terus menerus mencari dirinya sampai panggilan telepon masuk beberapa kali ketika sedang melakukan meting bersama Raynan , Aldrich dan para kolega lain nya .
" Apa sekarang dia mulai mencintai ku ? lihatlah cara di mencari ku beberapa hari terakhir, bahkan dia selalu berusaha membuat ku tersenyum dan tidak marah lagi kepada dirinya,"Guman nya pada diri sendiri seraya tersenyum dengan tangan yang terus mencengkram stir mobil .
Empat puluh lima menit Feri mengemudikan mobil nya cukup kencang di bawah guyuran air hujan yang sangat deras .
Akhir nya mobil hitam milik istrinya yang ia pakai sudah terparkir di basemant apartemen nya.
Dengan langkah sedikit berlari , Feri menuju pintu lift .
Beberapa detik berada di dalam nya , Feri pun sampai di lantai sembilan dan mulai berjalan menuju pintu apartement milik nya .
-Clik..
Pintu terbuka setelah Feri menempelkan ibu jari nya pada handle pintu .
-Deg ..
Hati nya bergemuruh , pikiran nya berkeliaran kemana - mana ketika melihat apartemen milik nya gelap gulita , hanya terlihat sedikit cahaya yang masuk lewat celah gorden tebal yang membentak menutupi kaca besar apartemen .
" Sayang !!" Perlahan Feri berjalan sambil terus memanggil - manggil nama istrinya .
" Apa bercanda ku keterlaluan sampai membuat nya muak dan memilih untuk pergi ?!"Gumam Feri yang sudah terlihat cemas .
Dengan sejuta pikiran yang singgah menghampiri otak nya , Feri terus melangkah menuju pintu kamar yang tertutup .
-Ceklek ..
Perlahan Feri mendorong pintu kamar milik nya bersama Indri .
Suasa nya terlihat remang , hanya ada satu cahaya lilin di dalam kamar nya.
" Apa listrik nya mati ? tapi kenapa apartemen milik orang lain menyala !" Gumam nya .
" Sayang apa kau sudah tidur ?!"Tanya Feri ketika melihat Indri yang sudah berbaring di bawah selimut tebal .
" Tidak biasa nya kamu mematikan semua lampu ketika aku tidak ada ?!" Tanya Feri kembali namun tidak ada sahutan dari Indri .
Perlahan Feri membuka dan meletakan jas yang tadi di kenakan nya , dan tak lupa Feri juga membuka dasi dan menyimpan nya bersamaan dengan jas di atas sofa , lalu berjalan menuju ranjang .
" Sayang !!" Ujar Feri ketika menyibakan selmut yang menggulung tubuh Indri .
TBC๐๐๐
JANGAN LUPA LIKE , VOTE DAN KOMEN NYA ! BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT UPDATE๐๐