
Beberapa hari setelah surat pengunduran diri nya di serah kan .
Akhir nya tepat sore hari ini , Indri mengemas barang-barang miliknya kedalam koper berukuran sedang dan beberapa tas kecil.
Pakaian nya sudah rapih , semua barang pun sudah selesai di kemas .
Namun Indri masih enggan beranjak dari kamar kost yang sudah hampir dua tahun di tempati nya .
Tangisan perpisahan dan beberapa pesan menyentuh dari Nurul dan Nabila sangat memberat kan hati nya untuk segera pergi , apalagi dengan si tampan Raynan , pria yang umur nya jauh lebih tua dari nya terus menanyakan jawaban tentang pernyataan cinta nya , bahkan ia menawarkan diri untuk segela menemui ibu dari Indri agar perjodohan nya di batalkan ,namun Indri menolak , gadis dua puluh satu tahun itu tetap pada keinginan sang ibu, berbeda dengan Feri yang tidak pernah menemui nya kembali setelah menyatakan cinta nya beberapa minggu yang lalu .
" Huffff ," Indri menghembus kan nafas nya pelan , sesaat memejam kan mata nya lalu segera berdiri dan memakai tas ransel nya.
Ceklek..
Tangan Indri meraih handle pintu , lalu membuka nya perlahan , kaki nya mulai beranjak berjalan keluar dengan tangan yang sudah menteret koper milik nya perlahan .
Brughh..
Cetrek..
Cetrek..
Indri pun kembali melangkah kan kaki nya setelah menutup dan mengunci pintu kamar kost yang sebentar lagi akan di tinggal kan nya .
" Kamu jadi pulang kampung ?" Tanya ibu pemilik kost .
" Iya bu ," Indri pun tersenyum lalu menyerahkan kunci pintu kepada pemilik yang sesungguh nya . " Ini kunci nya bu , terimakasih saya pulang dulu ," Tutur nya ramah .
" Iya , hati-hati di jalan ! ibu harap kamu akan kembali kesini" Jelas nya dengan tangan penepuk behu Indri pelan .
Indri pun mengangguk , lalu melangkah kan kaki menuju pintu keluar .
Beberapa kali Indri menarik nafas , lalu menghembus kan nya perlahan , gadis itu benar-benar seperti tidak ingin pergi , namun ke adaan yang terus mendesak nya , begitu pun dengan pesan singkat dari sang ibu yang terus menghantui nya agar segera pulang malam ini juga.
" Selamat tinggal , aku akan merindukan kota ini , dan orang - orang yang pernah ku kenal," Ucap nya pelan ketika Indri sudah benar-benar berada di luar , sambil menatap rumah yang cukup lama ia tempati .
Namun ketika Indri berbalik arah , ia di kejut kan oleh keberadaan Feri yang sudah berdiri di hadapan nya .
" Tuan !!" Suara Indri memekik , wajah nya terlihat begitu terkejut sehingga tangan nya sudah menempel di dada seakan menahan jangtung nya yang akan lepas . " Kau ini seperti hantu , suka muncul tiba-tiba ," Ucap Indri dengan nafas yang terengah-engah.
" Kau pulang sore-sore begini?"Tanya Feri dengan ekspresi wajah datar .
" Iya , saya sengaja pulang sore agar tidak panas ," Kata Indri berbohong , padahal jelas-jelas ia akan pulang besok pagi , namun terus di paksa untuk pulang sore ini oleh ibu nya,sedikit egois memang.
" Masuklah , aku tidak akan membiarkan kau pulang sendirian sore-sore begini ," Titah Feri kepada Indri , lalu merebut gagang koper yang sedang di genggam Indri dan membawa nya terlebih dulu ke bagasi mobil nya .
" Taun tapi ..saya naik bis saja," Jelas Indri sambil berlari mengejar Feri yang dengan cepat menutup bagasi mobil nya sedikit kencang.
-Brukk..
Feri tidak berkata apapun , laki-laki itu hanya berjalan melewati Indri yang sedang terdiam dengan pandangan tertuju pada bagian belakang mobil nya .
Drekk..
" Masuk !!" Titah Feri sambil membuka kan pintu mobil untuk Indri .
" Ng ?!" Indri tertegung melihat perlakuan Feri yang sedikit manis pada nya saat ini , walaupun sikap dingin nya masih mendominasi .
" Masuk mobil , cepat ! nanti kemaleman di jalan !"Jelas Feri kembali.
Indri pun mengangguk , lalu mulai beranjak memasuki mobil BMW hitam milik Feri .
Feri pun lansung berjalan memutari mobil nya , lalu mulai menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi .
-Brughh..
" Alamat mana yang kita akan tuju ?" Tanya Feri sambil memasang seatbelt.
Lantas Feri langsung menoleh ke arah Indri yang berada di sebelah nya.
" Mochi ?" Cicit Feri lalu di jawab anggukan oleh Indri .
Indri hanya terdiam ketika Feri melihat nya dengan tatapan kesal , tubuh Indri pun mundur perlahan sampai terbentur pintu mobil ketika Feri membuka sabuk penganman nya kembali, dan terus mendekat ke arah nya .
" Tu-tuan mau apa ?" Indri tergagap-gagap ketika Feri terus mendekat tampa mengalih kan pandangan mata nya .
Ssssrrrttt...Clikk..
" Kamu pikir saya mau apa ,hemm ?! saya hanya memakai kan seatbelt untuk mu !" Jelas Feri dengan suara pelan dan mata yang terus menatap netra indah milik gadis di hadapan nya .
Gadis yang berada di hadapan Feri hanya terdiam , dengan mata yang terus beradu tatap dengan pria di hadapan nya .
"Eheumm," Indri mencoba menetral kan kembali suasana hati nya , ketika Feri sudah kembali duduk , memasang seatbelt nya kembali dan perlahan melaju kan mobil nya perlahan .
Mobil yang di tumpangi Indri pun terus melaju di bawah langit yang sudah mulai menghitam.
Dua manusia yang sedang duduk berdampingan itu hanya saling diam , Indri yang terus menatap ke arah luar jendela karena merasa malu telah berfikir yang tidak-tidak terhadap pria yang kini sedang pokus dengan setir mobil dan mata yang terus fokus menatap ke depan .
Dua setengah jam Feri dan Indri duduk di kursi mobil yang terus melaju , akhir nya mereka pun sampai di kota tujuan Indri .
" Kita sampai , setelah ini kemana lagi ?" Tanya Feri sambil menoleh ke arah Indri .
" Lurus dulu saja tuan , sampai lima ratus meter , nanti belok kanan ke jalan perkampungan ," Jelas Indri .
" Bisakah berhenti memanggil tuan ? telinga ku selalu berdenging ketika kau memanggil ku dengan sebutan itu ?!" Kata Feri yang terlihat sedikit kesal .
" Aku harus manggil apa ?" Tanya Indri kepada Feri yang kini sudah mulai melajukan mobil nya kembali .
" Panggil saja Feri ," Ujar nya .
" Itu tidak sopan tuan !" Kata Indri .
" Ck , aneh ! kau memanggil Raynan dengan sebutan nama nya , padahal dia lebih tua setahun dari ku , umur Raynan sama seperti Aldrich padahal ," Jelas Feri kembali kepada Indri .
" Oke baiklah aku akan memangil nama mu mulai sekarang ," Jelas indri kepada Feri .
" Kiri..kiri..kiri ," Jelas Indri ketika mobil Feri melewati pekarangan rumah nya .
Citttt...
Feri langsung menginjak rem mobil nya .
" Kamu pikir ini angkot ?!" Kata Feri .
" Mudur , rumah aku aku di belakang ," Pinta Indri , perlahan Feri pun memundur kan mobil nya.
" Oppp ... disini saja , itu rumah aku," Jelas Indri sambil menunjuk rumah minimalis yang bisa di sebut mewah .
Feri sedikit bingung , banyak pertanyaan dalam kepala nya untuk Indri , namun ia urung kan sampai Indri yang akan menjelas kan nya nanti.
" Kenapa ? aneh ya ? " Akhir nya Indri bertanya ketika melihat raut wajah Feri.
" Kamu anak orang berada , tapi kenapa kamu memilih untuk bekerja menjadi waiters ?" Akhir nya Feri mengutara kan rasa penasaran nya .
"Ayok masuk , aku tidak akan menjawab pernyaan mu ! karena akan membutuh kan waktu yang sangat lama !" Tutur Indri lalu tersenyum ke arah Feri , sambil membuka pintu mobil .
Mata Feri mendelik , ia terlihat kesal karena Indri selalu membuat nya semakin penasaran , namun laki-laki itu cukup gengsi untuk memohon agar Indri mau menjelas kan tentang dirinya.
Terlebih Indri memang menyembunyikan latar belakang diri nya pada Raynan, Feri dan para sahabat nya .
TBC🍀🍀🍀
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA GUYS .