
Jarum jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, cahaya matahari pun sudah terlihat jelas di balik tirai tipis yang masih membentang menghalangi kaca besar kamar hotel yang di tempati Raynan dan Asila.
Gulungan selimut berisi seorang manusia pun terlihat bergerak ketika Asila mulai tersadar dan merenggang kan otot-otot tubuh nya.
Perlahan mata nya mengerjap silaw, menatap lurus ke arah tirai putih, lalu beralih ke arah sofa yang terlihat seorang pria sedang duduk memangku laptop dengan hanya menggunakan bathrobe dan rambut yang masih kelihatan basah.
Seketika tubuh nya terduduk, mata nya membulat dengan raut wajah terlihat sangat terkejut.
"Raynan! kenapa kamu ada di sini!!"Asila berteriak.
Pandangan Raynan pun beralih menatap wanita yang baru saja terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Asila masih pagi kenapa berteriak!"Ucap Raynan santai kepada Asila.
"Sedang apa kamu disini bersama ku hah?!"Asila kembali bertanya, wanita itu terlihat panik, sampai melihat ke dalam selimut untuk memastikan sesuatu.
"Syukurlah, pakaian ku masih lengkap!"Gumam Asila.
"Kau pikun atau hilang ingatan?"Cicit Raynan.
Asila terdiam, mengumpul kan ingatan nya dengan mata yang terus menatap sekitar.
"Sudah ingat apa belum?"Raynan terus menatap nya sambil mengulum senyum.
"Hah. Iya aku ingat, kamu sudah menjadi suami aku sejak kemarin siang."Sahut Asila.
Satu alis Raynan terangkat, lalu Raynan tertawa.
"Kamu menjanda terlalu lama Asila!"Ledek suaminya itu.
"Hanya lima tahun!"Timpal Asila, lalu beranjak pergi dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
^
^
Beberapa menit Asila habis kan di dalam kamar mandi, akhir nya ia keluar dengan hanya menggunakan bathrobe dan lilitan handuk di kepala.Mata nya kembali melihat ke arah Raynan yang masih sibuk berkutik dengan laptop nya cukup serius, pandangan mata Asila pun melihat cangkir yang sudah berisi kopi.
"Hari pertama jadi istri udah kaya gini! suaminya bikin kopi sendiri, istri macam apa kamu Asila?"Pikir nya.
Tubuh Asila berjongkok, mulai mencari baju dan pakaian dalam nya untuk segera ia kenakan.
Sesekali mata Raynan melirik Asila, pria itu langsung meletakan laptop milik nya di atas sofa ketika melihat Asila akan segera kembali ke dalam kamar mandi.
"Mau kamana!"Raynan mencekal lengan Asila, sampai istrinya itu kembali berbalik arah dan menabrak dada bidang nya.
"Mau pake baju! emang kamu, yang betah kaya gitu."Sahut Asila.
Tidak ada jarak di antara kedua nya, tubuh nya saling menempel hingga hembusan nafas kedua nya sudah jelas terasa.
Pandangan mata Asila dan Raynan terus bertemu, perlahan kening nya sudah saling menyentuh, dengan mata yang sudahnsaling menatap namun kedua nya hanya terdiam.
"Aku mau hak ku Asila!"Bisik nya tepat di hadapan wajah Asila.
"Hemm?"Gumam Asila, wajah nya terlihat memerah dan gugup.
"Aku mengingin kan mu sekarang istriku."Raynan mengulangi perkataan nya.
"Ini masih pagi Ray!"Pandangan Asila pun beralih ke sembarang arah, menghindari tatapan Raynan yang selalu membuat nya gugup dan malu.
"Memang nya kenapa kalo masih pagi? kita sudah bebas melakukan nya kapan saja."Suara nya lirih, namun terdengar sangat menggoda.
"Iya aku tahu Ray, tapi kita bisa menghabis kan waktu di luar bukan? cuaca nya sangat cerah."Asila terus berusaha melepas kan tengkraman tangan Raynan di lengan nya.
"Aku menyesal tidak melahap mu tadi malam Asila."Ucap Raynan tampa ekspresi.
"Ray tapi aku mau jalan-jalan! boleh ya, aku ingin wisata kuliner dulu sebelum kita pulang nanti!"Asila mematap Raynan penuh permohonan.
Raynan menghela nafas, lalu melepas kan Asila.
"Baiklah, kau menang!"Raynan terlihat pasrah.
—Cup..
Tiba-tiba Asila mencium pipi Raynan.
"Terimakasih Raynan sayang, sekarang kau juga pakai baju, kita akan pergi berkuliner hari ini."Raut wajah Asila terlihat sangat bahagia, lalu memunguti pakaian nya yang jatuh dan lansung berjalan ke arah kamar mandi.
Raynan mengusap wajah nya kasar, lalu tersenyum ketika kini seorang Raynan takluk dengan perintah seorang wanita! pikir nya.
"Dulu wanita yang takluk pada ku, sekara aku yang takluk kepada istriku! karma memang datang tepat waktu."Gumam nya sedikit berbisik.
^
^
Nama yang Feri berikan kepada putra pertama nya.
"Adududu! kamu tampan sekali sayang."Tutur Indri dengan pandangan terus tertuju kepada putra yang baru saja di temui nya.
"Dagu, hidung, sama mata Daddy punya, kalau alis sama bibir nya punya mommy nih!"Arini bermonolog sambil terus memperhatikan bayi mungil yang sedang terlelap.
"Kaya aku yang mirip banget papah kan mah?"Tanya Indri kepada ibu nya.
Arini langsung menatap Bima, lalu kembali menatap Indri, lalu wanita itu tersenyum.
"Iya kalian mirip."Jawab Arini singkat.
Ruangan Indri pun kini bisa di bilang ramai, bagai mana tidak! ke tiga orang tua nya datang menjenguk bersama adik-adik nya.
Sementara Feri hanya duduk di sofa besar, sambil terus menahan kantuk yang terus datang menghampiri.
"Siapa nama nya?"Tanya Vira.
Indri tersenyum, lalu menatap bayi yang sedang terlelap di dalam box.
"Mikael Giandar Alexander bunda."Jelas Indri.
"Nama yang bagus, siapa yang memberi kan nya?"Tanya Vira kembali.
"Mas Feri bun."Indri lansung melihat ke arah sofa, terlihat Feri yang duduk namun mata nya menutup, terlihat raut wajah lelah sampai suaminya itu tidur dengan posisi yang terlihat kurang nyaman.
"Kalau begitu cepat pulih, kami permisi yah! kasian suami kamu mau istirahat."Bima berujar.
"Iya pah! makasih udah mau nengokin Indri."Ucap Indri.
Bima pun mengangguk, lalu beranjak pergi bersama Vira dan putri nya Vania.
Ada rasa sedih di dalam hati nya, melihat dua orang yang kini sudah berbeda jalan dan mempunyai pasangan masing-masing.
"Mama juga pulang yah! kasian Dion di tinggal sama ayah nya."Arini pun ikut Undur diri.
Indri mengulum senyum lalu mengangguk, menatap punggung wanita yang mulai menghilang di balik pintu.
Indri terus berusaha menerima semua nya, namun tetap saja, hati nya rapuh ketika dirinya sudah tidak bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tua nya.
Hanya ada Feri yang akan selalu memberi nya cinta yang besar dan kasih sayang yang luas.
Hati nya tahu, bahwa Arini dan Bima juga sayang kepada nya, tapi mereka sudah lebih bahagia dengan keluarga baru nya yang baru.
Lalu bagai mana dengan Indri! wanita itu hanya terus berusaha lebih tegar, karena ketika ia merasa dirinya orang yang paling menyedih kan, Indri lansung melihat Feri yang sudah tidak memilikk siapaun di dunia ini.
"Sayang! kenapa kau menangis? terus kemana orang tua mu?!"Feri yang baru saja terbangun terkejut ketika melihat Indri sedang terisak.
"Mereka sudah pulang mas."Indri lansung menyusut air mata nya.
Feri tahu betul sebab kesedihan istrinya, pria itu lansung menghampiri Indri lalu memeluk nya.
"Jangan menangis, ada aku yang akan selalu bersama mu, aku yang akan tetap berada di sisi mu dan tidak akan pernah pergi."Cicit Feri yang juga merasakan kepedihan hati Indri.
"Mereka sudah bahagia dengan keluarga nya masing-masing mas."Indri kembali menangis di pelukan Feri.
"Kamu sekarang punya aku dan Giandra, tidak usah berkecil hati lagi."Tangan nya terus mengusap kepala Indri.
TBC🍀🍀🍀
...^Aku mengingin kan mereka, tapi mereka tidak pernah mengigin kan ku^...
...—Mereka menyayangiku sebagai manusia, bukan sebagai orang tua kepada anak nya—...
...—Mereka berbicara agar aku tetap di sisinya, tapi sikap nya menunjukan agar aku segera pergi—...
...^Tuhan kenapa sesakit ini^...
...🥺🥺🥺...
...—Dear Michael Feri Alexander:Terimakasih telah menyelamat kan kucing malang yang pernah ternggelam dalam lautan kesedihan, dan memberi nya kasih sayang yang teramat sangat besar—...
...I love you to the moon and back...
...🥺🥺🥺...
...-Marsha Indria-...