
...Suasana ruangan masih terlihat sangat gelap , Nabila menggeliat ketika merasa ada sesuatu yang berat terletak di pinggang nya.Mata Nabila mengerjap perlahan , pandangan nya terarah ke atas , meneliti wajah yang saat ini sedang tidur bersama nya , setelah satu minggu minggu lebih mereka terpisah , setelah kembali pun terpisah karena Nabila yang tidak kuat mencium bau tubuh Aldrich jadi, hampir tiga minggu lama nya mereka tidur terpisah ....
Dengan sisa kantuk , Nabila menyingkir kan tangan Aldrich dari atas perut nya , lalu terbangun dan melihat jam dinding yang berada di kamar nya .
" Baru jam empat ternyata " Kata Nabila dengan suara serak nya .
Satu - persatu kaki nya berada di atas lantai berlapis marmer yang dingin karena AC.
Tubuh nya beranjak , berlajan ke arah sudut kamar.
Nabila berjalan di bawah ruangan yang gelap , hanya ada penerangan lampu luar , tangan nya membawa satu botol air berukuran besar .
Cetrek ..
Lampu kamar pun menyala , Wanita itu lansung berjalan ke arah sofa besar di kamar nya .
" Sayang !" Panggil Aldrich .
" Iya ?" Jawab Nabila dengan tatapan mata terarah kepda pria yang masih betah di atas tempat tidur .
" Kenapa lampu nya menyala , aku masih mengantuk " Ujar Aldrich.
" Aku ingin minum , apa mas bisa bangun dan tolong buka kan ?" Jelas Nabila , Aldrich pun lansung tersentak , menduduk kan tubuh nya seketika dengan cepat .
" Oke tunggu sebentar !" Cicit Aldrich , pria itu bangun lalu berjalan ke arah kamar mandi .
Setelah beberapa detik Nabila menunggu , akhir nya Aldrich terlihat keluar dari kamar mandi .
" Kenapa tadi bangun , apa kau muntah lagi karena semalam kita tidur bersama ?!" Tanya Aldrich sambil berjalan ke arah Nabila .
" Tidak , aku haus dan sekarang aku lapar " Jawab Nabila .
Aldrich langsung menganbil air yang Nabila sedang pegang , mulai membuka kan tutup lalu kembali memberikan pada istri nya itu.
" Terimakasih Dady " Ujar Nabila dengan suara yang di buat seperti anak kecil .
" Kenapa istri ku ini kecil sekali ? lihat lengan dengan botol air ini lebih besar botol nya ?!" Kata Aldrich sambil menunjuk lengan Nabila ,lalu menujuk botol air yang sedang Nabila pegang .
" Aku tidak kecil , beran badan ku lima puluh kilo " Sabut Nabila , lalu meletakan air di meja sebelah nya .
" Tinggi badan mu 167 , jadi kau terlihat kurus dengan berat badan mu sekarang " Kata Aldrich
" Aku mau tanya sesuatu ?" Kata Aldrich kembali .
" Apa ? " Nabila mengerenyit kan dahi .
" Apa aku bau ?" Cicit Aldrich menujuk dirinya sendiri .
Seketika Nabila terdiam , mata nya memangdang ke sembarang arah dengan hidung kembang,kempis mengendus bau yang Aldrich maksud.
" Tidak " Raut wajah Nabila terlihat bingung .
" Sungguh ?!" Aldrich sudah tersenyum bahagaia.
" Iya , mungkin tersamar kan bau minyak angin " Sahut Nabila santai.
" Bukan nya kau lapar sayang ? lalu apa yang ingin kau makan saat ini ?"Dengan antusias Aldrich bertanya pada Nabila .
" Martabak telor ." Sahut Nabila .
" Martabak?!"
" Iya martabak " Jelas Nabila sambil menganggukan kepala nya.
" Ya ampun Nabila " Mata Aldrich terpejam , lalu telapak tangan nya menepuk jidat dirinya sendiri hingga pinggung nya lansung bersandar di sofa.
" Ini anak kamu yang mau , bukan aku " Bibir Nabila cemeberut , alis nya berkerut dengan tatapan kesal . " Tadi nanya mau apa , giliran di jawab malah tepuk jidat , males banget aku sama kamu mas " Wanita itu mengomel , kaki nya beranjak pergi meninggal kan Aldrich lalu menghilang di balik pintu kamar mandi .
" Ya kali nyari martabak telor subuh-subuh gini , mending tengah malem yang dagang berserakan , lah ini jam setengah lima siapa yang mau jualan " Cecar Aldrich , jemari tangan nya meremas rambut nya kuat.
Aldrich hanya terdiam , ketika mendengan suara gemercik air dengan suara Nabila mengomel di dalam kamar mandi .
Dua puluh menit Aldrich menunggu Nabila , akhir nya ibu hamil dengan perut yang masih rata itu keluar mengenakan bathrobe dengan lilitan handuk di kepala nya .
Wangi , segar dan pasti nya terlihat sangat cantik di mata suami tampan nya.
" Sayang " Panggil Aldrich dengan senyum , namun berbeda dengan Nabila yang menatap nya tajam tampa ekspresi sedikit pun .
" Jangan marah-marah terus , nanti malem kita cari yah " Ujar Aldrich , kaki nya terus berjalan mengikis jarak antara dirinya dan Nabila.
" Ga marah - marah , cuma kesel aja sama mas " Jawab Nabila pelan.
Istri nya terus menggerutu , namun tidak membuat Aldrich merasa marah pada Nabila , justru Aldrich merasa lucu dengan tingkah Nabila saat ini .
Tangan kekar nya memeluk perut Nabila dari belakang , denga kepala yang bertumpu di bahu Nabila. Dengan mata terpejam Aldrich terus mencium leher jenjang Nabila .
-Cup..
" Mass " Nabila merancau.
" Hemmmm" Gumam Aldrich .
Aldrich lansung membalikan tubuh Nabila , menatap netra yang sudah memandang nya sendu .
" Seperti nya kamu butuh hiburan " Ujar Aldrich .
" Hah ?? " Nabila menatap Aldrich penuh tanya .
Tampa menjelas kan terlebih dulu , Aldrich lansung menyambar bibir ramun milik istrinya tersebut .
Awal nya tangan mungil itu terus memukul dada Aldrich dan tubuh yang terus memberontak , namun akhir nya Nabila menyerah ketika tangan Aldrich mencengkram tangan nya kuat .
Pautan bibit pun terlepas , deru nafas kedua nya saling bersahutan , mata kedua nya saling memandang , menatap satu sama lain.Memberi signal bahwa kedua nya sudah sangat merindukan sentuhan satu sama lain .
" Aku janjin , akan bermain sangat lembut " Bisik Aldrich dibtelinga Nabila , hingga membuat wanita itu menggeliat dengan mata terpejam.
Bibir kedua nya kembali bertemu , suara decapan pun mulai terdengar nyaring .
Satu tangan Aldrich meraup kepala Nabila , mendorong untuk memperdalam ciuman nya .
" Emmmmmhhhh " Suara desahan Nabila tertahan.
Aldrich tersenyum , lalu memangku Nabila seperti bayi koala tampa melepas kan pautan bibir nya .
Kaki nya terus melangkah , berjalan perlahan menuju ranjang yan sudah lama tidak terdengar berdecit oleh aktifitas ranjang kedua nya.
Nabila pun suda berbaring , bathrobe yang ia kenakan sedikit tergeser ke atas , hingga mampu memperlihat kan paha putih dan mulus nya.
Tangan suami nya bermain nakal di atas kulit paha Nabila , lalu merayap ke arah tali dan menarik nya perlahan .
Sememtata mata Aldrich terus menatap wanita yang sedang berada dalam kungkungan nya dengan mata terpejam dan menggigit bibir bawah nya .
" Sayang ! buka mata ku " Bisik Aldrich .
Mata Nabila pun terbuka , pandangan nya melihat Aldrich yang sudah bertelanjang dada , memperlihat kan roti sobek nya.
" Mas usia nya baru delapan minggu " Lirih Nabila .
" Tidak apa , aku akan melakukan nya pelan " Jelas Aldrich , mencoba meyakin kan Nabila dengan senyum nakal nya .
Tangan Aldrich terus menelusuri setiap lekuk tubuh indah istrinya.
Hingga entah bagai mana Aldrich pun sudah tidak mengenakan satu helai benang pun .
" Mas !! " Nabila sedikit berteriak ketika Aldrich akan menghujam kan senjata milik nya .
" Kenapa " Sontak Aldrich menhentikan nya sesaat .
" Kenapa sekarang ukuran nya lebih besar " Cicit Nabila , raut wajah nya terlihat panik , beberapa kali ia pun menggeser tubuh nya menjauha dari Aldrich , namun itu sia-sia ! Aldrich terus menarik kaki nya hingga kembali mendekat .
Suaminya hanya tersenyum nakal , lalu kembali pada kegiatan nya yang tertunda .
Pinggul Aldrich mulai mendorong , perlahan memaksa masuk ke dalam terowongan rahasia milik istrinya .
" EMMMMMMMMHHHHHHH " Suara kedua nya terdengar jelas di dalam ruangan.
Tangan Nabila meremas kuat lengan kekar suaminya , mata nya terus terpajam, bibir bawah nya pun terus tergigit dengan dada yang sudah membusung , menerina kenikmatan yang Aldrich berikan .
Suara erotis pun sudah saling bersautan , entah kenapa Nabila terus berteriak , padahal Aldrich sudah bermain sehalus mungkin .
Untung saja kamar nya kedap suara , kalau tidak ! Bayu dan Sinta akan datang dan mengetuk pintu kamar Aldrich untuk memastika kejadian apa yang membuat menantu kesayangan nya terus menjerit .
TBCπππππ
...ππΌπΌπΌπΌπΌπ...
JANGAN LUPA GIFH ,LIKE DAN VOTE NYA GUYS , BIAR MAKIN SEMANGAT UPDATE NYA .
DOA IN AUTHOR YA SEKARANG LAGI BERSIN-BESIN , CUACA NYA EXTREM SEKALI, PAGI SAMPAI SIANG PANAS ,SORE NYA HUJAM LEBAT π€§.