
Mobil BMW hitam 320i keluaran terbaru milik Aldrich , berjalan cukup kencang di bawah kucuran air hujan yang cukup daras .
Mata elang nya terua fokus mematap ke arah depan , meneliti lebih tajam jalanan yang kini sudah tergenang banyak nya air hujan .
Beberapa kali mata nya melirik seorang yang tengah tertidur di kursi sebelah kemudi dengan sangat nyanyak nya .
Sudah dua kali dalam perjalanan ini Nabila terlihat tertidur pulas .
" Kau kelelahan sayang ?!" Kata Aldrich lirih.
Salah satu tangan Aldrich pun menggenggam tangan kecil di sebelah nya , beberapa kali Aldrich mencium nya hingga membuat Nabila mengerjap terbangun .
" Mas ?" Suara serak Nabila pun terdengar , tubuh nya sedikit bergeser membetulkan duduk nya kembali .
" Sayang ! mas tidak berniat membangun kan mu " Jelas Aldrich dengan tangan yang terus menggenggam tangan istri kecil nya itu.
" Tidak , maaf kan aku selalu tertidur " Sahut Nabila sambil menguap .
" Hujan nya sangat deras sayang ! hari juga sudah mulai malam , apa kita menginap di hotel dulu ?" Tanya Aldrich .
" Baiklah , itu lebih baik " Kata Nabila .
Sesuai kesepakatan , akhir nya Aldrich membelokan mobil masuk ke dalam salah satu parkiran hotel .
" Kita samapai " Kata Aldrich .
Nabila pun menganguk , lalu tersenyum .Ketika ia turun tak lupa tangan nya membuka pintu bagian belakang .
Ia membawa beberapa paperbag berisi baju nya dan Aldrich yang tadi ia beli terlebih dulu .
" Sayang biar mas yang bawa" Aldrich lalu mengambil alis barang bawaan .
" Terimakasih sayang " Ucap Nabila .
Dua sejoli yang masih di mabuk cinta itu pun berjalan beriringan , setelah berdiri beberapa menit di depan meja resepsionis.
Akhir nya Nabila dan Aldrich pun berjalan ke arah pintu Lift.
โTingg..
Pinti lift pun terbuka , dengan langkah cepat Aldrich dan Nabila pun masuk , lalu jemari Aldrich menekan angka sepuluh .
โTingg..
pintu lift kembali terbuka , kaki kedua nya kembali beranjak , mata nya terus meneliti setiap pintu kamar hotel yang berjajar.
" 247 B " Kata Aldrich ketika terhenti di salah satu pintu .
Pria itu terlihat mengusap kan accsess card nya .
โTlitt..
Pintu terbuka .
Dengan satu sikut tangan nya Aldrich menahan pintu , membiar kan Nabila masuk terlebih dulu , lalu melepas kan nya begitu saja, membiar kan pintu tertutup kembali.
Mata nya terlihat tampak lelah , namun siapa sangka langkah kaki Nabila justru tertuju pada sofa dengan pemandangan lampu-lampu kota yang terlihat indah dari atas sini .
Seperti selalu mengagumi ke indahan lampu malam di atas ketinggian , Nabila pun duduk di sofa dengan pandangan yang terarah keluar.
" Sayang bukan kah kau lelah ? waktu di mobil kau tidur sampai dua kali " Jelas Aldrich .
" Ya , tapi pemandangan disini indah " Sahut Nabila.
Aldrich pun mengulum senyum , laku berjalan mendekat ke arah Nabila setelah terlebih dulu ia meletakan paperbag yang ia bawa .
" Bukan kah di apartemen kita kau selalu melakukan nya ?"Tanta Aldrich .
Memang benar yang di katakan Aldrich , ketika malam hari Nabila lebih sering duduk di sofa dekat jendela dengan segelas coklat hangat.
" Hemmmmm..Tapi aku sangat menyukai lampu-lampu kota di malam hari " Sahut Nabila .
" Apa sekarang kamu mau aku pesan kan coklat panas ?"
Dengan cepat Nabila menggeleng kan kepala nya.
" Duduklah " Nabila menepuk sisi kosong di sofa besar yang ia duduki.
Aldrich pun menurut , ia duduk di samping Nabila , tubuh kecil itu pun langsung memeluk Aldrich .Tangan nya melilit di pinggang pria itu ,tampak kepala Nabila tersandar di dada bidang milik nya.
" Mas ! apa mami benar-benar sudah menerima ku?" Tanya Nabila lirih.
" Kita berdoa saja semoga itu benar " Ucap Aldrich , tak henti nya tangan kekar itu menelus lembut rambut panjang Nabila.
" Aku takut , mami akan meminta ku meninggal kan mu mas " Suara Nabila pun terdengan sudah terisak .
" Suhhhtt hey ! jangan menangis sayang !" Kata Aldrich , telapak tangan nya menarik wajah Nabila , hingga memperlihat kan wajah yang sudah memerah dengan air mata yang sudah bercucuran.
" Aku takut mas , kamu suami aku , cinta pertama aku dan pria pertama yang menyentuh ku " Kata Nabila.
Aldrich pun kembali mengulum senyum .
" Sayang ! boleh kah aku meminta sesuatu ?" Tanya Aldrich.
" Ya !".
" Bisakah kamu berubah jadi singa betina ketika ancaman itu datang kepada kita " Tanya Aldrich .
" Maksud ku , kamu harus egois .Tidak boleh membiar kan orang lain mengambil milik mu " Jelas Aldrich kembali.
" Aku akan melakukan nya mas " Jawab Nabila.
Aldrich kembali membawa Nabila dalam dekapan nya , bibir Aldrich kembali tersenyum .
" Apa aku boleh minta sesuatu yang lain ?" Bisik Aldrich di telinga Nabila , dengan sedikit gigitan nakal.
Mengetahui apa maksud Aldrich , Nabila mengangguk.
Kepala Nabila seketika mendongkat , mata nya menatap seorang pria tampan yang kini tengah tersenyum pada dirinya.
Namun secara cepat Aldrich menyambar bibir Nabila , ia langsung melahap nya tanpa ampun .
Tangan nya mulai mengangkat Nabila ke arah tempat tidur tanpa melepas kan pautan bibir yang terus berdecap.
" Ehhhhhhmmmmm" Tangan Nabila pun memukul keras dada Aldrich ketika Aldrich menggigit bibir Nabila sedikit lebih kencang.
Aldrich menghenti kan aksi nya , manik Aldrich menatap lekat seorang yang kini berada di bawah kukungan nya dengan tatapan yang di penuhi kabut gairah .
Beberapa kali ibu jari Aldrich mengusap bibir Nabila , sebelum benar-benar ia kembali menyesap nya.
Hujan di luar pun terdengar semakin deras , suara desahan yang tertahan dan decapan indah itu pun terdengan memenuhi ruang kamar.
" Emmmh mas " Rancau Nabila , ketika Aldrich memain kan aset kembar milik nya .
Tangan Nabila terus meremas rambut Aldrich , dengan mata terpejam dan bibir bawah yang ia gigit membuat Aldrich sudah tak mampu membendung nya lagi .
Dengan permainan yang terus berjalan tanpa henti , satu tangan Aldrich berusaha membuka seluruh kancing kemeja milik nya , hingga beberapa saat , ia dan Nabila pun sudah sama-sama tanpa penghalang sedikit pun .
Aldrich menatap lama Nabila , hingga membuat Nabila mengalih kan pandangan nya karena merasa malu.
Sungguh Nabila merasa sangat malu , ketika Aldrich menatap nya nakal .
" Sayang lihat aku " Kata Aldrich dengan suara yang terdengar parau.
" Aku malu ! kenapa mas menatap ku seperti itu ?" Tanya Nabila.
" Ini pertama kali nya aku melihat mu dengan lampu menyala " Jelas Aldrich.
Mendengar pernyataan Aldrich justru membuat Nabila semakin malu , pipi nya terasa panas , hingga ia tak mampu memangling kan wajah nya kepada Aldrich , ia terus melihat ke arah lain hingga Aldrich mulai menuju kan benda milik nya ke arah Nabila.
" Emmmmmh " Suara desahan tertahan Nabila pun terdengar , ketika milik Aldrich sudah berada di dalam milik nya .
" Mas !!" Pekik Nabila dengan jemari tangan yang mencengkran salah satu lengan Aldrich secara kencang .
" AHHH " Suara Aldrich pun terdengar .
Suara erotis itu pun terdengar memenuhi kamar , berpadu dengan deras nya suara hujan di luar sana , yang menjadi saksi malam indah yang Aldrich kembali lakukan bersama Nabila.
Beberapa kali Nabila menjerit , ketika Aldrich mengehentakan nya begitu kencang.
Tangan nya terus meremas seprai dan lengan Aldrich , sementara pria itu tidak merasa terganggu dengan goresan memerah yang Nabila berikan untuk nya .
UDAH AH , KALIAN LANJUTIN AJA SENDIRI .AUTHOR PERGI DULU DADAH SEMUA ๐๐
...๐๐๐๐๐...
JANGAN LUPA TINGGAL KAN JEJAK , JANGAN LUPA LIKE ,KOMEN DAN VOTE . TERIMAKASIH YANG MASIH SETIA KAWAL AUTHOR SAMPAI SAAT INI ๐ฅฐ๐โค