
💐
💐
"Babababababa..!"Celoteh Giandra yang sedang berada dalam pangkuan ayah nya.
"Apa? kamu mau curhat soal apa?"Ujar Feri sambil terus menatap putra kecil nya yang sesekali menyesap tangan kecil nya, sampai air liur Giadra penuh membasahi baju yang sedang ia kenakan.
"Maaaa!"Ucap Giandra kembali.
"Mommy mandi dulu, kenapa? mau mimi cucu yah!"Cicit Feri, lalu mencium gemas pipi gembul putra tampan nya.
Pemandangan pagi yang sangat romantis, kedua nya terus berceloteh, saling berbicara walau kedua nya tentu tidak mengerti apa yang mereka ucap kan.
—Klek..
Pinti kamar terbuka, munculah Indri dengan ke adaan yang telihat sangat segar.
"Yeay,... mommy selesai!"Sorak Feri sambil terus menatap ke arah istri cantik nya.
"Mas ganti baju dulu atau seperti itu?"Tanya Indri, langkah kaki nya terus berjalan menuju sofa ruang tengah di mana putra dan suami tampan nya berada.
"Udah gini aja, mau berangkat sekarang?"Tanya Feri.
"Iya jalan kaki saja yah, toh rumah Queen deket."Tukas Indri.
Feri mengangguk.
—Cup..
"Kamu cantik, aku jadi nggak mau berangkat!"Bisik Feri tepat di telinga Indri.
"Loh, udah janji loh sama mami."Cicit Indri.
"Aku kangen, satu ronde yah?"Feri memain kan kedua alis nya, sambil menatap Indri penuh godaan.
"Udah siang, Gian juga bangun!"Sergah Indri.
"Sebentar!"Suara Feri merendah, tatapan nya sudah berubah, lalu merik tangan Indri dan berjalan ke arah kamar.
—Ceklek..
Feri mengunci pintu kamar nya, lalu memberikan Gian pada Indri untuk ia simpan di dalam baby box.
"Aku tidurin dulu Gian nya sebentar."Indri menatap ke arah Feri.
Pria itu menggeleng kan kepal nya, lalu berjalan menghampiri Indri.
"Gian nggak rewel, dia pasti tidur dengan sendiri nya!"Bisik Feri tepat di daun telinga Indri, dengan kedua tangan merangkul pinggang kecil istrinya.
Tangan Indri bertumpu pada lengan Feri, ia menoleh, menatap wajah Feri yang sedang tetbenam di tengkuk nya.
"Kamu nggak sabaran."Ujar Indri.
Feri langsung membalikan tubuh Indri agar menghadap ke arah nya, menatap iris kecoklatan yang sangat indah, lalu memangut kedua belahan kenyal milik istrinya dengan lembut.
Kaki Indri mulai berjinjit untuk mengimbangi Feri, kedua tangan nya merangkul erat bahu kekar suaminya, sambil terus membalas pangutan bibir yang terus di perdalam Feri.
"Bisa kita mulai sekarang? hari sudah semakin siang dan mereka sedang menunggu kita."Tanya nya dengan kening yang saling menempel di jeda cumbuan yang terhenti.
"Hemph,... kita harus cepat."Balas Indri berbisik.
Tampa menunggu lebih lama lagi, Feri langsung mengangkat tubuh Indri, membawa nya ke arah tempat tidur lalu melempar rubuh istrinya pelan.
—Brukk..
Feri menarik kaos polos yang di kenakan nya, terus menanggal kan setiap kain yang menempel, hingga pria itu polos tampa sehelai benang pun dengan milik nya yang sudah siap tempur.
Tangan penuh dengan urat otot itu terulur, menatik dress yang di kenakan Indri sampai terlepas, lalu turun untuk membuka penghalang gerbang surga dunia sampai kedua nya sama-sama polos tak terhalang apapun.
Tangan Indri berusaha menutupi bekas luka operasi di perut dengan telapak tangan nya.
"Kenapa?"Feri menarik tangan Indri, dan membiarkan luka itu terlihat nyata tampa harus Indri sembunyikan.
"Aku udah nggak seksi lagi mas!"Ucap nya lirih.
"Ngh...!"Indri melengguh, mata nya terpejam tekika Feri mulai memasuki nya perlahan.
Setelah milik nya terbenam sempurna, Feri sedikit membungkuk, meraih kening Indri untuk di kecup.
—Cup...
"Kamu tetap cantik, dan tidak pernah membuat singa dalam diriku damai ketika melihat tubuh mu walau tertutup baju tebal sekali pun."Ujar nya pelan, namun sangat terdengar seksi.
Indri tersenyum, lalu membalas kecupan di bibir suaminya, pandangan mata nya berbinar denga kedua tanga merangkul erat tubuh yang berada di atas nya.
Suara erangan, rintihan dan desahan terus bersahutan memenuhi ruang kamar.Untung saja kamar yang di tempati kedua nya memiliki peredam suara, hingga ketika Indri terus berteriak pun tidak akan ada yang bisa mendengar nya.
^
^
Aldrich mendengus kesal, beberapa kali pria itu melihat jam yang melingkar di tangan nya.
"Feri kemana sih?"Cicit Aldrich.
"Sabar, mungkin Giandra nya rewel."Jelas Nabila sambil mengusap lengan suaminya.
Suasana kediaman Aldrich kini terlihat ramai, dengan banyak nya hiasan balon berwarna pink di setiap sudut ruangan.
Ada Raynan dan Asila yang sudah datang, dengan perut Asila yang kini terlihat semakin membesar ketika usia kandungan nya terus semakin bertambah.
Begitupun dengan si kecil Queen, gadis kecil yang baru saja akan melangsung kan ulang tahun pertama nya terus berlari, membuat semua orang kelimpungan di buat nya.
"Dad,...dad!"Panggil nya kepada Aldrich.
"Yes darling?"Aldrich berjongkok untuk meraih gadis kecil manja nya.
"Astaga untunglah, dia sudah berada di pangkuan ayah nya!"Ucap Sinta yang terus berlari menemani cucu nya bermain.
Aldrich langsung menatap putri nya.
"Jangan lari-lari Queen!"Ucap Aldrich sambil tersenyum, namun terdengar tegas.
"So solly dad."Ucap nya lalu menundukan kepala.
Nabila terkekeuh, ketika melihat putri nya langsung tertunduk ketika mendapat teguran dari ayah nya.
"Mommy bilang apa Queen, jangan pernah membuat Daddy mu berbicara tegas, dia sangat menakut kan."Tukas Nabila sambil terus tertawa.
"Akhir nya dateng juga!"Raynan berteriak ketika Indri datang bersama Giandra yang tertidur pulas di gendongan Feri.
"Lama banget si loh!"Teriak Aldrich.
"Kita susah bangunin Gian, dia terus tertidur.Tadi nya mau menunggu dia samapi bangun, tapi mungkin kami datang ketika acara nya sudah selesai."Jelas Indri dengan senyum canggung nya.
Acara segera di mulai ketika orang yang di tunggu telah datang.Tidak terlalu banyak orang, karena hanya orang-orang terdekat saja yang di undang untuk menghadiri perayaan ulang tahun pertama putri pemilik Mahardika Group.
Nyanyian ucapan selamat, acara potong kue pun berjalan sebagai mana mesti nya.Sampai kini akhirnya semua orang hanya duduk santai dengan hidangan yang di sediakan keluarga Mahardika.
"Sila, gimana? baby nya cewek apa cowok?"Tanya Indri.
"Perkiraan sementara sih cewek Dri, tapi kata nya masih bisa berubah-ubah sampai lahiran nanti."Sahut Asila.
Seperti hal nya para istri yang asik berbincang, para suami siaga pun sama, namun dengan kegiatan lain, yaitu saling menjaga anak nya masing-masing, terkecuali Raynan, pria itu masih terlihat santai karena bayi nya masih dalam pangkuan sang istri.
Akhir nya mereka hidup bahagia.Nabila yang kini sudah menjadi menantu ke sayangan Sinta.
Indri yang sudah mendapat kasih sayang penuh dari suami dan orang-orang terdekat nya saat ini.
Pun dengan Asila yang kini menjadi prioritas pertama Raynan, pria itu melindungi Asila lebih dari dirinya sendiri.
...Tamat....
Terimakasih telah berkenan membaca cerita othor, banyak sekali kekurangan dari judul ke dua yang othor bikin, typo bahkan penempatan kata yang kurang tepat. Othor janji akan terus memperbaiki semua, bahkan setelah ini othor mau chek dari awal agar cerita dari Aldrich dan Nabila ini sedikit lebih tertata.
ILY ALL💜💜💜💜