
Tepat pukul sembilan malam Asila sampai di kota kelahiran nya bersama Raynan dan keluarga.
"Mah, Raynan antar Asila pulang dulu!"Ucap nya kepada Yulia yang sudah berada di dalam mobil travel untuk segera menuju hotel dan beristirahat.
"Asila, kenapa nggak ikut ke hotel saja bareng kita!"Tanya Maura kepada Asila.
"Tidak usah ka, saya pulang saja.Asila pamit pulang mah, pah, ka Maura."Asila mengangguk lalu berjalan mencari taxi bersama Raynan yang berjalan sambil menarik koper berukuran sedang milik Asila.
"Taxi!"Raynan melambaikan tangan nya.
"Kenapa panggil taxi yang itu?!"Asila menyenggol pinggang Raynan.
"Lah kenapa?"Raynan bingung.
"Pake yang biru aja! yang silver itu mahal!"Bisik Asila.
"Uangku banyak Asila, membayar taxi itu tidak akan membuat ku lansung bangkrut."Jelas Raynan pandangan mata nya ke bawah menatap Asila.
"Sombong amat!"Ledek nya.
Mobil hitam yang di panggil Raynan pun berhenti tepat di hadapan kedua nya.
–Brugh..
Seorang pria memakai stelan baju serbahitam turun, berjalan memutari mobil lalu menghapiri Raynan.
"Pak tolong!"Ucap Raynan sambil menyerah kan koper kepada supir taxi tersebut.
Asila dan Raynan masuk kedalam taxi bersamaan.
Beberapa detik menunggu di dalam mobil terlebih dulu, akhirnya pria yang baru saja selesai memasukan koper nya di bagasi sudah kembali duduk di kursi kemudi.
"Tujuan nya kemana bu?"Tanya nya sambil melihat ke arah Asila dari cermin di hadapa nya.
"Ke Perumahan Green Hills ya pak,"Pinta Asila.
Terlihat pria di hadapan nya mengangguk.
Punggung Asila yang sudah terasa sangat lelah dan pegal pun tersandar.
"Jauh?"Tanya Raynan.
"Empat puluh lima menit."Sahut Asila, perlahan mata nya menutup, rasa lelah nya benar-benar tidak bisa di tahan lagi.
Raynan melihat Asila yang menyandarkan kepala nya di jendela kaca mobil dengan mata yang sudah terpejam, seketika tubuh nya mendekat lalu meraih Asila untuk menyandar kan kepala di bahu nya.
"Nggak usah protes!"Kata Raynan ketika Asila langsung membuka mata dan menatap nya penuh tanya.
Asila hanya diam, lalu kembali memejamkan mata nya setelah kepala nya tersandar di bahu Raynan.
Mobil yang di tumpangi Raynan dan Asila pun terus melaju dengan kecepatan sedang.
Mata Raynan pun terus melihat Asila yang beberapa kali akan menjatuh kan kepala nya, Raynan lansung menahan kepala Asila terlebih dulu, lalu membawa nya kedalam dekapan Raynan.
–Cup..
"Cape banget kaya nya!"Bisik Raynan dengan jemari yang bermain dengan anak rambut yang mulai mengganggu wajah Asila, lalu menyemat kan nya di telinga.
Empat puluh menit berlalu, akhir nya mobil berhenti tepat di portal perumaha Green Hills.
"Asila!"Panggil Raynan.
"Asila!"Panggil nya kembali sambil menepuk pelan pipi nya.
"Hemmm."Gumam wanita yang tertidur pulas di pelukan nya.
"Ini Sudah di Green Hills!"Ujar Raynan.
Asila pun bangun, lalu mengerjap kan mata nya perlahan.
"Lurus dulu saja pak, mentok belok kiri."Kata Asila.
Mobil pun kembali berjalan, lalu Asila menyuruh nya berhenti setelah beberapa meter mobil berbelok.
"Di sini pak!"Ujar Asila.
Setelah mobil berhenti, dengan cepat supir taxi kembali turun dan membawa koper Asila yang di simpan di bagasi.
"Ini koper nya pak."Raynan mengangguk, lalu memberikan ongkos nya.
"Kelebihan pak!"Cicit nya sambil melihat Raynan.
"Ambil saja."Sahut nya ramah, lalu tersenyum dan berjalan ke arah Asila yang berdiri di depan gerbang rumah sambil terus menatap Raynan.
Mata Raynan pun terus melirik kesana-kemari melihat ke adaan perumahan yang bisa di bilang cukup mewah, lalu kenapa Asila bekerja sebagai babysiter? sedang kan ia kelihatan orang dengan ekonomi menengah ke atas! pikir nya.
"Ayo masuk!"Ajak Asila sambil membuka gerbang rumah nya.
"Ini rumah kamu?"Raynan penasaran.
"Orang tua ku Ray."Sahut Asila.
Kedua nya berjalan masuk ke dalama pekarangan rumah.
TOK..TOK..TOK..
"Bu!"Panggil Asila.
TOK..TOK..TOK..
"Ibu! Asila pulang."Panggil nya kembali.
—Klek..
Wanita dengan perawakan pendek, dan rambut yang sudah mulai memutih membuka pintu.Lama mata nya menatap Asila, lalu memeluk nya sambil menangis.
"Akhirnya kamu pulang juga nduk."Ucap nya sambil menangis.
Tidak ada sahutan dari wanita di samping Raynan, Asila hanya terus mengusap punggung sang ibu yang kini menangis di pelukan nya.
"Ibu takut kamu nggak pulang lagi selama nya."Ucap nya kembali.
"Asila pulang bu! sama Raynan."Jelas nya lalu melepas kan pelukan.
"Ayok ajak temen mu masuk!"Titah nya lalu membuka kan pintu rumah nya lebar-labar.
"Asila!"Panggil nya.
"Bapak!"Asila langsung memeluk pria paruh baya, dengan perawakan tinggi besar.
"Kamu pulang nak?"
"Iya hiks..hiks..hiks."Asila terdengar menangis.
Sementara Raynan terlihat bingun, kenapa kedua orang tua Asila menyambut nya dengan penuh air mata, berapa lama Asila tidak pulang? Raynan bertanya-tanya.
"Pak, buk, ini Raynan."Tutur Asila tersenyum ke arah pria yang terus berdiri di ambang pintu.
"Selamat malam, pak..buk!"Sapa Raynan lalu mencium punggung tangan kedua nya.
"Silah kan duduk, terimakasih sudah mau antar anak saya pulang!"Ucap Joko.
"Terimakasih pak, ini sudah menjadi ke wajiban saya."Sahut Raynan.
Raynan dan ayah Asila pun duduk, namun Asila dan Mina beranjak pergi ke arah dapur untuk membuat kan minun untuk ayah dan calon suaminya.
"Siapa Rayanan nduk?"Tanya Mina.
"Nanti ibu tahu sendiri!"Sahut Asila tersenyum.
"Guanteng loh ya."Jelas nya.
Asila tidak menjawab, wanita itu hanya tersenyum sambil membantu ibu nya membuat kan teh manis hangat.
Beberapa kali Raynan gagal fokus dengan foto-foto yang terpajang.
Ada foto Asila yang tengah mengenakan toga, dengan gelar S1 Sarjana Ekonomi.
Asila Sarjana Ekonomi? tapi kenapa mau jadi babysiter! sebenar nya ada apa dengan masa lalu Asila? gumam Raynan.
Yang paling mencuri perhatian adalah foto ayah Asila yang terlihat sedikit lebih muda dan mengenakan seragam loreng hijau.
"Nak Raynan ini dari mana?"Tanya nya.
"Saya dari Kota Dewata pak."Sahut Raynan.
"Oh kota sebrang ternyata."Timpal Joko yang langsung di angguki Raynan.
Beberapa menit Asila meninggal kan Raynan, akhir nya wanita itu kembali sambil membawa nampan dengan dua gelas teh manis hangat.
"Raynan di minum teh manis nya, biar badan nya hangat."Kata Asila lalu duduk di samping nya.
"Terimakasih nak Raynan sudah memgantar anak saya pulang, hampir empat tahun dia pergi dari rumah!"Kata Mina sambil tertawa.
"Ibu!!"Cicit Asila agar ibu nya tidak melanjut kan pembicaraan.
"Empat tahun? kenapa? ada masalah apa sampai kamu nggak pulang selama itu?"Raynan menatap Asila penuh tanya.
Asila terdiam.
"Pak..buk..Raynan mau ngomong sesuatu."Asila mengalih kan topik pembicaraan.
"Oh ya? apa?"Mina dan Joko berbinar.
"Eee...jadi saya punya niat baik sama Asila pak!"Ujar Raynan.
"Baik?!"Tanya Joko.
"Besok saya kembali kesini, bersama orang tua saya."Jelas Raynan.
Wajah kedua orang tua Asila berbinar, terlihat begitu bahagia.
Tapi ada sedikit ke khawatiran dari tatapan mata nya.
"Tapi apa nak Raynan sudah tahu?"Tanya Joko."Kalau Asila sudah pernah menikah?"Ujar nya.
Raynan mengangguk.
"Saya dan ke dua orang tua saya sudah tahu, dan itu bukan masalah bagi kami."Jelas Raynan.
Mina dan Joko pun terlihat lega.
Lama berbicang, tidak terasa malam semakin larut, hingga Raynan memutus kan untuk undur diri.
"Saya pamit pak..buk.."Ucap Raynan sesudah mencium tangan kedua nya.
"Iya hati-hati!"Pesan kedua orang tua Asila.
Raynan mengangguk, lalu berjalan ke arah luar di antar Asila untuk menemai Raynan mencari taxi.
"Kamu hutang penjelasan sama aku!"Bisik Raynan.
"Penjelasan apa?"Asila pura-pura tidak tahu.
"Asila!"Raynan menatap nya tajam.
"Taxi!!"Asila melambai kan tangan.
"Dasar tukang ngeles!"Cicit Raynan.
"Hati-hati ya calon suamiku sayang!"Kata Asila sambil tersenyum dan membuka kan pintu untuk Raynan dan mendorong nya agar segera masuk.
"Awas ya kamu!"Ancam Raynan kesal.
"I love you to."
Brugh..
Pintu mobil tertutup, lalu mobil taxi yang di tumpangi Raynan mulai melaju perlahan keluar dari perumahan nya.
"Aku jelasin kalau udah siap Ray."Gumam Asila sambil terus menatap taxi yang mulai menjauh dari pandangan nya.
...TBC🍀🍀🍀...
...FOLLOW, LIKE, VOTE, DAN KOMEN....
...JANGAN LUPA!!🤧🤧...