
Jam sudah menunjukan pukul setengah enam pagi , tapi kedua nya masih terlelap di bawah gulungan selimut tebal berwarna putih .
Indri tertidur sangat nyenyak setelah pergulatan panas nya bersama Feri, wajah nya terus menempel di dada bidang Feri , dengan lengan kekar yang menjadi tumpuan kepala yang begitu nyaman bagi nya .
" Aww !" Cicit Indri tampa membuka mata, ketika merenggang kan otot tubuh , dan merasa kan bagian intim nya begitu perih .
Mendengar rintihan Indri , Feri lansung mengerjap kan mata nya perlahan.
Lalu melihat wajah istri nya dengan mata yang masih tertutup .
Bibir nya kembali tersenyum , jemari tangan Feri terus menyingkir kan helai rambut yang menghalangi wajah cantik Indri di celah telinga nya.
Dengan lembut Feri terus membelai pipi Indri , meneliti setiap inci waja istrinya yang sangat cantik.
Sungguh raut wajah bahagia terus pria itu pancar kan , tidak biasa nya ia selalu tersenyum seperti hari ini .
" Terimakasih telah membuat hari-hari ku lebih bahagia , sekarang kau adalah alasan ku untuk terus bertahan di dunia ini ," Kata Feri , pandangan mata nya terus menatap Indri .
Tubuh mungil itu kembali menggeliat , merenggang kan kembali otot-otot tubuh nya yang terasa kaku .
Mata nya mengerjap perlahan , pemandangan pagi ini yang pertama kali Indri lihat adalah senyuman indah Feri yang di tuju kan pada dirinya .
" Morning beb ," Ujar Feri , pria itu berbaring miring , menatap dirinya dengan sikut yang menjadi tumpuan kepala nya .
" Selamat pagi Feri ," Sahut Indri yang kembali menutup kan mata nya .
-Cup
Seketika tubuh Indri menegang ketika mendapat kan ciuman di bibir dari Feri secara tiba-tiba.
"Morning kiss babe ," Kata Feri seraya tersenyum .
Namun bukan nya membalas senyuman dari suaminya , Indri malah menarik selimut untuk menutupi wajah nya yang sudah bersemu merah .
Tubuh Feri terus bergeser mengikis jarak di antar kedua nya , tangan kekar nya meraih tubuh mungil yang tegulung selimut , hingga tidak ada jarak sedikit pun antara Feri dan Indri.
Indri terus berteriak , ketika Feri terus menarik selimut yang kini tengah menyembunyikan wajah nya .
" Buka sayang !!" Titah Feri sambil terus menarik selimut yang di tahan Indri sekuat tenaga .
" Nggak mau ," Sahut Indri .
" Buka !"
" Nggak mau , kamu aneh ," Jelas Indri .
" Apa nya yang aneh ?!" Tanya Feri sambil tergelak karena tingkah lucu istrinya.
" Aaaaaaaaaaaaaa ....!"
Teriakan Indri begitu kencang , sampai membuat telinga Feri sedikit berdenging ketika tangan Feri berhasil menarik selimut yang membungkus tubuh tampa sehelai benang pun milik Indri .
Pria itu tertegung ketika melihat tubuh putih milik Indri di penuhi dengan tanda merah ke unguan .
Brukkhhh...
"Ahahahahah ," Feri tertawa ketika melihat wajah kesal Indri , lalu melempari nya dengan bantal .
" Feri !! " Rengek nya kesal .
" Eh ko masih manggil nama ! nggak sopan sekali !" Jelas Feri ,sambil menatap Indri tajam .
" Yaudah maaf om ," Ledek Indri , tubuh nya sedikit bergeser lalu meraih selimut dan menutupi tubuh nya kembali .
Sedang asik menjahili istrinya , tiba-tiba saja suara bell apartemen nya berbunyi , dan dengan cepat Feri beranjak pergi untuk segera membuka kan pintu .
Tap..
Tap..
Tap..
Langkah nya sedikit berlari , lalu membuka pintu apartemen nya .
Ceklek ...
" Pak ini semua keperluan untuk bu Indri ," Kata Sandi sambil menyerah ken beberapa paperbag kepada Feri .
"Oke , terimakasih . Saya tidak akan bekerja hari ini , jadi saya serah kan semua urusan pabrik kepada mu !" Jelas Feri , lalu di angguki Sandi .
Sesampai nya di dalam kamar ,Indri sudah tidak berada di atas ranjang .
Suara gemercik air menjadi bukti bahwa wanita itu sudah berada di dalam ,dengan ritual mandi nya.
Drrt...Drrt...
Ponsel milik nya yang berada di atas nakas bergetar , dengan cepat Feri berjalan ke arah tempat tidur , lalu menempel kan benda pipih tersebut di telinga nya .
" Iya Al ?!" Sahut Feri ketika Aldrich memanggil nama nya setelah panggilan tersambung .
" Besok ...besok gw kerja ! hari ini gw gak bisa masuk , ada beberapa hal yang harus gw benahi di apartemen ," Jelas Feri .
" Oke , nanti sore gw bawa Indri ke situ !"
Setelah sambungan telepon nya terputus , Feri kemabali meletakan ponsel nya di atas nakas , pandangan mata nya beralih ketika melihat seprai yang mempunya noda merah yang sedikit berceceran .
Senyum nya kembali merekah ketika Feri mengingat malam indah tadi bersama wanita yang sangat di ingin kan nya sejak lama .
Ceklek ..
Feri kembali memangling kan wajah nya ke arah pintu kamar mandi , manik nya melihat Indri yang sudah terlihat seger berdiri di ambang pintu .
" Apa baju ku sudah ada ?" Tanya Indri tampa bergerak sedikit pun , tangan nya terus berpegangan pada handle pintu .
" Sudah ," Sahut Feri , lalu berjalan ke arah Indri untuk memberikan paperbag berisi beberapa baju untuk di kenakan nya .
" Terimakasih ," Ucap Indri , raut wajah nya muram , terlihat sedang menahan sesuatu yang membuat nya tidak nyaman .
" Are you oke babe ?!" Tanya Feri ketika melihat gaya jalan Indri yang aneh saat wanita itu membalikan tubuh nya .
" Tidak !!" Jawab Indri cepat , lalu melangkah menuju walk in closet .
Merasa khawatir dengan ke adaan istrinya , Feri lansung melangkah cepat untuk menyusul Indri.
Netra nya lansung melihat Indri yang tengah duduk sambil mengenakan dreess rumahan berwarna hitam .
" Apa sakit nya belum hilang ?!" Tanya Feri tiba-tiba , sampai membuat Indri tersentak kaget dan melihat ke arah suaminya .
" Hemmm !! aku baik-baik saja sebelum kamu menghajar ku ," Tutur Indri pelan , raut wajah nya terlihat sangat kesal.
" Oke aku minta maaf , aku akan mengering kan rambut mu sebagai tanda permohonan maaf ku ," Jelas Feri , lalu membawa pengering rambut di salah satu laci .
Indri hanya diam ketika Feri bermain dengan rambut dan hairdryer yang berada di tangan nya.
Mata Indri terus memperhatikan Feri yang sedang serius dari pantulan cermin , dengan ujung bibir nya terlihat melengkung .
Apa dia benar-benar mencintai ku ? .Gumam Indri dalam hati nya .
" Selesai ," Kata Feri , lalu mematikan mesin pengering rambut dan kembali menyimpan nya di laci .
" Terimakasih !" Tutur Indri sambil tersenyum .
Feri hanya menatap nya sekilas , seraya membalas senyuman yang Indri berikan kepada dirinya .
"aaaaah !!" Pekik Indri ketika tubuh nya melayang . " Turunin ! aku masih bisa jalan Fer !"Jelas Indri .
" Diamlah , agar rasa sakit nya tidak terus terasa,"Sahut Feri yang terus berjalan kembali ke arah kamar .
"Feri ! darah apa itu ?!"Tanya Indri , raut wajah nya sangat terkejut .
" Darah perawan lah ! darah apa lagi ," Sahut Feri .
" Oh ... Syukurlah ," Indri mengusap dada nya .
" Syukurlah ??"
" Heem , aku takut itu darah kamu . Sola nya bekas cakaran di punggung kamu rada banyak,"Ujar Indri sambil tersenyum malu .
" Lain kali potong kuku yang bener yah ," Kata Feri yang lansung di tertawakan kedua nya .
Hahahahhaha...
" Ish aku malu ," Rengek nya kepada Feri.
TBC🍀🍀🍀
JANGAN LUPA LIKE , VOTE DAN KOMEN NYA LO GENGS😚🤭