
Setelah pergi mengejar istri nya yang tidak membuah kan hasil.
Aldrich pun lansung beranjak kembali menuju ruang kerja nya.
" Fer backup semua pekerjaan ku " Ujar Aldrich dengan langkah kaki terburu-buru.
Di dalam ruangan nya masih ada Ghina , yang dengan lancang nya duduk di kursi kebesaran nya .
" Ghina kau lancang sekali !" Kata Aldrich ,mata nya memerah ,menahan amarah kepada wanita yang berada di hadapan nya .
" Sayang ! kenapa kau marah ?" Ghina beranjak dari duduk nya ,lalu meng hampiri Aldrich .
" KELUAR DARI RUANGAN KU!!" Tegas Aldrich dingin , mata nya menatap tajam Ghina dengan telujuk yang mengarah keluar .
" Kenapa aku harus pergi ? bukan kah ciuman kita tadi sudah sangat jelas ? bahkan di saksi kan istri mu secara langsung !" Tangan Ghina terbuka , kaki nya terus melangkah , namun ketika Ghina akan memeluk Aldrich.
Dengan cepat pria itu mendorong Ghina .
" AKU BILANG PERGI , KARENA KAU NABILA SALAH PAHAM PADA KU !!, "
" Ini bukan salah paham Al , tapi kenyataan ! bahkan kau sudah menyatakan perasaan mu yang masih tersisa untuk ku " Jelas Ghina pada Aldrich .
Aldrich cukup jengah mendengar pernyataan Ghina , raut wajah pria itu sudah berubah sangat menyeram kan.
Satu tangan kanan nya mencengkram kuat rahang Ghina.
" Pakai telinga mu baik-baik , dan dengar ! kau tidak ada apa-apa nya dengan istriku Nabila , jadi pergilah jangan pernah mengganggu ku atau Nabila lagi "Tangan Aldrich pun mendorong Ghina ,lalu melepas kan cengkraman nya .
Aldrich pun bergegas pergi , tak lupa tangan nya mengambar kunci mobil yang berada di atas nakas ruang kerja nya .
" Feri urus wanita gila itu ! lalu bersih kan ruangan ku " Titah Aldrich , lalu berlari menjauh dari ruangan nya menuju lift .
-Ting..
Pintu lift terbuka , langkah kaki Aldrich pun lansung berlari ke arah parkiran , menghirau kan sapaan para karyawan nya .
Suara mobil Aldrich pun mulai terdengar , dengan kecepan tinggi mobil berwarna putih milik pimpinan MAHARDIKA GROUP melaju keluar dari parkiran gedung menuju jalan utama.
" Bersiap-siap lah Aldrich,istri mu akan menyebut mu laki-laki brengsek dan juga bajingan " Guman Aldrich ,tangan nya terus mencengkram kuat setir mobil .
Sekitar tiga puluh menit Aldrich menempuh perjalan menuju rumah milik kedua orang tua nya.
-Citttttt...
Suara rem mobil pun begitu bising di telinga , ketika mobil dengan kecepatan tinggi berhenti begitu saja di halaman rumah nya .
-Brughh ..
Aldrich membanting pintu mobil sangat kencang,lalu berlari ke dalam rumah.
Kaki nya terus melangkah , menaiki setiap anak tangga ,hingga dia tidak menyadari dua orang yang tengah duduk di sofa sedang memperhatikan dirinya .
Brakkk***
Pintu kamar nya di banting begitu kencang .
" Sayang !!" Panggil Aldrich sedikit berteriak .
" Sayang ?" Aldrich mencari Nabila di setiap sudut kamar .
Tulang kaki nya terasa begitu lemas , lalu Aldrich duduk begitu saja di atas ranjang .
Tatapan nya kosong , Aldrich berusaha keras mengingat tempat yang akan Nabila datangi kala ia ingin menenangkan diri .
Namun nihil , bahkan Nabila tidak pernah meminta nya untuk membawa Nabila bahkan hanya sekedar jalan-jalan di taman .
Pandangan wajah nya tertunduk , jemari tangan nya meremas kuat rambut dirinya sendiri .
Hingga suara wanita mampu membuat nya menoleh dengan tatapan sendu .
" Al ?!" Panggil Sinta , langkah nya terus mendekat ke arah putra nya sedang duduk dengan raut wajah yang terlihat gusar .
" Mih Nabila pulang kan ?" Tanya Aldrich .
Sinta langsung memeluk Aldrich,mengusap kepala anak nya lembut.
" Mih , Aldrich udah bikin kesalahan fatal " Lirih Aldrich.
" Ya mamih sama papih tau , Nabila sangat mencintai mu tidak mungkin hanya karena masalah sepele ia meminta izin untuk pergi sementara " Jelas Sinta kembali , tangan nya terus mengusap kepala Aldrich yang kini sudah terdengar suara isak tangis nya pelan .
" Aldrich harus gimana , Aldrich gak mau Nabila pergi mih , Aldrich khawatir Nabila hamil , tapi dia menghindar dan menyembunyikan semua nya " Cicit Aldrich .
" Apa Nabila sudah berhenti meminum pill penunda kehamilan milik nya Al?" Tanya Sinta .
" Ya , aku meminya nya , dan dia dengan senang hati menuruti ke inginan ku mih ".
" Doa kan saja Nabila mengandung anak mu , ia pasti kembali untuk buah hati nya , dan satu lagi selesai kan dulu masalah mu dengan Ghina , agar kedepan nya rumah tangga kalian terjaga dengan baik ".
Aldrich mengangguk , dekapan Sinta kepada Aldrich pun terurai .
" Mih , Aldrich mau sendiri dulu " Pinta Aldrich.
Sinta mengangguk paham , bibir nya mengulum senyum seraya berkata.
" Baiklah , jangan lupa bersih kan dirimu , kau bau sekali " Ujar Sinta berusaha membuat candaan agar Aldrich tidak terlalu banyak pikiran .
Candaan yang Sinta lontar kan tidak sia-sia , Aldrich kini tersenyum kepada wanita yang sangat ia sayangi .
Pintu kamar nya pun terturup , bersamaan denga Sinta yang sudah meninggal kan Aldrich di kamar nya sendiri .
Aldrich merogoh ponsel di dalam saku celana nya , lalu menempel kan benda pipih itu di telinga .
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI !!
Aldrich kembali menghela nafas nya , ketika ponsel Nabila tidak aktif.
Tatapan mata nya tertuju pada satu tanda pesan dari istri tercinta nya .
...My number one β€...
Tunggu sebentar , aku akan membawa makan untuk kita , aku pun sama belum makan apapun selain roti coklat tadi pagi .π
-Degg..
Hati nya begitu sakit , rasa bersalah pun mendominasi suasana hati nya saat ini .
" Apa kamu sudah makan saat ini sayang ? aku takut kejadia sore ini membuat selera makan mu memburuk ! lalu bagai mana dengan penyakit mag dan asam lambung mu ?"Gumam Aldrich ,wajah nya terlihat kembali khawatir dan gusar .
Aldrich meletakan ponsel nya di atas nakas , lalu beranjak dari duduk nya dan melangkah menuju pintu kamar mandi .
Suara gemercik air sudah sangat jelas terdengar , wangi mint pun menyeruak di dalam kamar mandi .
Hingga lebih dari dua puluh menit akhir nya Aldrich keluar dengan hanya menggunakan lilitan handuk di pinggang nya .
Lemari besar pun mulai terbuka , membawa satu kaos oblong berwarna putih dan juga celana jeans hitam pendek , namun mata nya kembali beralih melihat tatanan baju Nabila yang tidak berubah sedikit pun .
Setelah selesai memakai baju , Aldrich kembali keluar dari kamar nya.
Tujuan pertama yang Aldrich akan datangi yaitu Raynan , mantan sahabat nya saat ini .
" Al mau kemana ?" Tanya Bayu santai dengan koran dan kopi hitam di hadapan nya .
" Aldrich mau nyari Nabila " Sahut nya lalu pergi meninggal kan pria paruh baya yang sedang asik dengan koran dan segelas kopi hitam.
Bayu tidak melarang atau menahan putra nya , pria tua itu hanya menatap punggung Aldrich sekejap lalu kembali menatap koran nya.
"Kejarlah cinta mu putra ku " Ujar Bayu kepada putra nya yang sudah berlalu.
TBCππππ
...ππππ...
Jangan lupa like ,komen dan vote sayang-sayang nya author.
Dukung author terus yah βΊ
Sun jauh dari author ππ.