STORY AFTER MARRIED

STORY AFTER MARRIED
Extra SAM.



Pagi-pagi sekali di dalam kamar Raynan dan Asila.Keadaan masih terlihat sangat gelap, namun hanya ada sedikit cahaya dari lampu tidur yang menjadi penerang satu-satu nya.


Perlahan Asila bangun, menyibakan selimut telabal dan melepaskan tangan Raynan yang tengah memeluk tubuh nya.


Tubuh Asila duduk di tepi ranjang, menggulung rambut nya yang terurai, lalu mata nya melihat ke arah jam, yang baru saja menunjukan pulul lima pagi.


Sebelum Asila beranjak, ia membuka laci nakas nya yang berada di samping tempat tidur, membawa sesuatu dan segera pergi menuju kamar mandi.


—Klek..


Asila menutup pintu kamar mandi perlahan, lalu mengunci nya dari dalam.


Wanita itu berdiri di hadapan cermin, meletakan sesuatu yang di bawa nya di atas meja washtafel.


Asila membuka kran air, lalu membasuh wajah nya dan mengering segera mengeringkan wajah nya ketika sudah selesai.


Mata Asila kembali tertuju pada sesuatu yang di beli nya tampa sepengetahuan Raynan kemarin sore ketika suaminya masih berada di kantor.


"Jadi aku harus pipis dulu!"Gumam nya, lalu mencari wadah untuk menampung air seni nya.


Setelah itu, Asila lansung membuka pembungkus dan mengeluar kan benda pipih tersebut lalu meletakan nya di tempat yang sudah berisi air seni nya.


Raut wajah nya terlihat sedikit gelisah, degup jantung nya terdengar begitu jelas dengan perasaan yang sudah campur aduk.


Asila duduk di atas closet, menunggu sesuatu yang tidak luput dari pandangan nya.


"Aduh ko deg-degan gini sih."Cicit Asila yang terus terlihat gelisah sambil terus meremas gaun tidur nya.


Mulut Asila terbuka lebar, mata nya membulat sempurna dengan cairan yang sudah terlihat di sudut matanya.


"Ya ampun!"Suara nya lirih.


Asila lansung membawa benda tersebut dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Ini benaran kan?"Ucap nya sambil menangis.


"Hiks...hiks..Ini beneran kan!"Asila terus bermonolog dengan air mata yang sudah bercucuran.



TOK..TOK..TOK...


"Sayang!"Suara ketukan pintu dan Raynan bersahutan di balik pintu kamar mandi.


"Sayang? are you oke?!"Suara Raynan kembali.


Dengan cepat Asila menyusut air mata nya, lalu membuka kunci dan menekan handle pintu.


—Ceklek..


"Ray!"Asila tersenyum kepada suaminya yang saat ini berdiri di hadapan nya dengan bertelanjang dada.


"Asila kamu nangis, kenapa sayang? apa luka bekas tusukan itu sakit atau apa?!"Raynan meneliti Asila, raut wajah nya terlihat panik lalu memeluk istrinya.


"Ray aku punya sesuatu!"Asila merenggangkan pelukan nya.


Raynan mengerutkan dahi nya.


Asila tersenyum, lalu memperlihat kan benda pipih berwarna pink kepada Raynan.


Lama pria itu mematap test pack, lalu kembali menatap Asila.


"Kamu hamil?"Tanya Raynan dengan raut wajah berbinar.


Asila mengangguk, lalu kembali menghambur kedalam pelukan suaminya sambil menangis tersedu-sedu.


Samahal nya dengan Asila, Raynan sudah tidak bisa berkata-kata lagi, pria itu hanya terus memeluk Asila dan menghujani istrinya dengan kecupan hangat.


Tidak terasa air mata Raynan pun lolos begitu saja membasahi pipi.


"Terimakasih."Ucap nya lirih.


Pandangan Asila mendongkat, menatap wajah tampan yang sudah terlihat menangis.


"Papa jangan nangis!"Asila tersenyum, lalu menyusut air mata suaminya dengan punggung tangan.


—Cup..


"Kalian yang membuat ku sudah menangis di pagi hari."Raynan tersenyum, dengan satu tangan yang terus mengusap perut Asila yang masih rata.


"Tentu saja, tampa kalian minta pun aku akan meliburkan diri dan segera melihat perkembangan bayi ku."Sahut Raynan.


^


^


"Mas aku mau ke rumah mamih ya sebentar, sekalian olah raga pagi."Kata Indri kepada Feri yang baru saja bangun tidur.


"Aku antar!"Gumam Feri dengan suara parau nya.


"Nggak usah! aku sama Gian jalan kaki aja, kan deket."Sahut Indri.


Mata Feri yang masih sembab, dengan rambut acak-acakan menoleh ke arah Indri.


"Mau apa pagi-pagi ke rumah Aldrich? mau minta sarapan lagi? terus aku sarapan sendiri."Cecar Feri yang sudah terlihat kesal ketika mengingat hampir setiap pagi Indri berkunjung lalu pulang dengan ke adaan perut kenyang, meninggal kan Feri untuk melakukan sarapan nya sendiri.


Indri tersenyum.


"Enggak! aku mau ketemu Nabila sama Queen aja mas, habis itu pulang lagi janji."Ucap Indri.


"Baiklah, sebentar yah."Ujar Feri.


Raut wajah Indri berbinar, dan lansung menghambur pada pelukan Feri, hingga pria itu kembali terjungkal ke belakang, membentur kasur ranjang yang sangat empuk.


—Brugh..


"Sayang hati-hati! luka bekas operasi mu belum benar-benar sembuh."Cicit Feri yang terlihat panik.


—Cup..


"Maaf dan terimakasih sayang!"Ucap nya pada pria yang sedang berada di bawah tubuh nya.


"Ah ayolah sayang! kau selalu menyiksa ku akhir-akhi ini."Feri terlihat frutasi.


"Oh iya aku lupa!"


Indri lansung beranjak dari tubuh Feri.


"Aku berangkat ya mas."Kata Indri.


"Apa Giandra nggak mandi dulu? nanti banyak yang cium loh."


"Udah dong Dad, Daddy aja yang bangun nya kesiangan.


Dengan cepat Indri menyiap kan baby stroller, lalu memindah kan baby Gian yang sedang terlelap di dalam baby box.


"Dad, kita berangkat ke rumah oma dulu yah."


Feri beranjak mendekat, lalu mencium pipi putra kecil nya.


"Hati-hati yah! harus pulang sebelum Daddy akan berangkat."Tegas Feri.


"Iya Dad."Indri tersenyum.


—Cup..


Feri mencium pipi istrinya.


"Sayang hati-hati! jangan mata mu."Ujar Feri hingga membuat kening Indri berkerut.


"Mata? aku haru bagai mana? terpejam!"Kata Indri.


"Tidak, tapi jagalah mata mu dari anak-anak pemilik rumah di komplek."Cicit Feri.


Indri tergelak."Mas cemburu dengan para brondong itu?"Ucap nya.


"Mereka bukan brondong, tapi anak-anak se-usia mu."


"Tapi aku sudah menjadi ibu-ibu sayang, ibu nya Giandra, putra dari pak Michael."Jelas Indri kembali sambil tertawa.


"Aku berangkat dulu, janji hanya sebentar! cuma mau ketemu Nabila kok mas."Tutur Indri lalu segera mendorong stroller setelah di jawab anggukan suaminya.



Like, vote, kome, kopi, mawar dan tips nya dongs😁