
Sore hari nya tepat pukul lima sore.
Setelah pulang untuk membersih kan diri terlebih dulu , kini gadis itu baru saja keluar dari salah satu toko perlengkapan bayi.
Langkah kaki nya lansung berjalan menuju halte ,dengan tangan yang sudah menenteng sebuat kota berukuran sedang .
" Pak taxi !! " Panggil Indri sambil melambaikan tangan kepada mobil berwarna biru yang masih melaju cukup jauh .
Beberapa detik menunggu , akhir nya taxi yang ia panggil berhenti tepat di hadapan Indri berdiri.
-Brughh..
" Pak Rumah sakit Harapan Bunda yah !" Kata Indri pada supir taxi , lalu di jawab anggukan oleh supir taxi tersebut .
Taxi yang Indri tumpangi perlahan mulai melaju.
Karena lupa belum mengabari Nabila ia akan datang ! Indri pun lansung merogoh tas kecil yang di bawa nya , lalu membawa benda pipih milik nya keluar .
...Nabila๐ธ...
...โโโโ...
^^^Nabil , gw lagi di jalan ! otw mau mengokin ponakana.^^^
Setelah mengirim kan pesan, Indri pun menyimpan kembali ponsel milik nya kedalam tas .
Setelah menempuh perjalanan satu jam lama nya , akhir nya taxi yang di tumpangi Indri terhenti tepat di depan pintu masuk Rumah sakit .
" Terimakasih pak ," Ucap nya setelah memberikan uang ongkos .
Langit pun mulai menghitam , lampu-lampu di dalam Rumah sakit sudah mulai menyala .
Kaki Indri terus melangkah , menuju meja resepsionis untuk menanyakan Ruangan yang di tempati Nabila .
" Mas , maaf mau tanya ! kalo ruangan nya Nabila Adriana di sebelah mana ya ?" Tanya Indri pada seorang laki-laki yang sedang berada di tempat .
" Ny. Nabila yang baru saja melahir kan atau yang sakit tifus, soal nya ada dua Nabila Adriana yang di rawat di Rumah sakit ini !" Tanya nya kepada Indri .
" Iya yang baru saja melahirkan, nama suaminya tuan Aldrich!"Jelas Indri .
" Baikalah , ruangan VVIP no 301 lantai empat ," Jelas nya ramah .
" Oke saya permisi , terimakasih " Tutur Indri lalu kembali beranjak mencari pintu lift.
Setelah menemukan lift , Indri pun menekan tombol untuk membuka pintu lift yang sedang menujukan tanda panar berwana merah ke arah bawah .
Ting...
Pintu lift pun terbuka , berbarengan denga beberapa orang berjalan ke luar .
Gadis itu punlansung masuk , setelah semua orang yang berada di dalam lift ke luar .
Jari telunjuk Indri pun kembali memijat tombol empat , di mana ruangan teman nya yang berada di sana .
Sesampai nya di lantai empat , mata Indri pun terus mencari nomor pintu yang di beritahukan petugas resepsionis tadi .
" Nah ini dia , VVIP pintu 301 " Ujar Indri .
Tok..
Tok..
" Permisi ! " Panggil Indri sambil mengetuk pintu ruangan .
-Ceklek..
Seorang pria berperawakan tinggi besar , memakai setelah jas membuka kan pintu , menatap Indri penuh tanya .
" Emmm..saya cari teman saya om " Jelas nya terlihat gugup .
" Om..om..om , memang nya saya om kamu ! siapa teman yang kamu maksud ?"Tanya nya pada Indri kecut , bahkan tatapan mata nya terlihat tajam tampa ekspresi .
" Sa-saya mau melihat Nabila , mas eh pak tidak maksud ku tuan"Tutur Indri tergagap-gagap .
Bukahkah dia yang dulu suka mengantar suami Nabila ke cafe ? kenapa dia tidak mengenali diriku ? mana judes banget lagi orang nya.Gumam Indri dalam hati .
" Siapa ?" Tanya Nabila sedikit berteriak ke pada Feri yang dari tadi terus berdiri di ambang pintu tampa membiar kan orang di hadapab nya masuk .
Seketika Feri pun berbalik , lalu memperlihat kan Indri yang sedang berdiri di depan pintu dengan tangan yang membawa sesuatu yang berukuran sedang .
" Feri ! biarkan Indri masuk , dia teman ku !" Kata Nabila .
" Pelan kan suara mu sayang , anak kita baru saja tidur !" Ujar Aldrich pelah , pria itu terus berdiri di hadapan box bayi di samping Nabila .
" Selamat malam tuan " Sapa Indri kepada Aldrich , suami Nabila pun menjawab nya dengan anggukan lalu tersenyum .
" Kenapa sendiri ? Nurul sama Rio kemana ?!" Tanya Nabila .
Aldrich lansung saja menatap Nabila tajam ketika wanita itu menanyakan laki-laki lain di hadapan nya.
" Mereka masih di cafe , gw izin mau nengokin lo" Jelas Indri .
" Sama ini , kado buat baby dari uncle dan aunty nya " Indri memberikan kota sedang yang di bungkus kertas kado .
Merasa tidak enak di tengah-tengah wanita yang saling berbincang , akhir nya Aldrich kembali ke arah sofa dan duduk bersama Feri .
"Wahhh,"Nabila menerima kado dari para sahabat nya dengan raut wajah yang sangat bahagia . " Terimakasih aunty ,uncle " Ujar Nabila sambil terus mengukir senyum .
" Sebener nya ini gak seberapa sama yang lo udah beliin buat anak lo , ya tapi kita pengen juga beliin sesuatu buat dia , walaupun gak seberapa sih " Bisik Indri .
" Apaan si loh , gw seneng kalian masih anggep gw teman dan perhatian sama anak gw, walaupun gw gak kerja lagi di cafe " Sahut Nabila .
" Nama nya siap ? cantik banget sumpah anak lo !"Indri terus menatap bayi yang kini tengah terlelap.
" Queen Adriana Yohanes Mahardika , you can call me Queen aunty"Jelas Nabila kepada Indri yang terus terlihat berbinar ketika menatap putri nya .
" Kalo mau gendong , lo harus cuci tangan dulu," Kata Nabila .
" Oke baiklah " Sahut Indri semangat .
Kedua lelaki yang kini sedang duduk di sofa pun hanya memperhatikan ke dua wanita yang saling meluap kan rasa rindu ,dan bercengkrama dengan hangat.
" Fer cantik tuh , di godain ke , atau apa gitu biar gak jadi bujangan tua"Ledek Aldrich pelan sambil menyengol lengan Feri .
" Ck , belekan mata lo Al ! cantik dari mana nya coba!" Jawab Feri , walau pun jelas-jelas pergerakan mata nya terus mengikuti Indri.
" Pantesan jomblo mulu , ada cewe cantik aja di anggurin , ya walau pun cantika istri gw si tetep !" Kata Aldrich kembali , bahkan ejekan nya mampu membuat Feri menatap nya tajam .
" Lo juga bujangan tua kan pas nikahin Nabila , seenggak nya gw gak kaya lo Al , masuk lubang sana - sini baru nikah " Tutur Feri .
" Kan gw udah tobat " Dengan cepat Aldrich menjawab pernyataan Feri .
Hari pun semakin larut jam sudah menujukan pukul sembilan malam , kini langit benar-benar menghitam , namun Indri masih betah memangku baby Queen .
" Queen autny mau pulang dulu oke , besok-besok aunty tengokin lagi" Kata Indri sambil memberikan baby Queen pada Nabila .
" Mau pulang ?" Tanya Nabila .
" Iya , takut nya keburu malem banget ! gw gak berani pulang sendiri"Jelas nya .
" Oke , hati-hati yah " Sahut Nabila lalu Indri pun mengangguk .
" Tuan saya pamit pulang " Indri pun sedikit menundukan kepala ya , namun ketika tangan nya akan meraih knop pintu , suara Aldrich menghenti kan nya kembali .
" Emmm ...Indri tunggu " Panggil Aldrich .
Seketika Indri pun berbalik ketika nama nya di panggil oleh suami dari Nabila .
" Iya tuan ?" Indri pun tersenyum .
" Bisakah kamu membantu menjaga Queen , setelah masa cuti nya habis dia harus kembali kuliah ?" Jelas Aldrich .
" Hah..?!"Indri pun terlihat terkejut .
" Feri , antarkan dia pulang ! dan kamu Indri , saya memberi waktu kamu untuk berfikir tiga hari saja , soal gaji kamu tidak usah khawatir" Tutur Aldrich kembali .
" Ah ...baiklah saya akan memikir kan nya terlebih dulu , tapi soal pulang ,biar saya sendiri saja " Sahut Indri .
" Tidak ada penolakan ! Feri antar dia sampai tujuan nya dengan selamat " Titah Aldrich lalu di jawab anggukan Feri .
" Mari saya antar " Jelas Feri lalu berjalan ke arah pintu mendekati Indri.
" Baiklah , maaf sudah merepot kan ! tuan Aldrich terimakasih sebelum nya , saya permisi dulu " Indri pun membuka pintu , lalu mulai keluar di ikuti Feri yang berada di belakang untuk menyusul nya .
Queen Adriana Yohanes Mahardika.
Marsha Indria.
TBC๐๐๐
JANGAN LUPA LIKE , KOMEN DAN VOTE YA GUYS ๐๐.